Monday, June 25, 2012

AFA MY 2012 Meta Reportage

11 comments
Note: this post is veeeeeeeeeery long. If you have something to do or plan to read it in one go, make sure that you have some time prepared. Grab a snack or something, and take your most comfortable reading position.

Welcome and welcome back for the old visitor, seperti yang bisa anda deduksi dari judulnya, ini adalah postingan tentang perjalanan saya ke AFA 2012 di PWTC, Kuala Lumpur, Malaysia, tanggal 9-10 Juni kemarin. Tapi daripada reportase, postingan ini lebih membahas kepada omake yang menceritakan tentang behind the stage dan hal-hal yang lebih personal sehubungan dengan traveling saya kemarin. Untuk laporan yang lebih on-the-spot, dengan komentar dan foto yang lebih banyak, saya menyarankan anda untuk membrowse album foto yang ada di facebook (jangan khawatir, settingnya sudah diatur ke public view sehingga anda tidak perlu meng add saya sebagai friend untuk melihatnya). Ok, sekarang langsung saja kita ke main menu post ini, ready? here we go.


DAY 0

Reaksi general dari kebanyakan teman saya waktu saya pertama kali posting dari tempat kedatangan di Malaysia sana, adalah tidak percaya. Well of course, afterall saya bukan potongan orang yang suka, atau mungkin lebih tepatnya berani traveling, dan saya juga tidak pernah menceritakan soal rencana saya berangkat ke AFA. Bahkan, jika harus jujur, sampai di hari-hari terakhir menjelang keberangkatan pun saya masih diliputi that familiar feel of going to do something completely new, alone. Lalu kenapa saya, yang untuk beli figma saja harus menabung berbulan-bulan, yang tidak punya keberanian untuk bepergian sendirian, akhirnya bisa menginjakkan kaki di salah satu acara bergengsi para otaku tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus kembali ke beberapa minggu sebelumnya.


Few weeks before DAY 0

Awalnya saya sama sekali tidak kepikiran untuk datang ke AFA. Acara tersebut sama sekali di luar radar saya. Its somewhere oversea, in another country. Rekor perjalanan terjauh saya untuk acara otaku adalah Hellofest di jakarta, itupun karena saya ke sana bersama teman seperjalanan. Atau ke Surabaya, dalam rangka gathering The Otaku Network regional Surabaya. Juga bersama teman dari jogja. Perjalanan terjauh yang saya lakukan seorang diri (dari jogja) adalah ke Semarang :v itupun kalau bisa dibilang traveling, karena pada dasarnya yang saya lakukan adalah mudik. So, yeah, AFA is out of question (back then). Its distance faraway, its out of range, its exclusive, and I see nothing interesting from going there.

Until the announcement about Spiral Cat's Miyuko join the guest lineup. Sebelumnya saya cuma tau kalau bintang tamu di AFA adalah artist dan nonton AFA = nonton konser mereka. Dan dari daftar artist yang akan tampil di acara, hanya satu yang saya suka (Kalafina tentu saja, what else?) jadi saya merasa belum perlu untuk bela-belain ke sana. Fakta bahwa Danny Choo akan datang dan menjadi host serta 2 producer ternama dari Studio I.G akan mengisi acara talkshow juga tidak membuat saya tertarik untuk datang ke sana. Tapi dengan masuknya Miyuko ke dalam list orang yang bakal bisa anda temui di sana, saya jadi mulai kepikiran.

Tapi jika anda pikir saya kemudian langsung pesan tiket saat itu juga, anda salah tebak. Justru efek yang pertama kali terjadi adalah GALAU :v Untuk membuat sebuah keputusan berganti dari tidak menjadi mungkin, itu hal yang sangat mudah. Tapi dari mungkin menjadi YA, itu tidak gampang. Ada banyak pertimbangan di waktu ini terjadi. Pertama, waktu pemberitahuannya terlalu mendadak, saat official page AFA mengumumkan akan kedatangan the spiral cats, waktunya sudah terlalu mepet, dan benar saja, reaksi sebagian besar orang yang saya kenal sebagai fans Miyuko adalah 'tidak bisa, tidak akan sempat', yang berarti kalau saya nekat datang ke sana, sepanjang perjalanan saya akan SEORANG DIRI. Dan meskipun tidak bisa dikategorikan dalam phobia, tapi traveling alone adalah hal yang tidak tercantum dalam tabel skill dan experience saya. Faktor pertimbangan kedua, dana. Perjalanan ke luar negeri dijamin akan memakan biaya yang tidak sedikit. Kecuali saya pinjem duit orang, saya tidak akan mampu pergi ke sana, karena di awal bulan uang saya akan kepake buat nalangin biaya produksi kaos terlebih dulu. Ditambah waktu pengumuman tersebut dikeluarkan, gathering /ton/ di surabaya masih belum berlangsung, dan saya harus mempersiapkan dana untuk ke sana. In the end, keputusan saya adalah untuk tidak berangkat, karena, pinjem istilah Persona, will power saya masih tidak cukup kuat untuk mem-burn my dread. Ditambah info bahwa akan ada AFA berikutnya di Singapore (waktu itu belum ada announcement soal AFA Jakarta) dan sepertinya banyak yang lebih siap untuk berangkat bersama, saya pikir ya sudahlah nunggu yang Singapore yang lebih pasti barengannya.

Jadi, apakah setelah itu kegalauannya selesai? hmm, tidak juga. Karena ada teman saya yang ngomong kalau ada kemungkinan bintang tamu yang sama tidak akan datang dua kali. Misalnya JAM Project. Teman saya hingga sekarang sepertinya masih raeg karena dulu tidak bisa datang waktu mereka perform. Dengan kata lain bisa saja Miyuko hanya datang di AFA yang ini. Sungguh ngetroll sekali, bukan? Tapi saya masih tetap bertahan dengan keputusan awal saya untuk tidak datang, sampai terjadi hal yang sama sekali di luar perkiraan saya.


The Otaku Network adalah sebuah group FB yang saya dirikan pada awal tahun 2011 kemarin. Untuk sebuah group otaku, eksistensinya sangat unik karena fokus dari group yang lebih sering disebut dengan /ton/ oleh membernya itu adalah berdiskusi dan share hal-hal di luar dunia otaku. Konsepnya simple sebenarnya, untuk membuat otaku saling meng-empowering each other dan menjaga supaya hubungan senior dan junior tetap terjalin di luar dunia otaku. Dan meskipun topiknya sering terderail dan sebagainya, namun banyak hal, seperti knowlegde dan moral support bisa anda dapatkan dari group ini. Dan bagi otaku yang kehidupan internetnya penuh dengan trolls and flames, support semacam itu, meskipun kecil saya pikir cukup berarti.

Apakah anda percaya dengan teori yang kurang lebih isinya 'jika anda berbuat kebaikan pada A, maka suatu saat Z akan berbuat baik pada anda, meskipun A dan Z tidak saling kenal dan tidak ada hubungan apa-apa'? Ketika saya sudah memutuskan untuk tidak datang ke AFA MY dan menunggu AFA berikutnya untuk berangkat bersama yang lain, seorang otaku senior datang kepada saya, beliau adalah member /ton/ meskipun hanya mengikuti perkembangannya saja aka lurking tanpa pernah menuliskan komentar. Saya tidak tahu apakah eksistensi /ton/ yang saya dirikan menciptakan suatu impresi tersendiri ataukah level fanboy saya terhadap Miyuko yang menarik perhatian beliau, yang jelas beliau bilang pada saya akan menanggung semua biaya transport dari sini (Jogja) sampai Kuala Lumpur. Pulang pergi.

Terdengar mengejutkan, dan saya waktu itu cuma bisa "hee?" karena sama sekali tidak menduganya. Dengan premis seperti itu, apa yang tadinya 'mahal' sekarang menjadi 'terjangkau'. Apa yang tadinya 'hampir tidak mungkin' menjadi 'bisa dicoba'. Di satu sisi jelas saya merasa senang (anda juga pasti senang kalo ada di pihak saya), tapi di sisi lain saya masih merasa ragu dan was-was (anda harus memposisikan sebagai saya untuk bisa memahami kekhawatiran ini, keluarga saya tidak pernah mempunyai dana berlebih untuk melakukan sesuatu seperti tamasya ke luar kota, jadi kata traveling tidak ada di kamus keluarga saya). Namun ada dua hal di sini yang mampu merubah keputusan saya dari mungkin menjadi YA. Yang pertama, saya tidak punya alasan lagi untuk menghindar, karena sekarang dana nya sudah ada, dan menolak pemberian dari orang lain yang memang ikhlas membantu tanpa maksud lain berarti saya menolak rejeki. Bisa jadi itu memang karunia Dari Atas yang diberikan lewat otaku senior yang meminta dirahasiakan identitasnya tersebut. Alasan kedua, kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali. Uang bisa dicari lagi, tiket bisa dibeli lain kali, tapi siapa yang tahu apa saja yang akan saya lewatkan jika saya tidak mengambil tawaran tersebut? Dengan dua pertimbangan tersebut, saya meng-iya-kan untuk menerima donasi spesial tersebut, dan beliaupun langsung membuka situs airasia dan setelah membrowsing sebentar langsung menemukan flight yang cocok dengan harga tiket yang pas, saya diminta mengisi biodata pada semacam form pemesanan dan setelah itu beliau mengeluarkan token BCA dan beberapa detik kemudian email konfirmasi keberhasilan pemesanan tiket masuk ke dalam inbox saya. Semuanya terjadi begitu cepat sampai saya cuma bisa poker face o_o (anda bisa bayangkan newbie yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke bandara tiba-tiba dapat tiket PP Cengkareng-LCTT KL). Dan di hari berikutnya, ketika beliau datang lagi membawa tiket kereta api bisnis PP stasiun tugu - pasar senen dan menambahkan nanti kalau ada apa-apa ngomong aja biar taktransfer, saya sadar jika rencana ke AFA harus diubah dari level 'bisa datang' menjadi 'maksimalkan apa yang harus dilakukan di sana'.

Masih ada satu alasan lagi sebenarnya, tapi alasan yang ini baru saya dapatkan setelah perjalanan gathering dari surabaya dan bertemu dengan seseorang yang membuat saya ingin membuktikan jika dengan usaha dan kemauan yang kuat (and pray), it is possible to conquer your fear. If I make it through this journey, it will be a proof to show to that person that she can also do the same to her fear. Hopefully she is reading this by now.

And thus, the preparation began.

Actually, sampai di point inipun saya masih nervous. Dan sebenarnya inilah faktor kenapa saya menghindari memposting rencana saya di /ton/, bukan karena unsur suprise, tapi lebih kepada takut terjadi sesuatu di luar rencana dan akhirnya gagal dan sia-sia semua knowledge yang sudah diminta dari group. My thought are filled with things like kalo di jkt salah jalan, kena macet, kebingungan di airport, ketinggalan pesawat, imigrasi bermasalah, etc. Karena itu saya mengumpulkan info dan membuat catatan. Karena yang ditraktir oleh senpai saya tadi adalah ongkos transportasi jadi untuk urusan yang lain saya harus melakukannya sendiri (untungnya masih bisa nanya-nanya sama beliau). Membuat passport, menghubungi commu saya yang ada di Malaysia, diskusi soal pembelian tiket, uang cash yang perlu dibawa, mencari money changer, membuat kaos dan papercraft buat dipakai di sana, dan lain sebagainya. It was time full of excitement but also confusion at the same time. And at time like that, when I feel like I have already done everything I could planned and managed, but my mind still won't calm down, I realized that there's only one option left I can take. Praying. Because even if I have all those verbal and written advice, in the end only myself who will do all the work. And, you may believe it or not, those prayer turns out resulting in many "interesting coincidences" later in my trip.

DAY -1

So, after hectic days of packing and preparing, the 'tabidachi no hi' finally comes. Kamis malam saya berangkat ke stasiun tugu. This is the first time I've been on a train station alone. Untungnya saya pernah beberapa kali bepergian dengan kereta bersama partner saya, Awal, jadi saya masih tau basicnya. Tapi tetap saja saya kuatir kalo salah kereta. Untungnya lagi waktu saya sampai stasiun, ketika saya menunjukkan tiketnya, oleh petugas saya diberitahu jika kereta yang saya ambil sudah datang, jadi yang saya lakukan cukup berjalan ke dalam kereta dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera di karcis. You might say it was a beginner's luck. Setelah menunggu jam keberangkatan, perjalanan pun dimulai.

Nevertheless, the trip was restless. Seperti yang sudah direncanakan, saya memang membawa buku untuk menghabiskan waktu selama perjalanan. Teman saya, otaku senior yang memberikan donasi, bahkan membolehkan saya meminjam buku dari koleksi pribadinya yang jumlahnya cukup banyak. Sesuatu yang tidak saya punya, karena saya jarang sekali membeli buku. Dari berbagai macam opsi, pilihan saya jatuh pada What The Dog Saw nya Malcolm Gladwell (saya jadi fans berat beliau setelah membaca Outliers dan Tipping Point) serta Code of The Samurai nya Thomas Cleary. But like I said, my mind was restless I can't concentrate on what I read at that time.

DAY 0

Lucky the station I need to arrived (you might already noticed I use too much word lucky on this post. Don't worry, It'll get more and more later :v) is the last station, jadi saya tidak perlu khawatir kelewatan stasiun. But then, after I get off the train, I was like, oknowwhattodolol. Saya memang sudah menyiapkan notebook berisi walktrough dan catatan apa yang harus dilakukan, tapi seperti yang saya katakan, it requires something more to apply theory into practice.

Akhirnya logika saya menyarankan untuk turn the chessboard around. Sure traveling alone has its own difficulty, but it also comes with its merit. Karena anda sendirian dan tidak ada orang yang kenal anda, why should you feel shy and holding back to ask question to get more information? Kalopun anda melakukan sesuatu yang epic fail seperti ketipu orang atau barang hilang, yang perlu anda lakukan cuma memakai magic catbox truth nya Beatrice dan tidak akan ada yang akan tahu. Second, tidak ada yang tahu persona anda sehari-hari, anda bebas memakai karakter yang anda suka, tanpa harus jaim atau ada teman yang berkomentar 'tumben'. Teori ini yang akhirnya saya pakai selama perjalanan and it really helps a lot. Sesampainya di stasiun, saya cari ojek, sengaja saya pilih yang tampangnya veteran karena pasti lebih bisa dipercaya. Selama perjalanan saya ngobrol (biarpun saya masih tidak bisa se-talkative para tabibito pada umumnya) dan dapat info kalo tukang ojek stasiun yang 'official' memakai semacam rompi seragam dan ada nomer anggotanya. Oleh tukang ojek yang sudah tua tersebut saya ditawari kalau ingin diantar langsung sampai airport. Saya langsung "now loading..." dan karena di walktru saya katanya jika pakai DAMRI dari Gambir ke airport nanti masih harus pakai taxi lagi ke terminal 3 (yang belakangan saya tau dari ngobrol sama a random traveler di bandara kalo ada semacam shutle bus antar terminal which cost free) jadi saya putuskan untuk mengambil tawarannya, jika harganya cocok tentu saja. Setelah tawar menawar, akhirnya harga terakhir jatuh pada 50k. Saya pikir ongkos ojek ke gambir (15k) + damri ke airport (20k) + 15k untuk biaya cheating the walktru is still fine by me, jadi mengebutlah ojek tersebut di jalanan jakarta yang masih sepi dengan speed yang imba sugiru (waktu itu masih jam 4 pagi).

Sampai airport, saya bingung lagi :v Untungnya tempat pertama yang saya lihat adalah mushola, dan saya memutuskan untuk sholat subuh sekaligus memikirkan plan selanjutnya di situ. Pesawat saya baru berangkat siang hari jadi saya masih punya waktu untuk muter-muter dan mempelajari sistem dan area di bandara. Luckily, saya melihat salah satu orang yang sholat di situ adalah bapak-bapak dengan seragam airasia. Jadi sehabis sholat saya tunggu bapak tersebut selesai, lalu nanya-nanya di luar. Ternyata beliau juga hendak ke airportnya dan sampailah saya ke depan airport bersama beliau, cuma bedanya beliau masuk lewat pintu khusus petugas sementara saya ikut ngantri along with the local travelers, para ojou-sama dan bocchama yang oh so fab and swag, along with their families yang dari sekilas pandang saja sudah kelihatan kalo sering sekali bepergian dengan pesawat.

Setelah menunjukkan print-printan pdf tiket dan kartu identitas, akhirnya saya bisa masuk ke dalam, yang penuh dengan orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan di pikiran masing-masing. Setelah melakukan pengamatan sejenak akhirnya saya mudeng juga cara melakukan self check in. Dan dengan memakai skill monkey see monkey do, saya akhirnya bisa mencetak boarding pass saya lalu menyerahkannya pada petugas di bandara beserta passport untuk memperoleh baggage check dan bisa masuk ke ruang tunggu, namun disarankan untuk roaming around dulu karena keberangkatan masih lama dan sekali masuk ruang tunggu tidak bisa keluar lagi (perjalanan ini masih easy mode benernya karena saya sengaja hanya membawa satu tas, karena tidak ingin ribet dengan proses bagasi tambahan). Tentu saja, seperti kata walktrough saya harus membayar biaya 150k (zzzz), yang biarpun sudah saya siapkan sebelumnya, but still.. Anyway, saya akhirnya menuju ke lantai 2 dan menemukan kursi-kursi yang dipakai orang untuk menunggu. Ah tapi di sini saya melakukan kesalahan minor yang tidak disengaja, rupanya kursi di sebelah timur yang berwarna biru diperuntukkan bagi pria, sementara yang merah di daerah barat untuk wanita. Karena saya suka warna merah yang mengingatkan saya pada red truth nya Beatoriche, jadi saya duduk di kursi merah :v dan saya baru sadar soal itu waktu hendak membuang sampah. Untungnya waktu itu tidak sedang banyak orang jadi saya pindah lokasi casually dan menunggu di kursi biru sambil membaca dan mendengarkan musik-musik yang membangkitkan semangat :v current files yang ada di dalam music player saya waktu itu adalah: ost silau-man, ost chihayafuru, ost rainbro, GReeeeN dan lagu super rare berjudul Rainbow yang dinyanyikan oleh seseorang dengan nickname YNfag :v Di sini juga beberapa jam kemudian saya ketemu sama random traveler A dan sempat ngobrol, rupanya mas nya melihat tiket kereta yang saya pake buat pembatas buku dan dia hendak mengambil kereta ke jogja dan surabaya. Luckily dua tempat itu sudah pernah saya datangi dengan kereta jadi saya bisa sharing knowledge like a pro (padahal aslinya saya ke sby aja baru sekali lolz :v)

Anyway, setelah 2 jam menjelang keberangkatan (departure time saya jam 11.30), saya masuk ke ruang tunggu, yang waktu itu masih sangat sepi.. atau tepatnya saya adalah yang pertama masuk. Penjaga di bagian imigrasi sampai heran kenapa saya datang pagi sekali (padahal saya sudah di airport sejak subuh). Tapi setelah tahu tujuan saya, sepertinya beliau mengambil kesimpulan sendiri bahwa saya sangat antusias dan tidak sabar dengan festival AFA ini sampai berangkat kepagian, dan saya iyakan saja :v Setelah agak lama menunggu, barulah beberapa orang berdatangan, dan, ini salah satu hal yang IMBA dari pengalaman saya kemarin, diantara yang datang ke ruang tunggu, salah satunya adalah seorang onee-san dengan long hair dan megane dan wajah yang melankolis (uwoo!!), sepertinya juga traveling alone. Setelah duduk, dia mengeluarkan sebuah buku dan membacanya. Auranya benar-benar utsukushii honto ni tottemo elegant so graceful desu wa. Tapi ya cuma sebatas menatap dengan pandangan seorang stalker mengamati dari jauh saja yang bisa saya lakukan. Akhirnya saya muter-muter melihat-lihat ruang tunggu yang luas seperti orang ndeso. Sekitar satu jam dari jam keberangkatan, barulah ruang tunggu terasa ramai. Terlalu ramai malah, sampai saya jadi paranoid bagaimana kalau saya tidak dengar pas announcer mengumumkan sesuatu yang berhubungan dengan penerbangan saya? (tadi waktu masih sepi suaranya masih terdengar jelas). Akhirnya saya pindah ke tempat duduk di dekat pintu C (karena dari announcement yang sering terdengar, penerbangan international biasanya antrinya di pintu C) dan bertanya pada informasi. Setelah mendapatkan jawaban, saya.. tetap tidak tenang juga. Srsly, I mean, there was just so many people and noises. How should I suppose to know when and which queue I have to stand in? Untungnya flight sebelum saya dengan tujuan Singapore membuat saya tenang. Rupanya ketika antrian sudah dimulai, akan ada orang yang membawa papan dengan nomer penerbangan. Dan jika anda ketinggalan antrian, barulah nama anda dipanggil. Melihat itu barulah saya bisa menunggu dengan tenang, sampai akhirnya nomor penerbangan yang saya ikuti mulai antri dan sayapun ikut sampai akhirnya masuk ke dalam hikouki (t/l note: hikouki means airplane :v)

Inside the plane, well, its basically like a bus, except a bit more cramped. Saya duduk di kursi yang sesuai dengan nomor saya dan.. m-masaka.. sa-sa-sakki no onee-san?! ternyata yang dapat tempat duduk di samping saya adalah oneesan bermegane yang utsukushii tadi. Tentu saja saya tidak melakukan hal yang norak dan cuma duduk dengan diam di sebelahnya. Setelah ada semacam event briefing dan semacamnya, pesawatpun mengudara.

Ada untungnya jika anda mempunyai ingatan yang cukup tajam, karena saya sampai sekarang masih bisa me-recall keadaan di sekitar tempat duduk saya di dalam pesawat saat itu. Di samping saya, onee-san dengan megane dan long hair membaca sebuah buku dengan elegant. Karena penasaran saya coba memakai skill ninja dan akhirnya tau kalo buku yang dia baca adalah By the River Piedra I Sat Down and Wept, karya Paulo Coelho yang terkenal, dalam versi bahasa Inggris. Talk about some exquisite taste, aah.. pasti onee-san itu adalah seseorang yang delicate and romantic desu wa #delusionalmode. Saya memang belum pernah membaca buku yang itu, tapi saya pernah membaca karya Paulo lainnya yang juga terkenal, The Alchemist. Tapi setelah beberapa halaman, onee-san itu mengurungkan niat membacanya, melipat buku dan kacamatanya lalu tertidur. And since I would looks like a creepy otaku guy if I keep seing her sleeping face, jadi saya mengarahkan pandangan lagi ke sekitar. Sorry guys, I'm not Kiravelyn Aya, kalo saya punya skill nanpa seimba dia mungkin saya sudah memakai knowledge saya soal The Alchemist buat nyoba ngobrol. Anyway, di sebelah onee-san tadi, dekat dengan jendela, ada bule separuh baya. Beliau membaca novel tebal karya John Grisham. Yah, wajar sih. Saya malah bakal shock kalo yang dia baca manga madoka magica atau semacamnya. Dan setelah pesawat mengudara cukup lama beliau menutup jendela pesawat, mungkin karena silau. Noooo, why would you do that? I want to watch the skyyyy

Di kursi seberang, ada bule juga, sedang asyik mengisi majalah sudoku. Dari tampangnya kayaknya memang orang intelek sih. Di samping bule tersebut, nah ini, there's one couple of chinese young oujosama and oujisama, sepertinya sedang on vacation. Yah, walaupun cukup bikin jelly tapi lumayan juga fanservice dari pakaian si ojousama, you know, tight tanktop with short pants, and on top of that she's got a reeeally kyoot face. Well, thank you mr boyfriend for letting your gf wearing a sexy suit. Di bangku depannya ada fanservice yang lebih imba lagi benernya, a random woman wearing such an open clothes you can see her cleveage. Too bad mbak-mbaknya norak banget dandanannya kaya celeb wannabe. Examination over, pandangan saya balik ke buku bacaan.

Time passed. Nothing to do. Awalnya saya membaca buku yang saya bawa, tapi melihat ada majalah di belakang kursi, I thought why not try reading it, mumpung bisa dibaca. Lumayan informatif juga isinya. Ada tiga artikel (di luar artikel tentang basic knowledge of taking flight) yang sampai sekarang masih inget. Yang pertama bahasan soal kawasan wisata di pekanbaru, this one makes me remember to a certain member of /ton/, Nyasu. Yang kedua in depth article soal operasi plastik di korea, I was like, are you kiidng me :v? since, you know, I'm about to see Miyuko-sama. Artikel ketiga, ini yang bikin saya ngakak, adalah article yang ditulis oleh pembaca, seorang wisatawan manca yang berlibur di jogja bersama istrinya. It was interesting seeing from his perspective, terutama di bagian akhir ketika dia menyebutkan something like, I recommend you to learn about the national language, when I can talk in Indonesian I feel like all those study from watching SINETRON finally had paid off. I was like lolwuuuuuuuuut


Yea, thats all about my first flight. Sampai di bandara saya sms teman saya yang ternyata memang sudah di dalam perjalanan ke airport untuk menjemput (enaknya punya save point, anda tidak perlu repot memikirkan transport dan akomodasi :9). Dan beberapa saat kemudian saya ber wtf setelah tahu kalo biaya roaming sms im3 di luar negeri adalah 5k per sms. Tapi terlambat, saya sudah 3x sms an dengan teman saya dan 15k pulsa hp saya pun lenyap. Ah iya, mengenai teman saya ini, Farhan, adalah commu lama saya sejak era awal saya terjun dalam dunia forum otaku. Dulu saya moderator di forum ichigo, sementara teman saya mendirikan forum untuk komunitasnya, onegai shelter. Akhirnya saya sesekali ikut posting di forum OS, kemudian, saya masih ingat betul, waktu itu ada semacam gathering pertama OS di salah satu ruang kuliah amikom. Saya merasa tertarik untuk datang dan mensharing pengalaman (bukan menggurui) selama jadi mod di ichigo. Dan akhirnya saya benar-benar datang (sendirian, karena gak ada teman yang mau diajak) ke kampus yang sama sekali belum pernah saya datangi, bertemu orang yang saya cuma kenal lewat online. Setelah muter-muter dan bertanya pada orang di situ, saya sampai ke ruangan tempat berkumpul. Sepanjang acara saya cuma diam dengerin, sampai ahirnya di sesi tanya jawab saya memberanikan diri untuk menyampaikan opini saya, dan ternyata respon mereka sangat baik. Ini kejadian yang sudah lama sekali, mungkin sekitar tahun 2005an. Sejak saat itu saya bisa dibilang semacam member kehormatan OS, sering ikut ngisi stand bahkan diundang ke acara makrabnya (padahal saya bukan mahasiswa amikom). Sekarang para elder dari OS banyak yang sedang bekerja di Malaysia, dan merekalah yang banyak membantu saya selama perjalanan saya di sana.

Apa yang ingin saya tekankan dari paragraf di atas? pertama, tentang chance. Sekecil apapun signifikansinya, jika anda mendapat kesempatan, ambillah. Siapa yang menyangka kedatangan saya ke gathering OS walaupun separo niatnya cuma karena penasaran akan berujung pada bantuan selama saya tinggal di Malaysia dalam rangka AFA? Jika dulu saya tidak datang dan jadi tidak dekat dengan anak-anak OS... go figure. Kedua, its is important to always keep in touch with your commu. Di sini bukan cuma commu yang langsung terhubung dengan anda, tapi juga commu dari commu anda. Misalnya, karena saya sudah dibantu oleh para tetua OS, ketika member junior OS mengadakan event dan meminta saya jadi juri atau bantuan lain, saya pasti turun tangan. Your commu's commu is your commu too.

Now back to trip report, setelah menunggu beberapa lama, teman saya datang juga, sendirian dengan mobil. Saya langsung masuk dan dimulailah perjalanan yang penuh dengan moment imba.

Sebagai tuan rumah, teman saya langsung menawarkan untuk makan siang. Saya setuju. Namun sebelumnya kami harus mengisi bensin terlebih dulu. Ini pandangan oleh pendatang awam, namun menurut saya Malaysia terbagi dalam area-area yang sudah terkategorikan, dimana setiap area dipisahkan oleh highway yang sangat lebar. Wajar jika di sana lebih banyak mobil daripada sepeda motor dengan perbandingan yang jauh, karena memang jalan-jalan luar kota nya sudah kayak di game nit for sepit, dengan sesekali mobil mewah melintas. Antara bandara dengan central kota jaraknya cukup jauh. Di tengah perjalanan kami berhenti di pom bensin yang memakai sistem otomatis sambil membeli minum untuk merefill kekurangan H2O.

Setelah perjalanan yang diselingi pembicaraan tukar kabar, prospek manga cafe dan kondisi industri kreatif di indonesia, akhirnya kami sampai di area pertokoan. Seperti yang saya tulis tadi, di sana setiap area sudah ada spesifikasinya sendiri. Kawasan permukiman ya isinya apartemen, kawasan pertokoan ya isinya toko dan warung, kawasan perkantoran ya isinya bangunan kantor (yang terbagi lagi dalam goverment office buildings dan private office buildings). Plus point nya, semua terlihat rapi dan tertata, minusnya kemana-mana anda harus ngeluarin mobil. Di satu kesempatan waktu makan yang lain, teman saya membungkuskan makan untuk temannya, padahal dia tinggal di apartemen yang lain lagi.

Dalam perjalanan ke tempat makan, saya teringat ide teman saya di indonesia yang tidak sempat saya realisasikan, yaitu membawa sesuatu untuk ditandatangani. Karena ide itu tercetus hanya beberapa jam sebelum keberangkatan, saya tidak sempat membawa file  yang ingin di print ke printshop, tapi file itu masih saya simpan di flashdisk dan saya bilang ke teman saya untuk mencari printshop di daerah itu. Sekaligus membeli perlengkapan untuk membuat papercraft. Dan ganti simcard HP karena tidak mungkin saya roaming terus-terusan. Teman saya setuju, dan setelah makan kamipun berbelanja.


Setelah mendapat semua barang kebutuhan, kamipun melanjutkan perjalanan ke apartemen teman saya. Teman saya lalu bicara soal timing kedatangan saya yang pas dengan acara music and light festival yang penutupannya diadakan malam ini, dan rencananya nanti malam semua mau datang ke sana (talk about lucky~). Sebenarnya kondisi stamina saya saat itu sudah cukup critical (I havent got a proper sleep since the day before, sejak saya di kereta) tapi setiap kali saya terpikir untuk istirahat, saya teringat dengan prinsip saya tentang chance. Sudah sampai sini, waktu terbatas, masak mau dipake tidur? Jadi setelah saya menaruh barang dan istirahat sebentar di apartemen temen saya, perjalanan berlanjut ke KLCC.


As the name suggest, Kuala Lumpur Convention Centre, tempat tersebut memang pusat keramaian yang imba. Ketika kami sampai di sana, pertunjukan baru saja hendak dimulai. Jangan tanya seberapa ramainya, karena event ini memang untuk publik tanpa dipungut biaya. Apalagi waktu itu adalah hari terakhir. Technology projecting dan screening nya harus diakui memang luar biasa. Demikian juga dengan air mancurnya yang bisa keluar efek FABULOUS MAX. Mantap pokoknya. Sayang agak susah untuk melihatnya karena banyak orang yang berdesak-desakan. Teman saya lalu menyarankan untuk menonton dari lantai atas, karena di sana ada food court juga jadi bisa sekalian makan. Akhirnya kami pergi ke atas. Dan di sana memang terlihat lebih jelas, tapi tentu saja suaranya tidak terdengar. Di sela-sela ngobrol, teman saya me mention soal kinokuniya di lantai atas yang langsung mentrigger naluri otaku saya. Jadi saya bilang ke yang lain kalo saya mau ke atas sendirian. Acaranya sendiri waktu itu sedang istirahat karena sedang memasuki waktu sholat isya' (bayangkan, rehat setengah jam untuk menghormati ibadah, dan itu acara taraf internasional!) jadi teman saya pada makan sementara saya muter-muter di lantai atas mencari Kinokuniya (dengan kondisi stamina yang sudah merah plus kelip-kelip kalo dibikin HP bar nya).

Kinokuniya KLCC benar-benar tempat yang imba sugiru. Jika anda otaku, jangan harap anda bisa keluar dari tempat itu dengan isi dompet masih utuh. Bahkan saya yang sudah berjanji hanya akan melihat-lihat dan tidak akan mengeluarkan uang sebelum sampai AFA,  akhirnya keluar dengan sebuah artbook dan sebuah manga. Ada satu section ruangan yang luas, dengan rak-rak yang berisikan bahan konsumsi otaku, mulai dari manga, artbook sampai light novel yang judulnya saya belum pernah dengar. Khusus manga masih terbagi tiga section lagi berdasarkan lisencing (bahasa) nya, japanese, english and chinese. Benda-benda hipster seperti the perfect guide of mawaru penguindrum dan complete guide of Fractale (FRACTALE! can you imagine that? OMG) bertebaran bikin drooling dan buku-buku referensi yang aneh-aneh seperti cara membuat figurine moe dalam bentuk ilustrasi moe atau buku referensi tentang megane yang isinya dari halaman awal sampai akhir adalah megane. Muntah pelangi dah pokoknya. Sayang kondisi stamina saya mulai terdeplete dengan significant sampai akhirnya saya tidak bisa membaca cepat judul buku yang tersusun di rak, dan memutuskan untuk kembali ke bawah.

Balik sampai di bawah, temen saya malah pada pengen nonton langsung di bawah. Jadi kamipun kembali lagi turun. Di bawah, beberapa lagu berlalu dan stamina saya sudah seperti ultraman setelah bertarung selama 3 menit. Akhirnya saya bilang ke temen saya kalo saya mau save and refill energy for tomorrow, minna gomennasai... dan akhirnya semua setuju untuk pulang. Saya masih merasa tidak enak benernya karena beberapa dari mereka bukan full fledged otaku yang tidak menganggap AFA begitu crucial.

Hebatnya, sampai di apartemen saya masih punya energi untuk bragging dan show off artbook dan manga yang saya beli di facebook :v. Tapi saya sudah tidak punya energy left untuk bikin papercraft, jadi saya putuskan untuk memakai papercraftnya di hari kedua saja. Tapi yang menyebalkan, meskipun energy sudah critical dan mata dipaksa terpejam, tapi malah tidak bisa tidur karena terlalu excited. Dan teman saya juga demikian. Anda boleh bilang saya kaya anak sd di malam pas mau piknik sekolahan, tapi begitulah faktanya. Bahkan saat itu saya masih tidak percaya kalo saya ada di sana, counting down the hours to go to AFA, sementara di malam sebelumnya saya masih di depan PC di kamar, fb an.

And that concludes day 0. That was a long read. And it still havent covered about the event itself :v
Karena ini adalah postingan omake, jadi post ini tidak akan banyak membahas soal eventnya. Untuk foto-foto event saya sarankan anda langsung memview album account FB saya. Post ini lebih membahas pada meta board nya alias hal-hal yang terjadi di belakang perjalanan saya ke event.

DAY 1

Di hari pertama, karena jumlah orang yang ingin pergi lebih banyak, teman saya memutuskan untuk naik kereta. Padahal kelebihan yang dimaksud di sini adalah 1 orang (5 orang dari jumlah maximum penumpang mobil, which is 4) tapi daripada resiko kena tilang akhirnya semua sependapat untuk pakai kereta (bandingkan dengan saat gathering di surabaya, dimana karena tidak ada mobil tambahan, 13 orang akhirnya masuk dalam 1 mobil :v). Di sinilah pengalaman pertama sekaligus perkenalan saya dengan sistem LRT (Light Rail Transit) Malaysia yang imba. Jadi sarana transportasi yang akan sering anda pakai jika tidak mengendarai mobil adalah commuter's electric train (maaf kalo saya salah pake istilah, Im a noob about this kind of thing :v). Anda membeli tiket secara otomatis dari vending machine, yang digunakan untuk melewati gate di stasiun, lalu anda menunggu kereta datang (ada panel electronic dimana sudah tertera count down berapa menit lagi kereta tiba) dan di stasiun yang anda tuju, setelah turun, anda memakai tiket tersebut untuk melewati gate keluar (hanya bedanya kali ini tiketnya tidak dikeluarkan lagi oleh mesin gatenya jadi memang hanya untuk one way trip). Ada dua macam tiket di sini, kertas dan token/coin. Untuk yang berwujud coin, anda hanya perlu men-scan nya pada mesin gate untuk membuka pintunya (tapi tetap di stasiun tujuan anda harus memasukkan coin nya). More or less seperti yang sering anda lihat di anime-anime :v Anda yang nonton anime gentong penguin glinding pasti tau maksud saya.

Jika bangunan yang anda tuju memiliki nama yang sama dengan nama stasiunnya, kemungkinan besar ketika anda keluar dari stasiun, anda sudah berada DI DALAM bangunan tersebut (its magic!), so, yeah, anda tidak akan perlu berkeliaran di trotoar berjalan dari stasiun ke tempat tujuan. In fact, sebagian besar kegiatan yang melibatkan jalan kaki adalah di dalam stasiun ketika pindah kereta, yang penuh dengan lorong-lorong menuju ke perhentian kereta dengan jalur yang berbeda-beda. Untungnya papan petunjuk di sana cukup jelas dan informatif.

Untuk reportasenya, anda bisa melihat di album FB. Di sini saya share benda yang tidak diupload di fb, which is video. Feast your eyes.






Tidak bisa dipungkiri kalau pesona Miyuko memang sangat membius :v Sayang di hari pertama sang nona yang super graceful ini tidak turun dari panggung. Jarak dari bagian paling depan penonton pun masih kurang dekat :v dan tidak ada yang cukup berani mengeluarkan skill ninja untuk sliding dan mengcapture panyshot.

Setelah puas dengan hari pertama (sebenarnya jika anda tidak ikut menonton konser, pukul 4 stage sudah ditutup dan anda tidak punya pilihan selain pulang atau roaming di booth, tapi saya muter2 cukup lama sampai sekitar jam 7), saya dan teman saya, hanya 1 orang karena yang lain sudah pulang duluan, pulang dengan memakai route yang sama dengan saat berangkat. Hanya saja, di stasiun terdekat dengan apartemen, saya dan teman saya pulang dengan taxi, karena mobilnya sudah dipakai pulang duluan oleh temen-temennya teman saya yang sudah pulang lebih awal. Di sini saya baru tahu kalau untuk memakai taxi anda harus pesan dulu tiketnya di counter, baru ke tempat antrian taxi. Jadi taxi yang anda dapat urut sesuai dengan yang ada di tiket yang anda beli dan kebetulan waktu itu temen saya dapatnya yang ekslusif (lucky~).

Sesampainya di apartemen saya cuma sempat update foto tawaran patungan buat beli figure madoka+mami dx, bikin thread di group mencari siapa yang bisa menyediakan tempat transit sementara selama di jakarta (karena pesawat saya tiba siang hari sementara kereta baru berangkat malamnya) dan fokus ke bikin papercraft buat dipakai besok. Dan kali ini, saya bisa tidur dengan cukup cepat.


DAY 2


The second day. Kali ini saya dan teman saya datang dengan persiapan yang lebih matang, pengenalan medan yang lebih baik, dan fasilitas yang lebih supportive. Karena yang lainnya not hardcore otaku enough sudah cukup puas dengan datang di hari pertama, jadi di hari kedua ini saya dan teman saya bisa pergi dengan mobil. Selain itu, karena acara di awalnya tidak mengundang selera (perform nya Kaname :v) jadi bisa lebih santai, mampir sarapan dulu, dan berangkat agak siangan. Setelah mengoogle mapping sebentar dan menyimpan jpeg petanya ke dalam psp, akhirnya kami berdua siap menuju medan laga.

Turns out the trip isnt as easy as we thought, karena bahkan dengan walktru yang sudah di tangan, tetap saja kami kebingungan mencari jalan, terutama jika di persimpangan tidak ada nama arah yang dituju dalam petunjuk. Dan tidak seperti di sini, anda tidak akan menemukan warung di pinggir jalan atau tukang tambal ban yang bisa ditanyai soal arah. Tapi entah bagaimana saat kami melaju dalam kebingungan tiba-tiba tempatnya sudah ada di depan mata (lucky~). Setelah memarkir mobil, kami masuk ke venue tanpa mengantri seperti kemarin (karena sudah beli tiket langsung untuk dua hari).

Di hari kedua, jumlah pengunjung yang datang dengan bercosplay meningkat drastis. Wajarlah karena hari itu memang puncaknya acara cosplay. Saya dan temen saya langsung ke panggung untuk melihat talk show nya senior producer yang lain dari I.G. Dan ternyata... saya melakukan kesalahan yang cukup fatal. Kursi penonton di area stage sudah terisi penuh di bagian depan. Para fujoshi dan fangirls tidak beranjak pergi meskipun sudah ganti acara. Akhirnya saya dan teman saya dapat kursi di bagian tengah tapi pinggir, masih cukup enak untuk mendengarkan talkshownya, tapi setelah takshow berakhir dan masuk ke acara cosplay, viewnya tidak bisa maksimal. Ditambah lagi meja juri cosplay berada di depan panggung, yang berarti jaraknya malah lebih dekat dengan penonton daripada kemarin (nooo! miyuko-sama... TTwTT).

Setelah cosplay berakhir, stage ditutup untuk persiapan anisong dan semua pengujung dipersilahkan keluar. Dan sama seperti hari sebelumnya, Danny Choo bilang kalau dia kemungkinan akan ada di boothnya, meskipun kemarin saya dan teman saya sudah nunggu tapi gak ketemu juga. Tapi, tiba-tiba keajaiban terjadi, kekuatan muncul di dirii.. eh salah, maksud saya pas saya lagi jalan dari pintu keluar stage melewati booth-booth, ternyata Danny Choo juga sedang muter-muter mengambil foto cosplayer. Awalnya saya dan teman saya seperti tidak percaya jangan-jangan salah orang, tapi ternyata iya, dan tidak banyak yang nyadar karena memang kalo pas berbaur power levelnya tidak kelihatan. Saya dan temen saya berusaha mengumpulkan courage buat menyapa, tapi untuk beberapa saat cuma bisa stalking sambil jalan di belakang, sampai di suatu point, sepertinya courage gauge nya penuh dan akhirnya bisa memanggil beliau.



And that's the story of how I meet the man himself. Saya sempat ngobrol sebentar tentang kedatangannya di AFA Jakarta besok, memberikan souvenir papercraft Mirai Suenaga (yang sayangnya lupa gak kefoto pas nyerahin), dan meminta tanda tangannya di template papercraft yang saya bawa. Saya juga sempat ngobrol dengan wanita yang ada di rombongannya dan memberikan kartu nama yang di dalamnya ada link dan deskripsi singkat The Otaku Network. Belakangan saya baru tahu (dari foto yang di share salah satu fans nya di fb page nya ) kalau yang saya ajak bicara itu ternyata istri beliau (wow).


Setelah selesai ngobrol dan berfoto, Mr Choo melanjutkan perjalanan ke boothnya. Saya kembali roaming around, sementara teman saya tampaknya masih penasaran ingin menantang lagi para pemain Hisouten di dekat pintu masuk (temen saya bahkan membawa joypad sendiri sekarang, sasuga. Meskipun demikian, belakangan saya diceritain kalo dia dibantai habis-habisan. Well, tidak mengherankan sih karena dari sekilas kemarin saya melihat orang-orang yang ada di situ tampangnya kaya gamer level ASIANS semua). Kembali ke roaming activity, lagi-lagi saya lucky bisa nemu cosplayer yang kalo dari personal taste, the cutest and also hottest cosplayer in AFA MY. Sayang cuma bisa ngambil gambar dua kali, itupun tidak bisa maksimal, karena ybs sepertinya sudah limit break kelamaan ditahan buat diambil fotonya.

Setelah rendezvous dengan teman saya, saya memutuskan sudah saatnya masuk ke mode boros sekalian beli oleh-oleh buat teman-teman saya yang malang yang tidak bisa datang ke event ini (ohohoh~). Tapi ternyata banyak item inceran yang sold out di hari kedua orz. Setelah selesai belanja, kami lewat lagi di depan booth Cannon yang rumornya bakal di datangi Miyuko, tapi masih belum ada apa-apa, sementara fans yang menunggu sudah menumpuk gila-gilaan seperti antrian pembagian daging kurban. Akhirnya saya dan teman saya sepakat untuk pulang karena masih harus mampir ke pasar seni, tempat buat nyari oleh-oleh mainstream buat orang rumah, karena tidak mungkin ibu saya saya kasih oleh-oleh poster kuroneko :v Tapi sebelum itu, temen saya menyarankan buat mampir nyari tempat sholat, sekaligus kalo mau ke Kinokuniya lagi, karena mushola yang dimaksud temen saya adalah di dalam KLCC. Dan dimulailah bagian 2 shopping di tempat yang penuh racun dan virus tersebut.

Kali ini bar stamina saya masih cukup penuh, jadi saya bisa menscan dengan jelas tiap benda yang ada di rak, tidak seperti waktu pertama kali datang saat saya harus membaca judul buku dengan mata berjunang-kunang, meskipun saya sudah tidak punya budget lagi untuk membeli artbook (goodbye.. perfect guide to mawaru penguindrum, may we meet again someday..). Dari kunjungan kedua ini saya berhasil menemukan manga rare Umineko no Naku Koro ni episode X: Rokkenjima of Higurashi Crying, yang memboosting level uminekofag saya. Saya juga membeli volume terakhir manga Silau-Man, which I regret kenapa gak beli semua volumenya karena art manganya benar-benar FABULOUS MAX (tapi belakangan saya nyadar kan masih bisa titip temen saya yang ada di sana dan minta dibawain ke sini pas mudik besok lebaran \:3/). Setelah say goodbye ke kinokuniya, perjalanan berlanjut ke pasar seni.

Di bagian ini, stamina saya sudah mulai drop. Tapi saya paksakan buat jalan muter-muter. Setelah satu kali putaran akhirnya saya dapat oleh-oleh untuk orang rumah dan kantor. Selepas dari pasar seni, hari sudah cukup larut dan stamina saya sudah seperti ultraman setelah 3 menit di bumi lagi. Tapi sepertinya will power saya masih bisa menyediakan energi tambahan, jadi saya masih bisa fokus waktu diajak temen saya makan malam, padahal tempat makannya di outdoor.




Di sinilah perbincangan meta-otaku ala /ton/ yang seru terjadi. Saya dan teman saya banyak bertukar opini, soal lingkungan kerja, soal kehidupan sosial otaku, dan lain-lain. Ada banyak hal menarik yang saya dapat, termasuk waktu teman saya mempinpoint soal networking dan kesamaannya dengan silaturrahmi. Obrolan masih berlanjut bahkan setelah sampai di apartemen (sambil saling bertukar data foto dan video selama event), bahkan semakin seru, karena masing-masing pihak curhat soal witch nya masing-masing. Sepertinya saya jadi sedikit optimis setelah diskusi tersebut, walaupun masih sedikit galau juga, aa.. nante fushigi na koto da na.. koi wa. Oh btw coconut milk shake nya benar-benar IMBA, sepertinya saya sekarang jadi punya obsesi untuk mencampurkan semua jenis buah dengan milkshake. Dan soal menu makanannya, kalau tidak salah namanya ayam kalia,  kuahnya mengandung jahe, jadi bisa dibilang WJK versi KFC :v

DAY 3


Ini adalah hari kepulangan saya ke tanah air. By some strange reason, HP/MP saya bisa ter recover dengan maksimal, despite saya tidur hanya sebentar. Setelah mendapat kepastian transit di jakarta, saya berangkat, diantar teman saya ke bandara, diiringi BGM main theme nya Silau-Man dan Rainbow nya YNfag :v

Nothing much I can write about my second flight, kecuali fasilitas informasi airportnya lebih bagus, karena ada monitor bertuliskan flight number dan destination di tiap pintu antrian sehingga saya tidak bingung harus nunggu di sebelah mana. The journey home is more or less the same, kecuali kali ini tidak ada eye candy yang bisa dinikmati, jadi saya menghabiskan waktu di pesawat dengan membaca manga yang saya beli kemarin.

Sampai di bandara saya langsung contact Roach, pergi ke tempat perhentian DAMRI dan memesan tiket ke lebak bulus. Setelah perjalanan yang di luar dugaan cukup lama, saya akhirnya sampai dan seperti yang sudah disepakati, saya menunggu sekalian sholat dan istirahat di masjid di terminal itu. Tidak lama menunggu, Roach datang dengan motornya dan inilah omake extended trip saya di jakarta.

Target lokasi extended journey ini sudah diputuskan sebelumnya. Berkat informasi dari Kevin waktu saya memposting soal figure Dizzy nya Alter, saya memutuskan untuk ke mall taman anggrek, sekaligus mencari figure Madoka DX titipan kouhai saya yang gagal terbeli di AFA (dan untungnya malah tidak terbeli, jadi budget buat Mami masih belum terpakai sehingga bisa buat beli Dizzy). Tapi sebelum ke sana, saya harus merefill HP saya dulu, dan kalau bisa cari tempat yang ada free electricity supaya bisa mengcopy data foto dan video ke laptop Roach. Jadi oleh Roach saya diantar ke seven eleven dan disanalah akhirnya saya bisa mencoba minuman legendaris sang hentai tensai bishoujo, kurisuuchiiinaaa.


Norak to the max, sampai memfoto kaya ginian. But its alright, because Im mad scientist its so cool sunnavabietch!!

Di sini saya ngobrol cukup lama sambil mentransfer file, dan juga memberikan souvenir clear file ero no imouto dst kepada member /ton/ yang sudah berjasa menemani saya :v Setelah memulihkan stamina meter, saya dan Roach ke TMA, eh, MTA. Di sana kami langsung ke Multi, dimana Madoka DX milik kouhai sudah menunggu. Saya sempat kesulitan menemukan Dizzy dan khawatir jangan-jangan sudah terjual, jadi saya mengsms Kevin tapi tidak ada balasan (baru di balas long time after that). Setelah roaming agak lama akhirnya saya baru tahu kalau item yang bersangkutan itu dipajang di etalase yang menghadap luar, jadi pantaslah kalau tidak kelihatan dari dalam. Di label harganya tertera discount 20% tapi tetap saja harga awalnya sudah imba sugiru. Setelah berjanji dalam hati jika ini adalah figure deluxe pertama dan terakhir yang akan saya beli (seperti akad nikah :v) sayapun turun ke bawah, tempat dimana ATM berada, menarik tunai sejumlah uang dan kembali ke atas untuk menjemput Dizzy. Oh tapi sebelumnya, karena waktu yang tersisa masih cukup banyak, jadi saya memutuskan untuk roaming around dulu, membeli air minum dan bekal untuk di kereta. Karena hanya buat sekedar survival, jadi di supermarket lantai bawah, saya cuma beli air minum botolan x2 dan roti mari :v (yang penting dizzy alter nya kan?) Seusai shopping, karena waktu masih tersisa banyak, jadi saya menghabiskan waktu taking a rest sambil ngobrol dengan Roach soal persiapan /ton/ di AFA besok. Setelah HP/MP ter recover, dan sudah waktunya untuk siap-siap ke stasiun, saatnya mewujudkan salah satu impian masa kecil muda saya.

Sesampainya di Multi kembali, saya langsung bicara ke penjaga tokonya untuk mengecek item yang bersangkutan dan bagaimana cara membawanya supaya aman, karena bakal dibawa di dalam kereta selama 9 jam. Untungnya penjaga tokonya berbaik hati membungkus kotak yang berisi the maiden of the groove itu dengan plastik pembungkus barang elektronik (you know, the one lots of with pop up things). Madoka nya kouhai juga mendapat perlakukan sama, dan bukan cuma itu saja, tapi oleh toko nya, diskon nya ditambah dari 20% jadi 30% (talk about another lucky~). Roach sepertinya ketularan virus boros dan mencoba keberuntungannya di gachapon iDOLa M@S-mas, dan dapat salah satu dari si kembar (kalo saya tidak salah ingat). Now that the mission has been completed and target has been acquired, its time to go home. Agak susah juga membawa kotak figure yang ukurannya cukup imba sambil membonceng motor. Tapi setelah muter-muter di jalanan kota jakarta yang semrawut, akhirnya saya sampai di stasiun. I bid farewell to Roach and went inside the station. Di dalam penuh dengan penumpang yang menunggu bertebaran dimana-mana. Luckily saya tidak perlu menunggu lama karena beberapa saat kemudian keretanya datang.

The train departed, and so did my consciousness.. er, maksud saya, setelah hype dan fun yang silih berganti dan bertubi-tubi akhirnya hontou no limit break saya datang juga. Saya bahkan cuma sempat memakan beberapa keping roti mari :v sleepiness took over, but my luck of the trip masih belum habis juga, karena ternyata kursi sebelah saya tidak ada penumpangnya. Jadi setelah merental bantal dari petugas di KA, saya bisa tiduran sambil berselonjor kaki liek a boss. Sambil memejamkan mata dan mendengarkan lagu main theme nya Silau-Man, saya memikirkan bagaimana cara membuat postingan yang bisa bikin jelly orang-orang mempersiapkan /ton/ untuk AFA berikutnya, karena sebagai tuan rumah, kita punya handicap pada medan pertempuran yang lebih familiar. But eventually playlist ost nya silau-man berakhir dan malah berganti ke lagu-lagunya supercell yang dengan situasi di dalam perjalanan dengan kereta tengah malam malah bikin galau. So I switch back my player to that Rainbow song then let my mind handle the rest.. into the ephemeral dream.

Journey's reportage end.


Epilogue:
Selamat. Jika anda membaca sampai sini, my respect goes to you. Mungkin postingan ini terlalu lebay, meskipun untuk ukuran perjalanan pertama ke event anime di luar negeri, actually I just want to write it for my own amusement but I hope you too enjoy reading it.


If you asked me how much I spent on this trip for references, I'd say its about 4.5 million (in rupiah). But the transportation fee, which cost about 1500k isn't paid by me. Also, I spent so much on the otaku stuff, Dizzy and artbooks and mangas and others can take up to 2000k. So if I dont buy those stuff (not that I regret buying them) I'd only need ~1 million to go to AFA MY :v




Regarding my impression of the neighbourhood country, I'll write some of my points here. Note that I'm not a parliament member who went on a trip for study banding :v so my opinion is very personal and non-academic. Also, if you watched Kino no tabi, you'll know about 3 days rule of traveler, so if what I write is just about the good things, thats because I dont stay there long enough to see the bad things. Ok, so, first, everything there areclean, neat and organized. The place. AND also the people. Eventough almost everything is automatic, but the people behave in a civil, proper, educated manner. Compared to our beloved yet semrawut and ngeyelan sakpenake dhewe country, I feel so ashamed. Second, the automatic system makes things easier and effective. If you see Danny Choo's post about Mirai Suenaga touch n go card, thats one of the IMBA thing in Malaysia. Basically you refill the credit on that card from your bank account, then you can use the card to pay almost everything just by waving the card in front of the scanning machine. From buying train ticket, parking, toll fee, even buying meal. You dont have to afraid finding empty spot to park your car because there's light on ceiling that shows which area is free. And every car owner has a parking number in their apartement's parking area, so they dont have to fear can't park on their own place. Visitor with car must report first and if there's no empty parking lot available, they have to park outside. My friend also said something like there's no such thing as STNK, because there's a stiker in the front that already contains information required about the owner. If you buy a simcard for your cellphone you must present your identity (in my case, passport) and it'll be recorded, so no 4LAy can change their number as much as they want. There's no need for a person to do the lower job (i.e tukang parkir, penjaga jalan toll, dan obviously di sana juga tidak ada pedagang kaki lima :v) which is good, since people can concentrate looking job with higher need of education and lead to a more educated society. Now for the third, I'm not sure about this, but I think the tolerance among people with different culture or religion is higher. As you have already read from the story above, even an international level show has a break time to respect the praying time. You can also easily find a musholla inside a mall. The female moslem dressed just like how they should dressed, the chinese gals walking around in their oh so fanservicey outfit, and noone make a fuss about that. I think maybe because eventhough there are 3 races there, malay, indian, chinese, but the number is pretty equal, hence no greater majority and oppressed minority. The economic gap is also small. As for the cons, I think its pertty much the same with living on the big city, you don't get to know much about the people around you. So, yeah, if you live just by yourself, you'll feel so alone. You know that typical "a character get sick and everyone comes to his/her place to cook" episode in drama anime? thats because once you get sick, you literally can't go anywhere outside your room (remember that even the nearest warung makan can only be reached by a car :v). Second cons, the automatic system needs you to be an organized person. Once you lost your card/ticket/token, it would took some procedure to retrieve it (for example kalo di sini misalnya karcis parkir ilang, tinggal tunjukkan stnk ke yang jaga. di sana yang jaga parkir aja gak ada :v) So if you're a dojikko who usually forgot or lost your things like someone I know, you might need to have some discipline :3

Ok, I guess that's all I can share to you. Sebelum saya mengakhiri post ini, ada 3 hal yang saya dapat dari trip kali ini. Its all obvious and pretty basic actually, jadi daripada "dapat", lebih pas kalau dibilang "terbukti". One, if you're doing good things to other people, eventually it will come back to you. So do less trolling (except if the person deserve it) and start helping other people in need. Something good will wait for you in the end. Two, naah, forget about two. Eh salah, itu mah kata-kata narrator di Bastion. Two, dont let a good chance passed by. You'll never know what you're going to get. And three, pray. It does work. That's all I can share for you. I hope you can also create a progress on your own achievement. See you at AFA INDO next September.


11 comments:

Anonymous said...

>dat Dizzy
i'm jelly

Featherinne said...

panjang~~~~~~
ah roach beli bola judi!

nabung2 buat AFA

bukan sora said...

>>setelah perjalanan gathering dari surabaya dan bertemu dengan seseorang yang membuat saya ingin membuktikan jika dengan usaha dan kemauan yang kuat (and pray), it is possible to conquer your fear. <<

>> Hopefully she is reading this by now. <<

Baca: setelah perjalanan gathering dari surabaya dan bertemu sora, membuat saya ingin membuktikan jika dengan usaha dan kemauan yang kuat (and pray), it is possible to conquer your trauma with older man because that is the reason you use to reject me.

Hopefully sora is reading this by now.

Zetsudou Sougi said...

wasem
sistem transportasi sana dah kayaka jepang
ditunggu laporan comiketnya :v

Anonymous said...

yo. sebelumnya aku ucapkan selamat, akhirnya bisa traveling demi event yang bergengsi ini, dan semoga ini bukan yang terakhir kali dirimu mencoba traveling ke t4 yang lebih asing lagi :D. and thanks for your tshirt, i love it so much <3. mungkin kalau dirimu gk datang, aku hanya akan datang ke event itu sehari doang, karena seperti yang kamu bilang, gk semua excited untuk ikut acara itu >.< next trip....comiket in japan!! wkwkwkwkwkwk (CU in AFA jkt)

sendaljepit said...

Pffft....
trauma itu lucu yah... looool

Fallendevil said...

>bisa pake persona seenaknya
>nggak nanpa onee-san

KAAAAAAAAAAAAAIIIIIIIIIKKKKKKKKKK


>I recommend you to learn about the national language, when I can talk in Indonesian I feel like all those study from watching SINETRON finally had paid off. I was like lolwuuuuuuuuut

MISTERRRR BULEEEEEEEEEEEEEEEEEE (yang nulis)


>Complete Guide of Mawaru Penguindrum

KENAPA KAU TAK BELIIIIIIIIIII

>Complete Guide of Fractale

LOL NO

>Madoka DX

Thank you sir, My whole lot grateful to you. Padahal aslinya anda udah kelihangan obligasi saat Madoka DX nya kejual. Tapi still anda nawarin saya dan menalanginya ;_; Sekali lagi terimakasih. No homo.


I enjoy this wall of text, thanks for sharing.

Semoga bisa ketemu di AFA ID. Ciao

Neohybrid_kai said...

Anon1: ahaha.wav

Rio: pfft bola judi, nice term (y)

Bukan Sora:
Anda pasti bukan Sora. Otherwise you'll catch the YNfag and dojikko reference. Omae wa dare da?! :battlerpose:

Gecd: thanks, saya aamiini saja deh :3

Anon2: I know you, ahaha.wav
yosh, let us do our best!

sendaljepit: .....choro is that you?

Kouhai:
>KAAAAAAAAAAAAAIIIIIIIIIKKKKKKKKKK
.__.
ah iya benar juga orz
Penguindrum masih bisa nitip sih benernya kalo niat.
See ya (and others) at AFA ID too!

Reon Sastradipraja said...

eh, jadi di hari keduanyah ga ketemu sama Miyuko? :v
#RAEG over 40 juta :V

Agatha Sucintya Devie said...

I'm jelly, really really jelly =.="

Iwashima Fue said...

whaaaww.. Kakak salam kenal! SUgoi ne.. saya, sih ngalah gak ke luar negeri ngan pingin dateng ke AFA September nanti -_-

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime