Wednesday, September 7, 2016

THE NEW TRAVELER'S JOURNAL OF A CERTAIN SORCERER: PART 1 (PROLOGUE)

0 comments
Catatan:
Post ini juga diterbitkan di website Saudagar Waifu, toko online official blog ini. Anda bisa coba mampir jika tertarik dengan benda-benda ori low budget yang diimpor langsung dari Jepang. Post dari series ini akan dipublish 1 post lebih lambat daripada post di Saudagar Waifu (jadi saat ini di sana sudah sampai part2).

Shin To Aru Mahoutsukai no Tabi Nikki/The New Traveler's Journal of A Certain Sorcerer
Chapter 1: Prologue, And All The Mess That Comes Along
Post ini adalah bagian dari series of posts yang akan menceritakan pengalaman saya selama di Jepang dalam rangka Summer Comiket 2016 (C90).

Three years ago, Suzumiya Haruhi created a space and time dimensional rift, which altered the reality of universe, in which-- wait, wrong series, maksud saya, tiga tahun yang lalu, saya bersama senpai saya pergi ke negara suci para vvibu, Jepang, untuk pertama kalinya. Kisah petualangan saya tiga tahun lalu bisa anda baca dengan mengklik tab Japan Trip Summer 2013 di bagian atas blog ini.

Post ini bisa dibilang official sequel dari serial The Traveler's Journal of A Certain Sorcerer yang saya tulis 3 tahun lalu, yang bahkan tidak pernah terpikirkan bakal ada, karena setelah melakukan trip yang pertama dan menyadari betapa menguras dompetnya semua persiapan dan aktivitas yang dilakukan (anda bisa membaca lebih lanjut di part 8 di link di atas soal ini) kemungkinannya kecil bagi saya untuk menghambur-hamburkan uang demi pergi ke negara sejuta dewa untuk yang kedua kalinya. Namun sebagai seorang vviboe sedjati, rasanya memang belum afdol kalau belum pernah ke comiket sama sekali. Jadi sayapun menaruhnya ke dalam daftar budget list meskipun untuk jangka yang belum pasti entah kapan, yang jelas tidak dalam waktu dekat. Saya mengestimasi tahun 2017. Tapi takdir berkata lain (sebenarnya kalimat ini hanya dipasang supaya terkesan lebay saja :v), menjelang akhir 2015, ada seorang teman yang mengajak untuk pergi ke comiket (bagaimanapun saya masih tidak sreg untuk menggunakan joke comiket sama dengan naik haji, meskipun harus diakui kalau ada banyak kesamaan diantara keduanya) bersama-sama. Setelah mempertimbangkan beberapa faktor, terutama lagu Muse yang liriknya our time is ruuuunnningg ouuut, our time is ruuunnning ooouut, huu uu uuu uu, akhirnya saya setuju untuk berangkat berdua bersama teman saya, kita sebut saja R-san. Maka dimulailah persiapan untuk menuju ke medan perang suci. But just like in any anime with good plot, things will never go as smooth as you planned.

Faktor kedua yang juga cukup penting dalam “the second journey” ini adalah sebuah pressure tersendiri yang tidak ada ketika traveling untuk yang pertama kalinya. Bagaimanapun juga, “membuat sebuah sequel” secara otomatis sudah menciptakan rintangan dimana hasil akhirnya harus mampu melampaui atau setidaknya menyamai kesuksesan dari yang sudah dicapai sebelumnya. Hal yang sama juga berlaku untuk penulisan travel log dari perjalanan yang kedua. Baik perjalanan maupun post tentang perjalanan pertama yang saya lakukan bisa dibilang sukses dan memuaskan. Jika saya memutuskan untuk melakukan perjalanan kedua, tidak bisa tidak, dengan pengalaman yang sudah diperoleh dari perjalanan sebelumnya, hasilnya harus bisa menyamai, atau lebih baik lagi, melampaui yang sebelumnya. The next should have been better than the previous, that’s the kind of principle I always have in mind. Even though I understand well the implication, and the bitterness that comes if it turned into failure would be more severe, but the taste of triumph (bukan merek beha) will also feel sooo goood, because obviously it will taste superior than the previous success. It’s like playing game with one difficulty level above normal mode.

But back to topic, sekarang setelah rencananya sudah fix, which is WE’RE GOING TO C90, berarti saatnya membackup main plan dengan rencana-rencana yang lebih detail. First thing first, belajar dari kegagalan ke comiket three years ago, hal yang pertama kali harus dilakukan adalah memastikan tanggal berapa comiket musim panas berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika senpai saya mengajak saya traveling ke Jepang, detail tanggal summer comiket masih belum keluar, sementara senpai saya butuh tanggal secepatnya karena sedang promo. Akhirnya saya gambling dengan memilih minggu ketiga Agustus, tapi ternyata comiket jatuh pada minggu kedua *insert meme so close freddy mercury here*. Untungnya sekarang Comiket punya halaman Facebook internasional dengan staff yang ramah dan siap membalas PM yang anda kirim dalam bahasa Inggris.


The conversation that starts it all

Bisa anda lihat, saya menanyakan perihal natsucomi jauh-jauh hari, lebih dari setengah tahun sebelum event tersebut dimulai (27 Dec 2015). Setelah tanggal fix, yang harus diurus selanjutnya tentu saja adalah tiket. Karena saya bukan sultan, jadi flight yang saya pakai diusahakan yang semurah mungkin. Apalagi kalau bukan AirAsia. Mungkin karena membelinya jauh hari sebelumnya, atau sedang promo, atau luck saya lagi bagus, atau gabungan dari semuanya, saya berhasil mendapat tiket PP yang lumayan murah, sekitar 4.5 juta. Dengan mempertimbangkan hasil jarahan (baca: belanja) yang bakal cukup banyak, saya menambahkan opsi baggage 25kg ke dalam payment sehingga totalnya sekitar 5 juta, masih masuk dalam rencana anggaran tiket. Note: bagasi yang saya beli hanya untuk perjalanan pulang, untungnya teman saya membeli bagasi masing-masing 20kg pulang pergi jadi untuk perjalanan berangkat saya bisa menumpang bagasi teman saya (limit bagasi hanya dihitung dari total berat barang, jumlah tas tidak berpengaruh).

Setelah tiket terbeli, basically nothing much you can do except waiting. Info soal Comiket masih belum banyak yang baru, tapi anda bisa mulai mencari-cari tempat atau event yg ingin dikunjungi atau interest lain seperti barang inceran atau makanan. Oh dan tentu saja ada hal lain yang bisa anda lakukan selama masa penantian ini. Yaitu cari duit sebanyak mungkin buat uang saku :v (atau cari pinjeman kalo punya nyali. Dan ada yang mau minjemin uang ke anda).

Sekitar pertengahan atau akhir Mei, baru ada kelanjutan dari rencana yang sudah disusun. Ditambah update ada seorang teman yang ingin join party, sebut saja namanya S-san sehingga rombongan sekarang berjumlah 3 orang. Step selanjutnya adalah mengurus visa. Soal ini untungnya ada teman yang baru saja melakukan perjalanan ke Jepang bulan April (dulu rencananya masuk party member yang akan berangkat bareng, tapi karena lebih prefer sakura dan musim semi dibanding comiket dan musim panas, jadi akhirnya berangkat terpisah). Dari teman itu saya mendapat info tentang HIS, travel agent yang direkomendasikan oleh teman saya jika hendak mengadakan perjalanan ke Jepang. Dilihat dari kantornya dan fasilitas lain yang disediakan seperti rental wifi yang bisa dipakai di Jepang dan menjual tiket kereta dan Disneyland/Disneysea, sepertinya HIS memang berfokus untuk trip ke Jepang. Jika anda berada di Jogja, HIS Jogja berada di jalan solo dekat sapphire square. Tetapi sesampainya di sana, HIS justru menyarankan supaya jangan terlalu jauh hari jika mengurus visa, karena visa hanya berlaku sampai tiga bulan dari saat visa keluar. Jadi kami baru akan mengurus visa pertengahan atau akhir Juni. Selain informasi di atas, kami juga mendapat beberapa informasi berharga lainnya seperti mengajukan visa untuk rombongan lebih dari 2 orang ternyata lebih susah karena banyak rombongan dari Indonesia yang tidak pulang ke tanah air dan menjadi imigran gelap. Dari segi internal sendiri, komposisi rombongan saya, kalau boleh pinjem istilah tv tropes, is a Ragtag Bunch of Misfits. Satu orang pelajar, satu orang kerja di tempat yang jelas tapi saldo rekeningnya harus pakai rekening ortu, dan satu orang saldo rekening pribadinya cukup tapi kerjaannya gak jelas lmao. Tapi ini baru disturbance level 1, belum seberapa. Kami juga disarankan untuk tidak memakai alamat teman sebagai tempat menginap, tetapi membooking tempat yang nantinya bisa dicancel. Menjelang akhir Juni, visa sudah diurus, tinggal menunggu datang (jika lolos). Akhirnya satu lagi requirement clear, bisa bernafas lega.

Or so I thought. Because another plot twist happens. Di awal Juli, ketika saya sedang casually chat dengan teman yang akan jadi tempat nginep saat di Jepang nanti, dia tiba-tiba menulis kalau liburan musim panas tahun ini instead of going to comiket, dia ingin pulang kampung. This happen in 4th July.

Uh-oh.

First rule: don’t panic.

Dengan perubahan rencana yang mendadak dari teman saya, otomatis saya dan rombongan jadi tidak punya tempat menginap. Ada beberapa opsi. Yang pertama, technically saya sudah membooking tempat menginap sebagai prasyarat pengajuan visa. But it’s too expensive. Saya mencoba cari opsi lain dari situs yang sama but no luck. Agustus adalah bulan liburan musim panas, so most all of the cheap hotel are full. Next. Bagaimana dengan tempat nginep yang dulu saya pakai (khaosan)? Saya coba cek websitenya. Masih ada. Tapi cabang paling murah yang dulu digunakan tidak ada. Lewat quick googling akhirnya ketemu info jika cabang yang itu sudah ditutup, yang masih buka adalah yang relatively expensive. Oh shi- Next, saya inget dulu banget pas awal-awal kerja pernah bikin akun di Couchsurfing saat mau ke Malaysia. Ok, let’s try that. ..dame da. CS bukan pilihan yang cocok jika traveling dalam grup. Selain itu requirement nya cukup ribet jika anda bukan tipe orang yang extrovert. Couchsurfing memang basically free, tapi sebagai gantinya host mungkin akan meminta anda untuk melakukan sesuatu seperti memasak makanan tradisional atau yang khas dari tempat anda berasal, atau do some performance, intinya give and take. Akhirnya last resort saya jatuh pada tempat yang dipakai oleh rombongan teman saya yang level sultan yang juga hendak berangkat ke Comiket, yaitu Airbnb. Jika anda belum pernah dengar soal Airbnb, konsepnya ada di tengah-tengah antara hostel dan couchsurfing. Basically, anda bisa menawarkan tempat atau kamar yang anda punya untuk disewa. Dari segi harga jelas opsi ini lebih murah dari penginapan pada umumnya. Namun praktek Airbnb bisa dibilang masih berada di zona abu-abu dari segi legalitasnya dan menurut rumor cukup beresiko untuk membuat anda dianggap tidak ada tempat menginap, bahkan sampai dipulangkan, tapi sekali lagi, ini rumor. But there seems like there are no other option, so be it. Awalnya saya mencoba mencari tempat yang lokasinya dekat dengan Big Sight untuk menghemat biaya transport, tapi hal yang sama juga terjadi di sini, bulan Agustus adalah bulan liburan musim panas, sehingga banyak tempat yang sudah dibooking. Setelah menemukan tempat yang masih kosongpun, belum tentu host yang punya tempat menyetujui request anda (tidak seperti hotel yang jelas-jelas pasti bakal menerima pemesan). Terlebih lagi host Jepang beberapa tidak bisa berbahasa inggris atau mungkin tidak berminat menerima tamu yang bukan dari Jepang, yang jelas dua request saya yang pertama direject dengan pesan yang isinya tampak seperti template bahasa Inggris untuk menolak. But Rule of Three finally works dan di request ketiga saya, hostnya setuju untuk menerima rombongan saya sebagai tamu.


Thank God, biarpun engrish tapi yang penting it works! Seperti yang bisa anda lihat, urusan nginep-menginep ini baru beres tanggal 12, atau satu bulan sebelum keberangkatan. Untungnya 2 hari kemudian HIS memberitahukan jika visa sudah bisa diambil jadi masalah-masalah yang crucial akhirnya bisa dibilang clear, sehingga saya punya waktu untuk fokus pada plan yang lain, seperti membeli equipment yang dibutuhkan (converter colokan listrik, botol air minum, tas, dll), membelikan titipan teman yang di Jepang sana, membuat plan Comiket (ngecek posisi booth yang mau dikunjungi, bikin list target), membuat plan non Comiket (tempat dan event lain yang mau didatangi, termasuk berjumpa dengan suhu tentacle Toshio Maeda), dan jangan lupa juga, website ini, Saudagar Waifu, sudah saya rencanakan untuk dilaunching tepat di tanggal ultah saya, 30 Juli. You can imagine how hectic I am at that time. Tapi untunglah saya chooneebyo, sehingga ketika harus mengurusi begitu banyak rencana, yang perlu dilakukan hanyalah memutar lagu ini sambil membayangkan batalion dan armada beserta suplai dan amunisi yang tersedia untuk perang besar the great holy grail war yang sebentar lagi dimulai. Bahkan hingga jam-jam terakhir menjelang keberangkatanpun, plot twist masih saja berdatangan. Tanggal 9, ketika sore jam setengah 3 saya harus berangkat ke Jakarta dengan kereta api yang bertolak dari Lempuyangan, karena kesibukan, paginya saya baru sempat untuk menukar rupiah dengan yen. Jadi berangkatlah saya bersama S-san ke money changer yang direkomendasikan teman saya, Mulia Bumi Arta yang terletak di Inna Garuda Hotel Malioboro. Karena kata teman saya di deket sana ada atm, jadi sayapun tidak membawa cash. Sesampainya di sana, S-san langsung menukar rupiahnya karena dia membawa cash, sementara saya mencari atm di dekat sana.. yang ternyata tidak ada atm BCA. Oh shi- Setelah tanya-tanya, akhirnya saya tau kalo atm BCA terdekat ada di dalam Malioboro mall. Karena jalan Malioboro satu arah sementara saya harus balik lagi, jadi lebih efisien jalan kaki. Sesampainya di mall, untuk menghemat waktu saya tanya ke satpam dan mendapat info kalau atmnya berada di lantai 2 (terasa seperti JRPG ya? Press X to talk to satpam dst). Sesampainya di lantai 2, maka press X in front of the atm mach--- wait a second, kenapa ada orang berseragam di depan mesin dan ada satpam lagi di dekatnya. Press X to talk to satpam dan dia akan berkata jika atmnya sedang di servis. Tekan X lagi dan dia akan berkata jika servisnya baru selesai paling cepet satu jam lagi. Oh shi- Akhirnya saya balik ke money changer lagi dan bilang ke S-san kalau nanti bakal balik ke sini lagi sendirian, jadi sekarang balik ke rumah masing-masing dan nanti langsung ketemu di stasiun Lempuyangan. Padahal waktu itu motor yang dipakai cuma satu karena motor saya ditinggal di rumah S-san untuk efisiensi. Jadi setelah balik ke rumah S-san, saya mengambil motor saya lalu ke atm bca di dekat mirota kampus untuk transfer lalu kembali lagi ke money changer, baru balik ke rumah dengan mengantongi yen yang membuat saldo bank saya seperti dikuras. Untungnya waktu masih tersisa cukup banyak untuk makan siang dan some final adjustment and minor preparation. Pukul 14:15 sayapun berangkat, sampai stasiun jam menunjukkan pukul 14:35, masih ada waktu kurang lebih 1 jam sampai kereta berangkat jam 15:30. JUST. AS. KEIKAKU.

The journey begin
Perjalanan dari jogja ke jakarta dengan kereta ekonomi sudah bukan hal yang istimewa lagi karena cukup sering dilakukan, so there’s nothing special to write about. Saya memang sengaja memakai opsi ini karena murah, hanya memakan budget sekitar 75rb dengan konsekuensi siap-siap bored to death sepanjang perjalanan selama 8 jam diiringi BGM tangisan anak-anak. Untungnya di kereta ada colokan listrik jadi anda tidak akan kehabisan batere, dan anda masih bisa mengantisipasi dengan mendengarkan musik atau membaca ebook (jika bingung mau baca apa, anda bisa memakai project gutenberg sebagai salah satu opsi), atau internetan kalau hp anda konek internet dan ada quota (hp saya wifi dependant, tapi untungnya S-san berbaik hati mau tethering dengan koneksinya -wifi dari HIS hanya bisa dipakai jika berada di Jepang-).
Pukul 11 malam, satu jam lebih cepat dari yang dijadwalkan (imba juga), kereta saya tiba di Pasar Senen. Untungnya (mungkin anda sekarang sadar di post ini kata untungnya juga sering disebut sebagaimana shit happen juga sering muncul. That’s how life works bruh, shit and luck balances each other) R-san yang sudah tiba di Jakarta duluan menyewa kamar di J Hotel (for some reason di konteks ini nama hotelnya terdengar sangat vvibu) sehingga saya dan S-san tidak perlu menunggu di bandara terlalu lama. Setelah tawar menawar yang cukup lama dan muter-muter dengan google map, akhirnya taksi yang saya tumpangi sampai juga di J Hotel. Sampai di sana masih ada waktu untuk beristirahat sebentar, mampir ke minimarket untuk mengisi HP, dan bahkan mandi pakai air hangat (fuck yeah hot water). Yang lebih menyenangkan lagi, ternyata hotel ini juga memiliki shuttle bus ke bandara sehingga kami tidak perlu memikirkan soal perjalanan ke bandara. Pesawat yang akan kami tumpangi berangkat jam 08:35 dari terminal 3, tapi tentu saja kami tidak mau membuang-buang waktu menunggu di hotel, jadi kamipun berangkat dengan shuttle bus sepagi mungkin.

The journey begin: leaving the country
Tentang perjalanan ke bandara dan bagaimana kami menunggu hingga keberangkatan pesawat dan tiba di bandara transit KLIA (Kuala Lumpur International Airport) kurang lebih sama dengan three years ago, so, again, there’s nothing much to write. Di KLIA anda bisa menemukan money changer dan wifi gratis (lumayan jika hp anda wifi dependant seperti punya saya). There’s also drinkable water (lumayan untuk me recover a little bit of HP with no cost). Anda mungkin membutuhkan ringgit untuk membeli makanan di pesawat at the next journey, yang lebih lama. Atau jika anda ingin mengisi HP di bandara, though the price is of course expensive. Personally kalau saya selama di dalam perjalanan I went to hermit mode and just try to sleep and read without consuming anything. Saya membawa roti yang dimasukkan di tas yang ikut dibawa ke kabin dan tidak ada masalah, selama tidak dimakan saat di pesawat. Sepertinya minuman juga begitu, tapi dibatasi hanya satu botol (then again you can just drink tap water when you reach KLIA) bandara. Jadi di sini saya hanya menghabiskan roti (by roti I mean a whole lot of roti, like setengah bungkus roti semir isi 8 pcs) di ruang tunggu sambil menanti pesawat ke Haneda datang.
The plane depart at 14:30 local time, atau sekitar 24 jam setelah keberangkatan saya dari Jogja. And after yet another long hours inside the flying machine, we finally arrived. IN TOKYOOOOO.

The VVizard arrives

It was 22:30 local time, 10 August 2016. Unlike my previous trip three years ago, the sky were clear though the stores already closed even when we arrived before midnight. So there’s nothing to do except rest while waiting for the first train to arrive. Or visiting the nostalgic Lawson airport on the first floor to buy some JAPANESE FOOD (by japanese food I mean onigiri and mineral water/tea in pet bottle). Tentu saja karena sudah di Jepang maka wifi dari HIS pun aktif dan bisa dipakai. Sebenarnya karena masih belum tengah malam, kereta terakhir ke Tokyo dari Haneda masih ada, tapi tidak ada gunanya juga mengambil opsi itu karena memangnya mau ngapain sesampainya di kota pagi-pagi buta.

While recharging my stamina, R-san came to discuss something. Kalau ini adalah sebuah JRPG game, bisa dibilang ini adalah major branch pertama yang akan menentukan rute dan endingnya. I won’t write the long details tapi intinya dia mau misah dari party dan nginep di tempat temannya. Well this is quite perplexing and sudden, tapi anda belum jadi vvizard kalo belum sering mengalami hal-hal yang di luar prediksi seperti ini (the world is out of join, o cursed spite.. dst). S-san sendiri waktu itu masih tertidur and I don’t want to wake him just to suddenly shove the matter straight to his face.
>Let R-san have his way with his plan
 Convince him to stay with the rest of party member
Saya memilih opsi pertama. No special consideration in mind. Mungkin karena waktu itu memang lagi exhausted jadi gak mau overthinking juga. Dan ternyata memang setelah percabangan ini sampai akhir journey party saya tidak sempat ketemu lagi sama dia. Tapi setidaknya sampai pertengahan hari pertama, party masih bertiga, karena saya membutuhkan tempat untuk menunggu sampai jam 3 sore, waktu check in di Glass House (nama tempat nginep, later I learn that the name should be Glasses House or THE HOUSE OF MEGANE FUCKYEAH but I don’t want to object the owner’s decision), jadi tidak ada salahnya ikut temen saya ke tempat temannya di Higashi Nakano. Rencana awalnya saya menunggu sampai jam 3 di Akiba dengan memanfaatkan fasilitas coin locker, but no prob. Dengan perubahan itinerary dari Akiba ke Nakano, saya mengatur ulang plan saya dan memindahkan Nakano Broadway ke place to go day 1. Kereta pertama dari Haneda berangkat sekitar jam 5:20 I forgot the exact time, jadi menjelang jam 5 semua party member back on the trip mode dan jam 5an kami ke tempat platform yang ternyata memang masih tutupan rolling doornya, tapi sudah ada beberapa orang yang menunggu di dekatnya termasuk oneesan yang sepertinya habis dari traveling dengan outfit so chic oh god why do girls in Tokyo always have such a classy fashion style.

<=== TO BE CONTINUED
NEXT: FIRST DAY; The Broadway and Yet Even More Chaos Follow
UPDATE:
- Sapphire square sekarang sudah berganti nama jadi Lippo Mall.
- ATM BNI yang ada di dekat money changer ternyata bisa dipakai untuk transfer antar bank :v... oh well.

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime