Tuesday, October 21, 2014

Taman Barokah Amagi (bagian dua)

3 comments
Chirp chirp chirp

Kicauan burung (bukan BURUNG -red) dan sinar matahari yang lembut menyapa wajahku, membangunkanku dari sebuah mimpi panjang yang indah.

"Nnn.."


Aku membuka kedua mataku. Rasanya seperti terbangun dari mimpi yang menyenangkan. Tapi aku tidak bisa mengingat banyak detail. Aku memandang ke sekeliling. Hanya ada aku dan perabot-perabot kamar tidur. Tidak ada taman bermain yang hampir bangkrut. Tidak ada kereta yang berjalan dengan iringan lagu Just Be Friend. Tidak ada cosplayer imut dengan nama seperti putri arab. Sudah kuduga, semua itu cuma mimpi. Mungkin aku terlalu banyak menonton ulang Full Metal Panic Fumoffu. Seperti lirik lagu. Semua itu mimpi woooo Hanyalah bualan Wooooo semua itu bohong.. dst. Sambil menghela nafas panjang, akupun mengambil handuk dan membuka pintu kamar mandi.




"Aih~ ketok dulu dong kalo mau masuk~"



AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!



AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!111

Adegan horror yang terpampang di depan mataku membuat naluri bertahan hidupku menyuruh untuk cepat-cepat melarikan diri.

"MBAK! MBAK! BANGUN, MBAK!!"

*DOK! DOK! DOK!

Tanganku menggebrak pintu kamar kakak perempuanku.

*ceklek*

"haa..ada aphaa..?"

Wajah kakakku yang kusut muncul dari balik pintu kamar.

"Ada penampakan mengerikan di kamar mandi!"

"Haaa?"

"Ada cowok telanjang pake twintail di kamar mandi!"



((Wah parah nih halusinasi adik gw, pasti gara-gara sering nonton anime-anime trap gak jelas))


Huh? suara apa itu tadi? barusan aku seperti mendengar suara monolog dalam sinetron-sinetron.

"Mbak, kamu barusan ngomong apa?"

"Aku gak ngomong apa-apa."

"Oh tidak! Sekarang aku mulai mendengar suara-suara! Sebentar lagi aku akan jadi joker! VOICES! VOICES! Hahahahahaha"

((Waduh sekarang dia malah jadi chuunibyou, memang anime itu bukan tontonan yang baik))

"NAH KAN! Suara itu lagi!!"

"Itu geass."

Tiba-tiba terdengar suara Ria dari arah belakang.


"Geass?"

"Kamu pasti ciuman sama Latifah ya kemarin?"

"Eeeh? kok tau? Dia yang nyium aku duluan kok. Tunggu dulu! kenapa kamu bisa ada di rumahku?"

((APA? adik gw sekarang udah berani nyium2 cewek? ini pasti gara-gara anim-))

"Mbak, diamlah sebentar."

"Ha? aku gak ngomong apa-apa."


"Latifah mempunyai kekuatan untuk memberikan geass. Dia sebenarnya adalah keturunan nenek moyang CC di masa ini. Ngomong-ngomong geass yang kamu miliki adalah geass type Mao. Geass itu memberikan kemampuan untuk membaca pikiran orang."

"Apa?"

"Sudah sudah. Mbak nggak mudeng kalian ngomong apa. Nanti terusin di sekolah saja ya. Kabul, kamu mandi dulu sana. Ria, bantuin bikin sarapan ya."

"Iya, mbak."


KONO BANGUMI WA GORAN NO SPONSOR NO TEIKYOU DE OKURISHIMAS




Taman Barokah Amagi

BAGIAN 2


((Aduh, kayaknya aku bakal ladur lagi hari ini, maafkan aku waifuku yang moemoe))


((Hihihi.. mas-mas yang di sana itu kayaknya homo deh, pasti dia uke))


((Setiap kali aku berada di stasiun ini, aku selalu teringat selingkuhanku.. oh Sepia..))


"Argh.. hentikan suara-suara ituu.. tempat ini ternyata penuh dengan orang-orang bejad"

"Gimana? sekarang percaya kan kalo kamu punya geass yang bisa membaca pikiran?"

"...ini mengerikan. Aku seperti tokoh utama anime yang terlalu OP. Dan lagi, suara-suara itu menggangguku. Berisik sekali. Aku tidak butuh kekuatan ini"

"Jangan ngomong seperti itu. Banyak pembaca yang menginginkan kemampuan itu. Coba bayangkan, sekarang kau tidak perlu pusing-pusing menebak maksud omongan cewek. PDKT sekarang jauh lebih mudah."

"Ha? Aku yang tampan ini sudah cukup untuk diriku sendiri. Punya cewek, buat apa?"

"Sasuga Kabul si Jones narsis. Baiklah nanti aku akan bilang ke Latifah supaya diambil lagi. Toh nanti sore kita memang harus ke Taman Barokah."

"Ke sana lagi? ngapain?"

"Kemarin Latifah sudah cerita kan? Dia butuh kamu.. sebagai manajer."

"BUTUH KAMU SEBAGAI MANAJER"

"SEBAGAI MANAJER.. JER.. JER.. JER.. JER.."

*bergema*

"STOOOP. Baiklah baiklah, nanti aku ke sana."



Sementara itu, di Taman Barokah Amagi..


"STAAAAAAAAAAAARR PRATINOOOOOOO!!!1"

ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA ORA!!

"Hyakuretsukyakuu!!!"

"UWAAAGHHHHH!"

K.O!! YOU WIN!!

"Yaay, aku menaang."

"Tapi komboku lebih banyak."

"Sudah sudah, ayo kita pulang sekarang."


"MATA NEEEE!"

"MATAMUUU!!"



"Haaah, ampun dah, anak jaman sekarang bisa niruin hyakuretsukyaku. Gila"

"Itu belum apa-apa, kau lihat anak yang mukulin aku? dia niru JoJo!"

"Ada apa ini, pagi-pagi sudah ribut. Sudah, sudah. Embek, Meong, kalian tau sendiri kan, resiko bekerja di dunia hiburan seperti ini."

"Oh, Pak Bonta."

"Selamat pagi, Pak"


"Selamat pagi Embek, Meong. Ini yang lain mana? kok belum pada kelihatan."

"Mungkin sedang bersiap-siap, Pak. Mereka kan harus dandan pake make up dulu. Tidak seperti kami yang cuma tinggal pake kostum."

"Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong gimana dengan anak kemarin? Siapa itu, Kabul?"

"Kabul ya.. ntah ya, saya agak gimana gitu sama anak itu. Lagipula, kayaknya dia mau modusin keponakan saya."

"Hah? Dik Latifah maksud Bapak?"

"Oh, itu mereka sudah datang."


"Pagi, semuanyaa"

"Pagi"

"Pagi, peri-peri cantik."

"Ah, Pak Bonta bisa aja."

"Ades, Desi, Ifrit, ..sama kamu, siapa namanya?"

"Helikopter, Pak."

"Oh, iya. Helikopter"


"HELIKOPTEEEEEEEEEERRRRR"


 NAMANYA HELIKOPTEEERRRRR???!!!




"Jadi.. biar aku coba ulangi apa yang kamu jelaskan tadi. Kalian orang-orang Taman Barokah Amagi berasal dari negeri 1001 malam. Karena perbuatan seorang wizard berumur 3000 tahun, kalian terlempar ke tempat dan jaman ini. Lalu, untuk bertahan hidup, kalian membutuhkan animu."

"Ya."

"Dan apa itu animu?"


"Animu adalah energi positif yang terpancar dari seorang jones ketika mereka berbahagia"

"Seperti ketika sedang nonton anime?"

"Salah satunya."

"Hmm menarik. Jangan-jangan kata anime berasal dari itu."

"Oh, dan satu lagi."

"Apa?"


"Sepertinya kami bukan satu-satunya yang terdampar di jaman ini."





"Nama saya Kris"

"Chris Tucker?"

"Hampir benar. Saya Kris... tanto."

Orang di depanku membungkuk sambil menyerahkan kartu namanya. Aku dan Ria saat ini sedang berada di ruang rapat Taman Barokah. Ria menyuruhku menemaninya yang bertugas sebagai manajer pengganti mewakili Latifah yang sedang tidak bisa hadir karena sakit maag. Di belakang mas-mas yang mengaku bernama Kris tadi ada dua orang berpakaian seperti Man in Black. Daripada sebuah rapat aku merasa seperti berada di adegan sebelum terjadi Mexican Standoff.


"Saya perwakilan dari PRET."

"Apa itu PRET?"

"Perkumpulan Riajuu Ekstra Tampan"

"Oh."


"Seperti yang sudah disepakati sebelumnya di dalam kontrak, di sini dijelaskan bahwa jika sampai jatuh tempo, pihak Taman Barokah Amagi tidak bisa memenuhi omset minimum yaitu sejumlah dengan 500ribu pengunjung jones, maka hak kepemilikan Taman Amagi akan berpindah menjadi milik PRET."

"Ya."

"Nah, berdasarkan laporan terakhir yang kalian serahkan, kalian masih punya kekurangan 250ribu jones lagi. Sedangkan batas akhir dari kontrak ini adalah 3 bulan lagi, yaitu tanggal 31 Juli."

"Kenapa tanggal 31 Juli?"

"Karena tanggal 30 Juli adalah hari ulang tahun yang punya blog ini. Ah sudahlah, itu tidak penting. Intinya, saya tidak melihat kesiapan kalian dalam memenuhi target yang cuma tinggal 3 bulan lagi."

"Ya."

"Jangan cuma ya ya saja dong. Kalian ini niat enggak buka taman bermain? Bisnis mainan itu biarpun yang dijual mainan tapi bukan buat mainan. Kalian paham enggak kata-kata saya?"

"Paham, Pak Pret. Eh Pak Kristanto."

"Panggil saya Mas aja"

"Ya. Jadi begini Pak Mas Kristanto.."

"...aduh, pusing Saya. Mata saya capek. Buka kacamata dulu deh"


"Kacamatanya bagus, Pak. Kayak beha. Beli dimana ya?"

"Haa?" 

"Jangan dengarkan dia, Pak."

"He, kalian jangan bercanda, ya. Saya ini ke sini buat ngasih tau kalian baek-baek, kalian malah begini. Ya sudah, jangan salahkan saya kalau taman ini ditutup tiga bulan lagi! Permisi."

Orang itu lalu keluar sambil menutup pintu dengan suara berdebam.

Dua detik kemudian, pintu ruang rapat terbuka lagi.

"Dan kacamata saya nggak kayak beha, tau?!"



"Ini semua gara-gara kamu, Kabul! Kamu membuat pak mas Kristanto marah!"

"Kenapa aku? aku kan sudah bilang aku tidak berminat menjadi manajer tempat ini. Kamu sendiri yang minta ditemani ikut rapat ini."

"Tapi kamu harapan terakhir kami, Kabul! Kalau tidak taman ini akan mereka sita!"

"Jadi semua ini salah gw? salah temen-temen gw?"

"Kalau taman ini jatuh ke tangan mereka, mereka akan mengubah taman ini menjadi Taman Riajuu Amagi. Mereka akan mengisi taman ini dengan semak-semak dan mesin penjual kondom otomatis untuk pasangan-pasangan yang datang kemari. Bukan cuma pasangan saja, tapi mereka yang selingkuh juga akan datang ke sini. Di tempat ini akan terjadi banyak NTR. Itu tidak barokah!"

"Apa peduliku? Pacaran tidak barokah itu kan cuma alasan jones yang tidak bisa dapat pacar."

"K-kau... Baiklah kalau begitu. Silakan angkat kaki dari sini sekarang juga. Aku tidak mau melihatmu lagi!"




Dan begitulah petualanganku di Taman Barokah akhirnya berakhir pada hari itu.

Atau awalnya kukira begitu. Di depan taman aku bertemu lagi dengan Kristanto yang sepertinya sedang menunggu mobil jemputan.


"Lho, kamu.. Kabul, kan? Artis cilik yang dulu terkenal sampai jadi cover majalah Anakonda?"

"Ananda kalee"

"Iya, Ananda. Wah, pantas saja tadi pas di dalam kayaknya pernah lihat dimana gitu. Kamu kenapa bisa ada di sini?"

"..salah turun tadi, tadinya mau ke love hotel sebelah tapi kelewatan."

"Oh. Tapi tadi pas rapat di dalem kok sama Ria?"

"Oh itu. Karena udah terlanjur nyampe sini jadi ya sekalian aja gw muter2. Terus ketemu sama dia. Mungkin karena ketampanan gw yang maksimal ini, dia ngajak gw masuk ke dalam buat rapat. Kirain mau RAPAT eh ternyata memang suruh nemenin rapat beneran."

"Oh gitu. Kirain lu sekarang kerja di sini. Hahaha. Oh, supir gw dateng. Cabut dulu yah."

"Ya"


"Oh iya cuma saran aja sih, jangan sering2 datang ke sini lho, kalo sering-sering ke taman jones ini, ntar bisa ikut jadi jones. Hahahaha."

"Haha.."


Setelah percakapan itu, entah kenapa bis yang aku tunggu-tunggu terasa lama sekali datangnya. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu sambil duduk di bangku dekat tempat perhentian bis.



Bangku dari kayu tempat aku duduk itu terlihat seperti bangku-bangku kayu lainnya. Sekilas seperti tidak ada yang istimewa. Sampai aku melihat sepucuk kertas yang terlipat tergantung di belakang bangku. Kertas itu dimasukkan ke dalam plastik bening tebal tahan air dengan kata "petunjuk penggunaan" tertera di atasnya. Aku membuka plastik itu, mengambil kertas di dalamnya dan membuka lipatannya.



Taman Barokah Amagi
Anjungan nomer 31: Bangku Penantian

Jika anda merasa lelah dan kehilangan arah, tapi anda tidak juga menemukan tempat untuk bersandar, kami meminjamkan bangku ini untuk anda. Silakan gunakan bangku ini untuk beristirahat hingga rasa lelah kokoro anda hilang. Kami tidak akan memungut biaya apapun. Jika, karena suatu hal, anda ingin bermalam di bangku ini, kami akan meminjamkan selimut untuk anda. Silakan pergi ke pos penjagaan taman untuk meminjam selimut. Anda tidak akan diusir polisi setempat karena bangku ini sudah mendapat persetujuan.

p.s: karena bangku ini hanya bisa memuat masing-masing 1 orang untuk tidur, harap jangan terlalu sering memakai bangku ini, berikan kesempatan untuk orang lain yang bernasib sama dengan anda.

ttd manajemen Taman Barokah Amagi


Seusai membaca tulisan pada kertas itu, tiba-tiba tanganku bergetar dengan hebat. Aku merasakan sebuah perasaan yang tidak dapat dituliskan dalam kata-kata. Seakan-akan semua orang yang pernah duduk di bangku ini berada di sampingku dan menepuk pundakku dengan kehangatan. Aku melihat ke sekitarku. Mereka ada di sini. Datang dan duduk di bangku ini. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Silih berganti. Beberapa tertidur. Lalu terbangun. Dan beranjak pergi. Wajahnya cerah. Lalu datang lagi yang lain. Duduk. Termenung. Pergi dengan senyuman. Berulang-ulang bagaikan hologram animasi yang tak kunjung berakhir.

Bis yang kutunggu sejak tadi akhirnya datang, tetapi aku tidak menyadarinya sama sekali.




"Pengumuman ditujukan untuk semua staff Taman Barokah Amagi, diharap berkumpul di depan kastil. Sekali lagi, untuk semua staff Taman Barokah Amagi, diharap berkumpul di depan kastil."

Sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara ketika kakiku melangkah memasuki taman. Aku melanjutkan langkahku menuju ke arah kastil. Banyak orang sudah berkerumun di tempat itu.


"Harap tenang semuanya. Nona Latifah hendak mengumumkan sesuatu."


Sekarang gantian suara Ria yang terdengar. Aku memilih berdiri di belakang gerbang sehingga masih bisa mendengar suaranya dengan jelas tapi tidak mencolok di kerumunan.

Suara-suara dari kerumunan itu langsung senyap.


"Selamat sore, staff Taman Barokah semuanya," suara Latifah terdengar jelas dari atas balkon kastil meskipun tidak ada mic ataupun pengeras suara di tempat itu. "Seperti yang mungkin kalian ketahui, jika dalam waktu 3 bulan ke depan taman ini tidak bisa mencapai omset yang disepakati dalam kontrak, maka.. dengan terpaksa taman ini akan ditutup."

Kerumunan itu masih terdiam.


"..karena itu, mulai sekarang aku harap kalian mulai mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan baru. Jika ada yang membutuhkan bantuan seperti informasi lowongan atau surat rekomendasi, kalian bisa mengurusnya di ruang staff. Karena.. mulai bulan depan taman ini akan ditutup."

Kerumunan yang tadinya diam itu tiba-tiba mulai ramai.

"Ditutup? tapi masih ada waktu 3 bulan.."

"Sekarang kan masih awal bulan?"

"Apa kita bakal diberi pesangon? Lalu bagaimana dengan gaji bulan ini?"

Meskipun hari sudah menjelang malam, tapi aku merasa atmosfer di tempat ini memanas.

"Harap tenang, semuanya!"

Suara Ria memecahkan keramaian. Seketika suasana menjadi senyap kembali.


"Sebagai manajer taman ini, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya," Latifah melanjutkan, suaranya terdengar sedikit serak, "tapi ini benar-benar tidak bisa dihindari lagi. kita sudah tidak bisa menanggung kerugian lebih dari ini. Lebih baik biaya operasional taman ini dipakai sebagai uang pesangon untuk kalian."

Bisik-bisik kembali terdengar diantara kerumunan.


"Memangnya bisa segampang itu?!" tiba-tiba sebuah suara terdengar lantang.

"Pak Boyo.."


"Tidak semudah itu bilang tutup lalu memecat kami, memangnya cari kerja di jaman sekarang itu gampang? Sudah lebih dari 10 tahun aku bekerja di sini. Yang bisa kulakukan ya cuma ini. Kalian mau aku pindah kemana? Taman lain sudah penuh! Mereka tidak akan menerima tambahan badut lagi. Ditambah sekarang banyak lulusan baru yang lebih muda. Ilmu mereka pasti jauh daripada yang sudah tua sepertiku. Sekarang anak SMP saja sudah bisa bikin apps buat android, kalian tahu tidak? Jamanku SMP dulu mana ada HP android, adanya pager!"


"Hentikan air mata buayamu itu."

"Pak Bonta.."

"Sudahlah, kalau memang begini jadinya, ya mau gimana lagi?"


"Kau bisa bicara begitu karena posisimu lebih enak! Orang tinggi sepertimu punya banyak koneksi. Kalau tidak bisa kerja di sini kau tinggal hubungi kenalanmu. Lagipula, kau masih punya pemasukan dari royalty Super Robot Taisen!"


"Apa katamu? dasar buaya darat! Kau kira aku segampang itu pergi dari taman milik Latifah ini?!"

"Hentikan! Kalian membuat nona Latifah semakin sedih"




"SECEPAT ITUKAH KALIAN MENYERAH?!"

Entah siluman apa yang merasukiku, tiba-tiba saja mulutku berteriak dengan lantang. Semua pasang mata di tempat itu memandang ke arahku. Bahkan Latifah. Ekspresinya terkejut bercampur bingung. Mungkin dia tidak menyangka aku akan kembali ke tempat ini.

"YO! Latifah!" kataku, "I'm really happy for you and Imma let you finish your speech, but Amagi Park is one of the most Barokah Park of all time! ONE OF THE MOST BAROKAH PARK OF ALL TIME!!!!"

Latifah terpana. Sejenak kemudian, ada ekspresi baru menghiasi wajahnya. Perlahan bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Tuan Kabul" katanya, "jika ada yang ingin anda sampaikan, silakan naik ke atas balkon ini."

Aku melangkah masuk ke dalam kastil, melewati ruangan dan menaiki elevator yang sama dengan yang pernah kunaiki sebelumnya, lalu tiba di balkon. Di sana berdiri Ria dan Latifah. Aku melangkah ke tengah-tengah dan mengarahkan pandangan ke bawah. Puluhan orang menatapku dengan ekspresi yang beraneka macam.

"Kalian pasti bingung kenapa ada mas-mas random yang berteriak seperti meme Kanye West dan tiba-tiba bisa berada di atas sini. Baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Namaku Kabul. Kemarin aku diundang kemari oleh Latifah untuk membantu menolong kondisi taman ini yang sudah sekarat." 

Aku mengambil jeda sembari menebarkan pandangan ke arah audiens. Bagus, mereka semua memperhatikanku. 

"Tadinya aku tidak berminat menolong taman yang mengenaskan ini. Tapi.." Aku menatap ke arah Latifah. Dia balik memandangku dengan tatapan bingung. 


"..Latifah menjanjikanku berbagai HAL, dalam tanda kutip yang tak bisa kujelaskan di sini, jika aku bisa membuat taman ini tidak jadi ditutup. Sebenarnya, secara body aku lebih memilih Ria, kalian juga pasti setuju. Tapi, emosinya terlalu mudah meledak. Literally. Ditambah lagi, dia punya senapan di selangkangannya. Salah sedikit, BURUNGKU bisa kena tembak. Sekali DOR! hancur sudah. Jadi, setelah berpikir-pikir lagi, akhirnya tawaran Latifah aku ambil, dan oleh karena itulah aku sekarang berada di depan kalian semua."

"WOOOGHHH!!"

"APPPAAAAAAAAA????"



AAAPPAAAAAAA???!!!!!!!!!!!111

"Latifah sampai berbuat itu?"

"Kurang ajar!"

"Dasar (piiiip), tidak akan kubiarkan kau menyentuh tuan putri!"

"Putri Latifah! Tolong pikirkan sekali lagi keputusan anda meminta tolong orang brengsek seperti dia!"

Aku mengamati para audiens sekali lagi, sekarang ekspresi mereka sudah berubah menjadi tatapan yang penuh dengan hawa pembunuh.


"Tenang, semuanya. Aku bukan lolicon ataupun pedo. Aku akan tetap mengambil tawaran sebagai manajer taman ini. Tapi aku juga akan membuat penawaran yang sama dengan kalian. Jika kalian mau membantuku, bekerja di bawah komandoku sebagai manajer, maka 3 bulan mendatang, taman ini aku jamin tidak akan jadi ditutup. Dan aku akan pergi tanpa menyentuh Latifah sama sekali."


"Tapi! Jika kalian tidak mau bekerja sama, maka bisa dipastikan taman ini akan ditutup dan di atas balkon ini akan terjadi adegan seperti di anime-anime valkyrie dan himekishi..  if you know what I mean."



APPPAAAAAAA?!!!!!!111

"Baiklah kami akan mengakuimu sebagai manajer yang baru. Tapi jika kau tidak bisa menyelamatkan taman ini, kami akan membuat kepalamu lepas dari tempatnya lebih cepat daripada kamu melepas celana."

Aku memandang orang-orang yang di bawah dengan tatapan puas, lalu mengarahkan pandangan ke arah samping kanan dan kiriku. Ria melotot seperti hendak melakukan head shot sementara Latifah tersenyum manis dan mengulurkan tangan sambil berkata, 


"Selamat bergabung dengan Taman Barokah Amagi"


Taman Barokah Amagi 
bagian 2 selesai

Afterword:

Now Ive done it :v... Saya membuat premis baru yang terlalu imba di parody eps ini, sementara saya sendiri tidak tau apa yang akan terjadi di anime ini ke depannya, lol. Tapi berbeda memang dengan Silau-Man yang tidak punya love interest dan malah terlihat seperti punya pasangan yoai, di Amagi protagonistnya kembali ke peran utama serial pseudo-harem khas Kyoani, dan bicara soal heroine sendiri, Latifah mengingatkan saya dengan Misuzu (apakah akan berakhir dengan nasib sama? oh noo.. semoga saja tidak) jadi kurang lebih dua hal itulah, ditambah Latifah yang notabene seorang ojousama, yang membuat saya jadi ingin menambahkan elemen cinta terlarang di parody kali ini . Ngomong-ngomong, ide tentang bangku dan tawaran di scene terakhir itu munculnya belakangan waktu mau dipublish. Soal tawaran, mungkin karena tiba-tiba spirit (of perverted) inspiration melintas jadi akhirnya dapet ide tentang itu, tapi soal bangku, bahkan waktu saya membaca ulang untuk final cek sebelum dipublish inipun saya masih bingung, kok bisa ya terpikir sesuatu yang mencerahkan seperti itu tadi? 

Sampai jumpa di episode selanjutnya.

3 comments:

Erclair said...

Bangku barokah...

gecd said...

damn
I never thought that ladybeard can be so frightening
good job as usual ( lebih kocak dari yg pertama malahan )
cuma IMHO anda terlalu sering memakai battler sebagai tsukkomi, dimana situasinya sering sekali tidak tepat
PS:
btw sudahkah anda ngecek taman ria yg lain? : Mizuryuu Land

Anonymous said...

Tante Nakajima, you're the new hope for moe on kyoani

~cermin

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime