Friday, November 25, 2011

Contoh cerita romantis yang sudah terkontaminasi elemen Umineko (bagian dua-tamat)

3 comments
Para pembaca yang mengikuti serial ini, maaf sudah membuat anda menunggu lama. Akhirnya bagian kedua sekaligus final dari cerita yang terinspirasi ketika saya sedang terkena sindrom gelombang nostalgia inipun selesai sudah. Namun sebelumnya, saya hendak men-share sesuatu. Sebuah OVA 2 episode, cinderamata dari masa yang sudah berlalu, salah satu pionir dalam love sims yang dulu masih belum menjadi so abundant. Kenalkah anda dengan Tokimeki Memorial? saya termasuk orang yang beruntung karena terhitung satu generasi dengan tokimemo generasi awal, biarpun yang kedua, bukan yang pertama. Tokimeki pertama dirilis tahun '95, dan series keduanya dirilis tahun '99, tepat saat saya masih duduk di bangku SMU. Karena sisi realisme dan purity nya (bahkan di Tokimemo anime (Only Love) pun anda tidak akan menemukan fanservice ecchi), serial ini dengan sukses bisa mengambil hati otaku newbie yang masih belum ternoda seperti saya (waktu itu). OVA yang saya upload ini adalah versi convertan yang bisa dibilang fail karena jadi pecah-pecah. Tapi karena sizenya jadi kecil anda tidak perlu berpikir dua kali untuk mendownload. Jika anda mau mencari versi hiresnya, saya mendownloadnya dari Tanjung Perompak. Cobalah anda tonton barang sejenak dan anda mungkin akan paham bagaimana seharusnya atmosphere bishoujo anime yang menghanyutkan emosi. Selain itu anda bisa mendapat gambaran atau, kalo anda sudah tua, mengenang kembali gaya pacaran tahun '90. No facebook. No internet addiction. Bahkan hape aja cuma anak orang borju saja yang punya.
Eps 1 | Eps 2

Don't have not enough time? need something short to get into the 90's mood? anda bisa coba menonton klip ini atau ini. Yes, thats what we called moe in that era.

Baiklah, sekarang mari kita memasuki bagian lanjutan ceritanya.



In case anda mau baca yang pertama buat merefresh memory atau belum baca, anda bisa membacanya di sini

-


"Maaf. Sudah menunggu lama, ya?"

"Nggak juga, kok."

Sekarang rutinitasku sebelum berangkat menuju tempat les adalah menjemput Shiho. Tentu saja akibatnya aku harus berangkat lebih awal dari biasanya, karena aku harus berbelok dulu menuju rumah Shiho baru ke tempat kursus. Izumi memilih untuk berangkat belakangan dengan sepedanya sendiri. Kami masih tetap bertemu di tempat les, namun akhir-akhir ini dia jarang menyapaku saat berada di tempat les. ..atau aku yang mulai jarang menyapanya?

Neohybrid_kai presents:
Nornir (bagian akhir)

Tapi di luar hal itu, sepertinya dewi Fortuna sedang tersenyum padaku. Atau Aphrodite. Atau Eros. Atau siapalah. Yang jelas sekarang selain seruangan di tempat les, aku dan Shiho juga menghabiskan waktu istirahat dengan makan siang di kantin setiap hari.

Dari percakapan kami akhirnya aku tahu banyak hal tentang dia. Shiho ternyata cukup rame juga orangnya. Aku juga akhirnya tahu kebiasannya ketika marah-marah. Kami berbicara tentang banyak hal. Nilai-nilaiku juga semakin membaik. Jika ada hal yang tidak aku sukai saat ini adalah ketika aku menyadari bahwa ketika dirimu sedang bahagia, waktu berlalu dengan sangat cepat.

Musim gugur, 1999.

"Ninomiya Kouta? Ah, anak kelas 2-4 itu maksudmu?"

"Kudengar dia sekarang jalan dengan Shirayuki"

"Eh? masa?"

"Kudengar mereka satu tempat les juga"

"Hebat juga stateginya"

"Sial. Berarti aku keduluan kalo begini caranya"



***



"Jadi, hubungan kalian sekarang sudah sampai mana hmm? Apa kalian sudah berciuman?"

BRRFFTTTT!! Teh yang berada di mulutku tersembur keluar.

Izumi sekarang sedang berada di kamarku. Tadinya dia cuma ingin meminjam buku tapi akhirnya malah main game dan tidak pulang-pulang.

"Lho, jadi belum ya? Kau ini benar-benar bodoh, Kouta. Bikin jengkel saja"

Izumi menendang musuhnya ke udara lalu menghajarnya habis-habisan.

Ganas sekali.

K.O!! YOU WIN!!

"Oi oi, aku tahu kau suka main game fighting tapi setidaknya pikirkan kondisi joysticknya yang sudah mengenaskan. Tombol kotak dan silangnya sekarang bahkan sudah sekarat gara-gara cara mainmu yang brutal"

"Cerewet, ah"

Izumi meletakkan joysstick ke lantai, menghela nafas panjang lalu menatapku dalam-dalam.

"Dengar, Kouta. Kau harus menyadari posisimu sekarang. Saat ini hampir semua anak kelas dua tahu namamu."

"Apa?"

"Meskipun tidak punya banyak teman, tapi Shiho itu populer. Dan siapapun cowok yang dekat dengan dia pasti akan ikut kena jadi bahan omongan juga."

"Oh. Lalu memangnya kenapa kalau begitu?"

"Kau ini masih belum paham juga ya. Tindakanmu sekarang ini bagaikan meniup terompet pertanda mulai perang ke semua orang yang menjadi rivalmu. Dulu mereka semua menjaga jarak karena bagi mereka Shiho itu bagaikan seorang idol yang menjadi milik semua orang. Tapi setelah ini mereka semua pasti tidak ragu lagi untuk memulai pendekatan seperti yang kau lakukan"

Eh?

"Dan satu lagi" Izumi berkata sambil membereskan buku-buku yang hendak dia pinjam, "Cewek seperti Shiho itu tidak akan pilih-pilih dalam berteman. Dia baik kepada siapa saja. Sekarang mungkin kamu masih berada di atas angin karena kedudukanmu hanya satu-satunya di depan dia, tapi jangan kira hal ini akan bertahan lama. Jika kau tidak menyatakan perasaanmu, cepat atau lambat, orang lain akan merebutnya darimu."

Izumi berbalik meninggalkanku yang masih termangu.

"Pikirkan kata-kataku baik-baik. Aku pulang dulu."


***


Malamnya aku memikirkan kata-kata Izumi. Mungkin memang ada benarnya juga. Tapi kau tidak tahu, Izumi, soal menyatakan perasaan ini bukan hal yang mudah. Aku harus mempertaruhkan kedekatanku dengan Shiho selama ini. Kalau dia tidak menyambutnya, kami tidak akan bisa kembali lagi seperti semula...


***



"...ta, Kouta!"

"Eh. Ya?"

""Nah, kan. Begitu lagi. Akhir-akhir ini kamu sering banget kaya gini. Pas aku nerangin soal pelajaran kemarin juga kamu nggak pernah menyimak."

Ini semua gara-gara Izumi sialan itu. Karena omongan dia, aku jadi kepikiran terus. Arghh, sial.

"Ah, sori sori. Oh iya, ngomong-ngomong hari ini jadwal les, kan?"

Shiho terdiam. Ekspresi mukanya tiba-tiba berubah.

"...um, soal itu. Aku hari ini.. ijin tidak bisa masuk"

"Eh? memangnya ada apa?"

"Um.. aku ada kegiatan lain hari ini. Mendadak sekali"

"Kegiatan apa?"

"Ada deh. Hahaha"

Aku memutuskan untuk tidak bertanya-tanya lagi. Kalau kata-kata sakti itu sudah dikeluarkan, bahkan detektif ternama dari Baker Street pun tidak akan bisa menginterogasi lebih jauh.



***



Bel tanda pulang berbunyi. Aku bersiap-siap untuk pulang. Di luar dugaan di depan pintu aku bertemu Izumi yang hendak lewat depan kelasku.

"Hei."

"Hei"

...

Izumi menatapku sebentar lalu meneruskan langkahnya. Karena hari ini aku tidak menjemput Shiho di kelasnya jadi akupun berjalan ke arah yang sama dengan Izumi. Kami akhirnya berjalan beriringan diantara riuh rendahnya keramaian suara pulang sekolah. Tapi tidak ada satu suarapun yang keluar diantara kami. Izumi terdiam. Demikian juga denganku. Aneh sekali. Rasanya tidak seperti berjalan dengan Izumi.

...


..


Akhirnya dia yang pertama membuka mulut.

"Kau.. tidak pulang dengan Shiho?"

"Tidak", jawabku. "Hari ini dia ada urusan."

...



Kami terdiam lagi. Tiba-tiba jarak menuju ke gerbang sekolah terasa sangat jauh.


"...urusan, ya...  ..heh."

Kenapa dengan intonasi seperti itu?

"Dengar... Kouta," katanya, "....... ini sebenarnya tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak suka ikut campur dengan masalah..   ...kalian."

?

"Kouta, kau sedang ada masalah dengan Shiho?"

"...masalah? Tidak."

Izumi menghentikan langkahnya. Matanya menatapku tajam.

"Jangan bohong! Kau kira aku tidak tahu apa yang terjadi?! Shiho cerita padaku. Dia bilang akhir-akhir ini kau dingin padanya. Apa yang terjadi padamu, ha?! Apa yang harus kubilang padanya?"

Suara Izumi terdengar gemetar.

Shiho berkata begitu pada Izumi? jadi selama ini.. dia..

"JAWAB, NINOMIYA KOUTA! Apa sebenarnya maumu? Apa harus kuberitahu dimana Shiho sekarang?"

"Dimana.. ? apa maksudmu.. Izumi..?"

Izumi mengalihkan pandangannya ke tanah.

"..tadi.. saat keluar kelas, aku melihat kak Shindou berdiri di dekat pintu. Mungkin dia sedang menunggu seseorang.."


!!!


"Tidak mungkin..."

Kakiku bergerak hendak melangkah kembali menuju kelas, namun baru satu langkah, gerakanku terhenti. Sesuatu menarik lengan bajuku.

"Jangan pergi..."

Izumi..  menangis?

"Ini semua.. tidak akan berakhir dengan manis. ..kumohon.. kita pulang berdua saja seperti dulu,   ..ya?"

Gravitasi di tempatku berpijak bagaikan dilipatgandakan puluhan kali.

Izumi melangkah, sekarang keningnya tepat menyentuh punggungku. Tak ada orang lain di sekitar tempat kami berdiri. Hanya suara desiran angin dan sayup-sayup teriakan anggota klub atletik dan olahraga yang sedang berlatih terdengar dari kejauhan.

"Kouta.. aku suka kamu. Suka sekali... "

Aku terdiam.

"Dulu aku menganggapmu teman. Kita melewati banyak hal bersama tapi entah sejak kapan, tiba-tiba saja perasaan ini..."


...

Kenapa jadi seperti ini? Apa yang harus kulakukan?

Izumi terdiam. Tapi aku masih mendengar isaknya sesekali di belakangku. Jika aku melangkah menuju kelas, sebuah masa depan yang tidak kuketahui menunggu. Shiho.. Ataukah sebaiknya aku berbalik dan melangkah menuju gerbang sekolah bersama Izumi? Pilihan manakah yang sebaiknya kuambil? Aku melihat ke atas. Langit senja yang berwarna orange waktu itu, sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakannya.


**


Kono story wa goran no sponsor no teikyou de okurishimasu





Tokimeki Memorial
Membuat anda mengingat semua hal yang ingin anda lupakan



Wedang Jahe Kalengan
Minuman resmi Partai Pria-Pria Kesepian
Menghangatkan badan, hati dan jiwa



**


Aku berbalik menatap Izumi. Kedua tanganku memegang bahunya.

"Kouta?"

"Izumi.. maaf. Karena kebodohanku, aku membuat dia berpikir yang tidak-tidak. Perasaan ini harus kusampaikan padanya. Tidak peduli apapun jawabannya.. aku harus menemui dia sekarang."

Izumi terkejut. Namun beberapa saat kemudian dia kembali pada ekspresinya semula. Dia berusaha untuk tersenyum.

BUUGGG!!!

Tanpa ada aba-aba, sebuah pukulan menghantam pipi kiriku.

Ughh..

"Yang barusan itu.. karena kau telah membuat sahabatku bersedih."

"Izu-"

BUUUGGHHH!!!

Sebuah pukulan lain melayang. Kali ini mengenai pipi kanan. Intensitasnya jauh lebih kuat dari sebelumnya hingga membuatku tersungkur ke tanah.

"Dan yang barusan ini.. karena telah membuatku patah hati."

Izumi mengelap air mata dengan punggung tangannya.

"Sekarang, pergilah. Pergi! Temui dia!"

Aku berlari sekuat tenaga menuju kelas 2-2.



***



Ruang kelas. Sinar matahari senja menyeruak masuk dari jendela. Menimpa semua yang ada di dalamnya. Suatu saat nanti pemandangan yang biasa kau lihat setiap hari ini akan menjadi sesuatu yang hanya bisa kau putar  di dalam kenangan. Meja-meja. Bangku. Papan tulis. Rak. Pot bunga. Sapu. Bungkus makanan di kolong meja. Tulisan di papan tulis. Coretan contekan di meja. Gumpalan kertas berisi puisi norak di bawah kolong.

Dan diantara semua itu, dia berdiri.

Shiho berdiri di sana. Sorang cowok tengah berbicara di depannya. Orang itu pastilah kak Shindou. Suara langkah kakiku yang berlari menghentikan pembicaraan mereka. Tidak ada waktu lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.

"Shiho!!"

Dia tampak terkejut dengan semua ini.

"Y-ya?"

"Maaf selama ini aku telah membuatmu kesal. Tapi itu semua karena aku selalu memikirkanmu. Aku suka kamu. Maukah kau jadi pacarku?"

"Eh?"

"K-kalaupun kakak kelas yang di situ sudah menembakmu duluan, kumohon pertimbangkanlah kembali. Aku akan menunggu jawabanmu!"

"Eeeh?"

Aku mengalihkan pandanganku ke orang satu lagi yang berdiri di sebelahnya.

"Hey, kau. Aku sudah menyukai Shiho sejak pertama kali bertemu dengannya. Jadi jangan coba-coba mendekatinya ya!"

Muka Shiho berubah menjadi semerah tomat. Di luar dugaan, kakak kelas yang sejak tadi terbengong melihat adegan kami berdua tiba-tiba tertawa keras.

"BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"

Dia tertawa tanpa berhenti-berhenti.

Eh? Eh? apa yang sebenarnya terjadi? sekarang malah aku yang bingung.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu" kata kakak kelas itu sambil melambai-lambaikan tumpukan kertas yang ada di tangannya.

"Ah, tunggu, kak Shindou. Bagaimana dengan formulir yang lainnya?"

"Hm? Tidak perlu. Ini saja sudah cukup" Dia melangkah menuju pintu keluar, namun tiba-tiba berhenti sejenak di dekatku.

"Keberanianmu boleh juga", dia menepuk pundakku lalu memandang Shiho. "Kau harus cepat membalasnya lho. Dia sudah berjuang sampai sejauh ini. Nah, aku tinggal kalian berdua dulu ya, selamat bersenang-senang. Oh iya, tapi jangan lama-lama, soalnya sebentar lagi penjaga sekolah akan datang untuk mengunci ruangan. Ciao~"

Lalu cowok itupun berlalu meninggalkan kami berdua. Aku memandang Shiho. Wajahnya yang hampir semerah tomat sekarang sudah berganti level mendekati merah cabe.

....


..

Sinar matahari senja masih menerangi ruangan. Untuk beberapa saat tidak ada suara diantara kami berdua.

"...maaf" kataku, "aku tadi tanpa pikir panjang.."

"Untuk apa minta maaf, dasar bodoh."

Eh?

"Dulu, ada seorang gadis yang suka dengan kakak kelasnya."

"Eh? Apa maksud-"

"Dengarkan dulu cerita ini sampai habis"

Aku menurut.

"Tapi karena gadis itu tidak pandai berbicara, jadi yang dia lakukan hanya memandangnya dari jauh. Tapi suatu ketika, keberuntungan menghampirinya. Dia tidak sengaja mendengar percakapan senior yang disukainya itu. 'Ah, aku ingin makan bekal buatan tangan, bosan rasanya makan di kantin tiap hari' begitu katanya. Gadis itu merasa senang sekali. Tapi kemudian dia sadar. Bagaimana dia akan memberikan bekal bikinannya jika dia sendiri tidak bisa memasak? Jadi diapun akhirnya memutuskan untuk mulai berlatih memasak. Tapi ternyata memang tidak mudah. Berkali-kali dia menemui kegagalan. Tapi dia tidak menyerah. Pada akhirnya dia berhasil membuat bekal makan siang. Gadis itu merasa sangat senang. Maka pada esok harinya, dia bangun pagi-pagi sekali, lalu mempersiapkan bekal dengan sangat hati-hati. Penantiannya menunggu bel istirahat berbunyi terasa sangat lama. Akhirnya bel itupun berbunyi dan iapun dengan penuh semangat mencari orang yang hendak dia beri bekal miliknya. Dia melongok ke dalam kelas, tapi tidak menemukannya. Dia mencari ke kantin, tapi tidak menemukannya juga. Dari ujung ke ujung sekolah ia telusuri, namun orang itu tetap tidak dia temukan."

Shiho menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya.

"Sampai akhirnya dia ingat satu tempat yang belum ia periksa. Mungkinkah orang itu ada di atap? dengan langkah yang berat karena terbebani harapan dan putus asa, gadis itu menapaki anak tangga. Tap. tap. tap. Akhirnya ia pun sampai di atap. Dengan hati berdebar-debar, ia melongok lewat pintu. Orang yang dicarinya memang ada di situ. Tapi dia tidak bisa meneruskan langkahnya. Di tangan orang itu terdapat sebuah kotak makan siang. Di sebelahnya duduk seorang gadis dengan wajah yang berseri-seri. Makan siang itu kelihatannya sangat enak. Orang itu terlihat sangat menikmatinya. Gadis itu mundur perlahan, lalu berbalik. Tak ada yang mendengar langkah kakinya. Dengan perasaan kecewa yang mendalam, dia kembali ke kelasnya dan memakan bekalnya, sendirian. Seharusnya bekal hari ini adalah masterpiece nya. Tapi saat dia memakannya, bekal itu terasa tidak enak. Sama sekali tidak enak. Dia bersyukur tidak jadi memberikan bekalnya. Makanan ini sama sekali tidak pantas untuk dimakan orang lain, batinnya. Sejak saat itu, dia tidak pernah mencoba membuat bekal lagi..."

"Shiho..."

"Orang yang baru saja keluar dari kelas tadi adalah kakak kelas dalam cerita barusan. Sebenarnya gadis dalam cerita tadi sempat bimbang, namun tiba-tiba saja datang seseorang yang melakukan hal di luar dugaan"

"Seseorang? maksudmu, aku? itu.. yang barusan tadi?"

Kata-kataku berhamburan seperti kotak berisi sereal yang tumpah.

Shiho tersenyum.

"Yang barusan tadi, tulus, kan?"

"Tentu saja!"

Tanpa sadar aku berteriak.

Shiho tertawa.

"Aku bahkan belum pernah melihat kak Shindou tertawa sekeras itu. Kouta, kau benar-benar membuatku kaget."

"Eh? masa? aku yang harusnya kaget. Kau tiba-tiba bilang tidak masuk les. Lalu tiba-tiba di sini bersama kakak kelas tadi. Jantungku hampir copot waktu lihat yang tadi itu, tahu?"

"Pffttt. Aku kan memang janjian ketemu di sini, karena kak Shindou yang jadi panitia kontesnya."

"Kontes apa?"

"Ya kontes menulis. Aduuh, Kouta, kau ini benar-benar tidak pernah ndengerin kalau aku ngomong"

Astaga.. jadi.. selama ini...

"Aku kira aku tidak akan ketemu lagi dengan kak Shindou. Tapi ternyata saat aku mengambil formulir beberapa hari yang lalu, dia adalah salah satu panitianya. Aku kaget sekali. Dan tidak seperti dulu, berkat kamu dan Izumi, aku bisa ngobrol dengan lancar dengan dia. Tapi saat dia berkata hendak mengambil formulirnya di kelasku langsung setelah sekolah usai, aku jadi bimbang, tapi.. ah sudahlah. Pokoknya sekarang kamu harus bertanggungjawab"

"He? bertanggungjawab bagaimana?"

Shiho memegang kedua tanganku erat-erat.

"Karena kata-katamu tadi, aku jadi harus memberikan jawabannya sekarang."

"J-jadi.. ?"

...

Shiho tidak menjawab. Dia hanya mengangguk perlahan.

Saat itu aku merasakan dorongan yang kuat untuk memeluknya. Tidak, lebih tepatnya ketika aku sadar aku sudah mendekapnya erat-erat. Semua emosi yang pernah kurasakan dan kenangan yang pernah kualami bagaikan tercampur aduk menjadi satu. Ah, jadi begini rasanya ketika semua perjuanganmu terbayar...


*credit rolls + bgm lagu yang oh so sweet*




- HAPPY END (?)






Dengan ini, semuanya akan baik-baik saja, bukan?

Plok. Plok. Plok. Plok. Plok.

..suara tepuk tangan? aku tidak salah dengar, kan? siapa yang..

"Kyoko-sensei?!"

Shiho yang pertama sadar. Dia langsung melepaskan diri dari pelukanku dengan tergesa-gesa.

Aku mengarahkan pandangan ke sumber suara. Mustahil! kuira semua murid dan staff pengajar sudah meninggalkan sekolah. Tidak.. mungkin beliau sedang akan mengunci ruangan kelas seperti kata kakak kelas tadi.

Wanita dengan rambut panjang diikat dan kacamata itu tersenyum padaku.

"Wah wah, sepertinya aku merusak sebuah adegan yang romantis, ya?"

Dia berjalan mendekat. (bgm: that scary thrilling tunes from higurashi/umineko/sejenisnya)

Tunggu. Tunggu sebentar. Ada yang salah di sini. Seperti.. sesuatu yang tidak pada tempatnya. Orang ini.. wajahnya sangat familiar, tapi dia bukan guru. Aku yakin soal itu.

Kyouko-sensei menatapku dengan senyum yang aneh.

"Bagaimana? sepertinya kau sangat menikmati pertunjukannya. Tapi sayang, jam pakai ruang karaokenya sudah habis, dan kami tidak bisa memberikan waktu tambahan karena akan berbahaya terhadap keselamatan diri anda, jadi dengan terpaksa anda harus keluar dari sini sekarang juga, ..okyakusama."

Dia membawa sesuatu di balik tangannya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.

Secara refleks aku melangkah mundur. Orang ini berbahaya.

"Shiho, ada yang tidak beres di sini. Kita harus.."

Tidak ada jawaban..

Aku menoleh ke samping.

Shiho..  ..tidak ada? Bagaimana mung-

Ketika pandanganku kembali ke arah depan, wanita itu sudah berada di depanku. Sangat dekat.

"Hey, mau apa kau?! apa yang-------"


AAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGGGHHHHHHHHHHH!!!!!!!!






...


..


.



...



...


"Ugh... "

Suara-suara. Aku pernah mendengar bunyi-bunyi itu. Seperti dengungan halus..? Tidak, aku pernah mendengar suara itu sebelumnya. Dan suara keramaian itu.. Aku ingin menjerit tapi tidak ada suara yang keluar. Rasanya semua energi di tubuhmu menguap bagaikan air di gurun pasir.

"Dia sudah sadar."

Ada seseorang di luar sana. Dia? siapa yang dia maksud? Pandanganku yang masih gelap sedikit demi sedikit mulai terbuka.

"Tahanan #13642 telah kembali memasuki fase nol. Monitoring condition. Detak jantung kembali ke normal. Tekanan darah normal. Scanning brain pattern. Tidak mendeteksi adanya anomali. Gelombang otak normal. Sensei?"

Terdengar suara wanita yang famliar.

"Matikan system. Buka casketnya."

"Siap. Open synchronizing. Nornir system beta safety phase on loading...
Loading completed. Shutting down."

Arrghhh!!

Sesuatu terasa seperti dicopot dari kepalaku. Otakku serasa mau meledak. Nafasku sesak. Kurasakan bajuku basah kuyup karena keringat dingin yang mengalir deras. Butuh waktu bermenit-bermenit hingga aku bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.

Di mana ini?

Aku melihat langit-langit yang gelap. Badanku terbaring di sebuah tempat tidur yang aneh. Di kepalaku terpasang sebuah benda dengan kabel-kabel yang saling terbelit. Dengungan halus dari benda aneh itu akhirnya berhenti. Aku bangkit dari tempat tidur.

Seorang wanita dengan rambut diikat dan berkacamata memakai jas lab melangkah mendekat. Aku sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat. Dia tersenyum melihat kebingunganku.

"Selamat datang kembali, tahanan #13642. Apakah kau menikmati pertunjukannya?"
(bgm yang pas: Bantorra OST - The Association)

Apa? tahanan? siapa? kenapa aku bisa ada di sini?

"Siapa kau? di mana ini?!"

"...I see. Halusinasi, sepertinya. Mungkin kita memberinya dosis terlalu tinggi. Sasahara, bawakan aku laporannya"

"Baik, sensei."

Seorang wanita lain berjalan mendekat. Dia memakai pakaian yang sama. Dia nampak lebih muda. ...wajah itu?!

"Izumi?!!"

Gadis itu terperanjat. Dia menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti. Kemudian dia berpaling dan menyerahkan setumpuk kertas pada wanita pertama. Wanita itu mengangkat tangannya seperti mengisyaratkan semuanya untuk diam. Dia lalu membaca kertas-kertas itu dengan seksama.

"Izumi, kenapa kau bisa ada di sini? Di mana Shiho? Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Tempat apa ini?!"

Gadis itu masih terdiam dengan tatapan tak percaya. Wanita berkacamata itu menatapku dengan pandangan menyelidik.

"Begitu.. hm.. sepertinya aku sedikit paham sekarang. Ini bisa menjadi data yang bagus."

Aku sudah tidak tahan dengan semua ketidakjelasan ini.

"HEY!! Kalian tidak dengar?! Aku bilang tempat apa ini? kenapa aku bisa ada di sini?!"

Wanita berkacamata itu menatapku tajam.

"Ini akan menjadi sedikit susah. Tidak kuduga efeknya akan terlalu kuat seperti ini." katanya lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi baiklah, akan aku jelaskan. Namun sebelumnya, ada yang harus kutanyakan padamu. Siapa dirimu? dan tanggal berapakah sekarang?"

"Apa maksudmu? aku Ninomiya Kouta, pelajar kelas 2-4 SMU Tohka. Sekarang tahun 1999."

"AHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHA" Wanita itu tiba-tiba tertawa. Mungkin dia sudah gila. Tapi aku melihat gadis satu lagi yang di belakangnya, wajahnya menjadi pucat pasi.

(bgm yang pas: Bantorra OST - The Librarians, Hamyuts, Bloodphilia)

"Dengar baik-baik, tahanan #13642, aku akan langsung saja. Saat ini, tahun 20xx, kau adalah seorang kriminal terpidana mati. Kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap seorang wanita, lalu melakukan percobaan bunuh diri. Aku tidak tahu detail ataupun motifmu, karena aku tidak berminat. Tapi yang jelas kau harus berterima kasih pada kami, scientist guild, yang telah membebaskanmu dari penjara dengan tebusan yang mahal, setelah membaca reportase dari psikolog pribadimu. Kami merasa jika kau adalah orang yang paling cocok untuk mendapat kehormatan menguji penemuan terbaru kami."

Dia menunjuk ke sebuah mesin yang baru kusadari ada di belakangku. Benda alien berwarna hitam mengkilat itu memancarkan aura yang membuat perasaanku tidak enak.

"Kami menamakannya Nornir. Cantik bukan? Lucid dream inducing peripheral. Riset kami berfokus pada simulasi dan rangsangan. Kami adalah orang-orang yang akan mengatur perasaan buatan yang dihasilkan dari logika. Artificial emotion. Begitulah kami menyebutnya. Tentu saja ada banyak pilihan karena jumlah emosi manusia ada bermacam-macam, meskipun bagi kami semuanya sama saja. Tapi tidak sulit bagi kami memilih manakah yang akan menarik perhatian pasar."

Kepalaku sakit..

"Nafsu seksual. Di jaman ini, perasaan manusia telah tertekan sedemikian rupa oleh kecepatan hidup. Waktu berlalu dengan lebih cepat, perputaran informasi telah berada di level yang lebih tinggi dan semakin tinggi. Manusia berpacu dengan waktu. Mengikuti emosi hanya akan membuang umur dengan sia-sia. Namun kebutuhan untuk seks akan selalu ada, karena dorongan itu tidak bisa lepas dari bagian hidup manusia. Kami, scientist guild, atas nama ilmu pengetahuan, akan menyelamatkan kalian dari beban itu. Black Lotus, mesin buatan kami, dengan menggunakan engine Nornir yang telah disempurnakan, membuat manusia dapat memuaskan nafsu sexual mereka mereka, kapanpun dan dimanapun mereka mau, lewat simulated lucid dream. Tidak akan ada kejahatan seksual, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. Dan efisien."

Gila. Orang-orang ini sudah gila. Aku tidak bisa mengikuti apa yang mereka omongkan.

"Ah, benar. Satu lagi hal yang harus aku sampaikan", dia mengambil selembar kertas dari setumpuk kertas-kertas di tangannya lalu menunjukkannya padaku. Sebuah foto laki-laki yang sudah berumur tergambar di kertas itu. Pria itu mengenakan pakaian yang sama denganku.

"Lihat baik-baik, tahanan #13642, ini adalah dirimu. Foto ini diambil ketika pertama kali kau tiba di sini."

Tidak mungkin...

Denyutan di kepalaku bertambah parah.

"Baiklah, masa percobaan pertama telah usai, kau boleh kembali ke ruanganmu, tahanan #13642. Sasahara, antar dia kembali ke sel nya. Dia mungkin tidak hafal dengan layout bangunan ini karena memory shock yang barusan dia alami."

Gadis yang mirip dengan Izumi itu melangkah maju.

"....jangan mendekat!"

Langkahnya terhenti. Dia sekarang terlihat bingung.

"KUBILANG JANGAN MENDEKAT!! Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kalian lakukan. Tapi jangan harap aku mau ikut ke dalamnya. Izumi! Aku tahu kau pasti Izumi! Apa yang terjadi dengan Shiho?! ...oh, aku tahu sekarang. Ini pasti mimpi. Ya, aku hanya sedang bermimpi buruk.."

Gadis itu menatapku lalu berganti menatap wanita itu dengan tatapan bingung.

"Sensei?"

Wanita berkacamata itu mengernyitkan dahi, lalu membolak-balik kertas di tangannya seperti seorang guru waktu memeriksa lembar ujian murid-muridnya.

"Shiho..?  ..aneh. Tidak ada karakter bernama Shiho di dalam entry scenario ini. Kau, coba jelaskan seperti apa orang yang kau sebutkan itu."

"Shiho.. dia gadis yang cantik. Kami berangkat les bersama-"

"Hahahahahahaha. Penjelasan macam apa itu? aku ingin sesuatu yang konkrit. Potongan rambutnya, bentuk tubuhnya, fetish yang dimilikinya. Tentunya kau masih ingat detail adegannya, bukan?"

"Adegan?"

Sepertinya dia mulai kehabisan kesabaran.

"Adegan seksnya. Black Lotus dibuat untuk mensimulasikan itu. Bisa dibilang kau adalah orang yang beruntung karena menjadi orang pertama yang mencoba eroge paling realistis yang pernah diciptakan di muka bumi."

"Apa?"

"Dan bukan cuma itu. Sebagai rasa terima kasih dari kami, kami memutuskan untuk memberimu sedikit hadiah dengan meninggikan level scenarionya. Mesin ini tidak dapat menampung lebih dari dua entity buatan per adegan, tapi kami memutuskan untuk memberimu empat entity perempuan dalam scenario ini. Jadi beritahu kami, diantara empat gadis yang terlibat dalam adegan fivesome, bagaimanakah ciri-ciri dari karakter yang bernama Shiho ini?"

"KALIAN GILA!! KALIAN BENAR-BENAR SUDAH GILA! SHIHO BUKAN KARAKTER FIKTIF! DIA BENAR-BENAR NYATA!!"

Aku hendak melangkah masuk kembali ke dalam mesin itu, aku tidak peduli ini mimpi buruk atau mungkin diriku terlempar ke sebuah masa depan atau dunia paralel, yang jelas aku harus kembali sekarang, dan kurasa mesin inilah jawabannya. Aku harus kembali sebelum batas antara dunia fiksi dan realita mulai terbalik dan membuatku gila.

"Berhenti di situ, tahanan #13642. Apa yang hendak kau lakukan? Kau harus kembali ke sel mu sekarang juga."

"Aku harus kembali. Tempatku bukan di sini."

"Haah? kau masih berhalusinasi rupanya. Apa yang kau lihat di dalam mimpimu adalah sebuah simulasi. Sekarang jadilah anak baik dan kembalilah ke kamar. Black Lotus masih belum stabil sehingga membutuhkan waktu cooling down cukup lama untuk bisa dipakai lagi. Jangan khawatir, jika kau benar-benar ingin mencobanya lagi, kami akan memanggilmu kemari jika dibutuhkan"

Tapi aku tetap melangkah menuju ke mesin alien itu.

"..tch, inilah kenapa aku tidak suka laki-laki. Mereka semua keras kepala."

Wanita itu mengangkat tangannya hendak menekan sebuah tombol pada jam tangannya.

!!!!

Bagaikan dibantu oleh sebuah kekuatan misterius, tiba-tiba badanku bergerak dengan cepat ke arah wanita itu. Sebelum dia sempat menekan tombol alarm pada jam tangannya, aku sudah mengunci gerakannya.

tunggu..
perasaan ini....

...!!

"jangan mendekat jika tidak ingin kepala gadis ini meledak"

..


...




Gadis dengan wajah mirip Izumi itu juga hendak menekan tombol di jam tangannya, namun perintahku menghentikan niatnya.

"Hidupkan mesinnya kalau tidak ingin leher orang ini patah!" kataku dengan nada mengancam.

Gadis itu memandangku dengan tatapan tidak percaya. Tangannya yang gemetar meraba-raba permukaan meja. Ketika dia mengangkat tangannya, aku dapat melihat sebuah benda mengkilat terarah padaku. Sebuah pistol. Air mata tampak mengalir di wajahnya.

"Izumi...?!!"

"A-aku.. aku bukan Izumi yang sama dengan yang ada di pikiranmu!!" jeritnya kecewa saat menarik pelatuk mesin pembunuh itu.

DOR!!!!



- BAD END (alternative)



"A-aku.. aku bukan Izumi yang sama dengan yang ada di pikiranmu!!" jeritnya kecewa, namun gerakannya terpotong suara dari wanita yang aku sandera.

