Sunday, September 18, 2016

The New Traveler's Journal of A Certain Sorcerer: Part 3

0 comments
Previously on The New Traveler's Journal of A Certain Sorcerer
“Gentlemen, welcome to THE BROADWAY”
“Look at all those expensive items I can never afford”
“Calm down? we’ve been running around in this crazy maze for hours!”

Shin To Aru Mahoutsukai no Tabi Nikki: Part 3

DAY 2

Glass House - Minami Senju, Arakawa, Tokyo
Pagi tiba dan semua persoalan yang kemarin terasa seperti puzzle of chaos lenyap menguap bersama embun pagi #lebhae. Hari ini, Jumat 12 Agustus 2016 adalah hari pertama Comiket 90. Kalau meminjam lirik dari OST RWBY, “this will be the day we've waited for”, tapi hari ini saya tidak berencana untuk pergi ke comiket.
NANI? SONNA! BANANA!
That’s right. Kenapa begitu? Well, for a starter, tidak ada circle yang saya buru di hari pertama. ‘Tema’ day 1 comiket adalah popular/big name series, serial dengan populasi fanbase besar. Ini juga yang membuat hari pertama setiap comiket bisa berbeda-beda. Misal saat ini, yang sedang populer adalah Osomatsu, jadi anda akan menemukan circle yang menjual doujin Osomatsu di hari pertama, tapi mungkin di Comiket 89 hal ini tidak terjadi. Sebaliknya pula, serial yang sudah turun pamornya bisa ketendang dan tidak akan menempati hari pertama di comiket berikutnya.
Absen di hari pertama berarti anda akan melewatkan doujin-doujin dari Jump, Sunrise, Gendum, Hetalia, and Tenipuri, to name a few. Dari blok moe, anda akan melewatkan series seperti Girl und Panzer dan Madoka Magica. Tapi buat saya, that’s not a big deal.
Jadi, apa rencana saya hari ini? Well, sejak sebelum keberangkatan, S-san berkata kalau dia hendak mengunjungi masjid terbesar se-Jepang, Tokyo Camii (Tokyo Jamii’). Dan kapan lagi waktu yang tepat untuk mengunjungi masjid selain hari Jumat sekalian jumatan? Saya bukan orang yang religious level atas, but between praying and having fun, I’d say both is important. Ok, so, spot yang sudah fix untuk hari ini berarti Tokyo Camii. Let’s see, what’s the nearest station to it? Yoyogi Uehara. Berarti lokasinya di daerah barat. Now let me tell you about my travelling style. It’s called flexible supple, SEPERTI OPPAI. Jika sebuah spot yang penting untuk hari itu sudah ditentukan, maka tempat lain yang akan dikunjungi akan menyesuaikan, berdasarkan pertimbangan jarak. Ini berarti saya harus me re-arrange plan saya dengan memprioritaskan spot di daerah barat yang dekat dengan Yoyogi, atau yang bisa dilewati (jadi bisa sekalian mampir) saat perjalanan pulang ke Minami Senju. Jika bicara soal barat, maka rute atau spot yang bisa diambil adalah Nakano (lagi), Yoyogi Park, Meiji shrine, atau the riajuu combo; Yoyogi-Shibuya-Harajuku-Shinjuku-Ikebukuro (lokasi ini berurutan dan kalau anda niat dan punya stamina extra bisa dilalui dengan jalan Shibuya-Shinjuku, lalu naik kereta ke Ikebukuro. Saya melakukannya 3 tahun lalu). Tapi kali ini saya punya target spot yang lain lagi di barat, yaitu Roppongi Hills.
Alrite, so, where are we heading today? MAPPU DURAAW!!
Let’s see. First, I’m going to Yoyogi Uehara for the mosque, then to Roppongi for Louvre No.9 Exhibition, lalu di sana sampai sore dan baliknya mampir Ginza dulu karena prediksi saya saat itu pasti sudah malam dan jalan-jalan Ginza mantapnya dilakukan saat malam hari. Alrite, it’s settled then. Let’s go!
Ngomong-ngomong, apakah kalian tau tanda-tanda orang yang sudah mengalami chooneebyo tingkat akut? Salah satu ciri chuuni tingkat akut adalah mendengarkan lagu ini lewat earphone setiap kali keluar dari base dan berada di jalan.
Tapi memang feel nya DAPET BANGET sih. Dan ini sepertinya memang hanya bisa dilakukan di Tokyo, karena saya nyoba lagi setelah pulang ke indo dan rasanya gak nyambung blas. Based Atlus yang membuat jalan-jalan di Tokyo serasa jadi kaya protag JRPG yang EEEEEDGY.
Suatu saat nanti, semoga ada teknologi yang menggabungkan antara mini drone yang terbang di belakang anda dengan kacamata ala google glass atau VR yang men streaming langsung in real time dari kamera drone, sehingga ketika anda memakainya, yang anda lihat adalah tubuh anda dari belakang seperti gambar di atas. Ketika saat itu tiba, mungkin saya akan berlari-lari di jalan raya dengan bertelanjang dada dicat hitam-hitam dan tempelan-tempelan duct tape yang bisa glow in the dark.
Back to log, karena tidak ngejar comiket, jadi hari ini saya bisa lumayan santai. Rencananya jam 10 berangkat dan sampai Yoyogi Uehara jam 11an lah, lalu jalan kaki paling beberapa menit dan sampai di masjid jami’ nya Tokyo sebelum jam 12. Masih belum terlambat untuk ikut jumatan. Just as keikaku, right? Of course… not. Karena rencana berangkat jam 10, pukul 9 kami pergi  dulu ke supermarket di belakang rumah. Rencananya sih cuma lihat-lihat dan menghabiskan waktu sampai jam 10. But of course, we ended up getting carried away karena bahkan supermarket biasapun dimata vvibu terlihat seperti lokasi harta karun Janggut Hitam (in my defense, supermarketnya memang luas banget dan dua lantai). With so many things to see and be awed, it’s easy to lost the track of time.
The famous recovery item, indomie! [Recover moderate amount of HP. Can not be used instantly] It cost 105 yen, lebih murah daripada sebotol air minum tapi tetap saja kalau dibandingin sama harga lokal beda jauh.
Recommended by the ronery office ladies, Wakako onee-chaann
Apakah ini yang sering dimakan sambil minum beer?
Kenapa warna telurnya lebih putih daripada di sini? In b4 racist jokes.
Kerennya lagi, saat masuk supermarket ini, tiba-tiba lagunya berubah jadi MEGATEN BANGET. Saya sempat merekamnya, namun karena kebanyakan mikir rekam nggak ya akhirnya cuma sempat terekam beberapa detik karena keburu ganti lagu.
But still, the experience is guretto daze! I mean, it’s megaten-ish song inside an item shop!
Oh Japan, you and your moe way.
The August issue of Ultra Jump, featuring my beloved series with mini clear file as bonus. Ntah manga apa itu yang di majalah sebelahnya, it looks interesting, kaya mbak-mbak kantoran yang choonee.
Volume terakhir dari serial populer “Waifumu is ded mz”. By the way, di rak manga waktu itu yang sedang di fiturkan adalah Saiki Kusuo no Psi Nan, a great series which I really recommend, meskipun saya cuma nonton animenya dan gak baca manganya. Its full of OVERKOPLAK hilarity, almost at the same par with Gintama, you should check it out if you haven’t.
Setelah nyadar kalau hampir telat, kamipun langsung pergi menuju stasiun.
Jalan di sekitar tempat nginep. Come to think of it, this photo just beg for a typical morning encounter with a heroine character, right? possibly one that run with toast in her mouth, sambil teriak “chikoku chikoku” dengan suara moe yang childish. But that kind of bishoujo chara is not my type, so.. wait a second. Here we go.
SEE WHAT I MEAN? UWOOOOOOOGHHHHH IT’S MATCHED SO PERFECTLY BLENDING WITH BACKGROUND LIKE SUDDENLY I’M TRANSPORTED INTO 2D REALM IS THIS THE REAL LIFE?
What’s this statue doing here? How do I examine this? WHERE IS THE O BUTTON IN REAL LIFE?
Setelah perjalanan yang cukup lama (kurang lebih sama dengan perjalanan dari Nakano ke Minami Senju kemarin), akhirnya kami tiba di Yoyogi Uehara. Untuk menuju ke Tokyo Jamii’, kami masih harus berjalan sekitar 10-15 menitan. Dan waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 12. I have given up hope buat ikut jumatan. At least bisa lihat masjid terbesar se-Jepang lah, ntar habis itu sholat dzuhur aja. And so we arrived.
Waktu sampai sana tentu saja suasana sudah sangat ramai. Setelah mengekor orang-orang yang masuk, akhirnya saya sampai di tempat wudhu dan langsung menuju atas and, amazingly, jumatan masih belum dimulai. Entah karena waktunya beda atau memang sengaja dimundurin untuk menunggu yang belum datang, entahlah, yang jelas saya cukup beruntung masih bisa dapat shoff di tengah, karena menjelang mulai, saya melihat ke belakang dan yang datang sangat banyak sampai ada pengumuman buat merapatkan shoff karena masih ada lagi yang datang (dalam tiga bahasa! Jepang, arab dan indonesia. Of course it goes without saying kalau di sini anda akan banyak menjumpai orang Indonesia).
Khotbah pertama disampaikan dalam bahasa jepang dan meskipun terdengar wow tapi tentu saja saya gak mudeng isinya lol subtitle where #plak. Yang paling saya inget malah waktu khotibnya ngomong “kami no shimobe”. Setelah itu ada khotbah versi bahasa arab. Saya tidak inget ada versi inggrisnya atau nggak. Semua tas harus diletakkan di belakang dekat dinding dekat pintu masuk, tumpang tindih saling campur dan saya cukup paranoid karena dengan naifnya menaruh semua barang di dalam tas (hp, dompet, passport). Setelah sholat selesai, tentu saja butuh waktu agak lama untuk mencarinya karena jumlah tas yang di situ ada banyak, ditambah yang mencari tas masing-masing juga sama banyaknya. Akhirnya tas saya ketemu tapi berpindah cukup jauh, di bagian bawah jendela. Meskipun begitu, kekhawatiran saya tidak terbukti, karena isinya tidak ada yang berkurang.
Setelah itu kami turun ke bawah dan seperti yang sudah diperkirakan ternyata memang ada bagi-bagi makan gratis. Tiap orang mendapat satu porsi nasi ayam dengan minum ambil sendiri sepuasnya. Mantap gan.
Absolutely halal. Coba boleh bawa di tas lebih dari satu (atau mungkin boleh tapi saya jaim lah).
Minuman yang tersedia ada teh dan ayran, minuman tradisional Turki yang terbuat dari yogurt dingin dan sedikit garam. Rasanya… well, lets say I only took a sip and that’s enough :v mending tehnya aja deh.
Setelah full HP recovery, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Di lobi depan yang tadinya penuh orang masuk, sekarang sudah lumayan lega dan berubah jadi etalase pernak-pernik islami, seperti kumpulan hadits dalam bahasa jepang (mungkin anda bisa membelinya lalu menyuruh seiyuu favorit anda untuk membacakan) atau peralatan makan dan aksesoris yang timur tengah banget. S-san membeli absolutely halal cup noodle, sementara saya cuma browsing-browsing saja.
Begitu sampai di luar masjid, tiba-tiba suasanya berubah seperti di dekat rumah sendiri. Ini gara-gara kebanyakan pengunjung lokal langsung pada meninggalkan tempat sementara yang masih hanging out di deket pintu masuk adalah wisatawan indonesia. I was like, huh kenapa tiba-tiba suara kerumunan berubah jadi bahasa yang gampang dicerna telinga? Then I look around and oalaah, pantesan.
CMIIW, the text read as “tour is free”, mungkin maksudnya kalau mau masuk buat lihat-lihat gak usah bayar. Di dalam memang banyak selebaran introduction to Islam dalam bahasa Jepang. With various things that happened recently, I think it’s a good thing to clear any misunderstanding potential with people who doesn’t know. Anyway, akhirnya tiba saatnya untuk split party, karena saya mau ke Roppongi Hill dan S-san entah mau ke mana. Untungnya hari ini saya yang dapat giliran membawa wi-fi, jadi perjalanan masih tetap easy to normal mode (Roppongi Hill masih gampang dicari, tapi saya membutuhkannya untuk Ginza, which you’ll know why later). Yang perlu dilakukan hanya menghemat baterai hp dan wifi karena saya gak punya power bank.
Untuk menuju Roppongi, yang perlu dilakukan hanya mengambil line yang sama sampai Kasumigaseki lalu pindah ke Hibiya line, persis sama pas perjalanan berangkat. Hanya bedanya kereta yg diambil bukan yg ke Kita Senju, tapi arah sebaliknya, Naka Meguro. And so after the short trip, here I am, at Roppongi.
OOOH SHIT IT’S GIANT SPIDER. BOSS BATTLE TIME!!
Buff
Buff
Buff
Debuff
Debuff
Buff
Debuff
Debuff
Debuff
Buff
Buff
Magic
..
160 frustrating turns sambil misuh-misuh kemudian...
Setelah mengalahkan giant spider, akhirnya saya bisa mengeksplor area Roppongi.
Mencari Mori Tower, tempat dimana Mori Art Gallery yang menjadi lokasi event exhibition cukup gampang karena begitu sampai exit stasiun sudah banyak penunjuk arah dan bangunannya juga besar.
Exhibition event nya sendiri cukup gencar promosinya karena saya melihat iklannya juga sering terpampang di dalam kereta. Di depan gedung, anda akan menemui papan informasi. Press X to examine.
CHOOSE YOUR FATE
NANI? EVENT NYA ADA 2?!
That’s right. Sebenarnya sejak awal saya sudah tau kalo selain event exhibitionnya Louvre, di lantai yang berbeda ada event exhibitionnya Ghibli. Cukup dilematis memang, kalau saja pilihannya antara event artistik dengan moecrap, sudah jelas mana yang bakal masuk keranjang sampah. Tapi ini pilihannya antara AESTHETIC dengan ANIME WAS A MISTAKE. Why not both? Anda pasti bakal ngomong gitu. Sayangnya dompet saya tidak cukup levelnya untuk beli tiket masuk dua-duanya. Jadi dengan berat hati saya memilih Araki beserta komikus-komikus hipster dari Jepang dan Eropa daripada Miyazaki dan Takahata. Sorry, old man, but I still agree with you, ANIME WAS A MISS STEAK.
Di dekat pintu masuk, sudah ada staff yang membawa papan bergambar event yang akan memberitahu jika loket tiketnya ada di dalam gedung lain yang letaknya di seberang Mori Tower. Ketika saya masuk ke gedung tersebut, di pintu masuk sudah ada staff lain yang juga membawa kertas bergambar event yang memberitahu letak loket tiketnya. I was like, ini staff-staff yang kerjanya kaya gini berarti seharian cuma announcing ke orang-orang yang lewat, nyambut kalo ada yang datang dan ngasih tau seperti Hoshino Yumemi di Planetarian? I mean kalau buat robot sih pekerjaan yang repetitif seperti ini no problem, but human...
Anyway, setelah membeli tiket, saya balik lagi ke Mori Tower dan diantar ke elevator bersama rombongan yang lain. Mori Art Gallery, tempat exhibition berlangsung, ada di lantai 53 Mori Tower. Cukup tinggi, dan asiknya sampai di sana selain bisa nonton exhibitionnya, di luar ruangannya kita bisa melihat ke luar dan menikmati pemandangan dari atas yang cukup awesome.
Tentu saja salah satu alasan kenapa saya mengunjungi exhibition ini tidak lain karena salah satu mangaka yang difiturkan adalah pencipta SONO CHI NO SADAMEEEEEEEE JOOOOOJO.
Sesampainya di pintu masuk galeri, rombongan dipisah berdasarkan kuota, supaya masuknya tidak berjubel, karena sebelum masuk ke exhibition, ada ruangan kecil dimana kita bisa duduk dan menonton video presentasi, semacam introduction soal Louvre museum dan exhibition ini. Mungkin karena event ini tarafnya international, video pembukanya ada sub bahasa inggris (not by horrible subs) dan di exhibitionnya pun informasinya ditulis dalam 2 bahasa. Beberapa isi dari videonya misalnya penjelasan sekilas sejarah Louvre, yang awalnya adalah benteng lalu berubah menjadi museum setelah revolusi Perancis, dan kenapa nama exhibitionnya No.9; Louvre memiliki 8 departments of art, dan exhibition ini konsepnya adalah mengangkat komik sebagai department Louvre ke-9 (vvibu screaming of joy in the distance). Setelah video selesai, tiba-tiba layar terbuka, I mean literally terbuka karena temboknya terbelah dan pengunjung akan langsung bertemu dengan replika salah satu koleksi iconic Louvre, The Winged Victory of Samothrace.
Obligatory shout
A E S T H E T I C
E
S
T
H
E
T
I
C
Setelah area patung winged victory tersebut, area selanjutnya sudah mulai masuk ke no photo area, jadi tidak ada yang bisa dicapture. But overall saya PUASS BANGET karena memang eventnya tepat seperti yang saya harapkan. Di sini anda bisa melihat manuskrip manga yang asli, yang masih ada bekas sketsa pensil dan tip-ex untuk meralat bagian tinta yang salah. Ditambah lagi, manga yang dipajang tentu saja adalah Rohan pergi ke Louvre alias kisah cinta pertama sang mangaka dari part 4 yang berakhir melankolis (poor Rohan but at least he’s filthy rich). Selain Araki, mangaka lain yang mewakili jepang ada banyak, namun saya hanya hapal dua lainnya. Yang pertama Jiro Taniguchi, sang pencipta Kodoku na Gurume, Haruka na Machi E dan Aruku Hito/The Walking Man, manga yang isinya cuma om-om random jalan-jalan. No, seriously, but IT’S AWESOME.
2DEEP4U
Mangaka yang kedua adalah Sakamoto Shinichi yang terkenal dengan detailnya yang EDAN TENAN. Kalau anda tidak tau karya-karya Sakamoto Shinichi, mungkin saat melihat goresannya yang shoujo-ish, anda akan mengira manga ini digambar oleh seorang wanita.
Tapi tentu saja Sakamoto Shinichi adalah nama cowok dan di sini saya untuk pertama kalinya melihat wajah beliau yang ternyata om-om kumisan, beda jauh banget sama karyanya I was like we te eeeefff. But still, karyanya memang IMBA SUGIRU BANGET SANGAT karena selain visualnya, manga-manga beliau ceritanya juga SO DAARK AND TRAAGIC. Dan tentu saja karena setting ceritanya melibatkan orang-orang kaya alias kaum burjois aristokrat, banyak gadis-gadis telanjang dan adegan ranjang bertebaran di mana-mana.
Di akhir perjalanan, area berubah jadi photo friendly lagi.
Di sini seharusnya anda bisa berfoto di panel kosong bagian kiri tengah sehingga anda akan terlihat seperti toko dari komik bikinan komikus veteran. Tapi karena trip saya selalu so alone jadi semua fotonya adalah selfie (surem :v..).
But the fun is still not ended yet. Setelah keluar dari galeri, ternyata ruangan berikutnya adalah bagian shop yang menjual pernak-pernik yang berhubungan dengan exhibition ini. OH NOOOOOO, IT’S BOSS BATTLE TIME AGAIN.
Louvre No. 9 Shop vs Neohybrid Kai & Wallet-kun
Louvre No. 9 Shop summons goodie bags and t-shirts.
Goodie bags attacked.
It’s too expensive!
Goodie bags deals 0 yen damage
T-shirts attacked.
It’s too expensive!
T-shirts deals 0 yen damage
Louvre No. 9 Shop summon postcards by Sakamoto Shinichi
Postcard deal 150 yen damage
Louvre No. 9 Shop summon postcards by Sakamoto Shinichi (2)
Postcard deal 150 yen damage
Louvre No. 9 Shop summon notebook by Sakamoto Shinichi
Notebook deal 432 yen damage
Louvre No. 9 Shop summon notebook by Jiro Taniguchi
Notebook deal 432 yen damage
Louvre No. 9 Shop summon Innocent vol. 1 by Sakamoto Shinichi
Innocent vol. 1 uses Elegant Depravity
It’s very effective!
Wallet-kun suffered 555 yen damage
Louvre No. 9 Shop summon Hirohiko Araki’s Rohan Kishibe Goes to Louvre
Rohan’s manga uses Memories from Yesteryears
It’s very effective!
Wallet-kun suffered 2880 yen damage
Wallet-kun suffered 4599 yen total damage
Not bad of a fight, I’d say. The manga is of course totally worth it. As expected from Araki sensei.
Everybody needs a little time awaaay I've heard her saaaay
From each oootheeeer
The postcard is also good
When she's married with four kids and you don't realize that you're dead because you already dead inside long time ago.
While the notebook… err to be honest now I realize why did I buy a notebook :v.. Padahal kayaknya gak bakal kepake, cuma karena covernya AESTHETIC
And this wraps up my journey to Louvre no. 9 at Mori Art Gallery in Roppongi Hill. Next is Ginza. I check my watch. Still too early to go. Afterall I plan to enjoy strolling in Ginza at night. Jadi sayapun muter-muter dulu di Roppongi dan menjelang pukul 6 baru berangkat.
Going to Ginza from Roppongi is very easy, karena letaknya ada dalam satu line kereta jadi tidak butuh pindah line. Setelah sampai stasiun Ginza, karena saya choone, jadi saya mengecek google map sambil memutar lagu ini.
Enjoy the music while scrolling tru some photos.
Sebenarnya selain jalan-jalan, tujuan utama saya ke Ginza adalah mengunjungi sebuah galeri seni merangkap toko yang tidak biasa.
Vanilla Gallery.
Meskipun namanya vanilla, tapi baik galeri maupun tokonya berisi barang-barang yang tidak bisa disebut vanilla. I’ll let the picture speak for itself.
Yes, Vanilla Gallery adalah galeri yang berfokus pada fetish art. The twisted kind of AESTHETIC. Beautiful, bizarre, erotic, macabre, grotesque, lewd, gorgeous, elegant, depraved, sick, any kind of combination involving that. To quote a famous line from Mawaru Penguindrum;
But there’s just one fatal thing. Waktu saya ngecek google map sebelum perjalanan ke jepang, saya hanya menandai lokasinya. Saya tidak mengecek kapan JAM BUKANYA. Saya baru nayadar waktu sudah di Ginza. Ternyata jam bukanya dari jam 12 sampai jam 7 MALAM (WTF?). Ini sangat kontras sekali mengingat fokus dan temanya benda-benda yang”gelap”, tentunya saya mengira kalau jam buka galeri di malam hari. Saya melihat jam tangan lagi dan oh shit, sudah hampir jam setengah tujuh! I HAVE TO FIND THE GALLERY QUICK!
Tapi mencari Vanilla Gallery tidak semudah Mori Tower atau Roppongi Hill. Karena naturenya yang obscure dan sangat niche, galeri ini berada di basement lantai 2 sebuah gedung. Entah biar cocok dengan imagenya yang underground (it’s LITERALLY UNDERGROUND) atau sewanya lebih murah, entahlah, yang jelas saya muter-muter cukup lama buat nyarinya. Dan sempat hampir salah gedung. Untungnya di tiap gedung ada tulisannya lantai 1 dipake buat apa lantai 2 apa dst.
Setelah sampai di gedung yang benar dan memastikan di tulisan di dekat pintu masuk kalau lantai B2 nya adalah Vanilla Gallery, sayapun masuk dan langsung turun dengan tangga ke basement lantai 2. Di rest area tangga ada gambar yang langsung meyakinkan kalau saya tidak salah alamat.
Jika anda beruntung, saat datang ke sini, anda bisa menemukan exhibition artist-artist besar sekaliber Usamaru Furuya (mangaka Lychee Hikari Club), atau kadang malah artist dari luar negeri. Vanilla Gallery juga sering dipakai untuk tempat exhibition tahunan sex doll punya Orient Industry. Sayang waktu saya ke sana, kedua artist yang sedang exhibit tidak saya kenal dan art stylenya juga tidak masuk selera. Tapi karena sudah jauh-jauh datang ke sini jadi saya pikir sayang juga kalau tidak melihat satu exhibition saja.
Setelah turun dari tangga, saya langsung melihat meja penerima tamu, dengan penjaga mbak-mbak dengan dandanan full gothic lolita mode (DENGAN RAMBUT TWIN BRAIDS! Cuma kurang megane and eets pahfecto.). I was like waaaw. Setelah nyoba tanya-tanya bentar akhirnya saya mencoba masuk ke exhibition room, yang A tentu saja. Karena artisnya sepertinya memang masih amatir jadi htm nya cuma 500 yen. Ruangannya sendiri tidak terlalu luas, mungkin cuma 5x5 meter persegi, dengan content yang dipajang di dinding, beberapa diantaranya di dalam figura kaca. As expected, ilustrasi dan komiknya SO HARDCOORE. Sepeti yang mungkin bisa anda tebak dari gambarnya, the guy in the picture is dead by snu snu. Too bad gambar character heroinenya sama horrornya, so yeah its quite creepy and fucked up. Tapi yang bikin saya lebih wtf adalah harga di ilustrasi yang ada di dalam figure yang mencapai 6 digit (dalam yen!) padahal gambarnya ya chaos gitu. I must be too shallow to appreaciate those kind of A E S T H E T I C. Brb commit sudoku.
Setelah puas nonton, saya keluar dari ruangan itu dan menuju ke bagian toko. Sama seperti galerinya, bagian tokonya pun ada 2. Yang pertama lebih terlihat seperti lorong sempit menuju ke satu ruangan kecil. Di satu sisi lorong ada rak yang penuh dengan buku-buku, doujin dan photobook cosplayer, tentu saja cosplay nya bukan cosplay biasa. Lorongnya cukup sempit sehingga kalau berpapasan dengan pengunjung lain salah satunya harus mundur (happenned to me). Di ruangan kecil terpajang banyak barang mulai dari aksesoris, pakaian, buku dan banyak pernik-pernik. Ada juga dollfie dan sebangsanya. Saking banyaknya sampai lebih mirip gudang, dan tempat ini tidak ada yang jaga. Ruangan toko yang satunya lebih lega dan tampak seperti toko normal, if not for the goods displayed. Ruangannya terasa seperti salah satu sudut kinokuniya, karena yang dipajang adalah buku. Tapi buku-buku yang ada levelnya jauh lebih tinggi, typikal artbook atau buku-buku hardcover yang tebal. Sebagian besar second hand jadi lumayanlah bisa ngintip isinya. Ada juga buku-buku stensilan barat (in English) jadoel yang warnanya sudah memudar. I was like, waaaw. But overall di bagian ini cuma enak buat dilihat2 saja karena mostly expensive. Tapi bahkan di bagian toko yang satunya, barang-barangnya juga harganya lumayan mahal. Mungkin karena levelnya niche jadi konsumennya lebih exclusive. Tidak seperti Roppongi Hill, di sini saya lumayan bingung mau beli apa. Bagaimanapun juga saya harus membeli satu barang at least untuk kenang-kenangan. Tapi kalau bisa sih fungsinya lebih dari sekedar memento. Meanwhile, the clock keeps ticking, sebentar lagi jam 7 dan galeri pasti akan ditutup. meskipun tidak ada tanda-tanda hendak tutup (beres-beres atau dalam boso jowone kukutan), tapi saya gak enak juga di sini lama-lama menjelang tutup. Akhirnya setengah frantic saya membrowsing lagi isi rak di lorong yang sempit itu dan menemukan BENDA IMBA di bagian belakang, agak tertutup oleh buku-buku lain. Sebuah buku hardcover ukuran novel dengan judul Japanese Erotic Art, karya Soma Tohshiki (namanya imba lmao). Kondisi bukunya sudah cukup uzur covernya namun isinya masih bagus. Anda mungkin sudah bisa menebak apa saja isi di dalamnya. Yang menarik buku ini juga disertai dengan foto-foto asli(!).
Tentu saja karena kita bicara soal erotica jadi tidak ada batasan gender, jadi selain banyak foto-foto wanita, di buku ini juga ada foto-foto yaoi nya :v….
Setelah membrowsing isi buku tersebut, langsung saya bawa ke mbak-mbak berbaju gothic tadi. Ternyata biarpun second tapi harganya tetap pakai harga baru, which is dua ribu yen. Alright, doesn’t matter, pikir saya, karena selain valuable content, benda ini bakal punya historical value as well (bisa cerita di mana dan bagaimana belinya), jadi sayapun pergi ke kasir yang letaknya di bagian toko satunya dan memencet bell di meja. Another mbak-mbak penjaga galeri pun keluar, tapi yang ini pakaiannya casual riajuu. Setelah membayar, sayapun keluar dari galeri kegelapan tersebut, balik ke sidewalknya Ginza yang sekarang sudah mulai gemerlap. Kalau dipikir-pikir lagi, agak nyesel juga kenapa saya langsung keluar, harusnya nyapa atau ngeflirt dikit lah, bilang bajunya bagus, atau saya juga suka gothloli atau sejenisnya. Arghh, surem :v...
Strolling Ginza at night gives you a pleasurable feeling. If you could tolerate the sheer amount of Chinese tourist, that is. Bukannya saya bermaksud rasis tapi anda pasti sudah sering mendengar kelakuan turis china yang tidak tau aturan. Memang tidak semuanya demikian, tapi karena ini memang musim liburan dan Ginza memang tempatnya shopping riajuu kelas atas jadinya ya lumayan banyak. Untungnya masih gak parah-parah sih, masih sebatas ngobrol keras-keras atau tiba-tiba berhenti pas lagi jalan, gak minggir dulu tapi malah lanjut ngobrol.
But putting those aside, saya cukup menikmati bagian dari itinerary ini. People often say that the restless atmosphere of Tokyo’s crowd will sucks your energy and wear you out. Tapi entah kenapa saya justru menikmatinya, the feeling of being in the ever moving crowd yet you can feel yourself as a solitary being, a feeling of freedom at the cost of lonelines. Mungkin karena saya datang sebagai turis. Kalau saya harus menghadapinya di daily mungkin bakal stress juga seperti teman saya (but I’ll save that for another story).
Eventually, I feel accomplished of my walking around, and decided it’s time to return to homebase. Ternyata waktu hanya baru berlalu setengah jam or so, so I guess I’m not riajoo enough to enjoy Ginza. Soalnya kalau beneran seneng pasti bakal ke absorb sampai lupa waktu, seperti saat di supermarket tadi pagi. Jadi sayapun balik ke stasiun, mengambil Hibiya line untuk menuju ke Minami Senju. Ketika saya melihat rute balik, saya baru nyadar kalau keretanya bakal melewati Akiba. Saya melirik jam tangan. Delapan kurang seperempat. Hmm mampir gak ya mampir gak ya. Pikir saya berulang kali. Besok harus bangun pagi buat comiket dan pergi ke Akiba di malam hari bukan hal yang rekomended untuk dilakukan karena jam 9 toko-toko di sana sudah mulai tutup. Akhirnya sayapun memutuskan untuk..
..
..
..
..
MAMPIR, tentu saja. Karena mendjadi vvibu adalah panggilan djiwa. Kereta berhenti di stasiun Akihabara dan sayapun turun.
WELCOME TO THE LAND OF MYRIAD CARNAL DESIRE
Seperti yang saya tulis di atas, pergi ke Akiba saat malam hari sendiri sudah menyalahi aturan karena anda tidak akan punya banyak waktu untuk browsing dan belanja. Apalagi DI MALAM COMIKET. Tabu hukumnya. Namun, benarkah demikian? Pertama ke Akiba tiga tahun lalu, saya bingung karena seperti yang saya tulis di blog dulu, anda pasti bakal menginjakkan kaki di bagian electronic Akiba terlebih dulu. Untung karena ini NEW GAME+ jadi saya langsung tahu harus kemana. Setelah berjalan agak lama akhirnya sampai juga ke bagian vvibu nya Akiba. Nah sekarang pertanyaannya, mau ke toko yang mana? Karena tidak ada tujuan spesifik akhirnya saya muter-muter sambil keluar masuk mengunjungi toko-toko yang menjual patung-patung estetika waifu. Sampai akhirnya saya melintas di depan TEMPAT ITU. Tempat apakah itu? Jika saya memberi hint 1 kata; doujin, apakah anda bisa menebaknya? Benar, the famous LUBANG HARIMAU alias Tora No Ana. So far, saya belum mengeluarkan uang satu yen pun selama jalan-jalan di Akiba hari ini. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang, maksud saya ketika saya masuk ke sarang macan.
Keadaan dompet sebelum masuk Tora no Ana
Keadaan dompet ketika di dalam Tora no Ana
“Wallet-kun! Doushitano?”
“K-KURU NA! M-mazui.. Kono mama..”
“O-oi, daijoubu ka omae?”
“UOOAAAAAARRRGHHHHHHHHHHHH”
“Wallet-kuun!!”
GRAAAAOOOOOOOOHHHHHHHHHHHH
WALLET-KUN HAS BECOMES DEMON WALLET-KUN
Tora no Ana summons ero doujinshi
Demon Wallet-kun consumes ero doujinshi
Demon Wallet-kun deals XXXX yen to himself
Tora no Ana summons ero manga
Demon Wallet-kun consumes ero manga
Demon Wallet-kun deals XXXX yen to himself
Tora no Ana summons ero anime
Demon Wallet-kun consumes ero anime
Demon Wallet-kun deals XXXX yen to himself
WALLET-KUN DEALS 2X.XXX YEN TO HIMSELF
TORA NO ANA(‘S STAFF) WAS IMPRESSED
Seriously I can not remember exactly what’s going on. Satu hal yang pasti, datang ke Akiba sebelum Comiket was not (really) a mistake. Karena ternyata saat itu DOUJIN-DOUJIN COMIKET TERNYATA SUDAH MULAI DIJUAL DI SANA. Beberapa bahkan circle-circle dengan nama besar seperti Mitarashi Kousei atau Yami ni Ugomeku. Jadi meskipun harganya jadi lebih mahal 200an yen, tidak bertemu langsung dengan pengarangnya dan tidak dapat bonus yang biasanya dikasih sama doujinkanya buat yang beli langsung di booth, tetapi opsi nyolong start dengan belanja doujin di Akiba bolehlah dijadikan bahan pertimbangan. Ada 1 doujin yang di depannya ada tempelan bertuliskan rasuto or something I forgot. Biasanya doujin dengan tempelan di depannya adalah sample dan tidak boleh diambil. Tapi yang ini tulisannya bukan sanpuru jadi saya ambil aja sambil berharap kalau itu maksudnya barangnya tinggal satu itu. Dan ternyata memang benar! Waktu saya sampai di kasir petugasnya bilang kalo itu doujin stock yang terakhir, ureshii desu ka? Entah kenapa dia tanya begitu, maksud saya dalam bahasa jepang, padahal saya jelas-jelas tampang gaijin. Mungkin itu sudah bagian dari SOP kalo ada yang beli stok terakhir harus ditanyain biar seneng. Untungnya saya mudeng dan jawab IYA SENENG BUANGET soalnya itu yang bikin doujinka nya favorit saya hahahaha dan kayaknya dia kaget dan senang pertanyaannya dijawab (mungkin dia menduga bakal dapat respon ekspresi kebingungan). Selain doujin saya juga memborong h manga, Odanon dan Linda, to name a few. Selain itu saya juga menemukan DVD ORINYA BIBLE BLACK yang sudah diskonan karena stok lama yang langsung saya sambar gpl. Saking banyaknya barang belanjaan sampai sama kasirnya dikasih paper bag yang besar dua buah instead of tas plastik hitam khasnya Tora No Ana. Saat keluar dari lubang macan barulah sanity saya mulai recover perlahan-lahan.
Malam sudah cukup larut dan jalanan Akiba mulai sepi, bahkan saat saya berjalan ke stasiun, hanya ada beberapa orang yang lewat. Health Point saya juga sudah berkurang drastis. Untuk balik lagi ke stasiun Akiba, bukan hanya tidak efisien secara waktu tapi juga energy. Untungnya berkat pengalaman tiga tahun lalu, saya tau kalau daerah Akiba yang vvibu lebih dekat dengan stasiun Suehirocho (bukan Suehiro Maruo loh ya, jangan di google btw) jadi sayapun berjalan ke sana. Di stasiun sudah mulai ada papan tulisan kereta dengan tujuan XX sudah tidak ada yang lewat, silakan pakai kereta tujuan XX instead. I was like oh shit, inilah kenapa saya tidak begitu suka kelayapan di Tokyo malem-malem dan berharap semoga yang tujuan base camp masih ada dan tidak perlu pakai lewat jalur yang tidak biasanya.
Dengan demikian berarti telah terjadi perubahan rute hari kedua yang semula
Menjadi
Suehirocho adalah stasiun dari Ginza line, jadi untuk ke Minami Senju saya harus turun di Ueno dan untuk ganti ke Hibiya line.
Begitu sampai di base camp, saya langsung mandi dan berusaha untuk menekan hype tora no ana supaya bisa tidur cepat untuk persiapan Comiket besok paginya.
Next on The New Traveler's Journal of A Certain Sorcerer
“So this is Comiket”
“The suunnn! It buuurnssss”
“I should have done thaaat, WHYYYYY arghhhhh”

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2017. Template by DheTemplate.com. Supported by Saudagar Waifu