Wednesday, October 9, 2013

The traveler's journal of a certain sorcerer (PART 8 - END)

2 comments
Previously on The Traveler's Journal of A Certain Sorcerer

So this is Fuji, huh?

This cold.. is nothing compared than the coldness in my kokoro!

...ok, may be not.

その先に何がある?
僕はまだまだ迷子のよう
この胸に抱くのは
怯えた心 君のこと
何もないような顔で
本音など話せないから
僕はひとりで全てと闘う
Jun Shibata - Nomad

DAY 7, WEDNESDAY
21 August 2013
Mount Fuji, Midnight.

Di tengah jalan, kami bertemu dengan seorang pendaki, dan dengan skill bahasa Jepang ala kadarnya, percakapan pun terjadi. Dia bercerita kalau tiap tahun melakukan pendakian (during this hour?!) dan di atas sana nanti sebaiknya jangan langsung turun, tunggu sampai jam 3 nanti, akan banyak tempat untuk istirahat sambil makan yang buka, tapi harganya lumayan mahal. Setelah obrolan singkat tersebut, perjalananpun berlanjut kembali.

Almost there!

Akhirnya! Final station! Post ke sembi— 

what theeeeeeeeeeeeee?

Yes, there was an 8.5th  post. Good sense of humor. Nice trolling there. Nothing special except that the cold is getting so hardcooore. Senpai saya sempat mimisan (I thought we only get nosebleed when watching panties and boobies :vc?) but the show must go on.

Can you see the torii gate up there?

Now with the 'tsuki no hikari wo terashite' effect


We arrived at summit at one o’clock. Which mean that we have to wait for two hours in some place I don’t know, karena semua tempat di sana tutup (what the? Ya, what the. Apparently warung-warung yang disebut tadi memang baru buka jam 3). We walk around and, WHAT THE [2], ada mesin penjual minuman di sana. 

Yes, a vending machine in the summit of mountain Fuji. Sasuga hi-tech country (yang pervert :v) Tentu saja harganya sudah 4x lipat disbanding harga minuman di veding machine biasa. I want to buy the hot coffe one, but unfortunately it’s already #SOLDOUT. Akhirnya saya membeli teh tawar panas seharga 400Y. And that, probably will become the most expensive minuman botol I’d ever bought in my life.

Biarpun saat itu suasananya sepi tapi bukan berarti tidak ada orang. Ada beberapa pendaki yang duduk-duduk di kursi atau di depan emperan. And they seems fine. Mungkin orang sana memang lebih resistant sama dingin daripada panas. Meanwhile, just by standing idly my body is shaking like a vibrator. The wind is CRAZILY COLD. Akhirnya kami berjalan-jalan lagi sampai akhirnya menemukan tempat yang terlindung dari angin dingin menepati janji bulan purnama tiada batas, rasa rindu membuatku melewati sehari bagaikan setahun dan cukup hangat untuk menunggu sampai pukul 3.

Yaitu, di toilet.

But not as extreme as you think. Toilet yang saya maksud adalah bangunan dengan dua ruang toilet di dalamnya, dan satu ruangan di tengah tempat menaruh barang. Lebar ruangan di tengah-tengah kedua toilet sekitar 1,5 meter, dan separo areanya dinaikkan sehinga menjadi semacam meja untuk menaruh berbagai barang. Dengan menggeser barang-barang yang ada di meja tesebut, anda dapat memakainya untuk tempat duduk. Not a bad option, daripada membeku di luar.

And our luck didn’t stop there. Beberapa saat kemudian datang seorang pendaki yang terlihat cukup experienced, terlihat dari gayanya yang no big deal terhadap situasi dingin seperti ini. He’s from Puerto Rico IIRC. Dan sasuga pro, dia MEMBAWA PORTABLE STOVE. Uwoogh! Benda tersebut bagaikan PSU saat ada pemadaman PLN. Akhirnya kamipun menikmati kehangatan api sambil berbincang-bincang seperti hobo. Kalau bukan karena beliau dan kompor portablenya, entah bagaimana kami bakal menghabiskan waktu sambil bertahan dari kedinginan selama 2 jam. Tepat menjelang pukul tiga, ada petugas datang dan menyuruh kami keluar. Ayo ayo, ini bukan tempat buat tidur, he said. Si orang puerto rico tadi memang tidur-tiduran di meja sementara kami duduk di dekat kompor.

Untunglah tidak lama kemudian, tempat-tempat yang menjual makanan mulai buka. Orang-orang yang datangpun semakin ramai. 

Udara memang masih terasa dingin tapi sudah tidak ada lagi serangan mental karena sepi di sebuah tempat yang terasa out of nowhere. Setelah masuk dan memesan makanan, HP pun recovered, meskipun harga makanannya cukup eswete (dan porsinya sedikit!).


Sambil mengamati orang-orang yang datang, barulah saya menyedari satu hal. They must’ve come for the sunrise! (which later I’ve found out it has its own term, “goraiko” or “arrival of light”. UWOOO sungguh kata yang sangat chunibyou sekali! Dan itu berarti saya secara tidak sengaja bisa dapet both of the sunset and sunrise! Padahal awalnya salah planning, karena rencana awalnya hanya datang untuk mendaki tanpa mengincar apapun –awalnya malah rencananya berangkat pagi buta dan pulang sebelum malam).


Bicara soal tiba di puncak setelah melakukan perjalanan mendaki, tidak lengkap kalau tidak ditemani oleh lagu ending dari game yang fenomenal ini.


Berikut saya sertakan lirik lagunya yang SO DEEEEEEP, yang tiap baitnya merupakan kutipan dari karya sastra terkenal. Selamat meresapi FEEL nya sambil melihat foto-foto selama di puncak.

Stat sua cuique dies / To each his day is given. (The Aeneid (X.467))

Maél is mé tó féran. / Time it is for me to go. (Beowolf, 316-319)

ὤλετο μέν μοι νόστος (Aleto men moi nostos) / - Lost is my homecoming (Homer; Illiad)

C'est pour cela que je suis née - I was born for this (Joan of arc)

この道や / 行く人なしに / 秋のくれ / Along this road / Goes no one / This autumn eve. (Bashō)

Ne me plaignez pas - Do not Pity me (Joan of Arc)

C'est pour cela que je suis née - I was born for this (Joan of arc)
(probably one of the best picture I'd ever taken in my life)

CAUSE I FEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEL

Perjalanan turunnya, tentu saja, jauh lebih mudah. Selain hari yang sudah mulai terang dan banyak rombongan sehingga terasa ramai, jalan turunnya sendiri sudah didesain seperti slope yang landai. Anda malah akan lebih sering terpeleset daripada berjalan di sini. 





Rute untuk turun memang berbeda dengan naik, tapi akan ada post dimana jalan naik dan turun kembali menjadi satu lagi, dan anda akan bersimpangan dengan orang-orang yang sedang mulai perjalanan naik (kalo mengutip kata-kata penutup di AIR: our journey has ended, but for them, theirs has just begin. :v). Hebatnya, beberapa diantara pendaki itu adalah kakek-kakek dan nenek-nenek. Sepertinya pendakian ini memang sudah jadi semacam acara tahunan masyarakat di sana.

Congratulations! you have cleared all the stage. 
Thank you for playing

Foto ini bohong. Orang di atas adalah otaku yang so lame.

Overall, the climbing is a satisfying experience. Biarpun sempat paranoid di tengah perjalanan dan kedinginan setengah mati, but it’s an unforgettable experience. Senpai saya bertanya, “kalau suatu saat ada chance buat naik ke sini lagi, (dengan waktu pendakian yang sama) masih mau lagi tidak?”. “I don’t say I hate it, but I don’t think I like it either” I answered with laugh, at that time. Tapi jika saya pikir-pikir lagi sekarang, jika datang dengan persiapan yang lebih matang, well, why not? Kalau untuk kedua kalinya sepertinya saya tidak akan kena serangan mental. We might even bring sleeping bag!


Lalu bagaimana dengan pulangnya? Mungkin anda masih ingat kejadian di stasiun bus saat berangkat. Ternyata di daerah post kelima tempat kami datang kemarin ada stasiun bus yang sama di dekatnya (dengan kata lain kemarin itu benar-benar kekhawatiran yang tidak perlu). Harga tiketnya juga sama. Maka setelah menunggu sebentar, bus yang mengantar kami kembali ke Shinjuku pun datang. Beda dengan kemarin, kali ini busnya cukup penuh, bahkan kami terpaksa menunggu giliran berikutnya. Tentu saja ini karena jumlah orang yang barusan turun gunung juga banyak. Capek? Banget. Bahkan setelah tidur di bus pun, pegel-pegel di kaki masih belum ter recover. Sampai Asakusa, senpai saya ingin mampir beli burger, tapi saya mau langsung balik dan tidur. Jadi tongkatnya saya bawa (tongkat itu tidak bisa dibuang, sama halnya seperti sampah yang anda hasilkan sepanjang pendakian juga harus disimpan sampai turun karena sepanjang pendakian dilarang membuang sampah). Untungnya setelah ngomong dengan staff penginapan, mereka malah mau menerima tongkatnya (buat dikasih ke penginap berikutnya kalau ada yang mau ke Fuji, katanya. Penginapan ini memang cukup imba rasa kekeluargaannya, mungkin karena konsepnya guest house. Di situ ada kotak yang isinya tempat menaruh makanan buat diambil orang lain, mungkin karena anda beli kebanyakan, gak suka rasanya atau udah mau check out or else, yang jelas karena saya tak tahu malu jadi saya dapet macem-macem cemilan dari kotak tersebut :v).

So, yeah, after took a bath, I went zzZZZZzzzZZZZzzz

Amazingly, when I woke up, its still on the same day. Saya kira saya bakal terbangun hari berikutnya karena kecapekan, tapi ternyata tidak. Meskipun demikian, hari sudah sore ketika saya bangun, so I probably had slept for.. 5 or 6 hours? Well whatevs, yang penting badan saya sudah ter recovery lagi. Huh? Wait, I thought the recovery would took almost one day? Apakah ini berarti tiba-tiba keajaiban terjadi, kekuatan muncul di dirii. Untuk melawan semua kejahatan, kekuatanku –err kenapa malah nyanyi :v Senpai saya bilang kalau dia tertarik dengan Knight of Gold yang saya beli dan karena hari masih sore dan tenaga sudah pulih, anda pasti bisa menebak apa yang terjadi kemudian.

That’s right. We’re going to Akiba. AGAIN.

Karena sudah level up, maka perjalanan ke kota impian otaku tersebut easy moodo. Setelah turun di Suehirocho (saya selalu salah inget nama stasiun ini, ketuker dengan Suehirogari, ero mangaka yang spesialisasinya adalah exhibisionist –okay, that was too much information :v), so anyway, we had arrived. But one problem, di toko mana kemarin saya beli K.O.G nya :vc?

Kalau anda mengikuti post travelogue selama ini dengan seksama, pasti anda tahu jawabnya. Nah, tulis jawabannya pada selembar kartu post lalu kirimkan ke.. #salah, maksud saya, waktu itu saya juga sudah lupa, tapi untunglah saya punya kebiasaan yang so vveaboo yaitu menyimpan struk pembelian dari toko barang-barang yang saya beli selama di Jepang. Dari sanalah akhirnya saya inget kalo nama tokonya adalah Asobit City.

Sekarang tinggal pakai GPS senpai untuk mencari toko tersebut. Setelah muter-muter cukup lama (karena ternyata tokonya ada dua), akhirnya kamipun sampai ke toko dimana saya salah turun lantai (masih ingat?) dan masuk ke bagian mecha. Instead of K.O.G, Senpai saya membeli Led Mirage dan karena waktu masih tersisa (biarpun sudah hampir jam tutup toko), maka kami kelayapan dulu di lantai di bawahnya, yaitu lantai anime merchandise.

Sekali lagi adegan 'ku hanya bisa memandang tanpa bisa meraihmu' terjadi di sini
orz kenapa benda ini mahal sekali (atau lebih tepatnya dompet saya yang sudah sekarat)

Waktu sudah menunjukkan hampir jam 20:30 dan kasir pun sudah mulai beres-beres. Kamipun bersiap meninggalkan tempat itu setelah saya gelap mata dan memutuskan membeli gantungan kunci Hanekawa Tsubasa dan oh waaait –benda apa itu? Ternyata di atas sebuah rak, ada benda yang dari kemarin dicari-cari tapi tidak ketemu dan akhirnya beli versi yang inferior. God bless you, Risse, sepertinya memang donyatsu hitam dengan glazed sugar pink (dan putih, karena ternyata it comes with a changeable parts) ini adalah jodohmu (too bad he’s just a donyatsu :v). Jadi dengan dramatisnya saya langsung mengambil figure kucing gaje tersebut dan membawanya ke kasir yang sudah hampir tutup, membayarnya, dan keluar dari toko di detik-detik terakhir tepat sebelum toko itu meledak.

Gak ding, maksud saya tokonya tutup :v #maafkanchuunibyousaya. And that concludes the travelogue for today’s trip. Well I guess right now Risse must be happy because she owns not only one, but two donyatsu (and both are male, which for a fujoshi, is better than a couple of hetero donyatsu. Homo donyatsus, happy now girl?) while I got mai waifu Hanekawa key chain and a very cheap figure I bought because it looks like a gold statue and until I’m writing this post, I still don’t know who is this character and what series she came from.

Kalau ada yang tahu siapa ini tolong beritahu saya, gratis kaos anime deh
buat yang bisa mengidentifikasi :v

Dan post ini sebentar lagi akan berakhir, karena malam saat saya ke akiba itu adalah malam terakhir saya menginap di guesthouse (tadinya mau nulis malam terakhir di vveaboo dreamland, tapi pesawat dari Haneda ke Soekarno-Hatta –dengan transit di LCTT Kuala Lumpur yang cukup lama, tapi kali ini buku bacaan saya gak ikut masuk koper di bagasi- baru berangkat jam 11 malam, jadi technically saya masih berada di Jepang di malam berikutnya).


So long, Japan, and thanks for all the fish memories and experiences (and ero manga and ero doujn and eroge).

Pukul 9 pagi kami harus check out, maka malam sebelumnya kami mengemasi barang-barang. Sementara pesawat baru akan berangkat malam nanti. Untungnya, sebagaimana pada saat kami datang tapi belum bisa check in, kali ini barang-barangpun bisa dititipkan di ruang penitipan meskipun kami sudah tidak memakai kamar. Tapi OO-san datang (sambil membawa timbangan portable! Lol imba) dan menyarankan kami untuk sekalian saja berangkat, nanti barang-barangnya ditaruh di coin locker yang banyak dijumpai di stasiun-stasiun. And that’s how we finally learn how to use that locker, termasuk menemukan loker yang terbuka dan ada isinya (mungkin lupa ditutup) dua buah kamera yang kata senpai saya harga satunya sekitar 6 juta. Karena bingung apa yang sebaiknya dilakukan akhirnya kami cuma menutup locker berisi barang yang kalau dijual bisa buat balik modal perjalanan #YOLO ini.

I forgot mostly about whats going on during this last, fifth(!) times Akiba trip. Ditambah foto yang diambil cuma sedikit dari kamera hp karena kamera saya sudah masuk koper. Yang jelas kami di sana hingga malam, sebelum akhirnya OO-san ikut mengantar sampai ke bandara (what a nice person!). Beda dengan saat kedatangan dimana semua toko masih tutup karena sudah tengah malam, kali ini kami bisa berputar-putar melihat isi toko di sana.




Even in airport, you still can not escape from this thing. 
Keren banget mas bro, sasuga precure, they are everywhere /:v\

I spent my last yen to buy this item, out of pure curiosity karena 3D puzzle from paper is too mainstream. Lets go with METAL 3D puzzle instead. SO HARDCOORE \m/

Turn out pas bikinnya juga is so not mainstream tingkat stressnya. Saya sampai 1 kali hampir membuangnya ke tempat sampah, dan 1 kali pengen dikasih ke orang lain buat diselesaikan (most probably Risse, since her loli hand made her superior when dealing with craft from small parts from this), tapi akhirnya setelah 2 hari jadi juga benda ini.


Jiwa perfeksionis saya sebenarnya tidak rela melihat ada 1 bagian lantai yang jadinya masih miring-miring, tapi kalau saya ngotot benerin 1 lantai tersebut sepertinya saya bakal membuat lantai lainnya bercerai berai. Benda ini lebih rapuh daripada hati saya #halah :v Jadi begitu selesai saya langsung memasukkannya ke kotak acrylic.

And that concludes The Traveler's Journal of A Certain Sorcerer. Maaf kalau endingnya terasa tidak imba. Sebenarnya saya ingin menutup postingan bersambung ini dengan sesuatu yang epic, tapi sepertinya isi yang tertulis di post ini dan post sebelumnya banyak yang terlalu berkesan hingga meng-overshadowing penutupnya. Maaf juga kalau foto-fotonya kurang banyak orz, saya baru nyadar setelah sampai di Indonesia, I should have took more photo, not because it means I can brag for more but as a recollection and complementary picture instead. Harusnya saya mempotret apapun yang bakal muncul di tulisan ini, yang sulit dijelaskan dalam kata-kata.

As a closing tune, I’ll write some thought that still left on my travelogue, sebelum blog ini mungkin bakal memasuki slumber lagi kalau saya tidak sempat bikin update-an.

Will I ever visit that place again?

Not sure. Am I satisfied with the trip? Yes. And No. There are things I’m glad I did/accomplished, but there are things I regret for not doing it too. If I did the same plan (saving money and etc), there’s a big possibility I could afford the same trip again. But the answer is not that simple. I might have to save my money for something else. This #YOLO trip plan is created because I want to create a stronger memory to overwrite another strong memory (and it works! Sekarang tiap saya galau karena memory lama, saya tinggal mengingat kembali memory saat perjalanan ini, dan saya tidak galau lagi kegalauan saya berpindah) so I may need to look for another reason if I want to start the trip again. But as Aya Hirano said in Gatchaman Crowds; most things in life is unexpected, so who knows?

Apakah saya membuat posting ini untuk pamer dan bikin orang-orang menjadi ager-ager (read: jelly)?

Kalau anda berpikir begitu, berarti anda menganggap apa yang telah saya lakukan ini imba sugiru. Padahal tidak juga kok, masih banyak yang lebih imba dari saya. Bagaimana dengan teman-teman saya yang tinggal di sana? Mereka malah tidak cuma berkunjung, tapi tinggal di negeri impian para vveaboo (tiap minggu bisa pergi ke akiba aargghh so jelly). Hanya karena saya suka menulis blog saja maka anda mendengar, atau lebih tepatnya membaca, cerita saya lebih banyak dari mereka.

Which bring us to the next question. Should you go to Japan?

I think you should, if you could.
Yea, right, you dont seey. That must be your comment right now. But I don't write that short answer without any further thought. Here's some things to consider:

Kecuali anda #wongsugih, anda harus punya mode Nikmatnya NoFuture (ini adalah varian Nikmatnya baru, hasil evolusi dari Nikmatnya NoLife, yang salah satu, tapi tidak selalu, penyebabnya adalah Nikmatnya NTR). Nikmatnya NoFuture adalah faktor yang membuat anda tidak segan-segan untuk melakukan #YOLO. Misalnya menghambur-hamburkan uang tabungan yang seharusnya anda simpan untuk masa depan anda. Mengakses mode ini dalam level tinggi memang dilematis, apalagi kalau anda sebenarnya orang yang penuh perhitungan dan hemat seperti saya, tapi itu tidak salah. Jika anda seorang diri, utamakanlah kebahagiaan diri sendiri. Yang jelas jangan sampai ngutang kalau memang mau berencana pergi ya.

Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik, why I shouldn’t go to Japan?

Obviously, tabungan anda selamat (kalau anda tidak menghabiskannya buat yang lain). Kelemahan kedua akan terasa kalau anda orang yang terlalu perhitungan: uang yang anda pakai tidak terpakai 100% untuk barang yang bisa disimpan. Sebagian besar uang anda (kalau cuma bawa uang saku pas-pasan seperti saya) bakal terpakai untuk beli tiket, akomodasi, sewa penginapan, biaya makan, transport, beli barang sekali pakai dsb. Belum lagi kalau anda masuk ke object wisata yang pakai tiket, dan mahal, in a single second, uang anda akan lenyap begitu saja. And did you gain anything? Nothing. Only memories.. BGM gitaran_akustik_JCStaff.mp3 #plak. Intinya, begitulah, you get the point. Tapi sebagai ganti dari pengeluaran yang kalau dihitung bisa buat beli beberapa figure mahal, anda mendapat chance of having wide selection, karena di sana banyak pilihan, and sometimes cheap (kalo beli second atau pas ada discount).

And last, here’s a tip I’ve thought if you want to make your own journey (with a limited budget).

Pertama, anda harus membuat rencana jangka panjang dan menahan diri dari berbagai macam godaan dan hawa nafsu :v Spent monthly expense as minimum as possible. Begitu ada dana untuk book pesawat, langsung book PP. Jika anda membelinya jauh-jauh hari, mungkin 8-12 bulan sebelumnya harganya akan sangat murah (temen saya bisa dapet PP sekitar 5 juta). Setelah itu lanjutkan menabung lagi, maksimal dalam 1 tahun pasti bisa terkumpul (karena anda akan menjadi lebih termotivasi atau lebih tepatnya sih tertekan karena masak sudah beli tiket gak jadi pergi :v). Pergi sendiri lebih greget tapi disarankan untuk pergi bersama teman. Selamat membuat plan jika anda mau memulai, semoga plan anda sukses.

Setidaknya jika anda memang mempunyai jiwa otaku sejati, minimal sekali dalam hidup anda, anda harus mencoba berkunjung ke Jepang dan Akiba nya. Sampai di sana, anda pasti akan mengalami sebuah, how should I say, a shifting of perspective? Anda tau overview effect? . Overview effect adalah fenomena yang dialami oleh astronot sehabis dari luar angkasa dan melihat bumi dari atas sana. Nah bisa dibilang perjalanan saya ke menghasilkan efek yang mirip seperti itu dalam skala yang lebih kecil. Coba saja.

2 comments:

Mide said...

entahlah, rambutnya mengingatkan saya ke relena, jelas bukan karena relena gak oyong-oyong tongkat. Dan tongkatnya mengingatkan saya ke cewek di otogi matsuri yang jelas bukan karena ceweknya kelihatan seperti seorang lady *kluk*

post2 Anda ke Jepang bikin jelly? gak juga, bikin galau iya, karena saya anak pertama dan bukan wong sugih, oh udahlah klo diterusin jadi curhat. Thx ya udah sharing pengalamannya. Aku ngasih link ini ke temen yang ngajak ke sana sebagai sesama fangirl, yang tambah bikin galau karena saya bilang "iya", orz. Sekali lagi terima kasih 。^‿^。

Neohybrid_kai said...

terima kasih juga karena sudah mengikuti postingan ini sampai selesai, dan menyebarkannya ke teman anda, ahaha *bows*
semoga anda dan temen anda juga jadi ke sana :v/

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime