Friday, August 24, 2018

The Anime That Will Take You Back To The Times That Kids Jaman Now Mana Ngerti aka The BEST Anime of Summer 2018

2 comments
Hi and welcome (again) to this (almost) deserted blog. Let’s just cut to the chase. Saat ini anime musim panas sudah memasuki setengah cour tapi karena kesibukan Comifuro dan IRL stuff saya baru sempat menonton beberapa judul saja, itupun dilakukan di tengah-tengah perjalanan di dalam bus dan kereta. Dari semua judul yang sudah ditonton, I thought that the trophy for the best anime musim panas (versi ikemasen ojousama) will go to either one of these; Hataraku Saibou dengan konsepnya yang mengagumkan yang berhasil menggabungkan elemen edukasi dengan moe anthropomorphism (ANONE ANONE), Revue dengan backingan Furukawa yang sealiran dengan Ikuhara, atau Bakabon yang surprisingly jauh melebihi ekspektasi sampai saya bisa bilang kalau lebih menghibur daripada Osomatsu (sebuah perbandingan yang bias karena saat ini status saya in relationship *menghindar dari lemparan kulit kacang dan botol aqua*) but nooooo, the award for the best anime of summer 2018 don’t go to either one of those. Gelar anime terbaik musim panas tahun ini jatuh kepada serial yang berhasil membuat saya menangis dengan memalukan di kereta jurusan yogyakarta-pasar senen (and I thought this anime is about video game jadoel, dammit!). Yes, ladies and gentlemen, the best anime of this summer goes to….. *drum rolls*


HIGH SCORE GIRL

For those who uninformed, High Score Girl (I will now wrote as HSG for the sake of easy writing) mengambil setting di tahun 1991, anime ini bercerita tentang seorang murid kelas 6 bernama Haruo yang tergila-gila dengan game arcade.


RALAT, bukan arcade, TAPI DING DONGAN

Ding dongan is a magical place, tempat ini biasanya terletak di dekat pasar, dan di dalamnya terdapat banyak mesin ding dong yang cuma butuh duit seratus rupiah buat main sampai game over (which is VERY QUICK buat level saya jaman itu, jadi akhirnya kebanyakan cuma nongkrong lihat mas-mas random pro main). 


ZOMG DUIT SERATUS GAMBAR GUNUNGAN

Kembali ke soal plot, Haruo adalah seorang pemain Street Fighter II yang terkenal dengan kepiawaiannya menggunakan Guile (yes, that guy whose BGM becomes a meme TET TERET TEREEET), satu-satunya prestasi yang bisa dia banggakan karena nilai ulangannya jeblok semua. Sayangnya, itu tidak bertahan lama karena kemenangannya berturut-turut di game SF II harus terputus di tangan seorang gadis ojousama bernama Akira yang memakai Zangief. Pertemuan antara dua player pro ea ini akhirnya berlanjut menjadi sebuah kisah drama tahun 90an yang 9999x jauh lebih MANTAP SOUL daripada Dilan.

Awalnya saya memprediksi anime ini hanya jualan nostalgia, trik murahan untuk mendapatkan dukungan dari generasi jaman old, tapi ternyata HSG tidak sedangkal itu. Tidak butuh banyak episode untuk membungkam prediksi saya dan mengubahnya menjadi terkesan. Here’s some of the explanation of why this anime deserves the award in my book:

1. Retro feel of course 
But its more than just for a trivia, detail retro gaming dijelaskan oleh narator sehingga penonton yang hanya sebatas pemain kasual pada jamannya tetap merasa tidak kuper dengan bagian yang dulu belum tahu. Mulai bagian tengah anime ini bahkan diperkenalkan karakter yang sama sekali awam, membuat anime ini tidak hanya bisa ditonton oleh oldfag tetapi juga newfag yang tidak sempat mengalami jaman keemasan ding dongan.

2. Retro/classic drama and characters
Ini poin yang membuat anime ini melesat ke peringkat pertama. Tidak hanya settingnya yang nostalgic, TAPI JUGA DRAMANYA.Haruo adalah typical protag anak SD (dan nantinya SMP) di anime klasik. Bodoh, keranjingan game (and good at it) dan yang paling penting, dense. Bukan tipe dense yang pervert and thirsty dan dikelilingi harem seperti protag jaman now, tapi benar-benar tidak peduli dengan cewek dan tetek bengek percintaan. A very fitting stereotype karena relasinya dengan Akira menjadi dinamis (baca: tidak jelas) antara hubungan romantis atau rival main game, sesuatu yang sangat OLD SKOOL banget. Lalu trope-trope drama klasik seperti boncengan dengan sepeda dan jajan di toko kelontong dan berakhir dengan adegan klimaks perpisahan yang dramatis di bandara. Kalau saja saya tau ini anime dengan kadar drama selevel ini, saya tidak akan menontonnya di kereta siang-siang, the airport scene WAS SO OVERWHELMING my face was like


AND ITS STILL NOT OVER YET! Padahal saya sudah merasa puas dengan akhir episode airport. Sensasi kisah cinta pertama yang semakin dekat hanya untuk menjauh seperti garis asimtot dalam persamaan hiperbola sudah disajikan dengan PERFECT oleh anime ini s̶e̶p̶e̶r̶t̶i̶ ̶e̶n̶d̶i̶n̶g̶ ̶A̶A̶D̶C̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶g̶a̶k̶ ̶p̶e̶r̶l̶u̶ ̶d̶i̶b̶i̶k̶i̶n̶ ̶s̶e̶r̶i̶a̶l̶ ̶m̶a̶u̶p̶u̶n̶ ̶s̶e̶k̶u̶e̶l̶n̶y̶a̶. Tapi cerita masih berlanjut, bahkan semakin AWESOME karena mengenalkan heroine kedua yang berasal dari background orang awam, anti gamers bahkan. Hidaka, gadis kedua yang dekat dengan Haruo sepeninggalan Akira yang pindah ke luar negeri, membawa dinamika baru dalam kisah ini. Hidaka yang sama sekali asing dengan dunia arcade awalnya skeptis dan menganggap video game cuma hobi yang bikin nilai jelek, tapi Hidaka sudah Terlanjur Sayang seperti lagunya Memes jadi diapun tidak bisa mundur dan memutuskan untuk mencoba menyelami dunia Haruo. Tapi sekali lagi Haruo, yang meskipun sekarang sudah berganti jadi anak SMP, tetaplah little brat yang cuma suka DING DONGAN, dan tidak peka dengan usaha Hidaka yang jatuh bangun seperti lagu Meggy Z. 


Drama semakin dipermantap dengan kembalinya sang ojousama pro ea Akira dari luar negeri. Formula cinta segitiga yang sangat klise tapi justru inilah yang membuat feel klasiknya semakin terasa. Gadis ideal yang bagaikan bintang di langit ataukah gadis sederhana yang seperti bunga di bumi? Madoka or Hikaru? Akari or Kanae? Asseylum or Lemrina? *̶c̶e̶n̶s̶o̶r̶e̶d̶*̶ ̶o̶r̶ ̶m̶y̶ ̶f̶i̶a̶n̶c̶e̶e̶?̶ the drama element in HSG is not to be taken so lightly, sesuatu yang membuat saya menunggu episode terbarunya dengan penuh antusias, mengalahkan Hataraku Saibo dan Steins;Gate. And eventhough the possibility is low but I hope #teamHidaka win because in real life, that’s what happen mostly in the end.

3. Ending song by Etsuko Yakushimaru
Last reason yang meskipun tidak sebesar dua alasan di atas tadi pengaruhnya tapi tetap ngefek. Suara Etsuko yang dreamy dan judul yang memakai kata Houkago alias sepulang sekolah, seakan membuat lagu penutup anime ini terdengar dari sesuatu nun jauh di sana, bukan hanya dalam konteks ruang, tapi juga waktu. Pengingat yang pas untuk penonton jika kisah ini terjadi di suatu tempat di tahun 1991, dimana jika Haruo masih hidup saat ini umurnya sudah hampir 40 tahun.


My ding dong days was in 1996, more or less, with amazing games such as Darkstalker, Captain Commando, Peter Pan, Gunbird, Sengoku Ace, Art of Fighting, Undercover Cops, Cadillac and Dinosaurs, and the most memorable Power Instinct.

You can also read interesting interview with J.C Staff and Square Enix producer here.
Read more...
 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2017. Template by DheTemplate.com. Supported by Saudagar Waifu