Friday, September 20, 2013

The traveler's journal of a certain sorcerer (PART 3)

4 comments
Previously on The traveler's journal of a certain sorcerer

Masih ada escalator ke atas, berarti kita harus naik lagi!

Apa?

MY LEEEGS. 

I can't.. go on.. anymore.


This post is brought to you by

Minuman pria-pria kesepian. Mengandung 0% alcohol, 80% wedang jahe aseli, 10% cinta dan 10% kegalauan. Menghangatkan badan, hati dan jiwa.



DAY 2 – FRIDAY 16 AUGUST

Hari kedua. Di hari ini sebenarnya ada rencana ketemuan dengan mister Kiravelyn Aya aka lucky bastard #1, yang mengajak jalan-jalan ke Fuji-q, an amusement park located at the base of mountain Fuji. Tapi melihat situasi dan kondisi dimana kami baru saja datang kemarin dan masih mencoba mengenal  medan, we choose to pick the other plan, yaitu memulai pilgrimage.

Tapi sebelumnya beberapa hal yang menarik yang sempat saya catat lagi
- Tipikal equipment yang sering dipakai oleh orang sana saat di jalan atau kereta adalah earphone, buku,  dan masker.
- Kalau ada tangga atau eskalator, orang akan berjejer rapi membentuk dua line, line yang kiri adalah jalur lambat, buat yang berdiri idle selama di escalator, line kanan adalah jalur cepat untuk mereka yang bahkan di tangga berjalanpun masih tetap berjalan dengan setengah berlari.

Karena belum terbiasa, kadang saya lupa berdiri di jalur cepat dan membuat antrian orang-orang di belakang berhenti (tehee :p Tapi mereka juga tidak mengingatkan, mungkin karena sungkan. Mereka sepertinya memang sebisa mungkin menghindari interaksi dengan orang asing. Baru ketika saya nyadar dan bergeser, antrian orang yang diburu waktu itu lancar lagi).
- Each pedestrian crossing also has traffic light, dan durasi lamanya bisa menyamai yang kendaraan. Jadi kadang buat nyeberang anda harus nunggu lama. Fair's fair.
- Kadang ada crossing yang imba kaya gini :v


Karena sudah diriset sebelumnya, minimal kami sudah ada gambaran dan ada rencana urutan lokasi yang akan dikunjungi, supaya bisa sekali trip dan nggak bolak-balik. Tujuan pertama, masih dekat dengan pusat kota and still relatively easy to reach: Shinjuku Gyoen.

MUSIC PLS!



Shinjuku gyoen adalah taman kota biasa, jadi sepertinya bukan tempat tujuan wisata yang umum dikujungi turis luar. Jika Shinkai tidak menggunakan taman ini sebagai setting utama kisah seorang pembuat sepatu dan mbak-mbak random (yang ternyata tidak begitu random) yang galau, bisa dipastikan 100% saya tidak akan mampir ke tempat ini. Or more like, semua tempat yang saya kunjungi yang berhubungan dengan pilgrimage sebenarnya bukan object wisata yang sering dikunjungi wisatawan asing. Tapi bagi saya tempat-tempat itu justru alasan utama saya datang dan punya value yang tinggi. Jadi, jika anda seorang creator, IMO ada baiknya anda mengangkat tempat-tempat yang tidak popular atau tidak special dalam karya anda, seperti museum (daripada harus dipopulerkan dengan cerita mistis :v).


See this building? Does it look familiar to you? Kalau anda mengaku fans Makoto Shinkai tapi tidak ingat dengan bangunan ini sama sekali, you should be ashamed of yourself.

Gedung ini tampil sebagai gambar latar baik di Byousoku maupun Kotonoha. Di Kotonoha kemunculannya sangat jelas, anda tidak mungkin melewatkannya karena ada adegan gagak terbang mengitarinya yang sangat DRAMATIS AND SO DEEEEP.


SO DEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEPP

Di Byousoku gedung ini sedikit lebih susah di deteksi, karena berada diantara hamburan gambar-gambar SO DEEP yang silih berganti saat ITSUDEMO SAGASHITEIRU YOOO diputar. Tepatnya saat Takaki berada di rooftop dan melihat ke telapak tangannya.


Lalu berganti ke Akari di beranda dan melihat telapak tangannya, dengan cincin yang berkilau di jari manisnya.


Lalu pindah ke Takaki dengan angle yang sama, menggenggam mungkin karena emosi yang bercampur antara kegalauan dan putus asa, tapi karena gambarnya masih overlap, seakan terlihat akan menggenggam tangan Akari, tapi pada saat itu gambar Akari sudah mulai fading out. Jadi ketika tangannya menggenggam, yang ia genggam adalah kehampaan.



..
;A;
BRB TISSUE.

Back to log. Nothing really special there, karena saat itu bukan musim semi, which mean no cherry blossom falling at 5 centimeter per second, atau musim gugur, which mean no maple leaves berguguran dengan SO DEEP. TAPI itu kalau anda tidak melihatnya dari kacamata shinkai fanboy. Karena saat saya ke sana, pas saat musim panas di bulan Agustus, sama dengan setting Kotonoha no Niwa. Sayang waktu itu sedang tidak hujan jadi saya tidak bisa bertemu dengan ibu Yukino dan bertukar puisi yang SO DEEP (tapi kalau hujan deras seperti di filmnya mungkin hari berikutnya saya bakal K.O karena pilek dan nggak bisa jalan-jalan, ngomong-ngomong sudah berapa kali saya nulis kata SO DEEP di post ini?).



The garden is sooooo huuuge, karena selain taman jepang, ada juga bagian taman british dan perancis. Selama jalan-jalan di dalamnya mungkin saya sudah menempuh jarak sekitar 3 kilo PP (berdasarkan dari papan petunjuk arah yang saya lewati selama mengelilingi taman ini).


LIHAT! ITU TEMPAT YANG ADA DI TEASER PICTURE!

SO DEEEP


Selain tempat tadi, tentu saja ada satu tempat lagi yang menjadi alasan utama kenapa saya datang kemari.


THIS!!



SO DEEEEEEEPPPP
Dan seperti biasanya Shinkai menghilangkan benda-benda gak penting bgt yang mengganggu dramatisasi adegan.

SO DEEEE- #PLAK

LIHAT! ITU BURUNG GAGAK YANG SAMA DENGAN YANG ADA DI FILM!! 






Seingat saya, ada scene yang memperlihatkan bayangan bangunan ini di kolam saat langit cerah. Tapi saya lupa pas menit keberapa. Saya coba cari tapi gak ketemu-ketemu (OMG I HAVE FAILED AS SHINKAI FAN! BRB HARAKIRI)

Setelah puas, dan kaki pegel-pegel, saya melanjutkan perjalanan ke tempat suci kedua, tempat dimana kisah 5 sentimeter per detik berawal sekaligus berakhir. Supaya lebih meresapi post ini, ganti BGM dulu. MAINKAN MUSIKNYA!


Kalau anda meluangkan waktu untuk browsing soal pilgrimage 5cm/s, anda akan dengan mudah menemukan artikel yang membahas soal itu, bahkan sudah ada page google map yang men-listing semua tempat, lengkap dengan time stamp movie dan foto komparasinya (Ya, termasuk tanegashima island yang berada di Kagoshima. Anda sudah benar-benar fan level dewa kalau sampai mengunjungi ke sana, tapi anda juga bisa sekalian pilgrimage Robotic;Notes di sana). Range area yang dipakai sebagai setting 5cm/s memang cukup luas, meskipun kalau anda hanya berencana mengunjungi yang ada di wilayah Tokyo. Karena itu akhirnya saya cuma memilih area yang dipakai sebagai setting pembuka sekaligus penutup cerita, Sangubashi.



Stasiun Sangubashi sangat mudah dicapai, dan berkat panduan print2an page google map yang sudah terlist dengan banyak checkpoint, cukup mudah untuk menemukan tempat-tempat yang dicari.

Pada awalnya.



Mereka bilang semua surat untuk pindah sekolah ke SMU Tochigi sudah diurus. Mafkan aku Takaki..
...
TAPI JANGAN KHAWATIR TAKAKI! SEKARANG ADA FESBUK!! 
Fesbuk membuat yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Memberi kemudahan untuk stalking dan membuat hidup anda yang kebanyakan drama jadi lebih banyak drama lagi. Terima kasih Facebook!!

Setelah jauh-jauh datang dan melintasi lautan untuk memfoto sebuah box telepon umum, saya melanjutkan perjalanan mencari spot kedua, tempat kelopak bunga sakura jatuh dengan kecepatan 5cm per detik.

Dan tidak ketemu-ketemu.

Bahkan setelah muter-muter di bawah cuaca musim panas yang membuat omoide ga mawaru, fuini kieta kodooou, saya masih belum bisa menemukan tempat legendaris itu. I almost gave up hope. Ya sudahlah, pikir saya, setidaknya dapat phonebox dan train crossingnya saja. Tapi senpai saya melihat jalan yang sepertinya belum dilewati dan waktu kami mencoba jalan itu, jalannya menurun! Apakah itu adalah… dan ternyata benar! Itu tempat yang muncul di penghujung awal dan akhir film.



