Friday, December 21, 2012

Last Post Before The End of The World

4 comments
"So tell me, since it makes no factual difference to you and you can't prove the question either way, which story do you prefer? Which is the better story, the story with Ethereal Horizon and The Greater Force that watched over us, or the story without The Darkflame Master and Wielder of The Wicked Eye?"
"The story with The Darkflame Master."
"Yes. The story with The Darkflame Master is the better story."
"Thank you. And so it goes with God."

See also: Umineko no Naku Koro ni, Suzumiya Haruhi no Yuuutsu

The above line is a parody from a popular, non-anime movie, that I watched about 2 weeks ago. Its a beautiful movie with strange premises but more than that its very inspiring and uplifting, ended with the question that all you who played Umineko no Naku Koro ni will feel so familiar.

Now, why did I take Kyoani's recent masterpiece, ChuuniKoi into a crossover joke with a movie that panders on the philosophical aspect of life? Enjoy the trip as you read the paragraph below.

Ketika pertama kali Chuunibyou tayang, sel leukosit antimoe saya otomatis bereaksi dan menaruhnya ke prioritas paling bawah dengan banyak alesan. Premisnya yang menggunakan jargon otaku; chuunibyou adalah sindrom kelas dua yang diderita oleh blabla.. reaksi saya waktu itu: meh, paling anime dengan konsep yang cuma bisa diapreasiasi dan dijadikan inner joke sesama otaku, e.g: pettanko, trap, loli. Point kedua yang bikin illfeel duluan adalah gaya gambarnya yang moemoe ala k-eong racun, ditambah promo picturenya rikka yang sedang memegang senapan, I was like, what's this? another loli with gun? Dengan prasangka yang parah seperti itu, saya baru mulai nyoba nonton Chuuni ketika sudah tayang sampai episode 3.

Dan penilaian saya langsung berubah total. Chuunibyou adalah kata yang terdengar baru di telinga saya, namun konsep dan fenomena nya sangat kental, kalau tidak dikatakan sudah merasuk ke dalam bagian dari pribadi. Beberapa point tentang chuuniyou sudah saya tulis dalam review impresi awal musim ini. Yang ingin saya tulis di sini adalah impact dan thought setelah menonton episode terakhirnya. 

Easy mode to make a ninja starts cutting onions near me: make a scene where the past you write a message to your present self

Chuunibyou adalah sindrom yang unik karena sifat overlap temporer antara fakta dan fiksi (I cant find better word to explain), dan ini erat kaitannya dengan 2 hal, imajinasi dan kepercayaan. Ketika menonton anime ini, yang pertama terasa adalah crisscross fantasy dan anti-fantasy yang dijamin membuat fans umineko tersenyum ketika menyadarinya, namun ketika memasuki adegan dialog antara Yuuta dan Shinka di episode terakhir, saya mengernyitkan alis dan merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari chuunibyou yang dibahas oleh dari anime ini, dan setelah adegan klimaks yang sangat mempesona sekaligus mengharukan, saya mendapat pemikiran jika chuunibyou also talks about belief. There are always two opposites things in life, for example for every hope, there will be despair, for every dream, there is reality, for every fiction, there are facts, or in umineko dictionary, for every truths, there is illusion. Chuunibyou memihak pada pilihan yang abstract. Jadi ketika kita keluar sedikit dari scope anime tentang sepasang muda mudi yang berdelusi, atau lebih tepatnya salah satunya dulu berdelusi, yang kita dapatkan adalah sebuah inquisition yang tidak lagi mempertanyakan apakah hidupmu diisi dengan referensi dari cerita fiksi, tapi lebih dari itu, apakah kamu percaya dengan hal-hal yang, dalam tanda kutip, tidak bisa dibuktikan secara konkrit, seperti harapan, impian, passion, masa depan, dan aspek yang dekat dengan itu, seperti keajaiban, dan tentu saja, Tuhan.

Lets be vulgar a bit because this sentence will flick a little flame. Ketika anda bicara soal percaya pada Tuhan, anda pasti harus membicarakan soal perbuatan-Nya, soal keputusan-Nya, dan otomatis anda juga harus percaya pada doa. Uniknya, apapun hasil yang terjadi pada doa anda, anda harus percaya jika itu "bekerja". Jika itu dikabulkan, maka selamat, dan anda wajib bersyukur. Jika tidak, maka urusannya akan jadi sedikit ribet; yang pertama mungkin ibadah anda masih kurang. Okay, lets do pray some more. Apakah sekarang sudah dikabulkan? belum? berarti kasus yang kedua, usaha anda kurang. Karena cuma doa saja tidak cukup katanya. Try work it out some more. Sudahkah terkabul? apa? belum? berarti opsi terakhir, Tuhan punya rencana lain yang lebih baik. 

Tapi apapun premisnya, semua hasil yang tidak menyenangkan tersebut tetap bukan berarti bahwa Tuhan tidak ada. Lucu kan? jelas-jelas nothing happened tapi anda tetap masih harus percaya. Tapi chuunibyou adalah sindrom yang membuat penderitanya persistent jika yang dia percayai itu ada. Jadi benar kata narator di akhir cerita, semua orang mempunyai chuuni dalam aspek yang berbeda-beda. Dan dengan alasan yang berlainan pula. Karena hal-hal yang saya sebutkan tadi, impian, harapan, jodoh, masa depan, nasib, dll sama tidak berujudnya dengan karakter fiksi dalam pikiran anda, seperti darkflame master, seperti wielder of the wicked eye, mori summer, neohybrid kai (oops).
















SILAU-MAAAAAAAAAAAAAAAAANNNN!!!










UWOOOO! MENGHARUKAAAAAAAAAANNNN!!!
(credit to Kwee for the Dark Flame Mastah final spell pic)

Well in conclusion, mungkin terlalu berlebihan (but hey, thats the characteristic of  this blog), tapi yang saya dapat dari anime yang jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih keren daripada Hyouka ini, selain kualitas karakter, konsep dan cerita yang memuaskan, adalah bahwa anime ini mempertanyakan kadar keimanan dalam diri seseorang. Anda bisa saja ngeyel menuntut bahwa semua harus ada penjelasannya (kalau tidak saat ini paling tidak di masa depan setelah anda mati harus ada manusia yang akhirnya bisa menjelaskan -sayang sekali hidup manusia sangat singkat, ya?) karena kalau tidak bisa dijelaskan berarti tidak bisa dipercaya, namun para chuunibyou di serial ini, seperti halnya ending versi magic pada Umineko no Naku Koro ni, hanya ingin menyampaikan, that sometimes, all you have to do is to believe.

Now lets moves to the second aspect from ChuuniKoi. Good news, untuk aspek kedua ini tidak akan membahas hal yang sering jadi kayu bakar buat flame war like religion stuff above. The bad news is, prepare for GALAU JIKAAAAAAAAAAAAAANNNNN

Lets pretend Chuuni ended in eps 11, Rikka is finally recovered from her syndrome, went to her mother's place and decided to move out from her school to life with mer mom. She continue with her study, trying to live a normal life. Her work finally bear fruits, afer her chuunibyu mode was forcefully shut down by Yuuta's harsh red text, she can blends in her new school, makes some friends and gets good grades, which later help her to enter one of the best university in town. 

Isshiki is still head over heel for his dream girl, Kumin-senpai. But after a long list of repeated failed confession he finally give in and realize things just won't work between them. She's just too dense. He started to think whether its him who idealize her too much to the point of oblivious of her other side, another real side that wont match with him. In the following years, Tsuyuri graduates. It was like a "sayonara memories" feel, when he finally able to confess and they both part ways. Spring tasted kinda gloom, but not until Dekomori shows up. Entering her new high school, with fresh look, twintail-less and chuuni-less, she looks like entirely different person. And surprisingly, they both match so well. So Isshiki and Dekomori starts dating and they go out as the popular hotheaded couple in the school.

In the beginning, Shinka hates her drama club. It feels superficial. It clashes with her will to break away from her chuuni self. But gradually, she can immerse litte by little and enjoyed the club's activity. Afterall, it feels more suited to her than the cheerleader club. With her exp as an ex-chuuni popular figure, its easy for her to write scripts. She learns act well, or more like, she already has a good talent for acting to begin with because of her two mask mode. Boosted with her busty figure, her path to become an actress is paved easily. But she finally thought that she's more into a creator than actor and end up becoming a writer.

Yuuta is still in slump. Blaming himself, unable to forget his first chuuni love. But finally he can get over it and concentrate for the entrance examination. He made it. His attraction to the phenomenon he himself experienced make him choose pyschology as his major. 

Time spins, season comes and goes, round and round and round and round..

Yuuta is on his way to become a well known psychiatrist. Sometimes, he wondered about all this turn of event, of how his meeting with a certain girl in his high school day make him into what he is now. By now Rikka already has her own life, he thought. With nowadays technology it probably would be easy to track how is she now, but..

Its been years since the last time he contacted her, he wondered. Well its true, but..
..yeah, maybe if..


"So she's going to get married soon, huh?"
The girl that once known as the great Mori Summer sips her coffee.
Darkflame master scratches his hair before lets his eye wander outside the window.
Snows begin to fall.
"Never thought I would have to meet a model here", he said.
"Oh come on, I'm already over that. I'm writing for my second novel now. And by the way, this is *my* favorite cafe. I usually spend my time here, you're the guest"
"Is that so? Well then.. do you mind having another regular guest?"
"Not at all.."

Darkflame Master X Mori Summer route
THE END


..okay, WTF did I just write.jpg :v


oh btw Supercell's Giniro Hikousen is awesome. I listened to that and Aimer's newest album while writing this post. Darn, Aimer's voice is just soooo.. *drools*
ps: track number 7 rocks!!

So anyway, we move on to the next galau material. This game.

To The Moon is an indie game created by Freebird Game. I played the game few days ago. Awalnya saya tidak tau apa-apa soal game ini sampai ada yang mentioning mau main di post FB. So curious, I went to google and did quick search. Artikel di wikinya menyebutkan jika game ini punya pesona dari segi cerita, story telling dan musik yang sangat kuat (bahkan dalam salah satu award bisa mendapat peringkat pertama mengalahkan rival sekaliber Catherine). Namun yang bikin saya melongo adalah testimonial pemainnya.



I am working as a manager for a big company. But I shed tears playing this game. The story is wonderful, the music is so emotional. Thank you for such a touching journey.

I made it a point to grow up and never cry again, and so far I’ve went 8 years without crying. Played this game. Dry eyes streak is over. Thanks, game.

I’ve been a gamer for over 20 years. That game was the only game that has made me cry. Truly a masterpiece, you should be proud. The most moving story I’ve ever experienced in a game.
I’m not exactly the kind of person that cries during the movies about love, sacrifice etc. It doesn’t really get to me. But this.. this masterpiece made me cry like I never did.

So I was, like

APPPPPPPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA???!!!

It seems like its the kind of game that will suck your tears in a way that's more hardcore than a succubus sucks your sperm dry. So I finally give it a try,.


DAN GAMENYA TERNYATA MEMANG IMBAAAAAAAAAAAAAA

Kalau akhir tahun kemarin saya menuliskan Bastion dan Catherine sebagai game yang paling berkesan 2011, maka untuk tahun ini saya akan memberikan award tersebut untuk game ini (meskipun gamenya sendiri sudah rilis di tahun 2011).





EFEK OVERDOSIS WEDANG JAHE KALENGAN

To the moon adalah game yang sangat simple dari segi gameplay, karena dibuat dengan engine RPG Maker dan tidak mengandung elemen battle. Game ini memang dibuat dengan konsep "menjalani cerita" jadi feelnya memang lebih seperti simulasi. Anda mengeksplore dan berdialog dengan karakter lain, dan mengumpulkan item yang akan membuat progress pada cerita. Dan sekali lagi, cerita adalah segalanya di sini. Mungkin analoginya game ini buat dramafags seperti corpse party buat hororfags. Dialog, karakter dan atmosfernya benar-benar akan memanjakan fans drama. First you'll go, like, oh.. okay, then you will, like, eeeh? and then wha? then b-but.. then hee and aaaaaa and then more aaaaaaaa and ;___________; oh god why and noooo nonononono and aaaaaaaa again and finally, like ;__________________; ..ok that was incomprehensible but the point is that this game is VERY EMOTIONAL. Ada beberapa hal atau scene yang cukup mencekam dan seram tapi bukan buat porsi fans horor, lebih ke misterius. Dan dengan soundtrack yang benar-benar imbaaaaaa (ohgodthatpianoooo that pianooooo), anda mungkin tidak percaya tapi saya yang awalnya cuma mau sekedar nyoba dulu akhirnya jadi main sampai selesai. Gamenya sendiri cukup pendek sebenarnya, sekitar 5 sampai 6 jam tamat. Tapi setelah itu anda mungkin akan mengalami kegalauan tingkat dewa minimal sekitar 1 jam melongo di depan layar, wondering what you just read.


Kenangan indah pun memudaaar, 
alami masa senduuuuuu

To The Moon memiliki dua karakter utama yang anda nantinya akan mainkan secara bergantian. Mereka adalah Dr. Eva Rosalene dan Dr. Neil Watts, yang mempunyai skill untuk meng alter memory. Dengan memasuki ingatan klien mereka, mereka dapat mengubahnya sehingga klien akhirnya memiliki ingatan yang sesuai dengan yang mereka inginkan. Namun proses ini akan membuat semua fungsi saraf lain ter disabled, sehingga klien mereka adalah para orang tua yang sudah terbaring di tempat tidur menunggu dicabutnya nyawa. Seperti kombinasi inception dan 5cm/s kalo menurut saya (bayangkan sendiri gimana jadinya), karena untuk mengalter ingatan, dokter memory harus menemukan percabangan atau pilihan hidup utama yang membuat jalan hidup klien berubah. Dan mereka tidak bisa langsung melompat jauh ke masa muda atau anak-anak tapi harus little by little step. Selama proses tersebut anda akan melihat perjalanan hidup sang klien dan bagaimana dia bisa hidup sampai seperti sekarang. Dan seiring anda mulai memahami hidup sang klien, anda akhirnya akan tau kenapa klien anda meminta penulisan ulang memori menjadi seperti itu. 


WARNING: tidak direkomendasikan memainkan game ini di tempat umum
kecuali anda berdelusi bakal ada cewek cakep random yang mendatangi anda
dan menanyakan kenapa kok nangis?

Overall, game ini sangat recommended, terutama jika anda butuh bahan kegalauan tingkat tinggi, terutama yang berhubungan dengan tema pilihan hidup, kebodohan di masa lalu, skenario alternatif, takdir dan semacamnya (saya menyarankan anda menstock Wedang Jahe Kalengan beberapa lusin sebelum mulai memainkan game ini, dan juga tisu, tidak tisu tidak akan cukup, sebaiknya anda menyiapkan kain pel) dan jika anda sudah memainkan game ini anda akan mengerti kenapa saya bisa kesurupan dan menulis fanfic chuunibyou di atas.


Did you mean another 'Sky'?

See you in the next post, selamat menikmati hari kiamat ya.
Btw judul post ini memang sengaja saya bikin sensasional padahal gak ada hubungannya :v
biar terkesan happening geeto looch

4 comments:

Zetsudou Sougi said...

saya hampir nonjok monitor saya klo seandainya tadi fanficnya Yuuta berpapasan ma Rikka di persimpangan kereta lalu ketika mereka hendak saling menoleh keretanya..uuuuuuuuuuaaaaaarrrrrrrrrggggggggghhhhhhhhhhhhhhhh #Traumamasalalu bangkitkembali

minoru said...

Entah kenapa saya lebih menikmati fanfic yang anda buat ketimbang canon end-nya. Entah kenapa jarang ada anime yang menampilkan "Where Are They Now?" Epilogue yang memuaskan.

Well, buat To The Moon. Ini game memang perlu dimainkan oleh lebih banyak orang. Saya sendiri nggak bakal pernah denger nama game ini, kalau nggak karena certain fanart (http://imgur.com/Zs0As). Entah memang gamenya kurang promosi atau sayanya aja yang ignorant.

Anyway, nice post as usual! (Dan sayang ga ada terjadi apa-apa tadi malam)

rmat2004 said...
This comment has been removed by the author.
Neohybrid_kai said...

GECD: pfffttt saya juga masih trauma dari that recent accident :v
I have trauma of being traumatized by a traumatic person :traumaception:

minoru:
nice comment, you deserve tl;dr reply :v

Where are they now, ya.. itu memang salah satu trope favorit saya sih
dan memang jarang terjadi, yang membekas sampai sekarang adalah Kiminozo
dan salah satu fanfic legendaris The Aging of Suzumiya Haruhi (gara2 fic ini saya jadi suka bikin futurefic dengan where are they now concept)

Agreed, entah kenapa To The Moon gak begitu terdengar gaungnya, harusnya dengan status self proclamed dramafag, informasi soal game ini pasti udah sampai ke telinga (more like, mata) saya, tapi semoga dengan availability nya di steam sekarang jadi makin banyak orang yang tau

Rmat: :v...tulis lagi commentnya plz

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime