Monday, November 27, 2017

Mangafest dan Event Doujin Lokal (Zaman Now)

0 comments
Postingan ini dibuat setelah berbagai pertimbangan antara "benernya males ngetik yang jelek-jelek dari sebuah event karena potensi jadi bahan drama, belum lagi kalo mengundang komen dari pihak yang gak datang atau gak paham duduk perkaranya tapi commenting just for the sake of pengen komen" dengan "sayang juga kalo Mangafest ke depannya bakal jadi gak jelas kaya gini terus mengingat ini salah satu event besar di Jogja yang rutin ada tiap tahunnya". Pada akhirnya klausa kedua yang menang dan lahirlah tulisan ini. Lalu kenapa nulisnya di sini tidak langsung di FB? well, for one, karena kecenderungan saya kalo nulis sesuatu yang panjang biasanya ujung-ujungnya jadi panjang banget dan IMO wall of text lebih enak buat dipost di blog dan yah, hitung-hitung ada yang berkunjung ke tempat yang sudah lama terbengkalai ini. 

Sebelumnya, buat yang tidak terbiasa baca tulisan saya, harap maklum kalo gaya bahasa saya campur aduk. Alrite so, let's talk about Mangafest 2017.  Dikutip dari penggalan obrolan dengan para vvizard saat di Mangafest kemarin not including topics like which is more satisfying to inflict; physical torture or mental torture dan yang sejenisnya "the problem with this year Mangafest adalah krisis identitas".

Mungkin karena beda tahun beda panitia, karena dasarnya event kampus, dan tidak ada "buku pedoman" dari generasi sebelumnya, atau memang telah terjadi perubahan konsep sejak angkatan kesekian, entahlah. Yang jelas tahun 2017 ini 'sense of comiket'nya jauh lebih tidak signifikan. Jadi seperti acara jejepangan jaman now pada umumnya. Yang sudah berharap Mangafest bisa jadi pemanasan sebelum Comifuro jelas jadi kecewa (personally I think warming up session untuk CF bagi circle jogja dan sekitarnya itu Orenji di Semarang dan Mangafest di Jogja). Di sini saya berusaha tidak berada di pihak manapun (kecuali di pihak yang jualan bootleg ya, shame on you), so instead of pointing the blame to pihak panitia/doujin circle/pengunjung, saya akan menulis gambaran dan opini saya tentang event ini. 

Sejak dari awal ada kabar venue Mangafest bakal memakai hall JEC (Jogja Expo Center), saya (dan sepertinya bukan cuma saya saja) sudah ada firasat kalau Mangafest bakal condong ke event jejepangan/jfest daripada Comiket. Why? naze? karena sewa gedung JEC terlalu mahal untuk ditutup hanya dengan biaya dari stand doujin circle. 2 hari pula. Biaya ini, kalau dugaan saya, selain dari sponsor juga dicover oleh stand makanan (booth makanan umumnya harganya paling mahal tapi kalau pengunjungnya rame pendapatannya bisa paling tinggi, kalau anda emang niatnya cari duit mending belajar masak/bikin minum terus buka stand makanan saja) dan stand komersil (yang harganya hampir 12x booth doujin, I kid you not). Well, anyway, jika dibandingkan dengan Mangafest tahun sebelumnya di GOR Klebengan, bisa dibilang ada plus minusnya (aslinya saya mau nulis peningkatan, tapi setelah dipikir2 lagi, is it really an improvement?).
- Lokasi. Minus point JEC kalo menurut saya ada di letaknya yang jauh dari pusat kota. Buat circle atau pengunjung dari luar kota mungkin faktor ini tidak terasa, tapi dari circle dan pengunjung lokal yang terbiasa dengan kondisi "kemana-mana deket" nya Jogja, pergi ke JEC biasanya butuh niat extra, JEC juga tidak bisa jadi tempat mampir dan di dekatnya juga nyaris tidak ada spot lain yang bisa jadi tempat mampir. Beda kalau venue nya di tengah kota, ada kemungkinan: 1) kalo datang dan acaranya sucks bisa hangout/gath di tempat lain yang deket situ, atau 2) kalo pas lewat deket situ bisa mampir datang.
- Space. Oke, secara ukuran memang JEC lebih luas, tapi apa luasnya pas dengan kebutuhan ruang yang diperlukan? kalau untuk event seperti pameran komputer yang stand nya banyak dan gede sih masuk, tapi kalau untuk jfest? jangan-jangan malah terlalu besar sampai banyak space kosong seperti kemarin. Ironisnya space untuk doujin circle malah sangat kecil sampai rasanya seperti dianaktirikan. Satu-satunya point plus jika dibanding tahun sebelumnya adalah hawanya yang lebih sejuk, tidak panas atau sesumpek saat di GOR Klebengan.
- Pride. Ntah faktor ini beneran ada atau tidak tapi konon kabarnya kalau bisa ngadain event di JEC, which is the biggest convention center in Jogja, it will provide the EO a sense of pride and accomplishment *insert Battlefront 2 meme here*. Tapi menurut saya sense of pride and accomplishment yang worth adalah yang asalnya dari kesuksesan eventnya, dari kepuasan pengisi booth maupun pengunjung.
- Accoustic. Believe it or not, ini adalah salah satu faktor penting yang menentukan kepuasan dari sisi pengisi stand, komersil maupun doujin circle. Saat event berjalan, ada 2 aktivitas yang berlangsung, pengunjung menonton acara di panggung dan pengunjung belanja di booth. 2 aktivitas ini tidak boleh saling mengacaukan satu sama lain. Which is quite a hard thing to do if: 1) jarak stage dengan booth terlalu dekat, 2) sound dari stage terlalu keras, 3) perform musik yang di stage too fookin brutal (ini bukan masalah kalau ditaruhnya di akhir/malem, dimana stand kebanyakan sudah pada tutupan dan mood pengunjung untuk belanja sudah nyaris tidak ada). Di Mangafest kemarin fail nya ada di point 2), bahkan dengan stage yang sudah ditaruh di ujung pun suaranya masih terdengar nyaring sampai area comiket. Sebenarnya jika volume suaranya masih acceptable, its totally fine, bisa jadi BGM saat jualan, tapi jika terlalu tinggi jadinya terasa bising. Ditambah lagi kemarin ada 2 stage, tapi stage kedua (yang diperuntukkan untuk comiket related stage event seperti guest talkshow) totally underwhelmed gara-gara volumenya kalah jauh dengan sound di main stage. Bahkan yang di area comiket malah lebih kedengeran suara dari main stage daripada suara dari comiket stage. Untuk poin ini, jauh lebih mendingan venue GOR Klebengan dimana main stage ditaruh di luar dan comiket stage ditaruh di dalam. Dimana interaksi dengan pengunjung stand bisa berjalan dengan nyaman tanpa gangguan suara dari stage.
UPDATE: Setelah membaca beberapa post di FB, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan; kapasitas parkir dan waktu event yang bertepatan dengan musim hujan. Untuk parkir, harus diakui JEC memang lebih superior dan karena di Jogja mode transportasi yang paling umum adalah motor jadi jumlah pengunjung berbanding lurus dengan jumlah motor. Dan kalau eventnya diadakan saat musim hujan memang pilihan tempat jadi lebih terbatas. Dengan adanya faktor tersebut pemilihan JEC bisa dimaklumi, tapi di sisi lain faktor harga sewanya yang tinggi membuatnya tidak memungkinkan jika dipakai untuk Mangafest jika memakai konsep comiket.

Tentang panitia. Kembali ke kalimat di paragraf awal artikel ini, entah pendekatan atau konsep apa yang dipakai panitia untuk Mangafest tahun ini tapi satu hal yang pasti, panitia telah mengecewakan orang-orang (dalam hal ini doujin circle, tapi saya yakin pasti ada juga dari pihak pengunjung yang kecewa) yang berharap Mangafest (masih) memakai pendekatan comiket. Mulai dari area doujin circle yang sempit sampai kesannya seperti penggembira sampai dominasi stand yang menjual bootleg, this is simply something that is unexpected. Jika ada event lain di Jogja yang membuka pendaftaran untuk booth doujin circle, kemungkinan circle di luar Jogja pasti bakal mikir dulu sebelum ikut, tapi karena ada nama Mangafest, yang sejak awal (setau saya) identiknya dengan doujin mereka langsung ok aja. Ekspektasi ini sebenarnya sumber masalahnya. Sekarang sepertinya semua orang sudah terlanjur melihat Mangafest bukan yang dulu lagi jadi bakal susah jika ingin back to the roots kecuali jika ada official statement dan langkah-langkah nyata yang mendukung. Atau mungkin panitianya memang ingin ganti arah ke event jejepangan jaman now, who knows, haknya panitia juga yang punya acara, tentu saja ada konsekuensi plus dan minusnya. And not that it matters juga benernya karena sebenarnya yang dibutuhkan (kalau dari sisi circle) adalah event doujin oriented yang totalitas ke sana, terserah mau dibikin sama siapa, pake nama apa. Karena event jejepangan jaman now yang biasa sudah banyak. Terus kenapa gak mau nyampur saja? mungkin ada yang kepikiran begitu. Elitist banget sih jadi artist. Ya kalau campur nanti jadinya sama kaya gini lagi. Bukan rahasia lagi benernya kalau stand komersil di acara jejepangan Jogja mayoritas jualannya bootleg yang dampaknya berimbas ke booth doujin circle. And trying to eliminate them is an uphill battle alias nyaris tidak mungkin, karena di satu sisi yang bayar standnya tinggi juga dari mereka. What we need is a doujin exclusive event supaya pengunjung tidak punya pilihan lain selain mencoba mengapresiasi karya artis lokal. Jika Mangafest sudah tidak bisa memfasilitasi ini, berarti mungkin sudah saatnya obor untuk berpindah tangan. Jika Mangafest ingin membuat revival, ada baiknya dibuat semacam buku panduan sehingga hal-hal yang sifatnya prinsipil tetap bisa terjaga. Ah ya, and despite all the negatives, saya akui ada bagian positifnya juga dari panitia; respon yang cepat saat ditanya-tanya, website yang informatif, desainnya cukup niat dan updatenya cepet (foto-foto hari pertama langsung diupdate pas hari pertama selesai) dan harga stand untuk doujin circle terbilang murah bahkan untuk ukuran newbie yang baru pertama ikut dan kekurangan modal.

Tentang pengunjung. Yah, bagaimanapun juga naturenya pengunjung adalah costumer karena mereka bayar tiket masuk, dan sebagai calon pembeli, posisi awal mereka setingkat di atas panitia atau pengisi stand (dalam konteks hubungan pembeli dan penjual). Jadi jika kita berusaha menyetop mereka buat beli kw atau bootleg ya mereka juga punya hak buat mengcounter dengan "lha ini lebih murah/lebih bagus kok/duit2 gw/dll". Tapi kita bisa mengedukasi mereka yang belum tau supaya bisa berpikir ulang. Jika anda termasuk salah satu pembaca postingan ini dari pihak pengunjung, ada yang harus anda ketahui soal bootleg. Gampangnya bootleg itu sama dengan bajakan. Tapi kalau dalam konteks doujin event seperti Mangafest, bootleg bisa dibagi jadi 2 tipe. Yang pertama, yang tidak ada padanannya dengan barang yang dijual di booth circle, misalnya mainan (figure), tas, atau dakimakura. Meskipun itungannya sama-sama KW tapi tipe yang ini tidak begitu dipermasalahkan karena signifikansinya kecil (ini baru jadi rame kalo dijual di event level atas seperti AFA karena ada yang jual versi orinya). Tipe kedua, adalah barang yang ada padanannya dengan barang yang dijual di booth circle, misalnya gantungan kunci, pin dan poster.  Ini yang berbahaya. Karena gambar yang dipakai oleh penjual bootleg biasanya asal comot bikinan orang lain dari internet, bukan gambar sendiri. Udah gitu dijualnya murah pula. Kaos juga terkadang masuk dalam kategori ini karena ada kaos yang gambarnya ngambil gambar bikinan orang juga. Ini salah. Kalau anda sudah tau kalau salah dan tidak membelinya, salut buat anda. Kalau belum tau, semoga setelah tau soal ini anda tidak membelinya lagi. Aturannya simple kok benernya: belilah barang (pin, poster, ganci, komik) yang gambarnya benar-benar dibuat oleh yang menjualnya. Atau jika yang menjual adalah toko bukan artisnya langsung, toko tersebut harus mendapat persetujuan dari artistnya, mungkin toko itu membeli hak cipta gambar tersebut dari artistnya, atau gambar itu dibuat berdasarkan pesanan (commission) oleh toko itu. Karena dengan begitu, uang anda akan masuk ke kantong yang menggambar, dan memang merekalah yang berhak menerima uang itu.
Oh dan mumpung kita sedang bahas soal ini, mungkin ada yang masih bingung dengan istilah "doujin" karena ada yang mengira doujin itu komik porno. Doujin aslinya cakupannya lebih luas, secara garis besar, barang yang dibuat atau dirilis sendiri bisa dikategorikan sebagai doujin. Mungkin istilah yang bisa lebih menjelaskan adalah "gaweane dhewe" alias "bikinan sendiri". Jadi ada doujin manga (genrenya bisa bermacam-macam dan tidak selalu porno, ada yang serius, ada yang comedy tapi yang populer di internet memang yang R-18 because everyone is a horny prick in internet) ada doujin cd, doujin photobook, doujin papercraft dsb. Pin, gantungan kunci dan art print (print2an gambar) juga bisa masuk ke dalam kategori doujin. Di comiket bahkan ada yang jual perhiasan bikinan sendiri juga lho. Ini karena konsep doujin event adalah dari fans, untuk fans, oleh fans. Baik penjual maupun pembeli sama-sama fans.

Tentang doujin circle (ha, kalian pikir bakal lolos dari kritik? tapi biar balance saya juga ngasih masukan kok). Mungkin kalian sudah bisa menebak bagian mananya yang mau dikomentari. Yes, istilah gancifest lahir bukan tanpa sebab. Tapi jangan buru-buru triggered dulu, karena saya juga jualan ganci kok. Dan berdasarkan data lapangan selama ini memang pemasukan dari ganci paling banyak, tapi bukan berarti ganci harus jadi satu-satunya. Jika ingin menunjukkan power level creator anda, you need to show something with significant value. Doujin manga, light novel, photobook, artbook, CD. Sesuatu yang butuh waktu untuk menikmati atau mengapresiasinya. Let's take a look at some photo of doujin circle's booth in Japan.






Bagaimana? kerasa kan beda isi boothnya? Sekali lagi saya tidak bilang bikin ganci itu salah, but you need to show your dedication, what you have been doing all this time, supaya pengunjung pas datang juga ngerasa "wogh niat-niat" waktu jalan-jalan lihat stand. Mirip-mirip dengan cosplayer saat ada event. Ada yang persiapannya niat banget, ntah berapa minggu atau bulan dia bikin kostumnya, jadi pas tampil efeknya juga woow, ada juga yang datang seadanya, mungkin baru seminggu menjelang hari-H preparenya. Jika persiapan anda lebih awal, barang yang anda rilis juga kemungkinan besar lebih berkelas.

Tapi profitnya? kalau tidak laku? proses bikinnya selama sekian minggu jadi sia-sia? Makanya di depan saya tulis kalo ngincer profit mending latihan masak terus buka stand makanan saja :v lol naah just kidding, but serious answer, hal pertama yang terpikir saat join doujin event seharusnya bukan "bikin merch anime/character apa ya yang laku" tapi "lagi seneng sama serial A jadi pengen bikin doujin manga/novel yang ceritanya begini begini". Barang supplementary buat profit sebaiknya diurus terakhir (sekali lagi ini menurut opini saya lho). Terdengar terlalu idealis ya? tapi menurut saya fungsi doujin event seperti itu. Setiap circle punya ciri khas masing-masing, dan nantinya punya pengikut masing-masing. Jika anda datang dengan niat jualan dan akhirnya tidak ada yang kejual , akhirnya malah bakalan stress. Tapi jika membuat sesuatu, komik atau fanfic dari satu series dan ada pengunjung dari fandom yang sama dan beli, rasanya bakal puas. But the profit? well, inti dari paragraf ini sebenarnya lebih menekankan ke "have fun making something that you likes that will attract people who share the same interest with you" instead of "desperately looking for income" karena IMO an artist's income can be from many sources, tidak harus dari jualan di event saja, saat jaga booth anda bisa live commission, atau promo commission yang pengerjaannya setelah event, atau yang tidak berhubungan dengan event secara langsung, seperti merilis komik online atau membuka patreon. Its ok to be sad kalau tidak laku, karena itu bisa jadi penyemangat supaya membuat karya yang lebih bagus lagi, tapi jangan sampai terlalu depressed lalu menghilangkan keceriaan (buset, jarang-jarang saya pake kata 'ceria' lol) festival para creator.
Ada satu faktor lagi sebenarnya, yaitu harga. Ini topik yang cukup sensitif, obviously, tapi saya sudah terlanjur berniat nulis semua soal doujin event yang ada di kepala saya, so here goes nothing, kalau anda tidak sependapat sah-sah saja. Kenapa harga doujin umumnya relatif lebih mahal daripada harga keychain padahal biaya produksinya kurang lebih sama? Apa karena bikinnya yang lebih susah jadi membuatnya serasa ada tambahan value of pride and accomplishment? pendekatan ini menurut saya kurang tepat. Karena dari sisi pengunjung, mereka umumnya hanya punya parameter 'oh ini murah, itu mahal, kalo beli itu cuma bisa beli satu duit habis, kalo beli ini bisa dapet dua' (saya bilang umumnya karena tidak semua begitu). Semakin murah harga doujin, kemungkinan orang membeli semakin tinggi, doujin yang terjual semakin banyak. Ini berlaku bukan hanya di 1 circle tapi mempengaruhi circle lain juga. Jika budget yang awalnya cuma bisa dipakai untuk beli 1 doujin jadi bisa untuk beli 2 doujin, dan anda cuma merilis 1 doujin, ada kemungkinan setelah beli di circle anda, dia akan beli lagi di circle lain. Everybody happy. No, I'm not saying that you have to sell your doujin at dirt cheap price, tapi setidaknya anda harus sadar daya beli pengunjung ada di level berapa. Kalau mereka mau beli ganci seharga 25k, kemungkinan besar mereka juga bakal mau beli doujin dengan harga yang sama, lebih mungkin malah, soalnya gambarnya lebih banyak, bisa dibaca berulang-ulang, bisa minta di tandatanganin dan ada kemungkinan jadi koleksi jika circlenya merilis doujin baru lagi. Jika dirasa terlalu murah, anda bisa membuat dua versi, versi ekonomis atau istilahnya copy-hon, doujin yang dicetak dengan mesin fotocopy lalu di staples, dan versi mahal yang kertas dan jilidannya lebih bagus.
Di Jepang sendiri harga doujin relatif murah, 500 yen, kurang lebih seharga seporsi gyudon. Dengan harga semurah itu bayangkan berapa keuntungan yang diambil per doujinnya, literally recehan. Berdasarkan reportase tahun 2012, hanya sekitar 29% circle di comiket yang bisa dapat profit, selebihnya merugi. Dari 29% itu, 15% hanya dapat profit di bawah 50 ribu yen, jumlah yang tidak bisa dibilang banyak (sumber). Tapi kita tidak perlu jadi semaso itu, kalo memang butuh profit setidaknya buat bayar booth ya tidak apa-apalah sambil jual ganci atau poster. Jika masih belum femes ya mau gimana lagi, mending jual lebih murah, kemungkinan yang beli lebih banyak, dan dari sekian banyak yang beli siapa tau ada yang bakal jadi fans setia. Di Jepangpun, doujinka yang level dewa harga doujinnya masih tetap sama dengan yang lain, 500an yen. Kadang malah ada yang 300 yen kalau artisnya ngerasa kualitasnya kurang (halamannya masih sketsa karena keburu deadline, atau gak sempat bikin rilisan baru jadi isinya cuma kompilasi gambar2 yang udah pernah ada di rilisan sebelumnya). Mereka bisa dapat untung banyak karena jumlah yang kejual banyak, bukan karena harganya mahal. Jika anda perhatikan foto-foto di atas, bahkan ada doujin yang harganya 100 yen, biasanya bentuknya cuma fotokopian di kertas HVS termasuk covernya.

Apakah setelah membaca paragraf di atas anda merasa suram? atau dihantui perasaan tidak bisa membuat doujin? well, berikut beberapa sample doujin yang menurut saya menarik dan mungkin bisa jadi ide jika anda tidak ingin membuat doujin tanpa harus terjerumus ke dalam jurang erotica tapi kalo anda mau bikin ero doujin saya juga minat kok asal kualitasnya bagus, huehue.
Crossover. Ini cara yang lumayan ngecheat kalo menurut saya, tapi karena hasilnya imba jadi tidak masalah. Pengen dapat atensi dari lebih dari 1 fandom? gabungkan saja fandomnya. Love Live meets IDOLM@STER, atau Kancolle meets Azur Lane. Atau yang nabrak sekalian seperti di atas. Karena isi doujin tidak dibatasi hak cipta, jadi anda bebas mau nyampur franchise darimanapun.

Doujin that teaches you something. Misalnya cara main MTG seperti di atas, but basically it can be about anything. Misal anda punya pengetahuan tentang sejarah atau sains, anda bisa membuat doujin yang menjelaskan tentang itu. Atau doujin how to play mainan tradisional dengan karakter dari anime populer. Atau doujin tentang resep masak.

Doujin tentang traveling. Membahas lokasi atau tempat makan yang menarik di daerah anda tinggal. Mungkin malah bakal disponsori oleh departemen pariwisata :v who knows

Doujin yang membuat pembacanya bergumam 'what the fuck?'. Ini aliran favorit saya, jika anda mau membuat doujin tipe ini saya sarankan untuk berguru ke Green Tea Neko atau Kipen. Atau kalau yang lokal ya tahilalats dan yang satu spesies, tapi personally kalo saya lebih into Kipen. Dari contoh doujin Haruhi dan K-on di atas anda juga bisa melihat kalau skill gambar untuk doujin sebenarnya tidak ada batasan minimum, mediocre is ok (skill manga masih tetap ngaruh sih, seperti paneling, name dan script). Skill baru mulai penting ketika doujin yang dibuat temanya serius seperti action atau romance. Kalau doujin anda comedy, asal humornya tersampaikan, gambar bisa jadi nomer dua, contohnya salah satu serial favorit saya, Pavlichenko. Bicara soal doujin, saya melihat sample doujin yang dijual ditempel selotip mulai dari halaman kesekian, jadi pengunjung bisa tau isi doujin tapi hanya sebagian saja, seperti teaser. Menurut saya itu ide bagus dan bisa ditiru.
Oh ya, satu lagi, kalaupun pada akhirnya ada event doujin lokal di Jogja yang tidak terinterferensi oleh bootlegs, bukan berarti anda pasti bakal lebih laris, karena tetap ada persaingan antar circle, tapi dalam konteks yang lebih sehat dan fair play. Komik strip ini menjelaskan pentingnya persiapan mental sebelum ikut event doujin. 

Alrite, now back to topik awal, apakah Mangafest tahun depan masih tetap worth untuk diikuti? Well, just in case anda tidak kapok atau masih tetep pengen hadir di Mangafest, ada beberapa point yang bisa dipertimbangkan.
- Do not attempt to join sebelum ada kejelasan konsep dari pihak panitianya. Anda juga bisa melihat lokasi venue untuk indikasi eventnya bakal kayak apa. Kalau masih pakai JEC untuk lokasi, atau ada pembukaan untuk stand komersil, kemungkinan besar jadinya bakal sama seperti 2017.
- Ada hal-hal lain yang bisa jadi prioritas untuk ke Mangafest selain jualan, misal: pemanasan buat CF, ketemu temen sesama artis, ketemu artis lokal yang anda kagumi untuk minta wejangan, mencari koneksi atau kenalan baru, promosi nama circle, dll.
- Daya beli vvibu jogja relatif rendah (pendapatan saya 2 hari di Mangafest kalah dengan 1 hari di CF, dan ini bukan hanya di 2017, tahun 2016 juga begitu, padahal Mangafest 2016 itungannya sudah rame, lebih rame dari tahun ini), tapi di Jogja harga makanan, tempat nginep dll juga lebih murah. This could be plus or minus factor, depend on how you use it.

Sebagai penutup, saya akan menulis beberapa hal yang kepikiran yang berhubungan dengan event doujin lokal, jika ada yang ingin mengadakan, atau mungkin Mangafest ingin membuat revival back to roots. Note that saya tidak punya pengalaman sebagai EO (kecuali ngedesain banner dan spanduk) so take my words with a grain of salt.
- Venue untuk doujin event IMO tidak butuh banyak syarat, asal luasannya memadai untuk semua circle yang mendaftar dan sirkulasi udaranya nyaman, its already good enough. Poin plus jika ada stage, tapi acara stagepun idealnya masih yang nyambung dengan tema doujin culture seperti talkshow atau workshop. Mengundang bintang tamu cosplayer I think is still fine, untuk menarik interest dari pengunjung yang tidak into doujin, tapi cosplay contest dan cabaret tidak harus ada. Tentu saja tidak ada larangan bagi pengunjung untuk datang dengan bercosplay. Jika ingin pembukaan dan penutupan yang meriah its ok to play some music, band atau DJ, tapi lomba karaoke dan band-band an saat acara berlangsung is not good, I think.
- Kembali ke venue, di Jogja sebenarnya ada opsi tempat yang sewanya murah jika tidak mengincar yang spacenya luas, seperti balai pamungkas atau balai kartini (gedung yang kecil, bukan yang utama). Misal sewa per harinya 5jt, jika ada 50 circle yang join maka biaya per circlenya sehari 100k (ingat, circle tidak wajib membooking 2 hari, day 1 dan 2 bisa saja beda circle pengisi standnya, seperti Comiket). Untuk menutup biaya lain bisa didapat dari sponsor, tiket dan stand makanan. Tentang parkir, karena doujin event kemungkinan tidak bakal seheboh acara jejepangan umumnya jadi estimasi pengunjung yang datang juga tidak akan sampai membludak. It is going to be a small but lively event, full of spirit of creators. The kind of event that we need in Jogja at least once a year.

Foto comiket pertama tahun 1975

That's all folks. Panjang juga jadinya. Kebiasaan sekali nulis akhirnya merembet kemana-mana. Well, I hope my writing can be useful. Dan setelah nulis panjang lebar begini numpang ngiklan sedikit gakpapa lah ya? if you're interesting reading about Comiket, you can buy my book, The Cheap and Dirty Guide to Comiket alias buku panduan tamasya ke Comiket, dengan mengklik gambar yang ada di bawah. You can also buy my (really) light novel, though there's only 1 left in stock (rencana bakal di restock pas CFX). Thank you for reading and have a nice day~

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2017. Template by DheTemplate.com. Supported by Saudagar Waifu