SO DEEEEP




LIHAT! SEPEDANYA MASIH ADA! OMG SAYA PASTI SEDANG TIME TRAVEL!!

Setelah melewati jalan itu.. lho, kok.. ternyata tembusnya ke jalan utama tempat saya datang tadi. Berarti sebenarnya jalan tersebut hampir saya lewati tapi tidak jadi karena terlihat sebagai tanjakan. Lalu tiba-tiba saya tersadar!

Sebuah tanjakan jika dilihat dari arah yang berlawanan adalah sebuah turunan 


UWOOOGHHH! INI PASTI SEBUAH REVELATION YANG SO DEEEPP. SAYA HARUS MEMBUATNYA MENJADI KATA-KATA MUTIARA FILOSOFI KEHIDUPAN.

Berikutnya, The Fateful Crossing. Mencari persimpangan kereta sangat mudah, bahkan lebih mudah daripada mencari booth telepon umum, karena pada dasarnya area pemukiman ini terletak persis di samping stasiun, jadi tinggal ikuti jalan, lalu ke arah memotong rel kereta, pasti ketemu. Yang susah adalah mengambil foto dengan timing yang pas. Karena suasananya cukup rame, kadang ada orang lewat, kadang sepeda dsb. Untungnya kereta lewat setiap 2-3 menit sekali. Jadi ada banyak kesempatan. Tapi anda tetap harus pakai mode tak tau malu, karena, well, you can imagine yourself, seorang mas-mas random berfoto gaje di depan palang kereta setiap kereta melintas. Setelah mencoba berulang kali kaya turis sableng, AKHIRNYA!!



ITSUDEMO SAGASHITE IRU YOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!11

Konon katanya jika pernah datang ke persimpangan legendaris ini saat ada kereta melintas, maka niscaya anda akan dimudahkan move on nya [citation needed].

After sangubashi area done, we moved onto the next, Umineko pilgrimage di Komaba. Ya, target saya memang sehari 3 lokasi, pagi, siang, sore, biarpun kaki sudah sangat pegel tapi tak apa, lebih baik patah kaki daripada patah hati (lagi) #apaseeh

Semua berjalan sesuai rencana sampai saat kami naik Keio line, yang harusnya turun di Komabatodaime, tapi keretanya tidak berhenti di stasiun itu, cuma lewat dan baru berhenti di perhentian berikutnya sekaligus last stop, Shibuya. Eeeeeeeeee? Nazeeeee? Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki ke komaba karena di petunjuk yang saya bawa, tertulis rute jalan kaki dari Shibuya station ke Komabatodaime. Jadi tidak ada salahnya dicoba.


Shibuya. Tempat banyak riajuu yang berlalu-lalang. Kalau anda orang yang gaoel dan populer, sebaiknya anda berjalan-jalan dan foto-foto di sini. Tapi karena saya orang galau yang menyedihkan, jadi saya hanya lewat saja.

Enaknya, di sini semua orang jalan kaki jadi anda tidak akan terlihat seperti orang ilang (coba saja anda siang-siang jalan di trotoar di sini, gak sampai 5 menit dijamin pasti ada tukang ojek lewat nawarin) dan fasilitas untuk pejalan kakinya juga mantap, ukuran trotoar dan jalan raya di sana hampir sama, jadi jalan rayanya memang kecil, tapi sepertinya orang yang memakai mobil adalah mereka yang nyantai karena jarang saya temui mobil yang ngebut, bahkan cenderung ngalah sama pejalan kaki (update: kata temen saya, itu karena di sana ada sensor yang mendeteksi kecepatan kendaraan yang lewat, dan kendaraan yang berjalan di atas batas kecepatan akan tertilang). Senpai saya sampai ngomong ”ya pantes kalo di anime-anime ada character yang bisa nyelametin orang dari tabrakan, lha sengebut-ngebutnya kendaraan di dalam kota aja cuma kaya gitu”. Kalau motor memang sempat lihat ada yang ngebut dengan berisik seperti di sini, tapi perbandingan jumlah motor dengan mobil di sana sangat sedikit. Orang cenderung jalan kaki, atau kalau butuh sedikit speed extra, sepeda buat public bisa dipakai dengan gratis dan gampang ditemukan. Kalau mau maximum speed ya mending pakai kereta. Enak ya kalau transportasi public sudah tertata? Tapi mahal :v (sekali jalan pakai kereta minimal habis 160Y)

Back to travelogue, setelah berjalan cukup lama, akhirnya sampai juga ke stasiunnya Komaba, Komabatodaime, yang terletak di depan Tokyo University (yang sampai sekarang saya masih bingung itu Toudai bukan sih, kalau iya berarti saya anggap sekalian pilgrimage Love Hina \:v/)



Selamat datang di Rokkenjima. Eh bukan ding.



Bonus foto buat pembaca yang pedobear. SD Komaba (sorry that's as far as I can go :v 
Anda ngarep saya menerobos masuk?).

Komaba adalah daerah pemukiman yang didominasi oleh bangunan rumah dengan gaya eropa. Ketika anda masuk ke area perumahannya, maka aroma chuunibyou timur akan hilang dan berganti dengan chuunibyou barat. Tidak heran jika bangunan yang digunakan sebagai model rumahnya Mbahe adalah mansion tua yang berada di area ini.






Setelah berjalan mengelilingi area, akhirnya kami menemukan pintu kecil diantara rumah-rumah yang mengarah ke pepohonan menuju entah kemana. Saya tidak yakin apakah itu tempatnya, tapi hanya gerbang itu satu-satunya yang bukan pintu masuk ke rumah orang. Maka kamipun melangkah memasuki pintu itu.
Dan ini salah satu hal lagi yang memorable selama trip kemarin: UNTUNG SAYA MASUK KE KYUU MAEDA HOUSE DARI PINTU BELAKANG!



Ketika saya masuk gerbang itu dan berjalan diantara pepohonan yang rimbun, tiba-tiba semua bangunan-bangunan dan jalan-jalan di belakangnya terasa lenyap. Sinar matahari hanya menyeruak tipis lewat sela-sela dedaunan. Suara langsung senyap. Saya mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar di sekitar dan..

BUFFF!!

Kamera saya mengeluarkan asap disertai suara letusan kecil.

DAFUQ?!

Crap. Saya bener-bener jadi merinding waktu itu. Tapi bukan rasa ketakutan ingin kabur yang saya alami, melainkan perasaan exciting ingin tau kejadian apa lagi dan tempat seperti apa yang ada di penghujung jalan itu (mungkin karena saat itu sudah siang menjelang sore, kalau saya ke tempat itu sendirian pas malem-malem kayaknya saya bakal kabur seperti scoobidoo). Jalan kecil nan horror itupun akhirnya berakhir di sebuah halaman rumah tua yang diterangi sinar matahari.


Benda pertama yang saya lihat dalam perjalanan menuju halaman belakang rumah tersebut juga tidak kalah imbanya. Sebuah ayunan tua dan bangku dengan seseorang yang tampak sedang duduk diatasnya. Mungkin akan lebih ber impact lagi kalau tiba-tiba ada sekilas bayangan loli berambut panjang dengan dress putih yang melintas sekelebat mata sambil terdengar sayup-sayup suara memanggil oniichan.. come here..


Saya (A): ada orang duduk di bangku
Senpai (S): orang mana
A: itu di bangku
S: gak ada orang kok
JENG JEENGG!

Gak ding, kalo yang percakapan itu tadi bohong :v Orang yang duduk itu (sepertinya) memang orang beneran.


Halaman belakang 




Setelah mengitari rumah tersebut maka sampailah saya di halaman depan rumah. Di sini auranya sudah tidak sehorror halaman belakang tadi, untung saya masuk dari belakang, karena jika masuk dari depan, feelnya dijamin tidak sampai bikin jantungan kalau masuk dari belakang.


TAPI DI HALAMAN DEPAN ADA BERNKASTEL! OH TIDAAAK




Dan selamat datang di rumahnya Mbahe!!! 


MUSIIIIIIIIKKKK!! MAINKAAAAAAAAAAAAAAANNN!!!


Ketika pengadilan telah dijatuhkan, tak ada seorangpun yang bisa lari. Karena dosa yang kalian perbuat telah mengalir dalam nadi. Nakanaideee.. dst

Di dalam, kami disambut oleh penjaga yang sudah tua (dia pasti Ronoue Genji! –mungkin dia bertanya-tanya kenapa bisa ada mas-mas random dari seberang lautan mendatangi rumah tua yang sepi pengunjung ini) yang memberitahu jika pengunjung harus mengganti sepatu dengan sandal rumah terlebih dahulu baru bisa memasuki mansion.

Saya menyesal dua tingkat di sini: kenapa saya lupa tidak membawa seragam ushiromiya batoraaa, dan kenapa saya tidak nekat pinjem jubah golden sorcerer teman saya di Semarang. Sudah jauh-jauh ke sini harusnya saya nekat all out sekalian.


As expected from Ushiromiya main mansion, rumahnya luaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaass banget. Sayang pengunjung hanya dibatasi cuma bisa menjelajah sampai ke lantai dua. Basement ditutup (pasti disana masih ada mayatnya Mbahe!) dan lantai tiga dan seterusnya juga tidak boleh diakses (pasti sedang dipakai istirahat oleh bibi Natsuhi dan tante Rosa).

Jika anda mengambil gambar dengan biasa, maka hasilnya tidak akan begitu special.


Tapi sekali kamera anda ngeblur, dan anglenya agak miring, maka hasilnya malah jadi imba.


Kihihihihihi

OH SHIIIII

Apalagi kalau cahayanya pas! Maka efeknya..


Sumpah! Saya barusan lihat ada kupu-kupu emas terbang melintasi koridor! Saya –tunggu! Suara apa itu?
*Klonteng klonteng klonteng
Oh shiiiii what is th--



OH FUUKKKKKK


FFFFFUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUKKKKKK
FUK FUK F--

Ok cukup delusi nya. Silahkan menikmati foto-foto rumahnya Mbahe.









Jam ini masih bekerja, tentu saja, karena dirawat dengan baik. Ketika pukul tiga, dentangnya cukup menggema seperti bunyi ketika anda masuk ke main menu VN nya. TENG TONGG TENG TOONGG TENG TOOONG


IT'S TEA PARTY TIME. KIHIHIHIHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA



So many forbidden area in this mansion.

Kalau ini eroge, pasti sudah terdengar suara-suara aneh dari ruangan di lantai bawah.


Selain kamar model barat, ada juga kamar dengan tatami (tidak pakai galaxy dan tentu saja ukurannya bukan 4 setengah).




Another forbidden stairs


 



THIS IS IT!! THE EPITAPH OF THE GOLDEN WITCH! *mulai delusi lagi*

OOOOOOOOOHHH....... BEYATORICHEEEEEEEEEEEEEEEEEEE WHYY WHYY OHHHHH............. OHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH




I really tempted to photoshop this picture and put beyatoriche photo there.


Karena tidak lengkap sebuah mansion tanpa piano (tapi mana ojousama nya?)


Information board. Bagian depan mansion juga dipakai untuk café tapi saya tidak berminat mencobanya.


Dengan ini maka trip di Rokkenjima bagian I berakhir sudah.

Tapi tempat ini sendiri tidak cuma memiliki 1 bangunan, melainkan dua. Yang satu lagi adalah rumah dengan gaya Jepang klasik, yang tidak kalah luasnya, dan saat itu sepertinya sedang ada tour. Tapi saya sedang hype dengan nikmatnya berkunjung ke rumahnya mbahe jadi memutuskan untuk langsung pulang saja.



Jika anda pernah mengunjungi rumahnya mbahe, maka anda akan pulang dengan dibekali selembar peta tempat terjadinya pembunuhan-pembunuhan yang tidak masuk akal. Dan jika anda bertanya kepada saya siapa pelaku pembunuhan-pembunuhan brutal tersebut, maka dengan sangat yakin saya akan menjawab:


PELAKUNYA ADALAH PENYIHIR! OUGON NO MAJOU, BEYATORICHEEEEEEEEEEEEEEEE!!!

Omake:
Ketika pulang, saya sempat melihat petugas merefill vending machine (hoo jadi seperti itu dalamnya).


Yang ada di sebelah kanan itu adalah coin locker, tapi saat itu knowledge level kami masih belum cukup untuk menggunakannya. Nantinya di hari-hari terakhir, baru kami bisa memakainya.


Poster yang impossibru kalau dipasang di tempat umum di Indo (?).

Btw kereta Keio line dari shibuya BERHENTI di komabatodaime –kami memakai itu untuk pulang, sebelum ganti ginza line untuk ke Asakusa (tempat menginap), kenapa tadi pas berangkat Komabatodaime dilewati :v..

(to be continued)

COMING UP NEXT: The fujoshi’s paradise, Rokkenjima Part II, Utakata Hanabi

4 comments:

Zetsudou Sougi said...

FFFFFFUUUUUUUUU
kenapa ulasan uminekonya dijadiin satu ma shinkai!?!!?

Neohybrid_kai said...

Pffft soalnya di hari yang sama :v
saya kan nulisnya berdasar kronologi
tapi masih ada umineko 1 lagi kok

Mide said...

ok nunggu pos selanjutnya x)

currently-asexual macam saya gak begitu ngerti 5 cm/s :|

Neohybrid_kai said...

hoo is that so?
berarti anda beruntung(?) sekali, tidak bisa kena Nikmatnya NTR :v

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime