Wednesday, September 14, 2016

THE NEW TRAVELER'S JOURNAL OF A CERTAIN SORCERER: PART 2

0 comments
Catatan: Post ini juga diterbitkan di website Saudagar Waifu
Previously on The New Traveler's Journal of A Certain Sorcerer
“We’re going to Comiket”
“Gentlemen, I’m afraid we’re no longer having a place to stay”
“NANI? The ATM is under maintenance? SONNA BANANA”

Shin To Aru Mahoutsukai no Tabi Nikki: Part 2

DAY 1

Haneda Airport - International Terminal Station, Ota, Tokyo
Menjelang jam keberangkatan kereta pertama, rolling door dibuka. Rasanya seperti di permulaan stage Time Crisis. Tujuan pertama party saya adalah Higashi Nakano, tempat dimana teman R-san, kita sebut saja P-san, tinggal. Kami akan menggunakan tempat tersebut untuk transit sambil menunggu jam check in Glass House tiba.
Karena sebelumnya sudah pernah menginjakkan kaki di tanah suci vvibu, membaca peta  rute kereta api yang cukup membuat puyeng dulu waktu pertama kali datang sudah bukan hal yang menyeramkan lagi. Untuk pergi ke Higashi Nakano dari Haneda, rute yang paling efektif adalah dengan menggunakan JR. But there are two things. First, saya adalah fanboy Tokyo Metro (JR dan Tokyo Metro adalah 2 line kereta utama di Tokyo). Keduanya punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Monitor di dalam kereta JR lebih informatif dan english friendly, jika anda punya pass, harganya juga akan jadi lebih murah dan praktid. Tapi saya lebih senang Metro karena petanya lebih user friendly, visual aid di stasiun nya seperti nomer dan nama stasiunnya juga lebih enak. Plus, Tokyo Metro punya app yang tidak membutuhkan internet untuk mengaksesnya. By the way, Tokyo Metro punya page FB berbahasa Indonesia lho (ini bukan iklan tapi emang preferensi pribadi sih). Alasan kedua, saya ingin mengadakan eksperimen untuk memuaskan rasa penasaran, yaitu berapakah yen selisih, kalau ada, antara membeli tiket dengan sistem normal, yaitu dari stasiun A ke D dengan transit/ganti line di stasiun B dan C langsung seharga yang tertera di papan informasi, dengan membeli kereta dari stasiun A ke B, lalu B ke C, dan C ke D. Cukup koplak memang, karena itu berarti anda harus melakukan keluar masuk gate untuk membeli tiket. Ngomong-ngomong soal kereta, ternyata meskipun sudah pernah ke Jepang sebelumnya dan melakukan banyak blunder seputar naik kereta dan subway (anda bisa membacanya di postingan blog 3 tahun yang lalu), tetap saja kali ini juga ada blundernya. Yang pertama, kereta berhenti di stasiun A, dan semua penumpang turun. I was, like, is this supposed to be the final stop? Padahal di google map tulisannya “continue with the same train”. Akhirnya kami ikut turun dan bertanya pada penjaga stasiun. Ternyata rute dan keretanya memang benar, tapi kereta yang kami naiki hanya sampai stasiun itu. Mungkin bukan kereta express, atau malah sebaliknya, entahlah. Tunggu saja kereta selanjutnya, katanya. Tidak lama kemudian, kereta berikutnya datang. Tapi di papan lcd tulisan yang muncul adalah train in service (or something like that). Karena belum pernah mengalami yang seperti itu, tanpa rasa bersalah kamipun naik ke kereta dan *PET* lampu kereta langsung padam begitu kaki menginjakkan lantai kereta. Tidak perlu selevel sherlock untuk menyimpulkan jika kereta yang ini sedang dalam perjalanan ke tempat servis. Yang membuat kami (atau mungkin cuma saya) kagum, passenger detector nya itu. Karena di dalam kereta itu memang tidak ada orang lain lagi. Bayangkan kalo tidak ada itu, mungkin kami dengan naifnya ikut naik di dalam kereta sendirian sampai entah kemana.
Kereta berikutnya, untungnya, tidak membuat insiden yang aneh-aneh, jadi setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kamipun tiba di Higashi Nakano. Setelah menunggu agak lama, P-san, teman R-san datang untuk menjemput dan kamipun jalan kaki sampai ke tempat tinggalnya. Bagaimana dengan hasil experiment saya? Cukup mengesankan. Ternyata memang ada bedanya dan jumlahnya sebesar 200yen. So here were are, Nakano. BGM pls.
Sesampainya di tempat kediaman P-san, kami langsung zzZZZ Well, not really. Tapi untuk sebuah tempat transit bisa dibilang tempat P-san cukup membantu. Setidaknya ada kamar mandi (fuck yeah hot water -sorry for being lebay, but hot water is banned in my house except when you’re ill), tempat tidur yang cukup untuk lebih dari satu orang (I didn’t say three) and of course, electricity. Tapi yang paling penting, kami bisa menaruh tas sampai menjelang waktu check in ke Glass House. Setelah merasa energy lumayan ter recover, saya ingin langsung menuju ke objective pertama, Nakano Broadway, tapi disarankan untuk berangkat lebih siang lagi, mengingat toko-toko di sana baru buka siang.
Sekitar jam 10, rombongan saya akhirnya berangkat ke Nakano Broadway, dengan menyempatkan diri mampir ke hyakuen shop untuk beli batere buat kamera (most ngirit batere ever, 100 yen dapet 5 -belum termasuk pajak 8%-). Karena lokasi tempat transit di Higashi Nakano yang letaknya relatif dekat dengan Nakano, maka saya cukup jalan kaki saja untuk mencapai tempat tersebut. Kompleks pertokoan yang terkenal ini, lantai dasarnya memiliki deretan toko-toko yang menjual barang-barang layaknya di shopping arcade, tetapi the real deal ada di lantai 2 hingga 4, dimana toko barang-barang kebutuhan vvibu yang populer dengan slogannya, Ruler of Time, Mandarake, berpusat. Mandarake memiliki cabang yang tersebar hingga Osaka bahkan Sapporo tapi kompleks toko utama mereka ada di sini. Tidak tanggung-tanggung, di Nakano Broadway, Mandarake memiliki 26 toko yang tersebar di 4 lantai. That’s right, TWENTY FUCKING SIX store, dimana beberapa toko bisa dibrowsing hanya dengan sekali lewat, tapi beberapa toko lainnya is PRACTICALLY IMPOSSIBRU untuk dibrowsing isinya karena terlalu banyak. Ini adalah tempat yang wajib dikunjungi kedua oleh otaku setelah Akihabara. Tiga tahun yang lalu, saya belum tau soal eksistensi tempat ini.
But here’s the bad news. Toko-toko di Broadway umumnya jam 11 sudah mulai buka, tapi untuk Mandarake, ternyata bukanya baru JAM 12. Padahal jam 2 saya dan S-san harus berangkat ke Glass House, sementara perjalanan dari Broadway ke tempat P-san, dan packing-packing lalu berangkat ke Higashi Nakano sendiri memakan waktu yang tidak lama. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk cari makan sambil menunggu. Di sini party terbagi 2, S-san tidak ingin makan di tempat yang tidak jelas status halalnya, sementara saya pretty much don’t give a damn. Akhirnya S-san dan R-san pergi ke convenience store terdekat, saya juga ikut sebentar untuk membeli onigiri untuk nyetok potion (setiap kali saya ketemu konbini rasanya kaya main rpg dan nemu item shop di kota. Saatnya beli onigiri [recover 15% HP] 3 atau 4 buah untuk persediaan di jalan). Setelah itu saya dan P-san pergi ke Matsuya untuk full HP recovery. Sebenarnya alasan saya ke Matsuya selain itu karena melihat gambar yang terpasang di pintu masuknya, ada MENU YANG SERING MUNCUL DI ANIMU-ANIMU, terutama gara-gara Amaama to Inazuma yang membuat saya jadi tambah penasaran pengen nyoba. So yeah, you may have heard the story about me tasting beer but actually before that, I ate this meal.

Entah hamburgnya pake daging apa yang penting FUCK YEAH SAYA UDAH NYOBA MAKANAN YANG SERING MUNCUL DI ANIMU DRAMA. MFW
*terdengar suara ambulan di kejauhan vvibuu vvibuu vvibuu*
Setelah kenyang, waktu belum juga menunjukkan jam 12. Jadi saya menyempatkan diri untuk muter-muter di Don Quixote, yang ternyata isinya ya biasa-biasa saja (ya iyalah, FYI Don Quixote itu nama department store yg populer di sana, padanannya kalo di sini mungkin kaya Carrefour atau Hypermart?). Section pet nya lumayan menarik sih, saya sempat tergoda buat beli oleh-oleh buat kucing di rumah (how come yg kepikiran pertama buat oleh-oleh malah kucing instead of orang rumah). Keluar dari situ, jam sudah menunjukkan pukul 12 lebih.
IT’S TIME!!
Pertama kali masuk sini, bisa dipastikan bakal kerasa OVERWHELMED dengan atmosfer dan power levelnya (sasuga Ruler Of Time). Saking banyaknya toko dan barang yang ada sampai saya jadi  bingung sendiri (ini di mana? Saya siapa? Kenapa aku tiba-tiba tidak bisa mengingat masa laluku? #halah). But yeah, SO MANY STUFF. Ini karena Mandarake adalah toko yang specialty nya menjual barang-barang second hand, jadi relic-relic dari jaman sebelum terjadi ledakan populasi vvibu lokal juga banyak dijumpai. Di sini saya menemukan figure Rohan Kishibe yang lumayan murah, 2000 yen dipaket sama Shingeki (almarhum). Untuk ukuran price figure harga tersebut masih wajar, apalagi practically that’s a price for two walaupun saya ragu apa ada yang mau beli figurenya Shigechi (kalau punya stand nya sih pasti pada mau), tapi karena saya merasa ‘hari pertama mending jangan belanja dulu’, jadi saya urungkan niat untuk membelinya. Sebenarnya saya hendak berlama-lama di situ terutama karena belum puas membrowsing bagian H manga yang rasanya seperti di dalam perpustakaan daerah tapi isinya H manga. Tapi mau bagaimana lagi, saya harus ke Glass House sebelum jam 3 untuk check in. Dengan berat hati sayapun melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, diiringi lagu enka Kyu Sakamoto (bohong ding).
200 yen poster dengan desain yang moe tapi tidak terlalu cringe inducing, agak salty juga kenapa saya akhirnya nggak beli. Tapi jangan khawatir, nanti masih ada yang sualty buanget yang berhubungan dengan Nakano Broadway, jauh lebih salty daripada poster ini. By the way, disini banyak toko yang memasang pengumuman dilarang memotret, tapi saya baru nyadar beberapa saat kemudian waktu sudah mengambil foto beberapa kali (orz I shall commit sudoku). Gara-gara ini saya jadi paranoid dan akhirnya tidak pernah mengambil foto lagi kalau pas di dalam toko (padahal 3 tahun lalu tiap kali nemu barang unik pasti langsung difoto).
Kembali ke travel log. Ternyata prediksi estimasi waktu saya tetap saja meleset. Setelah balik ke tempat P-san dan memulai perjalanan ke Glass House, di tengah-tengah perjalanan saya merasa kalau tidak mungkin bakal sampai tepat waktu. Akhirnya saya menghubungi Y-san, host airbnb kami kalau tidak bisa datang tepat waktu, yang dibalas dengan tidak masalah, nanti kuncinya tinggal ambil di dalam mailbox, dan beberapa hal teknikal lainnya.
Pukul 15:40 saya dan S-san sampai di stasiun Minami Senju. Jika anda membaca dari awal post bagian ini, so far event yang terjadi masih lancar dan happy-happy saja kan? Itu karena bagian yang paling screwed up dan bikin emosi belum terjadi. And it happened JUST RIGHT AWAY after we arrived in this station.
Begitu kami tiba di stasiun, kami langsung mencari alamat Glass House. Awalnya ketika masih di jalan raya, mencari jalan yang harus ditempuh cukup jelas, tapi ketika sudah mulai masuk daerah residential area, tiba-tiba rasanya seperti berada di tengah-tengah perumahan. Oh wait, bukan rasanya lagi ding, tapi memang itulah yang terjadi. Karena tempat yang hendak dipakai untuk menginap itu memang sebuah rumah biasa, yang kamarnya disewakan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana frustatingnya mencari alamat di sebuah kawasan perumahan, yang sistem pengurutan bloknya tidak familiar. Ditambah saat itu kami membawa barang bawaan yang cukup banyak, plus harus mondar-mandir mencari jalan, ditambah penampilan kami  seperti orang asing (bukan seperti lagi, tapi memang literally), sementara di daerah itu meskipun relatif sepi tapi ada beberapa orang yang keluar jalan-jalan atau mengobrol di depan rumah. Karena panic plus nervous plus under pressure, tiba-tiba skill membaca google map dropped by 60%. Dan yang paling frustating, for some reason yang bahkan hingga sekarangpun saya tidak paham bagaimana mungkin, nomer tempat yang ada di document dan printout yang saya bikin bisa BERBEDA dengan alamat di airbnb. Padahal (seinget saya) saya meng copy-paste bukan menulis ulang. Gara-gara ini kami sempat NYASAR MASUK RUMAH ORANG, untungnya rumahnya sepi (atau jangan-jangan yg punya rumah ada di dalam tapi diam saja). Sampai saya curiga karena fotonya beda dan tidak ada tulisan Glass Housenya, dan setelah dicek lagi ternyata nomernya memang beda. Setelah muter-muter yang rasanya seperti di dalam dungeon game-game rpg nya Atlus, akhirnya ketemu juga alamatnya, yang ternyata penyebabnya salah belok di salah satu perempatan diantara blok-blok rumah, harusnya ke kanan, tapi kami ke kiri.
Begitu ketemu tempatnya, kami langsung masuk dan merasa isinya sepi banget. Ntah memang tamu yang lain sedang pada keluar atau di dalam kamar. Its almost feel like we’re owning the place, yang malah bikin tambah nervous. Pemilik tempatnya memang tinggal di rumah lain (so he basically own two houses, which is really imba, considering it’s Japan. Moreover, Tokyo) tapi kami berharap setidaknya ada yang menyambut kedatangan or something. Ditambah for some reason saya tidak bisa menemukan converter colokan listrik padahal saya yakin sudah memasukkannya ke dalam koper. Tanpa converter itu S-san tidak bisa memakai laptopnya. But still, so many trouble aside, the room is big (its suppose to accomodate three people afterall) and comfy. Tapi yang paling mantap (buat ukuran traveler poorfag macam saya) adalah fasilitasnya.Sure the room has AC, tapi saya tidak begitu suka AC, but it has WI-FI(!), dan speednya IMBA SUGIRU. Tentu saja kami tidak memakainya untuk melakukan hal-hal ilegal, tapi setidaknya dengan adanya wi-fi, kuota modem dari HIS jadi bisa dihemat DRASTICALLY. The bathroom, of course, has hot water (fuck yeah hot water). Kamar saya terletak persis di depan dapur, yang menyediakan kompor, oven dan pemanas air yang membuat bikin minuman hangat jadi sangat easy moodo. Tentu saja, tanpa direbus pun air kerannya aman untuk diminum. Selain itu ada mesin cuci juga, jadi tidak perlu bawa pakaian banyak sejak awal (tempat jemuran ada di lantai 2).
Setelah things start to calm down, satu persatu polemik yang bertumpuk mulai terselesaikan. Ternyata saya memang masih membawa converternya, hanya terselip diantara tumpukan barang-barang di dalam kopek. Saya mengontak Y-san, host kami, dan beliau menjawab kalau nanti malam pasti bakal bisa ketemu, soalnya dia memang tiap malam pasti datang ke tempat itu untuk mengecek berbagai hal. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk just take a break for today, mengingat terlalu banyak event chaotic yang terjadi dalam waktu singkat. Malamnya, Y-san benar-benar datang dan kamipun akhirnya bisa bertemu dengan host airbnb yang orangnya ternyata sangat baik dan komunikatif. Untunglah. Beliau bahkan mengabarinya kalau sudah ada di dalam rumah via email :v… (hello, do you have time? I’m in kitchen) padahal tinggal diketok aja pintu kamarnya pasti bakal keluar. Untung email saya set real time notification, coba kalo nggak. In the end, all’s well that ends well. Setelah mendapat briefing sebentar dari host soal macem-macem, termasuk tempat-tempat menarik di sekitar rumah, the best one is a BIG supermarket yang letaknya TEPAT DI BELAKANG RUMAH, this will turn out useful later, sayapun memutuskan untuk mengakhiri hari dan tidur.
Saving to memory card slot 1…..
…..
…..
Save completed.
Extra:
Later I found this on Minami Senju Station wikipedia page
During the period between 1650 and 1873, the area was the location of the Kotsukappara execution grounds. Between 100,000 and 200,000 people died here during the Tokugawa era. Near the south exit of the Tokyo Metro station, a small temple and burial ground commemorates this. Part of the burial grounds currently lie beneath the Hibiya Line tracks.[citation needed]
Jadi kejadian chaos ketika datang di tempat ini tadi.. masaka?
TO BE CONTINUED
LOOT ACQUIRED:
(none)
KHILAF LEVEL:
N/A
NEXT:
It's Comiket day 1! So WE'RE GOING TO.. mesjid untuk jumatan. Let's get AESTHETIC, and many more

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime