Monday, May 22, 2017

Ennichisai 2017 Reportase dan Guide

0 comments
Alrite, so, as promised, di post ini saya akan menulis pengalaman saya pertama kali datang ke Ennichisai. What is Ennichisai? Well, basically Little Tokyo Ennichisai Blok M adalah acara tahunan kulinari, seni dan kebudayaan Jepang tradisional dan modern yang diadakan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Sejak tahun 2010 (copas dari official website FTW). Atau jika harus menjelaskan dengan istilah sendiri, I’d say Ennichisai is an attempt to create a genuine and authentic summer festival/natsu matsuri in Japan (and they’ve done a GOOD JOB). Seperti yang sudah ditulis di atas, Ennichisai sendiri sudah dimulai sejak tahun 2010, yang berarti Ennichisai tahun 2017 kali ini adalah Ennichisai ke delapan. Now you might have a question in mind, how come saya yang notabene seorang old fag baru datang ke Ennichisai tahun ini? Well the answer is basically I have underestimated Ennichisai since there’s only a handful amount of hype in my news feed regarding this event. Ada 3 argumen menurut saya soal ini. Yang pertama, commu saya di Jakarta banyak yang sudah sering hadir di Ennichisai sehingga merasa eventnya tidak cukup spesial untuk didatangi kembali atau mengumumkan kehadirannya di social media. Atau yang kedua, mereka tau tentang Ennichisai tapi justru karena tau itu mereka juga tau seberapa rame dan padat dan panasnya di sana jadi males datang. Understandable have a nice day karena buat orang Jakarta mungkin padat dan panas adalah hal sehari-hari jadi kalo bisa ngadem pas libur di rumah then why the hell should I go out?. Sedangkan argumen yang ketiga, commu saya yang di luar Jakarta banyak yang merasa tidak tertarik karena secara content acaranya memang tidak mempunyai cukup appeal bagi otaku, dibandingkan acara yang mempunyai guest star yang memikat seperti AFAID atau acara yang ditujukan untuk para artisan dan doujinka seperti Creator Super Fest atau Comifuro misalnya. Understandable have a nice day again sih karena Ennichisai secara isi lebih banyak yang bersifat kultural, meskipun juga ada elemen pop culturenya yang ditunjukkan dengan membuat satu panggung tersendiri khusus untuk content pop dan juga menghost final kompetisi cosplay Clas:H. Postingan ini sendiri dibuat untuk gambaran in general bagi anda yang belum pernah ke Ennichisai sehingga bisa dipakai untuk referensi dan pertimbangan jika hendak berencana datang ke Ennichisai.

Kembali ke journal, pada awalnya saya tidak berniat untuk datang ke Ennichisai, karena sama seperti yang sudah saya tulis di atas, saya mengira Ennichisai adalah festival jejepangan biasa layaknya event-event lokal yang sudah banyak bermunculan. Sampai suatu ketika saat saya sedang ngobrol dengan salah satu teman saya yang pernah datang ke sana, dia menyebutkan jika persepsi saya salah. Skala venuenya beda. Tingkat keramaiannya beda. Acaranya beda. Dan variasi stall yang ada juga berbeda. Kata dia. Intrigued, saya akhirnya bertanya-tanya lebih lanjut dengan teman saya, sampai akhirnya saya menyimpulkan jika Ennichisai layak untuk dicoba dikunjungi.

Step selanjutnya setelah memastikan akan datang adalah mengumpulkan orang yang kemungkinan bakal berminat buat ikut serta. Karena untuk trip perdana seperti ini jauh lebih enak jika berangkat bareng-bareng. Selain mengurasi pressure, juga bakal menghemat budget seperti tempat menginap. Setelah beberapa kali dibahas casually di sela-sela acara masak-masak mingguan, akhirnya diputuskan saya akan berangkat bersama 3 teman lainnya, lets call them J-san, N-san, dan G-san. Dengan formasi yang sudah fix, beberapa hal bisa mulai diatur seperti pesan kamar yang seperti apa untuk berempat dan posisi tempat duduk di kereta (4 orang adalah jumlah ideal karena bisa meng-occupy tempat duduk hadap-hadapan). Meskipun demikian tentunya plan dan itinerary tidak langsung jadi dengan mulus. Berangkat dengan rombongan membutuhkan rencana yang dihasilkan dari kesepakatan bersama, dan untuk mencapai konsensus itu tidak mudah, ada beberapa hal yang memicu perdebatan seperti:

- Datang untuk 1 hari atau 2 hari (hari terakhir saja)?
- Berangkat hari apa dan jam berapa (anggota group yang kerjanya kantoran hanya bisa berangkat dengan kereta malam)?
- Budget menginap dan apakah perlu menginap di 2 tempat yang berbeda jika memakai pendekatan budget-wise. Jika iya, penginapan yang murah sebaiknya dipakai untuk bermalam di hari pertama atau kedua?
- Dan beberapa hal yang lebih remeh seperti apakah perlu mengunjungi karaoke Limelight dan nonton cinema.

Setelah beberapa kali diskusi akhirnya kesepakatan tercapai. Rombongan akan berangkat jumat malam jam 18:55 dengan kereta Jaka Tingkir (tiket per orang ~200k). Menginap selama 2 hari 2 malam di SS Home kamar eksekutif (total 1 juta, bagi 4 jadi ~250k/orang) dan pulang hari senin pagi jam 10:15 dengan kereta Gaya Baru Malam (tiket per orang ~100k). Sehingga total budget untuk start awal ~550k/orang. Karena ini terhitung short trip dan masih di area lokal jadi tidak banyak persiapan khusus yang dilakukan dan barang yang dipacking. Pakaian untuk 3 hari. Pakaian tidur untuk 2 malam. Kontainer minuman untuk survival selama event. Dan tas lipat untuk membawa loot pulang. Jumat malam rombongan kami pun berkumpul di stasiun Lempuyangan. Setelah membeli seporsi nasi gudeg dibungkus untuk dimakan di kereta, kamipun menuju ruang tunggu.

Apapun event dan tujuannya, perjalanan dengan kereta ke Jakarta selalu menjadi bagian yang paling annoying dari trip. 8 jam di sebuah gerbong dengan berbagai macam kemungkinan random yang bisa terjadi, mulai dari teriakan dan tangisan bocah, sampai rombongan yang tak tau tata krama dan menyetel musik keras-keras. Membawa teman untuk ngobrol, buku bacaan atau musik pun hanya bisa menetralisir sedikit dari efek bosan. Belakangan saya baru nyadar jika hal yang membuat membaca di kereta terasa tidak seenak biasanya adalah karena ada gerakan dan guncangan. Satu-satunya hal yang paling efektif untuk menghabiskan waktu selama perjalanan adalah dengan makan kenyang dan tidur. Sayang saya (lagi-lagi) lupa tidak membawa bantal. Begitulah kiranya nasib orang-orang yang tidak mampu membeli tiket pesawat. Anyway pukul setengah 5 pagi rombongan saya akhirnya sampai di stasiun Senen, cukup telat dari waktu yang sudah dijadwalkan, tapi justru bagus karena itu berarti kami tidak perlu menunggu lama sampai halte Transjakarta beroperasi. Jangan ditanya kenapa kami malah memutuskan untuk menuju penginapan dengan TJ instead of taxi/grabcar/uber/gocar/etc karena sayapun sampai sekarang masih rikai dekinai. Padahal jelas-jelas waktu itu kondisi badan ibarat Ultraman sudah berkelap-kelip lampunya karena saya malah baru bisa tidur menjelang pukul 3 pagi. Anyway (lagi), setelah sampai di halte tujuan pun ternyata masih harus jalan kaki yang sebenarnya tidak begitu jauh tapi terasa cukup exhausting because MERCY I NEED HEALING. Belum lagi ditambah lokasi tempat nginep yang belum diketahui letaknya secara precise. Jadilah hari pertama dimulai dengan pesimisme akankah saya bisa datang ke Ennichisai day 1 ataukah saya akan tertidur berjam-jam begitu badan ini bersentuhan dengan kasur? 

Untungnya di tengah-tengah perjalanan kami bertemu dengan rombongan dari Semarang yang juga hendak pergi ke Ennichisai DAN MENGINAP DI TEMPAT YANG SAMA. Bukan itu saja, tapi ternyata mereka sudah beberapa kali ke Ennichisai dan beberapa kali pula menginap di lokasi yang sama. Hebatnya mereka dengan bernyali nekat membooking tempat on the spot (untungnya masih ada kamar kosong). Dan begitulah akhirnya kamipun sampai di penginapan yang cukup lengkap fasilitasnya (DAN MURAH) dan relatif dengan dengan lokasi venue Ennichisai (hanya ~10 menit jalan kaki). Hanya 1 kekurangannya, jam check in yang relatif terlalu siang, yaitu pukul 2, sehingga jika anda datang pagi bakal cukup kerepotan untuk menunggu. Untungnya salah satu staff ada yang berbaik hati meminjamkan 1 kamar untuk transit, sehingga kami bisa mandi dan beristirahat… sampai tiba waktunya ganti shift dan staff berikutnya menyuruh kami keluar dari kamar (thanks, Obama). Yah setidaknya kami sudah sempat mandi, istirahat bahkan sarapan pagi yang cukup mengenyangkan. Sehingga diusir pun bukan masalah. Masalahnya adalah siapa yang akan menjaga barang-barang di luar jika belum bisa masuk kamar sementara kami sudah ingin pergi ke Ennichisai? Untungnya N-san bersedia (meskipun setelah dipikir-pikir ada kemungkinan barangnya bisa dititipkan di resepsionis). And with that problem solved, petualangan di Ennichisai dimulai.

つづく

Gak diiiing. Postingan ini satu halaman tamat kok.
Saat saya sampai di venue, crowd masih belum begitu ramai. Sayapun menekan tombol R1 untuk memunculkan peta.

Sori, maksud saya, sayapun membuka file peta yang ada di HP. Seperti yang bisa dilihat, ada 3 panggung di peta, masing-masing dengan jadwal dan isi yang berbeda, dan ketiganya berjalan simultaneously alias bareng. Personally saya merasa salah satu bagian yang mengasikkan dari Ennichisai adalah bagaimana anda membuat kombinasi acara yang ingin ditonton dari jadwal masing-masing panggung. FYI C area adalah area dengan konsentrasi stand kuliner terbanyak jadi kecuali anda memang niatnya wisata kuliner, sebaiknya jangan lewat di sini karena rawan macet antrian pengunjung yang pesen makan.


Main Stage adalah panggung utama yang terletak di sudut atas. Secara ukuran, menurut saya panggung ini besarnya tidak begitu berbeda dengan pop stage, hanya saja secara content dan lokasi memang fungsinya paling central, karena pembukaan dan penutupan acara dilakukan di sini. Acara di panggung ini lebih berfokus pada elemen budaya baik dari Jepang maupun Indonesia. Daya tarik dari panggung ini tentu saja ada di acara-acara menjelang penutupan dan penutupannya (dari jam 6 sore ke belakang).


Pop Stage adalah panggung yang terletak cukup jauh, terpisah dari venue. Seperti yang bisa ditebak dari namanya, content panggung ini berfokus pada pop culture. Pesona utama dari panggung ini jelas di pertunjukan idol dan cosplay. Booth-booth yang ada di area sekitar panggung ini juga kebanyakan booth official dari artist atau group yang tampil di Pop Stage. Area ini juga yang paling rekomended untuk rest area jika anda ingin beristirahat untuk regen energy, karena lokasinya yang terpencil membuat area ini tidak termasuk dalam jalur sirkulasi pengunjung.


Area-E Stage adalah panggung yang letaknya di tengah-tengah. Dengan kata lain, penonton panggung ini juga berada di jalur pengunjung jadi ya cukup terintrusi arus pengunjung apalagi jika anda tidak cukup berada di depan barisan penonton. Saya sendiri hanya menonton Ono Enka di sini, tapi ternyata ada kelebihan lain dari stage ini yang detailnya akan saya tulis nanti di bawah.

Now back on travel log. Jam menunjukkan pukul 10:20 saat saya sampai di venue, target pertama untuk stage show saya adalah Samurai Girls (bukan, bukan anime yang itu) yang akan perform di pop stage pukul 12:20. Jadi masih ada waktu 2 jam untuk muter-muter. 


Yang membedakan Ennichisai dengan event jepang-jepangan lokal lainnya, salah satunya tentu saja adalah ini. Akhirnya untuk pertama kalinya saya bisa melihat mikoshi! (ohwow)


Entah kenapa 2 hal pertama yang kepikiran saat pertama kali melihat mikoshi adalah: 1) botol sake nya mengingatkan saya dengan wishlist figure Nadeko Medusa yang sampai sekarang belum juga kebeli (pls gib muni) dan 2) boss battle game STG :v

K-kuru na!! AAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaa
((BAD END))


Tema Ennichisai ke-8 (2017) adalah Challenge (挑戦). Dengan tema tersebut jelas boneka daruma adalah icon yang paling cocok. Dengan slogan Nana Korobi Ya Oki, personally I find the slogan has quite a resonance with me. 3deep5u. Tujuh kali jatuh, delapan kali berdiri. Tujuh kali ditolak, delapan kali nembak. Tapi masalahnya saya sudah ditolak delapan kali, jadi gimana dong :v..? Anyway, looks like its almost 12:00. Let’s go to the pop stage untuk nonton idol gratisan. The show should begin at 12:20 tapi jika saya datang jauh sebelum itu chance untuk mendapat tempat nonton di depan lebih tinggi. Dan begitulah, biarpun saya bukan vvota tapi saya dapet tempat nonton lumayan di depan. Ohoho.

Now I don’t know much about dunia peridolan. Jika anda mengikuti sepak terjang saya di FB, anda pasti tau kalo genre musik favorit saya adalah jazz, funk dan blues. Akan tetapi ada hal yang saya namakan dengan conditional music. Ini adalah tipe musik yang tiba-tiba terasa seperti musik favorit jika berada di suasana yang tepat. Sama seperti lagu-lagunya FALILV atau Maximum The Hormone yang dalam situasi normal saya bakal pusing dengernya atau merasa I’m too old for this shit, tapi dalam situasi khusus seperti sedang stress berat dan ingin #ngamok, tiba-tiba lagu dari dua group musik tersebut terdengar merdu di kepala. Lagu idol pun demikian. Kondisi yang cocok dengan lagu idol bagi saya adalah di event. Ini sudah terbukti karena saya pernah mencoba mendengarkan jazz saat di event dan meskipun efeknya cukup oke, saat saya mencoba mendengarkan lagu idol atau moe yang catchy tiba-tiba atmosfernya terasa sangat woooooow kereeen. So yeah, saat di event tiba-tiba saya merasa so into idols (mungkin karena ada faktor live performancenya juga sih) tapi pas udah balik ke kamar dan nyoba muter lagu yang sama di youtube tiba-tiba rasanya berubah jadi kaya ew lagu apaan sih ini, cepat matikan sebelum saya terserang diabetes *terus ganti city pop* Anyway, for the first show I admit I lack of preparation. Saya memang sejak awal sudah berkomitmen untuk hanya mengeluarkan kamera sesekali saja dan itupun hanya untuk mengambil kamera, tidak merekam video. Karena saya datang untuk menonton, and that’s what I will do. Menonton sambil merekam hanya akan mengurangi immersion level. Lagipula nanti juga pasti ada banyak akun di youtube yang mengupload hasil rekaman yang bisa anda tonton ulang. Tapi rupanya untuk performance pertama ini saya terlalu sedikit mengambil gambar ..dan hasilnya gak ada yang bener orz. Padahal secara efek visual, performnya Tokyo Samurai Girls paling bagus karena ada efek live stream dari kamera, jadi layar dibelakangnya tidak statis tapi berubah sesuai dengan gambar yang dicapture camera. Ditambah dengan efek visual, kesannya jadi kaya hundreds and hundreds of idol in synchro, keren banget. Coba saja anda cari di youtube.


Layar di belakang itu monitor yang menayangkan gambar dari kamera (bukan projeksi dari depan seperti yang biasa dipakai di event-event lokal) dan di perbanyak jadi kesannya seperti ada cermin di dalam cermin di dalam cermin. Imba lah pokoknya.


Salah satu keuntungan bertubuh kecil, bisa menyelinap sampai depan. Bandingkan jarak dengan panggung di foto ini dengan foto sebelumnya.

Idol kedua setelah Tokyo Samurai Girls adalah Shoujo Complex yang terkenal dengan Ola Aphrodite nya. Karena penasaran dengan versi live nya, apalagi sampai udah pernah perform di Okinawa jadi saya bela-belain menyelinap sampai depan. Awalnya sih yang perform sub unitnya, tapi setelah itu waktu member yang lain muncul satu persatu, Ola nya tidak ada. The audience starts wailing like wounded banshee. Turn out its just a prank bro. Ola muncul belakangan, turning the lament of vvota into song of joy. And so for the first time I let myself witness her live performance. And it was

Not baaaaaaaaaaaaaaaaaaddd..

That girl can dance for sure. Saking charmed nya saya sampai lupa motret. No, more like, actually saya bisa motret tapi karena besok bisa nonton lagi jadi mending saya pakai waktu yang ini buat completely watching saja. And please. Don’t call FBI.

Idol ketiga yang perform adalah Enka Girls. Kalau ini saya sudah pernah nonton pas di Jogja Idol Festival (karena saat itu buka stand di sana). But there’s one thing I didn’t expect. Ternyata formasinya sudah berubah. Member lama yang megane, Emily diganti dengan member baru yang tidak bermegane, but to complement the lack of megane, she got twinbraids. Please welcome, Kurose Honomi.

It was at this moment I knew my twintails fetish has been completely replaced with twinbraids.

Well actually I took quite some amount of photos but lets not turn this post into Honomi gallery.

By the way she has instagram :v

Setelah Enka Girls sebenarnya masih ada Kissbee, but I think I have enough of my idol fix, jadi sayapun meninggalkan area pop culture untuk nyari makan. Tapi setelah berjalan beberapa lama, I’ve come to conclusion that I already walk the area enough karena sudah bolak-balik mengelilingi venue beberapa kali. Jadi akhirnya sayapun memutuskan untuk kembali ke tempat menginap.

Oh I forgot to tell you, meskipun saya berangkat dalam rombongan tapi di sini semuanya berpencar. Teman saya malah pada nonton Alien Covenant di Gandaria Mall :v So when I’m back at guest house, I found myself alone, contemplating whether my decision to spend to days at Ennichisai was the right thing. Is Ennichisai just about those stages and stalls? Stage-wise, tidak banyak yang saya minat, mungkin hanya enka dan jazz. Idol hanya pemanis tambahan. Stall? Yah yang makanan memang menarik sih, tapi tidak seperti belanja doujin di comiket, belanja makanan kalau saya tidak bisa shopping spree, karena kapasitas terbatas, paling makan semangkok ramen atau seporsi okonomiyaki aja langsung kenyang full tank, harus nunggu energi habis dulu baru bisa lapar dan makan lagi. Booth lain yang menarik buat saya adalah shooting game yang bener2 bikin jadi terasa banget atmosfer matsurinya, plus booth pinball berhadiah merchandise Hanshin Tigers. Too bad saya malah lupa gak motret2 foto stall/booth orz. Booth lainnya, mengutip ucapan temen saya, Ennichisai itu rasanya seperti natsu matsuri, dengan booth merchandise anime. Lmao. Well not that I hate or against it, cuma terasa lucu saja. Anyway I was thinking about whether I need to change the plan for day 2 buat main-main ke tempat lain di jkt, when my Facebook post got some interesting comments. Apparently beberapa member /ton/ jkt bakal ada yang datang sorenya. So I thought, okelah daripada bengong sendirian di kamar mending balik ke sana lagi. Lagian masih ada jazz yang ingin saya tonton. And so I went to revisit day 1 at 16:45. AND BOY WAS I WRONG TO THINK ABOUT LEAVING ENNICHISAI.


Bagaikan menjawab pertanyaan saya, ketika saya tiba di lokasi, saat saya hendak menuju ke pop culture area, jalan menuju ke sana tiba-tiba ditutup. Sepertinya akan ada sesuatu yang lewat. Ah, I thought, that’s right. Mikoshinya kan bukan cuma buat pajangan saja. Karena penasaran akhirnya saya memilih menunggu di tepi jalan alih-alih mencoba menyelinap (sebenarnya bisa saja menyelinap lewat belakang penonton jika tetap ingin berjalan) dan untungnya saat saya berdiri di tepi, orang yang mau menonton masih belum memadati jadi saya dapat spot lumayan di depan.

RANDOM BATTLE ENSUED *tet tet tereret terereret tet*



Mikoshi yang pertama adalah mikoshi yang diangkat oleh anak-anak. Kalau di dalam game, ini adalah boss stage 1 yang nantinya jadi musuh reguler di area menjelang end game #apasih


Berikutnya adalah mikoshi yang diangkat oleh wanita.


Lalu mikoshi pria


And then, there’s this. Entah apa namanya. Mikoshi yang ini tidak diangkat tapi ditarik dengan tali di kedua sisi (sisi depan untuk maju, belakang untuk ngerem). Kalo di dalam game, ini pasti final bossnya.


Malam menjelang dan suasana makin terasa festive karena efek lampu yang kira-kira. Saatnya menuju pop stage untuk nonton jazz. Masih ada 1 jam sebelum Ear Candy Jazz Factory (whatever is that) but its ok, bisa nonton perform yang sebelumnya dulu sambil nunggu.


18:10 di pop stage adalah jadwal performnya Keisuke Ito. Akhirnya kesampean juga nonton live performance shamisen (bukan kucingnya Kyon). Dengerin ini langsung auto choonee lmao. Efek video di belakang panggungnya juga bagus, matching sama suasana dan tempo lagunya. Tapi yang paling unexpectedly entertaining adalah waktu beliau main Pegasus Fantasy.

I ACTIVATE MY COMMAND SEAL!

Setelah Keisuke Ito ada perform dari Mori Tsubasa (tidak ada hubungannya dengan judul anime sepak bola atau nama waifu saya dari serial Bakemonogatari). This guy sung the ED song of Hitman Reborn or so he said, tapi saya tidak nonton animenya, so yeah. 


But turn out his performance is good. Biarpun musiknya kalo buat saya terdengar biasa-biasa saja, tapi interaksinya dengan audience sangat bagus. Dengan broken Indonesian, he manages to make the audience laugh, especially when he said “maaf” using Jap pronounciation, which becomes “maafu”. One thing that manages to impress me, is when there’s adzan isya in the middle of him playing. I was, like, oh shit, this is going to be awkward af. But he didn’t decide to stop or keep on singing. Instead, he plays the accoustic guitar slowly without vocal. Awalnya orang-orang pada ngira kalo itu bagian instrumental dari lagunya, tapi setelah beberapa menit berlalu akhirnya penonton pada mudeng kalo dia sengaja bikin sesi akustik impromptu untuk menjembatani supaya lagunya tidak terputus tapi juga tidak menyaingi suara adzan. Setelah adzan selesai baru vokal kembali masuk dan audience pun bersorak out of cheer and respect. Good job, Mori-san!

Performance selanjutnya setelah Mori Tsubasa adalah Ear Candy Jazz Factory. Now I dont have any information about this group so I only came with the expectation of watching jazz. I DIDN’T EXPECT TO SEE LOLI DRUMMER.


So yeah I was like O___________O HOLY SH-- the entire time. 


The combination was amazing. I think this was a family group with the dad plays the keyboard, the nekomimi+braid mom as bassist and badass loli drummer. TURN THIS INTO ANIME, KYOANIIIIIIIIIIII


Joke aside, this is truly an amazing treat way surpassing my expectation for sure. You can watch more of their performance by searching for Ear Candy Jazz Factory in youtube (obviously). Or I could just embed their video here but instead of that, I prefer to show you Kanade-chan awesome skill.


Setelah Ear Candy Jazz Factory masih ada Hiroaki Kato dan REDSHiFT but my instinct told me to go to main stage instead. One thing that you should take into mind is that even though the distance from one stage to another is relatively short but with the huge amount of crowds, navigating is not an easy feat. Jadi kalo tidak mau capek ya mending stick to one stage dan nonton show di situ terus, leave cuma buat nyari makan. But personally I find the “stage hopping” activity is fun.


Di main stage ada Tsugaru Samishen by Iwata Momokusu. Berbeda dengan shamisen di pop stage, di sini lagu yang di perform lebih ke traditional style, or so I think. One special moment is when Kyu Sakamoto’s Ue O Muite Aruko playing and ppl start to chant the legendary Nyanyian Kode lmao based Warkop DKI. Suasana semakin lively setelah samishen karena ada Bonten dengan taikonya. Just photo alone doesn’t do justice. I suggest you to look for youtube clip though of course if you want to feel the authentic experience, there is no way else than watching it live.


Taiko, samishen, sakuhachi. The beat is intense and you can feel the spirit of summer in the air. Its just sooo amazing my creative juice pumped out overflows I got an inspiration for a short story (I’ll write it later on day 2 review). More pic follows.


As the music gets more intense, the path is cleared to make way for the mikoshi. Apologize in advance for the QUARITY photos due to my phone camera sucks ass during low light.


It was a splendid view. The music, the crowds, the scenes. Though I was confused karena rasanya sudah seperti penutupan acara padahal besok kan masih ada day 2. Kalau besok acaranya kaya gini lagi jadi terasa tidak special dong penutupannya? (turn out I was wrong).

Setelah puncak acara hari ini selesai, keramaianpun berangsur-angsur mereda. Dan sayapun berencana untuk membeli makan malam lalu pulang.


Tapi tidak sebelum memotret neon sign yang AESTHETIC ini.

Akhirnya saya pulang ke guess house dengan membawa okonomiyaki untuk makan malam. Sesampainya di penginapan, member rombongan yang lain sudah ada di kamar dengan membawa oleh-oleh dari King of Troll yang namanya tidak boleh disebut.

ABSOLUTELY HAROM

Tapi karena dari dulu saya penasaran dengan rasa minuman beralkohol yang classy jadi tidak ada salahnya (actually ada salahnya) mencoba. So I tried the vodka. And whiskey. And cognac. Nothing much happen afterwards except my body feels hot like one of those line in doujin (karada ga atsui..), mungkin karena dosisnya tidak seberapa. After that, I went to sleep to prepare for day 2.


Later, much later pas udah sampai di Jogja, waktu cerita-cerita soal ini ke circle, salah seorang temen yang tidak ikut plesir ke Ennichisai ngomong kalo bentar lagi bukannya udah puasa? Nanti kalau puasanya gak kehitung gara-gara penalty sekian hari ibadah gak kecatat karena mengkonsumsi alkohol gimana tuh? And I was, like, oooh shiii-- bener juga :v..

This ends the Ennichisai travel log for day 1. Before we move to day 2, I’d like to use this chance to write one of my favorite Japanese sentences, which is:


Kono bangumi wa goran no suponsaa no teikyou de okurishimasu


Yes, that’s a custom made t-shirt. FYI Saudagar Waifu sekarang bisa membuat T-shirt satuan, which basically means you can order almost any kind of picture you want. For more information or if you want to make one, just contact Saudagar Waifu.

*insert BGM JRPG waktu tidur di penginapan di sini*

Enter day 2. Dengan exp dari hari sebelumnya, suffice to say we’re quite confident bakal bisa menikmati Ennichisai hari kedua dengan efektif. Let’s see, karena kemarin sudah puas muter-muter dan nyicip-nyicip stand, berarti hari ini fokus ke stage saja. Show paling awal yang saya minat ada di pop stage jam 12:15, rencananya saya ingin mengambil beberapa foto Tokyo Samurai Girls saat perform untuk bahan blog karena kemarin fail. Turn out teman saya punya rencana lain, yaitu mengunjungi Mankitsu sebelum ke Ennichisai. Mankitsu (jangan ditambahin Happening di belakangnya kalo googling) adalah toko manga second yang jaraknya tidak jauh dari venue Ennichisai. Manga yang dijual di sana adalah manga ori versi Jp jadi kecuali anda cuma beli manga buat lihat gambarnya, minimal anda harus punya basic moonrune reading untuk bisa menikmati item-item yang dijual di sana. At first I was like, okelah, berangkat jam 10 aja kalo gitu, 2 jam harusnya udah cukup buat jalan plus browsing-browsing di sana, jam 12 udah sampai venue. BOY WAS I WRONG.

Secara luas, Mankitsu relatif kecil dan area manga juga tidak banyak, sekitar 4-5 rak, lainnya buku-buku dan majalah, dalam bahasa Jepang juga tentunya. Temen saya sempat nemu majalah gravure dan photobook Shokotan di sana. Tapi ada 1 faktor penting yang membuat Mankitsu menjadi such terrifying store; manga second di sana TIDAK DISEGEL. Yang berarti anda bebas membuka-buka isinya untuk dipreview sebelum memutuskan membeli. Combine that with the fact that manga jp yang ada di sana banyak yang belum atau mungkin tidak akan pernah dilisensi then practically anda bakal punya banyak pilihan untuk dibrowsing yang bikin jadi lupa waktu. And the last charm of the place; harganya murah! Well, bukan hal yang mengejutkan sih jika anda pernah ke Jepang karena manga second di sana harganya bisa sampai 200-300 yen, tapi tetap saja dengan range 20-30rb per manga dan pilihan yang sangat bermacam-macam, dan kondisinya sebagian besar masih bagus, wajar jika akhirnya saya khilaf hingga 200k dan ketinggalan nonton Tokyo Samurai Girls gara-gara tempat mengerikan ini. Sedikit tips buat yang mau hunting ke sana, karena kebanyakan manga yang berseri volumenya bolong-bolong, pastikan anda googling atau membuka baka-update untuk melihat berapa total volume dan apakah manga itu masih ongoing atau sudah tamat (atau malah kena axe). Atau jika ingin safe bet ya beli manga yang satu volume tamat saja.

Back to Ennichisai, karena telat datang otomatis saya melewatkan Tokyo Samurai Girls. Tapi untungnya saya masih bisa nonton Shoujo Complex yang perform setelahnya. And this time, I’m not too petrified enough to grab some photos.


Err.. okay, I think that’s way more than enough than what I should took. Anyway, sama seperti day 1, setelah Shoujo Complex ada Enka Girls. Now here’s the thing. Di waktu yang sama di panggung E-area ada Ono Enka. Sama-sama (ada) Enka (di namanya) tapi bedanya lumayan jauh. Ono Enka sendiri adalah penyanyi enka tapi made in lokal. Kalau saya tetap di pop stage, saya bisa nonton Honomi-chan lagi tapi sebagai oldfags yang menyukai Enka sungguh tidak beradab rasanya jika saya tidak paying respect dengan menonton penyanyi Enka, meskipun yang membawakannya masih saudara sebangsa sendiri. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya jiwa oldfag saya yang menang.

Oh yeah, by the way, crowd saat siang di hari kedua kurang lebih kaya gini.


But this guy is good. Bukan penyanyi enka abal-abal lah kalo saya bilang. I mean, nyanyi enka sendiri butuh skill yang tidak mudah. Salah satu lagu yang dibawakan kalau tidak salah dari Hikawa Kiyoshi tapi saya lupa judulnya. Tentu saja karena enka adalah genre yang tidak populer apalagi di kalangan anak muda jadi crowd penonton di stage ini jauh banget bedanya. Tapi biarpun sedikit yang nonton di sini, penontonnya antusias semua. Bisa dipastikan kalau mereka juga penyuka enka. Baru satu lagu dinyanyikan, ada interupsi. Ternyata jalan di depan stage mau dilewati mikoshi. Dan saya cukup beruntung karena di depan panggung saat itu cukup sepi jadi saya malah dapat pijakan buat nonton mikoshi lewat. Hence the mikoshi photos di day 2 ini kualitasnya lebih bagus.


Saking authentic nya sampai ada yang berpakaian seperti ini. Bro, do you even pose?


Setelah lewat, pertunjukan enka kembali dilanjutkan.


Waktu menunjukkan jam 2 lewat saat Ono Enka selesai. 15 menit sudah berlalu dari show yang ingin saya tonton, Big Band Jazz Orchestra, yang mulai perform dari jam 13:45 di main stage. Sayapun cepat-cepat meninggalkan Area E Stage menuju Main Stage.


It’s time for jazz!

As expected, crowd di sini kebanyakan riajuu dan bapak-bapak, seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan penonton di pop stage.

*SOLO GUITAR INTENSIFIES*


Bapak ini IMBA. Main harmonika sampai turun ke bawah diantara crowd, sayang saya gak bisa dapat fotonya pas lagi di bawah.

JAZZ FOR YOUR SOUL

Selesai nonton jazz, jadwal saya adalah menuju ke pop stage untuk menonton, err, JKT48. Sudah sekitar 5 menit berlalu sejak jadwal mereka mulai main sih, tapi apa boleh buat, saya berat ke jazz nya. Di tengah perjalanan dari main stage ke pop stage saya sempat berhenti di dekat mikoshi yang sudah kembali diparkir di tempatnya semua untuk mengambil beberapa foto.

A WEAPON TO SURPASS METAL GEAR #bukanwoi


Setelah berjalan melalui arus manusia, sayapun sampai ke zona pop stage dan- WHUAT THE FUACK???


Apakah saya sedang berada di dalam sebuah adegan dalam film zombie? Oke, sepertinya kata “JKT48” jika digabung dengan kata “gratis” hasilnya sama dengan “jangan datang kecuali anda sudah datang di lokasi jauh-jauh sebelumnya untuk mengklaim spot yang bagus”. Tapi tunggu, bagaimana dengan skill menyelinap bagaikan belut? Mungkin jika saya bisa maju ke depan-


..dame da. Zenzen dame da! VVota wall is unbreakable. Sudahlah, pikir saya, daripada cuma bisa lihat titik-titik yang bergerak di depan (harusnya saya bawa teropong) mendingan batal aja deh nonton yang ini. Sayapun pergi meninggalkan zona pop culture. Di luar dugaan ternyata saat jalan-jalan random pas di depan boothnya Yoshimoto Indonesia, personelnya Shoujo Complex lagi mengadakan semacam jankenpon games. Enjoy some eye candy.


Tapi karena saya di depan booth literally gak ngapa-ngapain selain ngambil foto, jadi gak enak juga kalo lama-lama di situ. Saatnya cabut. Saat itu tiba-tiba ada sms masuk yang isinya tentang gathering /ton/ di KFC blok M plaza. Show yang ingin saya tonton berikutnya yang terdekat adalah Ear Candy Jazz Factory sekitar 1 jam lagi di pop stage. Masih ada waktu lah pikir saya. Tapi ketika saya hendak menuju tempat gath, jalan yang hendak saya lewati ada tanda-tanda hendak dikosongkan. Something is going to pass by again, pikir saya. Karena penasaran sayapun mencari spot yang enak buat nonton dan kebetulan tempat saya berdiri saat itu ada di dekat booth bir bintang yang secara elevasi lebih tinggi daripada jalan di depannya. Sayapun masuk ke situ cuma buat lihat ke arah jalan (some ppl are also doing that and its understandable I guess karena penonton di jalan harus mundur untuk menyediakan space). Ternyata yang lewat adalah parade Oiran. Apa boleh buat, karena terlalu AESTHETIC buat dilewatkan jadi sayapun tidak jadi ikutan gathering :v (sorry guys).


Look at that kimono details. Also saya baru tau kalo gaya berjalannya seperti itu, pantesan harus ada pendampingnya. Btw pas nonton ini ada couple riajuu di sebelah saya 
Cewek: Itu apa sih
Cowok: Gak tau 
Cewek: Putri raja gitu ya?
Saya: (ngakak dalam hati)


Pas bagian ini lewat ntah kenapa yang kepikiran pertama malah musuh di Gintama :v (tongkatnya itu lho). Setelah sampai di depan E area stage, sang oiran berhenti sejenak untuk sesi foto-foto. Karena tempat saya nonton juga gak jauh dari stagenya, jadi saya sempat dapat kesempatan buat motret sebelum time limitnya habis.


Btw itu bungkusan isinya apa ya :vc?

Selesai dengan parade oiran, saya langsung melanjutkan perjalanan ke pop stage. Sampai sana pas Jazz Factory baru mau perform. Karena musik jazz bukan untuk konsumsi zombie-zombie vvota, jadi area di depan panggung pun sudah lumayan lega lagi.

MANTAP GAN!


Karena jadwal performnya lebih siang dibanding kemarin jadi hasil fotonya lebih bagusan dari day 1. Seusai nonton Ear Candy Jazz Factory saya roaming around lagi buat nyari the legendary summer drink, ramune.

40k dan gak nemu yang ada labelnya orz but still, ramune is ramune, air pembaptis vvibu

Oke, now what? Basically show yang ingin saya tonton tinggal penutupan, karena saya tidak begitu berminat nonton cosplay related performance di pop stage, sementara di main stage dan E area stage tinggal band-band an. Mau ikut gath juga menurut update info dari sms sudah pada bubaran. Akhirnya saya memutuskan untuk refill energi dengan cari makanan dan nyari tempat buat duduk-duduk di area pop culture karena lokasinya paling strategis buat istirahat. Now this might seems weird but apakah selama anda membaca post ini anda menyadari jika banyak keberuntungan yang kebetulan terjadi selama saya di Ennichisai? Day 1 saat saya memutuskan untuk balik ke venue sorenya pas dapat event mikoshi lewat. Pas saya ke panggung area pop culture buat nonton idol juga pas dapat spot di depan. Pas nonton enka, pas ada mikoshi lewat lagi dan pas berdiri di dekat pijakan depan pangung. Pas lewat di dekat booth yang ada undakannya, pas jalannya mau ditutup buat lewat oiran. Mungkin ini yang namanya beginner’s luck karena ini pertama kali saya ke Ennichisai. But anyway sepertinya streak of luck saya belum selesai karena saat saya duduk-duduk di belakang FOH/sound sytem stage, ternyata area tepat di depan saya adalah jalur yang dipakai peserta single cosplay untuk lewat. Dengan kata lain, jadi biarpun saya tidak nonton performnya tapi malah bisa lihat semua peserta single cosplay tanpa perlu susah payah ke depan panggung (malah mereka yg jalan ke sini). Not bad, right?


Sebenarnya ada banyak foto yang saya ambil tapi karena basically I’m taking photos of ppl passing by jadi yah hasilnya gak seratus persen bagus semua.


If you appreciated the photo that I took above, then


And now something to test your eyes’ endurance


Here’s the antidote


Btw ini chara dari serial apa sih? I have weakness with succubi


That’s all folks. Setelah event diluar ekspektasi ini saya memutuskan untuk menonton acara di pop stage sambil menunggu penutupan di main stage. Acara selanjutnya di panggung pop culture adalah Yoshimoto Comedian Project. Salah satu unit yang mungkin anda kenal adalah The Three yang terkenal dengan lagu Tidak Apa-Apa (yang dalam bahasa jepang artinya Diejobu Monday Night).

You expect for Japanese Comedian, but it was me, Jokowi!

Ketika kamu sudah mati di dalam dan seseorang menyuruhmu membaca doujin NTR:
TIDAK (NGEFEK) APA-APA. TIDAK APA-APA.

ORE WA GANDAM

Tapi bagian yang paling imba dari perform ini adalah
NIKMATNYA NTR

Selesai nonton ini saya pergi dari pop stage menuju main stage. Di sana jadwal yang sedang perform adalah mas Hiroaki Kato. Dulu saya sering nonton performnya waktu di Jogja sih. Tapi saya belum denger lagunya yang baru. So to the main stage I went.

AND IT WAS SO GOOD TAT

Auto baper karena lagunya mengingatkan saya dengan seseorang. Jarang-jarang saya mengapprove lagu modern dengan bahasa Indonesia, but yeah, “Buatmu Tertawa” is a good song, especially if you can relate to it. Go to youtube and look for it if you want. Setelah Hiroaki Kato, acara di main stage sama seperti kemarin, combo performance shamisen-taiko-closing. Saya berencana buat stay di main stage tapi di jadwal pop stage ada perform yang namanya bikin penasaran, DPRINCESS. Well I need to check it out or this blog won’t be called Ikemasen, Ojou-sama!


Welp, ternyata maksud dari DPRINCESS adalah Disney Princess. Oh well, padahal keren kalo misalnya da kabaret crossover semua himesama di dunia animu. Like, if Asseylum meets Latifa Fleuranza to have some tea, for example (ini sih ngarep namanya).


Uchi no himesama ga ichiban kawai (actually, I have stopped playing that game since few months ago gara-gara updateannya yang terakhir bikin gak kuat dimainin di hp saya). Anyway the show itself is not bad, sepertinya standar perform cosplay sekarang memang harus melibatkan some gimmick seperti ganti kostum di atas panggung kalo mau terlihat spesial. Tapi saya gak nonton sampai selesai juga sih :v Setelah balik ke main stage, ternyata timing saya pas mau mulai penutupan oleh Ketua Komite, disusul dengan RANDOM APPEARANCE OF MEMELORD.


Nama saya Uno tapi saya bukan bukan orang Jepang. Hahaha, very funny, our memelord is. Harusnya biar lebih seru ngomongnya nama saya Uno tapi saya bukan orang Jepang apalagi karakter antagonist film senyap yang dipuja cuma karena modal paha doang. NISHIMIYA BEST GRILL F8 ME M8.. tapi IRL kalo Nishimiya nya jelek ya paling juga kalian gak bakal nolongin. Yah intinya sih orang jelek kalo dibully irl gak bakal ada yang nolong. The ugly man theory is the universal truth.


Dan sepertinya lucky streak saya masih belum selesai. Karena tempat saya berdiri ternyata dipake buat jalan keluar memelord. Sayangnya karena jalannya cepet dan pengawalannya ketat jadi saya gak bisa ngambil foto. Have this aesthetic background picture fitting for doujin level kinetic novel about hardboiled protag living in noir setting made with NScripter engine.


“It was one of those night in the middle of hot summer. I was walking quickly toward one of my client’s place when I stumbled upon this neon sign..” ..males lanjutinnya lol. Anyway the acara selanjutnya adalah perform sama seperti kemarin TAPI LEBIH INTENSE.


Dan saya beruntung dapat tempat pas di depan banget jadi bisa lihat taikonya dengan jelas.


Lebih meriah dari hari pertama, finale day 2 leveling up dengan membawa orang di atas mikoshi. Incoming QUARITY photo lagi. Btw lagu yang dibawakan saat penutupan ini adalah theme songnya Ennichisai. Its called "Bunga Sakura". Dual language obviously dan biarpun lirik yang bagian Indonesia terdengar agak aneh di telinga saya but overall is a good song. Sampai sekarang bagian lalala~ nya masih terngiang di kepala.



Alrite, as promised I will write the story I had in mind during listening to the epic performance. Lumayan panjang jadi siapkan waktu anda (you can try playing Ennichisai Finale 2017 on Youtube while reading this)

~✿~

The story take place in classic Japan setting. The protagonist is a blind man, wandering exorcist, exterminating youkai while he roams the earth. Let’s call him the blind exorcist. No one knows where he came from, when asked where he going, he’ll answer that he’s travelling to Y mountain. The blind exorcist only has one weapon, a sword he named Suzume. This is not an ordinary sword. When a youkai defeated using this sword, the sword will absorb the youkai’s power and claiming as its own. Hence the owner of Suzume capable of having youkai-like abilities. Of course there is a catch. The more youkai absorbed, the less human the sword holder becomes.

As the journey progress, we see more of protagonist thought, backstories, etc. People sometimes see the exorcist talking to his sword but they try not to make a fuss about it. Afterall, even though the exorcist is a man of few words but he’s really skillful and not picky when helping people. The story will be divided into two parts, the first part ended with a big battle between a mid-boss like youkai who hear the exorcist’s name and want to challenge him. After a long battle with ufotable quality scenes, the youkai was defeated though it was a very close win. As the youkai’s power got absorbed into the sword, the audience was shown that the sword really did talk back to the exorcist via telepathy. It was a woman’s voice.

The second part is, of course, reserved for flashback.

Long ago, there was a skillful assassin. He was orphaned since child. Raised by a legendary swordman who ended up killed in betrayal, he believes that in order to life, one can only depend on one’s own strength and not to put trust into others. By living alone, he does not have to worry about anything else than her own safety. And he knows well how to protect himself. However, one night, when he finished doing his mission, a girl happen to witness his killing. He need to kill the witness, so he draws his sword. But he can’t bring himself to kill her. So he let her go, telling her he’ll kill her if she spilled the secret. Ironically, they became friends afterward. Let’s call this girl Shoujo A. I’ll add some keywords so you can imagine shoujo A in your mind; short hair, soft spoken, tender but can be strong headed sometime. Your standard best grill waifu.

It doesn’t take long for the plot to make the assassin fall in love with shoujo A. However, shoujo A seems oblivious with this fact. To make it complex, shoujo A has a close friend, a girl with almost opposite personality. Keywords; long hair, talkative, a bit tomboy, long legs, easy going, and have an abnormal amount of interest towards youkai and spirits related. Let’s call this girl Shoujo B. Even though shoujo B acts like shoujo A’s big sis but she also has her own fragile moments. Shoujo B knows the assassin loves shoujo A, but she’s in dilemma, because she actually fall in love with the assassin. The name of Shoujo B is.. Suzume. (What? You expect this is as an action story? HAAHAHA, enjoy the tragic drama). 

Remember the person the assassin killed during that night? That person is actually already engaged. When the news of his murder spreads, the fiancee couldn’t take the pain and decide to end her life. But she failed to do suicide because her own fear. And by a strange twist of fate, she was saved by shoujo A. Having saved and given second chance to life, she decides to give a new meaning of her life. FOR REVENGE. Let’s call this girl Shoujo C. Eventually shoujo C know that the killer of her fiancee is the assassin and he is quite close with shoujo A. Shoujo C befriends shoujo A and, automatically befriends with Suzume, where she finally find the old scrolls owned by Suzume and find the info about forbidden rite. Shoujo C kills herself and her ghost posses shoujo A. Shoujo A(C) trying to kill the assassin and the battle begin. In the middle of battle, the assassin realize that shoujo A is possessed by the ghost of woman whose her man is killed by him. Accepting his fate, the assassin let himself to be killed, only to get interrupted by Suzume. Suzume dies saving the assassin, but she manage to do forbidden rite and her soul went into the assassin sword. The assassin tries to fight again but Shoujo A(C) is already gone.

The assassin finally learns that Shoujo A(C) went to the youkai realm, and there’s a chance to go there via a gath that open once a year during summer on Y Mountain. The assassin took all the scroll’s knowledge and sets his journey as an exorcist. He then travels while practicing and absorbed youkai’s power along the way for the preparation of the final battle.

Finally its summer. The gate opened. The exorcist went inside and travel trough the youkai realms, fighting along the way, until he meets with Shoujo A(C) which also has gained power during her stay in youkai realm. ITS TIME FOR THE ULTIMATE BATTLE (ini yang saya bayangin pas denger perform finale Ennichisai). Its like all the spells and crazy skills going all out. Fire ice thunder snowstorm tsunami lava eruption earthquake etc etc. And obligatory THIS ISNT EVEN MY FINAL FOOOORMMM. The exorcist merged with 108 demons and Suzume in his sword and fight with Shoujo C Final Form with Shoujo A sealed on her chest.

After a long and hard battle, finally the exorcist beats Shoujo C (SONNA, BANANA etc). Shoujo A is liberated and they able to escape from the youkai realm. Shoujo A says she’s feeling grateful and accept the exorcist’s feeling. But the exorcise decides to continue travels with Suzume inside his sword. Under the orange summer sunset he bids goodbye.

THE END
~✿~


How’s that for an impromptu story? Quite imba if I may say myself.

And with that this post is also going to close. BUT NOT AFTER SOME FIREWORKS PHOTOS.


BGM please (demi menjaga kesehatan mental, penulis sengaja tidak menaruh Utakata Hanabi di sini)



In b4 salah fokus ke mbak-mbak di kanan bawah foto.


So long Ennichisai. It was fun. Time well spent. No regrets. 
I hope I can return to visit again.

EXTRA: Loots and Afterthought


Selain habis buat jajan makanan, benda fisik yang saya beli dalam trip ini adalah manga dan t-shirt. Seperti yang sudah saya tulis, manga 1-shot lebih rekomended buat dibeli karena bisa dibaca sampai tamat (Astro sensei yang ada di foto itu cuma terbit 1 volume ntah kena axe atau mangakanya males nerusin). Shoujo manga juga disarankan karena ada furigana dan dialognya lumayan simpel. Ada 2 judul manga shoujo yang saya beli di Mankitsu, semuanya bisa anda baca infonya di baka update; Hanameguri Awase, beli karena dikira settingnya Taishou, tapi ternyata Meiji. Oh well, still classic anyway. Satunya lagi Esoragoto yang dibeli karena heroinenya pake kacamata dan twinbraids :v (but turn out the story is not baad). Dua judul lainnya, Hokuto no Ken: Yuria Gaiden - Jibo no Hoshi adalah spin off Hokuto no Ken yang gambarnya berubah jadi AESTHETHIIICCC. Manga yang terakhir judulnya agak ribet I dont even care, dibeli setelah browsing beberapa halaman dan kayaknya aesthethictragic.

..dan ternyata iya, belakangan setelah nyampe rumah dan agak lama muter-muter di baka-update, ketemu juga infonya. Elhanburg no Tenshi judulnya. Genre: Drama, Fantasy, Historical, Josei, Psychological. Sama seperti Hokuto no Ken yang saya beli, manga ini juga ternyata sudah ada yang ngescanlation dan sekarang sudah dilisensei Yenpress. 10/10 rating. Review said "Plunged a knife into my heart and I can't pull it out". Story about two friends that grows distance (Suiko 2?). LOOKS LIKE I’M GOING IN FOR A GOOD DEAL. Mungkin akan saya review nanti setelah baca.

Kembali ke topik Ennichisai. Postingan ini dibuat untuk memberikan preview buat yang belum pernah ke sana and the conclusion kalo dari saya pribadi whether you should go or not, I think YOU SHOULD TRY IT. It has interesting shows, genuine matsuri atmosphere, lots of food to tray and free admission. Yah dengan catatan anda tidak keberatan dengan kepadatan pengunjungnya. Meet and greetnya juga lebih casual dibanding AFA (karena level guest startnya juga sih). Anda bisa ketemu dan foto dengan personel Enka Girls, Ear Candy Jazz Factory (dengan catatan harus belanja dengan minimal tertentu). Saya juga sempat lihat Lola dan Ola cosplay di venue seperti cosplayer biasa. Some other things to note, hati-hati dengan barang anda selama jalan-jalan, obviously ada copet juga di sana. Inilah kenapa saya lebih prefer pakai tas pinggang buat bawa hp/dompet/tiket/etc, karena letaknya di depan. Dan jika anda berencana untuk nonton show tertentu, datang ke stagenya lebih awal buat nyari spot di depan karena jaman sekarang kebanyakan orang nonton dengan merekam pake hp jadi bila anda di belakang dijamin anda bakal cuma lihat tangan bawa hp daripada artisnya.

That’s all. I hope you enjoy reading this post. See you on the next post!

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2017. Template by DheTemplate.com. Supported by Saudagar Waifu