Monday, September 30, 2013

The traveler's journal of a certain sorcerer (PART 7)

4 comments
Note: kali ini sudah tidak ada lagi bagian NSFW (too bad, pervs), postingan kembali ke safety level tingkat normal.

Previously on  The Traveler's Journal of A Certain Sorcerer

T-this is... STARLESS??

Shirou Kamui has returns to Tokyo!

Ore wa.. chi no ryu to ten no ryu o kankenai.. dst

KOTORIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!1


DAY 6 – TUESDAY 20 AUGUST

Karena baru sampai penginapan menjelang tengah malam, hari berikutnya kami bangun siang. Quite a new experience karena hari-hari sebelumnya kami selalu bangun pagi dan langsung cabut buat #YOLO. So, its only 3 days left before our time in this dreamland of vveabo is up and we decided to execute the final and not-quite-sure-we’re-gonna-do-this activity plan.

Climbing Mount Fuji.

Sebenarnya rencana untuk naik ke Fuji sudah terpikirkan saat kami membuat itinerary plan. Dan persiapannya pun cukup matang, mulai dari riset artikel di internet, hingga meminjam perlengkapan hiking milik adik saya yang notabene adalah anggota mapala dan aktivis pecinta alam (dan seperti yang bisa anda tebak: my sis reaction when I asked is something like ‘emange kowe kuat po mas?’ t/l note: bro, ure gonna collapse if you tried to climb muntain with those lame nerd body of yours). And that’s how I acquired some cool equipment like shoes and jacket yang imba (ternyata sepatu buat jalan yang mahal memang beda rasanya –you don’t sei). But there are things to consider too. Misalnya kata senpai saya, harus disediakan 1 hari setelah hiking untuk recovery. Dan itu berarti bakal mengurangi jumlah hari efektif di sana. Senpai saya sebenarnya memang cukup sering naik gunung, tapi bahkan hingga menjelang hari terakhir inipun kami masih menimbang-nimbang, are we going to do this? Not too mention saya belum pernah naik gunung sebelumnya (yay, hidup cowok lemah \:v/). Di tambah fakta bahwa hari ini kami bangun cukup siang, apa ada waktu buat persiapan? Jam berapa nanti kami sampai sana? Dsb dsb.

But we made it and already here, right? We fight our way tru this. We don’t know if we will visit this place again *mulai chuunibyou*. We’re going to do this. No, we have to do this! Lets do this everyone! HEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!


Or so in my delusion :v 
Pada kenyataannya kami masih harus nyari informasi lagi bagaimana caranya buat ke sana.

To reach Fuji area, you must use a bus. And in order to do that, you must go to the Keio bus station in Shinjuku, which located not so far from Shinjuku station. Maka kamipun ke sana. 

Di stasiun bus, yang layoutnya mirip seperti tempat agen travel, you can purchase the bus’ ticket (you don’t say). Tapi, di sini masalahnya. Kami bingung apakah harus beli one way trip, atau PP? masalah ini cukup bikin puyeng sampai saya dan senpai saya menghabiskan waktu cukup lama untuk membahasnya, sampai mbak-mbak random yang jaga juga ikut bingung :v First, we don’t have a correct  estimation time kapan bakal selesai hiking, pagi berikutnya, atau siang atau malah sampai sore hari berikutnya? Salah pesen jam dan kita bakal ketinggalan bis, yang berarti tiket terbuang sia-sia, dan itu cukup mahal (about 2500Y). Kalau mau aman, memang sebaiknya pesan jam berangkat dari sana yang sore hari berikutnya, assuming kita baru turun siangnya. Tidak mungkin bakal ketinggalan bus. Seems like a good plan. ..tapi terus waktu buat recoverynya kapan coba :v? not to mention kalau lusa paginya, kami harus sudah checkout dari penginapan. Tentu saja ada opsi cuma beli tiket 1 arah, opsi yang lebih aman. Tapi nanti di sana beli tiket baliknya gimana kami tidak tahu :v In the end, we decided to #YOLO and just buy one way ticket, ntah disana ntar pulangnya naik apa caranya gimana dipikir belakangan. Yang penting nyampe sana dulu. Setelah membeli tiket, tentunya kami masih harus menunggu busnya datang. Tapi untuk yang ini tidak sampai bikin bingung karena di dalam ruangan sudah ada papan departure-arrival digital mini seperti di bandara yang menginformasikan kapan dan halte berapa busnya datang. Sasuga negara hi-tech (yang pervert :v).

Perjalanan dengan bus memakan waktu cukup lama, dua setengah jam. Feelnya seperti naik bus dari jogja ke kampung halaman saya, semarang, minus macet tentunya. Saya kira busnya bakal rame dan penuh karena saat itu adalah hiking season (Fuji dibuka untuk pendakian bulan Juli-Agustus) tapi ternyata hanya beberapa orang saja yang naik. Here’s some photo along the way.


Must be nice walking on that road, sambil diiringi
BGM gitaran_akustik_JCStaff.mp3

Road, lake, railway, sepertinya setting yang cocok
untuk anime besutan J.C Staff

While the view from the window is beautiful, but actually 
most of the time, this is what you're going to see.
Curse you, pembatas jalan :v


Welcome to the rice field matha fakka :v

Look! A school!! Kyaaaaaaaaaaaaaa~~~
Classes and rooftop and track field! Youth! First love! Drama!
Friends! Happiness! Tears! etc

And on that road everyday
We're going home walking hand in hand
until NikmatnyaNTR come and you know the rest
BGM gitaran_akustik_JCStaff.mp3 lagi


Fuji-Q Highland, amusement park tempat Aya sempat mengajak
pergi ke sana. Ternyata bisnya lewat sini juga.

And finally we arrived. Di post pendakian kelima. Busnya memang berhenti di situ. Sedikit curang memang aslinya, karena kalau anda pakai bus anda bisa langsung turun di post kelima (tidak perlu naik dari post pertama). Tapi ini memang route dan cara standar yang dipakai orang awam. Ada dua jalur pendakian lain yang direkomendasikan hanya untuk pro, but we’re n00b so yeah.


Sebelum mulai climbing, kami mengisi tenaga dulu. Post kelima berada di daerah yang luas, karena memang sekaligus starting place. Ada banyak fasilitas mulai dari tempat makan sampai toko cinderamata (dan seperti biasanya, ingat aturan: tempat mainstream = harga mahal). Senpai saya menyarankan untuk membeli tongkat dan saya juga baru ingat kalau lupa tidak membawa sarung tangan, so I bought those two gear and we’re all set. Pukul 4 perjalanan dimulai.

Awalnya masih easy moodo. And as expected from expensive equipment, they works fine. There’s some mist along the way but it only makes the journey more chuunibyou :v Jalur pendakiannya sendiri memang sudah disetting untuk mengakomodasi pendaki baik pemula maupun yang sudah advanced. Di pinggir-pinggir jalur sudah ada batas pengaman dengan rantai, sehingga anda tidak akan nyasar atau sampai tempat yang berbahaya. Jalannya juga sudah dibikin berundak, sehingga tidak rawan longsor. Daripada naik gunung, bisa dibilang malah seperti naik tangga. Overall, this is a fun yet still exciting casual climb.

Only need that silent hill siren




Karena musim panas, maka saat sudah mulai sorepun hari masih terlihat terang.




And here we go, some scenery porn which you can use
as background picture for some SO DEEP quotes :v



Makoto Shinkai-ish cloud



Kinda like the opening clip of some anime/game.

And what is that?

That thing flew like something falling from the sky. Mungkin itu adalah jiwa para pengelana yang sudah mencapai puncak dan mendapat pencerahan (kalau anda main game Journey pasti tau :v).


Zoom'd in




It doesn’t take a long time to arrive at the next post. By the time we arrived there, the sky’s color has begun to turn into that dramatic color of dusk.


Slap some more SO DEEP quotes in the pictures below




Photoshop challenge in 3.. 2..

what, you want a song to accompany this photo? Alrite :v


You’re laughing now, arent you :v? arent you?

Ooooh berakhir sudaah semua tinggal menj- alrite I'll stop singing, onto the journal. Semakin lama perjalanan semakin suram (literally, not metaphorically). It gets colder too (you don’t say). At this time, I still have no worry about what’s going to happen. Probably would be just like walking at night in a cold weather, only the road is going uphill. Nothing to be worried. Paling cuma capek karena jalannya naik. Habis sampai atas, istirahat bentar lalu turun lagi.

Another picture you can slap some SO DEEP quotes on it.


Karena sudah impossibru untuk berjalan tanpa bantuan cahaya articial, maka kamipun menghidupkan senter. There’s a funny story about this. Senpai saya yang memang sengaja tidak bawa senter dari Indonesia membeli senter di hyakuen shop. Sedangkan saya sudah membawa senter hadiah dari FUJI XEROX saat our Wedang Jahe Kalengan memenangkan kontes kompetisi bisnis kemarin. Karena baterainya terlihat sudah melemah saya lalu membeli baterei di 100yen shop. Waktu dicoba setelah memakai baterei, cahayanya hampir tidak kelihatan. Malah sepertinya tidak keluar sama sekali. Sementara senter senpai saya working just fine. Padahal senter WJK tersebut kalau dalam kondisi normal sinarnya bisa sampai bikin Silau-man! (adik saya sering meminjamnya kalau pas ada kegiatan di alam bebas). Akhirnya saya pasrah dan berpikir yang penting keluar sinarnya deh. Tapi ketika dihidupkan di sini, that blinding silau-man light comes back. Bahkan senter punya senpai saya kalah jauh intensitas iluminasinya. Rupanya cahaya senter WJK adalah cahaya yang hanya nampak ketika daerah di sekitarnya oleh diselimuti kegelapan. UWOOO SUNGGUH SO DEEP SEKALI!!




Ooooh berakhir sudaah, semua tingg- *erhm* sampai mana tadi? ah, yes, seventh post. Jarak antar post di sini memang relatif tidak jauh. Seperti yang sudah saya bilang, ini adalah rute yang umum dipakai, jadi mungkin memang dibuat seperti itu. Di tiap post kami hanya beristirahat di depannya, karena sepertinya tidak boleh masuk kecuali sudah booking. You can still buy drink or food though, karena di sampingnya ada semacam warung. Tapi saya sudah menstock banyak potion di dalam tas untuk dimakan setiap kali beristirahat di post (which is.. nasi kepal 100 yen an :v).

The journey continued. Along the way, sometimes we met a group of people. Sometimes a large group, with the leader using climbing stick with a bell on it and there’s a stick that emit some light (waw), sometimes small group made of 2-4 people, and sometimes just a single person. But most of the time there’s no one except us.  The road is getting more difficult, no more man made stairs, only rocky path, but its still not that hard to walk upon. As the journey continues, the road just getting harder to walk, the cold wind gets stronger. But the worst part is, I don’t seem to get closer to the next post. At all. I want to set some music to listen while climbing biar dramatic dan jadi chuunibyou to boost my spirit but my senpai was like, Don’t do that! -___-” (#protip: dilarang chuunibyou saat naik gunung :v). Dari kejauhan, memang bisa terlihat cahaya dari post-post lainnya, but no matter how long we’d climbed, those lights are still seems so faraway, berkelip-kelip bagaikan cahaya yang tak bisa digapai (SO DEEP). From above, the moon illuminates with its silvery light like a cold princess watching human struggles making their way up just like what life it is. Saatnya pasang BGM yang sesuai.


Semakin lama  satu persatu elemen yang menyenangkan dari perjalanan ini menghilang. Yang paling jelas terasa adalah udara yang menjadi semakin dingin. Jauh lebih dingin dari yang saya kira. Saya paling tidak tahan dengan cuaca dingin. I’d rather walk under the blinding sunlight, with cricket’s sounds and clear blue skies. For I belong to summer. With nights that so hot you sleep with fan turned on. But cold. Coldness is something I can not stand. It freeze you. It makes your loneliness feels more real. No warmth surround you. Dan kenapa saya jadi sok puitis :v? sebenarnya alasan saya tidak tahan dingin adalah karena saya jadi pilek kalau cuaca dingin.


Yet here I am, walking for who knows how long on the road filled with only rocks. With no sounds except for the cruel wind whispering amidst the silence. Its not that I don’t like the journey, it’s just that I’m afraid. It feels like I can just collapse and fainted ANYTIME. Selama hidup, saya belum pernah mengalami yang namanya pingsan. Tapi saat itu, situasinya cukup untuk membuat saya paranoid kalau bisa tiba-tiba pingsan sewaktu-waktu. Energi rasanya terkuras perlahan seperti tersapu angin malam. Suasanya yang senyap dan jarak post berikutnya yang entah masih kurang berapa lama, making the journey feels like nothing but just moving your own feet stepping up stone by stone. While walking, I realized one thing, our mistake is that we planned the starting time wrong. Mendaki Fuji membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam. Tidak butuh matematika level lebih dari anak SD untuk menghitung jam berapa kami bakal sampai di atas jika memulai dari bawah pukul 4 sore.

Correct. The answer is midnight. Waktu cuaca sedang dingin-dinginnya. Pantas saja selama perjalanan kami jarang sekali menjumpai orang meskipun saat itu adalah bulan untuk pendakian. Ini memang rute untuk umum, tapi jam pendakian kami tidak umum. And to make the journey becomes more dramatic, the sky starts crying.

Oh shi-

Bukan hujan yang deras, tapi cukup untuk menambah pressure. Tidak ada orang lain dalam radius pandangan. I was wondering of I really fainted, how would senpai reacted? Apakah saya akan dibawa ke post di atas? Atau balik ke post sebelumnya? More importantly, bagaimana cara membawanya di jalan berbatu seperti ini? As my mind filled with those thought, we’re getting close to the next post.



Almost there.


The eighth station, finally. My leg is almost giving in, the onigiri I bought tasted so cold and not helping much. We bought hot chocolates for each of us for an expensive price, which is to be expected. The rain is gradually stopped. Only one more post, I thought to my self, but considering the journey from seventh to eighth, God knows what kind of trip I’ll face ahead.



Untuk memakai toilet, anda harus membayar 200Y. And as expected from hi-tech country (yang pervert :v) tidak ada penjaga di sana, melainkan mesin.


The cold is getting extreme that even my hand, inside the gloves, starts to unable to feel things.

Yet we keep on climbing. Up and up like Vincent during his nightmare. There is only silence. And the sounds of footsteps. Dan karena meskipun anda harus melewati jalan gelap yang kau pilih, penuh lubang dan mendaki, tapi di kanan kirinya sudah ada pengaman yang akan berkilat jika terkena cahaya (sehingga anda tidak perlu khawatir bakal jatuh ke jurang lalu muncul tulisan Love is Over sambill diiringi BGM dari 'Zigeunerweisen Sarasate') jadi yang anda perlu lakukan hanya berjalan dan mendaki.




By this time, my find is filled with a lot of thought, from something like ‘This is still nothing compared to Nikmatnya NTR!!! Hang in there myself!’ to ‘What is actually the meaning of life? What is live? What define ‘living’ it self? Why do people have to live? Why do we born on this planet? What is happiness? Why is it important? Do people really need happiness? Is there really such thing as happiness if in to order reach it we have to make sacrifice? What is fate? What am I fightiiiing fooooooooooooooor"




(to be continued)

p.s: selain buat cliff hanger untuk part selanjutnya, yang rencananya juga sekaligus part terakhir, secara kronologis memang bagian ini terjadi saat mendekati jam tengah malam, dan karena sudah pindah hari berarti pindah post juga.

Coming up next! Can I survive the Freezing weather that has no relation with Satellizer one-chan? What happen at the end of the journey? Find out only in the last part of The traveler's journal of a certain sorcerer.

4 comments:

Zetsudou Sougi said...

travel bus di shinjuku...
berarti anda nunggu busnya di ruangan basement dong?

Neohybrid_kai said...

di halte biasa di pinggir jalan kok

Mide said...

ini sumpah.... nekat banget .__. lihatnya udah kayak acara adu nyali lawan demit di tv

oh nasib kita sama, punya adek yang jauh lebih kuat dari kakaknya (dari segi badan orz)

Neohybrid_kai said...

ahaha toss :v/

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime