Sunday, October 1, 2017

Review JoJo's Bizarre Adventure: Diamond Is Unbreakable Live Action

0 comments
I actually want to post a short review on my facebook but ended up wrote bunch of paragraph so, yeah. Anyway, Diantara semua film (adaptasi) anime yang tayang tahun ini, ini film yang bener-bener UNEXCPECTED bakal masuk cinema lokal. I mean WTF, film ini baru saja tayang di Jepang awal Agustus dan sudah masuk bioskop lokal akhir September? Apakah ini ULAH KUDA-KUDA MUSUH?! Even if in teh interwebz JoJo memes are basically everywhere (try go to youtube and find any Queen/Dio/David Bowie/King Crimson's video that doesnt get a "HOLY SHIT is that a motherfking JoJo reference?" comment) but (I think) in actually IRL JoJo fan is not as big as other popular JUMP title, heck, when I'm in Japan I asked my Airbnb host whether he know about JoJo and he doesn't know at all lol. Someone in ODEX must be a hardcore JoJo fan, or, I don't know. Whatever it is, I'm really thankful this movie get to be shown here, biarpun pas nonton seatnya cuma keisi 5 orang.

WATCHOUT, JOSUKE! HIS STAND POWER CAN TURN US INTO MEMES!

So, yeah, here's my review yang sebisa mungkin ditulis dengan mode beginner-friendly supaya yang tidak tau apa itu JoJo jadi tertarik membaca and hopefully bakal tertarik masuk fandom dan bisa memaklumi kenapa fan JoJo tingkahnya kaya gini. So, the movie adapt part 4, which mean this is just a part of the story, obviously. But worry not, karena anda tidak harus membaca atau menonton part sebelumnya untuk bisa menikmati film ini, karena tiap part di JoJo punya cerita, protag dan villain masing-masing. You, however, might going to be a little confused about the 『SUTANDO』 alias Stand (yang diterjemahkan dengan koplak oleh sebuah fansub lokal menjadi "kuda-kuda" jadi setidaknya setelah menonton film ini anda bisa paham meme THIS MUST BE WORK OF ENEMY STAND/INI PASTI ULAH KUDA-KUDA MUSUH) karena pembahasan soal ability ini ada di bagian awal part 3. But once again, worry not, karena banyak hal-hal WTF di JoJo yang bahkan fans nya aja bingung ngejelasinnya. Kalau tidak percaya, coba tanyakan "bagaimana cara kerja King Crimson?" ke orang yang ngakunya fans JoJo. Lagipula dengan adanya serial seperti Shaman King dan Persona, its not that hard to grasp the basic premise of SUTANDO PAWAA. Also, you should remember if JoJo is shonen manga jadi ketika anda melihat filmnya cobalah memakai "kacamata" alias perspektif pembaca shonen manga, it will make more sense.

Back to the movie, hal yang langsung terasa berbeda jika anda penikmat manga ataupun animenya adalah atmosfer filmnya yang berubah jadi MENACING alias gelap dan serius. Ini berlainan dengan manga atau animenya yang meskipun banyak adegan dan suasana yang bizarre (seperti judulnya) tapi tidak sedikit juga dialog dan adegan yang koplak sampai jadi m e m e. But here, mostly the atmosphere is grim, ditambah premis dari awal film sudah langsung dibuka dengan adegan yang menjelaskan kalau ada pembunuhan berantai di kota Duwang, maaf, maksud saya kota Morioh, the whole unsettling atmosphere is reasonable. Dan menurut saya justru ini adalah pendekatan yang bagus karena JoJo aslinya memang cenderung lebih ke serius-horror-thriller-action daripada, um, Gintama? (I know, kinda wtf comparation but both are shonen series and just have its live action released recently). Tapi pendekatan ini juga butuh eksekusi yang tidak mudah (kalau tidak percaya coba anda ajakin temen anda pas kerja kelompok buat serius sama bercanda lebih gampang yang mana :v?). Joke aside, dari pengalaman pribadi, saya sudah membuktikannya. Untuk menyajikan cerita yang gelap dan serius anda harus bisa mengkombinasikan elemen cerita dan adegan dalam takaran yang pas. Kurang sedikit dan hasilnya kurang gritty. Terlalu banyak dan hasilnya 2edgy4me. Beda dengan komedi, yang jika bikinan anda fail, and it fails hard, ada kemungkinan malah bisa jadi epic fail. Ini (menurut saya) karena: 1) Manusia punya kecenderungan untuk menertawakan kesengsaraan/kesialan orang lain, 2) Manusia punya kecenderungan untuk menertawakan orang lain yang dimatanya lebih rendah dan 3) Kalaupun anda termasuk orang yang ditertawakan karena sengsara atau lebih rendah kedudukannya, anda bisa MENERTAWAKAN DIRI SENDIRI (it works for a defense mechanism). Dan kalau jadinya masih tetap kurang lucu, anda masih bisa menambahkan humor receh yang murahan tapi gampang bikinnya. So, yeah, making a story with serious atmosphere is harder IMO. Untungnya kursi sutradara film ini jatuh ke tangan yang tepat, Takahasi Miike. I'll just quote wiki, karena lebih bisa mendeskripsikan nuansa karya beliau dengan lebih jelas:
Miike has garnered international notoriety for depicting shocking scenes of extreme violence and sexual perversions. Many of his films contain graphic and lurid bloodshed, often portrayed in an over-the-top, cartoonish manner. Much of his work depicts the activities of criminals (especially yakuza) or concern themselves with gaijin, non-Japanese or foreigners living in Japan. He is known for his dark sense of humor and for pushing the boundaries of censorship as far as they will go.
I admit I haven't watch his most controversial work, Ichi The Killer (meskipun saya adalah pembaca manganya) but I LOVE one of his work, Mad Dog goes to Akiba alias Yakuza Apocalypse, yang pernah tayang di bioskop lokal. IMO Takahasi Miike adalah pilihan yang tepat karena mood and ambiance film ini jadi luar biasa pas dengan JoJo jika mengesampingkan faktor humornya. Sepanjang saya menonton film ini, tidak ada satu scene pun yang terasa off. That's how good this movie is. Beda dengan Gintama yang saya merasa ada bagian yang aktingnya awkward, ada bagian yang dialognya cringey, ada bagian yang rasanya malah jadi kaya nonton perform cosplay dengan budget pas-pasan. JoJo is not. Angle kameranya, lightingnya, bahkan settingnya. 

Speaking about setting, ini adalah faktor kedua yang terasa bedanya. Its like they REBUILD THE ENTIRE OF DUWANG CITY, sorry I mean, Morioh Town. Saya tidak tau apakah ini campur tangan Araki atau Miike yang juga diberi kebebasan untuk membuat setting cerita (selain atmosfer filmnya) but hoooly sheeet, THE ENTIRE TOWN LOOKS AESTHETIC AS FUCK!! Saking aesthetic nya sampai jadi gak jelas ini settingnya kota di Jepang tapi kenapa separonya kaya di Eropa. I mean THE SCHOOL BUILDING LOOKS LIKE A FUCKING CATHEDRAL! Jadi kerasa agak ngaco but hey, its JoJo, man! Bahkan di animenya pun warna langit kota Morioh gak jelas kadang coklat kadang ijo. Anyway, Morioh versi live action bener-bener mantap djiwa, mellow mellow classy gitu de (ya eyalah secara lokasi shooting filmnya ternyata di Spanyol). Dan tidak cuma di kotanya saja, pas adegan di dalam rumah, interiornya juga bagus perabot dan pencahayaannya. Dan yang paling epic adalah rumahnya Okuyasu yang terupgrade dari rumah bobrok jadi kayak puing-puing mansion keluarga aristokrat.

Versi anime
Versi live action (more or less), bayangkan mirip gambar di atas but in ruins with more AESTHETIC statues. And yes, some of the statues are naked women with nipple clearly shown and she got some air time karena jadi lokasi adegan pertarungan pas melawan The Hand lol I guess either lembaga sensor dont give a fuck with stone nipples or Miike has successfully pull Getting Crap Past The Radar awesomely.

Next, of course, I shall talk about the SUTANDO. Saat pertama terdengar kabar JoJo bakal dibikin versi live action, banyak fans yang langsung hysteria karena shock membayangkan gimana jadinya Stand yang desainnya aneh bin ajaib itu kalau ditaruh satu layar dengan manusia asli. Apalagi biasanya level CGI film live action adaptasi anime jarang yang hasilnya memuaskan. I mean okelah kalau dalam bentuk figure atau character dalam game, masih bisa kelihatan keren, tapi bayangkan bagaimana jadinya kalau mahluk kaya gini dibikin versi realistis?
It will looks like some binaragawan wearing weird lope-lope outfit with some exhibitionist tendency? UNTUNGLAH (sekali lagi) Miike Takashi lebih menonjolkan Stand sebagai mahluk gaib supranatural tak kasat mata dan lebih memposisikan pemirsa sebagai manusia biasa sehingga di film ini kita jarang diperlihatkan penampakan utuh sutando-sutando yang ada, kebanyakan saat muncul hanya sekelebat saja. Selain itu kebanyakan pertarungan terjadi di tempat yang gelap jadi logis kalau Stand tidak terlihat jelas. Pendekatan ini membuat eksistensi Stand jadi terasa lebih realistis. Dan teori ini benar terbukti waktu adegan pertarungan melawan The Hand yang settingnya outdoor dengan cahaya terang, The Hand nya jadi kelihatan kaya figure/man-made creature, aura mistisnya nyaris tidak kerasa. Tentu saja ada perkecualian dengan Stand Bad Company yang desainnya dari sananya sudah "realistis", in fact, saat melihat wujud Bad Company dalam "dunia nyata" rasanya uwaaagh keren bangeeet (lebay), I mean saat di manga kita tidak bisa melihatnya bergerak, saat di anime akhirnya dia bergerak! tapi tetep tidak kerasa realistis, baru di sini bisa bener-bener kerasa seremnya karena selain terlihat realistis, "damage" yang dihasilkan juga lebih feel so real. Selain visualisasi, yang dirombak sehubungan dengan Stand adalah teriakan sebut nama jurusmu a la shonen manga. As we're all already familiar, shouting your own move in animu or mango is not only cool but also (somehow) enhance the power and performance of said moves. Tambahkan narasi atau monolog jika masih terasa kurang keren, dan hasilnya kurang lebih akan jadi seperti ini:
"RASAKAN SERANGANKU INIIII!! TINJU GELOMBANG PENGHANCUUUR"
"HMPH, SERANGAN SEPERTI ITU TIDAK AKAN MEMPAN PADAKU!"
(APA?! DIA BISA MENGHINDAR DARI SERANGANKU? TIDAK MUNGKIN!")
dan seterusnya.
JoJo is HILARIOUSLY LEBHAE and that's part of the charm (the other part are those pose yang kalau anda coba tiru bisa mengakibatkan encok dan keseleo, or worse, patah tulang). Tapi bayangkan jika yang seperti itu diaplikasikan ke adegan pertarungan realistis, belum selesai ngomong, pantat si protagonist sudah keburu ditendang sama musuhnya. Mungkin karena itulah di film ini anda tidak akan mendengar karakter menyebut nama Stand sebelum menyerang. Bahkan nama Stand di luar pertarunganpun jarang disebut. Memang jadinya tidak stylish sih but for me, this is a plus rather than a minus. Anda juga tidak akan menemukan dialog atau teriakan "NNNAAAANIII?!!!!" but a more realistic, toned down, "NANI?!" instead.

Back to bagian untuk newcomer yang belum kenal JoJo. Part of the enjoyment of reading/watching JoJo is encountering scene that LITERALLY MAKES YOU SAY "WHAT THE FUCK?" (at least I did). Araki has a talent to create stories full of unexpected moment or plot twist. I admit, saya baru kenal JoJo setelah ada animenya yang baru, sebelumnya cuma sebatas kenal memememeannya. After finished watching anime part 2, I read the whole part 3-7 in few weeks dan puas kena WTF moment bertubi-tubi. Tapi down sidenya, saat menonton anime part 3 dan 4, saya jadi tidak bisa mendapatkan sensasi WTF itu lagi karena sudah tau alur ceritanya. Di versi live action ini, karena alurnya dipadatkan, intensitas WTF momentnya lagi kerasa lebih mantap lagi. Jadi jika anda belum pernah menonton JoJo justru lebih asik karena anda akan dihujani one twist after another dalam jeda yang singkat. And for the seasoned fan, you will also see some new storyline, karena obviously dengan format durasi 2 jam, ada beberapa bagian yang dipotong atau dibuat berbeda, some are minors and acceptable, tapi ada 1 plot twist yang spesial menjelang akhir cerita yang bener-bener bikin WHOAAAA, SO THEY'RE GOING THIS ROUTE?! Plus bonus 1 adegan jump scare yang cukup efektif and caught me off guard because I'm so into the action part that I forgot JoJo also has a portion of horror. 

Music. The funny thing is, meskipun beberapa element di versi movie jadi lebih realistis (they even "normalized" a bit of the uniform design wore by Josuke and Okuyasu, supaya lebih terlihat seperti seragam sma daripada seragam sma yang dipakai oleh lady gaga), tapi untuk bagian musik, malah dienhance jadi so chooonee. Ada beberapa track choir yang aesthetic dan ominous latin chanting di sepanjang film ini. Untuk BGM battle, this is totally fine I think. I mean ketika ada adegan tarung dengan setting realistis dan musik yang mengiri adalah lagu rock, you'll feel like, oh yeaah the battle is gonna kick ass. But when the setting is realistic and the music is some menacing choir ala JRPG boss battle the image will be like, OH F- THERE'S SOME SUPRA-NATURAL SHIT GOING ON IN THE BACKGROUND. Yang terasa kinda weird adalah ketika musiknya dipasang pas adegan casual seperti di sekolah atau di kota. But I don't mind that. The whole city looks like European already.

Soal translasi, well, saya jarang merhatiin subtitle dan kalaupun pas lihat sub biasanya yang kebaca sub eng nya. Dari sub yang kebaca sekilas, beberapa ada yang spot on, beberapa ada yang wow the translation is better than I expect, but most of time its okay though beberapa ada yang fail.

Before I end this review, I'd like to point that the producer wanted to make the continuation movie (that's why there's "part 1" on the title) if the movie has commercial success. Though I heard this movie isn't doing well, but I hope it made a decent profit so we can get a sequel to wrap up the Morioh murder case.

Plus:
- An interesting take on part 4 which focused more on its serious atmosphere
- Everything that has potential to make live action adaptation looks cringy and cosplay-ish has been toned down
- Excellent visual, angle, and tones, loved the town looks, street, school, interiors, etc
- Nana Komatsu as Yukako is so damn good
- Nice music
- Bad Company live action version

Minus:
- No Rohan of course (but we get to see his pink boi manga)
- The Hand battle is a too cartooney compared to other Stand battle




Final score: guretto daze/10

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2017. Template by DheTemplate.com. Supported by Saudagar Waifu