"JANGAN TEMBAK! Kau mau menghancurkan masterpiece buatanku ini jika pelurumu meleset?!"

"..t-tapi, sensei.."

"Letakkan benda itu, Sasahara. Kehilangan satu kelinci bagi kita tidak masalah. Kita masih punya selusin kelinci yang bisa menggantikan si bodoh ini. Turuti kata-kataku."

(bgm: Bantorra OST - suara piano itu.mp3 aka People in Misfortune)

Gadis itu menurunkan tangannya perlahan lalu menjatuhkan pistol itu ke lantai. Dia berjalan menuju ke sebuah panel kaca lalu menyentuh touch screen di samping panel itu. Setelah beberapa gerakan, panel kaca itu terbuka. Sinar redup berpendar dari bawah menerangi panel itu, memperlihatkan serangkaian tombol dan tuas di dalamnya. Aku tersenyum menyeringai. Gadis itu lalu menekan kombinasi tombol bagaikan seorang novelist yang mengetik huruf-huruf dengan keyboard. Lampu pada mesin alien di belakangku menyala. Bunyi dengungan halus yang familiar terdengar, bagaikan monster yang terbangun dari hibernasinya.

Gadis itu berpaling padaku. Air mata di pipinya masih belum mengering.

"Lepaskan Sensei. Hanya Sensei yang bisa melakukan setting penyesuaian akhir." Kata-katanya tegas namun menyiratkan kesedihan di dalamnya.

Aku melepaskan wanita itu. Dengan tenang dia melangkah seolah tidak ada pernah terjadi apapun sebelumnya. Gadis yang mirip Izumi itu mundur perlahan. Wanita itu sekarang berdiri di depan panel kaca dan mulai menekan tombol-tombol dan menggerakkan tuas di dalamnya. Lampu-lampu indikator di sekeliling tempat tidur kapsul mulai menyala hampir serempak.

"Silahkan," katanya memandangku dengan senyuman yang tidak kumengerti artinya.

Aku melangkah masuk ke dalam kapsul itu.

"Ini bukan jebakan, 'kan?"

"Tentu saja tidak. Justru aku yang harus berterima kasih karena kau mau menguji ketahanan mesin dan.. keselamatan pemakainya." dia berpaling, "Sasahara, pasangkan equipment nya pada kelinci kita yang pemberani"

Gadis itu membantuku memasang peralatan aneh di beberapa bagian tubuhku. Setelah semuanya selesai, dia menatapku dalam-dalam. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Kemudian dia berpaling dan menganggukkan kepala pada wanita itu. Lalu beranjak pergi.

Aku membaringkan badan. Terdengar suara desisan pelan saat kapsul kaca itu menutup. Mengurungku bagaikan sebuah peti mati. Mataku menatap ke langit-langit.

"...sinkronisasi akan memakan waktu 3-5 menit. Lemaskan badan dan kosongkan pikiran anda... " sebuah suara terdengar bagaikan dari kejauhan. Tapi telingaku tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Telingaku dipenuhi sayup-sayup teriakan anggota klub atletik yang berlatih di lapangan dan bisikan lembut angin musim gugur.

"Ah... sebentar lagi.. sebentar lagi.. aku akan kembali ke sana. Tunggulah aku.. Shiho.."


Lalu semua menjadi gelap.




END

- epilog (bgm: Bantorra OST - suara piano itu yang lain lagi.mp3 aka Lamentum)

Gadis itu masih menangis di atas kursinya. Kedua tangannya bertumpu pada meja, menutupi wajahnya. Wanita itu menepuk pundak gadis itu perlahan. Lalu menghela nafas panjang.

"Tabahlah. Aku tahu ini berat bagimu, Sasahara Izumi. Diantara semua asistenku, kaulah yang paling dekat dengan #13642 sebagai pengawas pribadinya. Seharusnya sejak awal aku tidak mengajakmu bergabung dalam project ini. Kau masih terlalu muda dan emosional."

Gadis itu hanya terdiam. Lalu, seakan telah menghimpun tenaganya kembali, dia berkata di sela-sela isak tangisnya.

"Aku.. terkejut waktu pertama kali dia memanggil namaku. Itu pertama kalinya dia memanggilku dengan namaku. Aku kira.. " dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Lalu saat dia keluar dari mesin itu... aku melihat sesuatu yang berbeda dalam dirinya. ...mata yang penuh semangat hidup.. aku tidak tahu apa yang dia lihat di sana.. belum pernah sebelumnya aku melihat dia seperti itu.."

Wanita berkacamata itu mendengarkan Izumi dengan seksama.

"Semangat hidup, ya... " dia mengalihkan pandangan ke layar yang memonitor kondisi pemakai. Beberapa tulisan berwarna hijau mulai berganti menjadi merah dan berkedip-kedip. "Ironis sekali... " lanjutnya.


Hening.



Izumi masih terduduk di kursinya dalam posisi yang sama.  Perasaannya bercampur aduk. Di meja yang sama, di kursi seberang, wanita itu membolak-balik tumpukan kertas yang berisi data-data di depannya.

"Nonomiya Kouta.. " tiba-tiba wanita bergumam pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.." kata wanita itu lagi.

Dia berjalan menuju ke sebuah meja. Seperangkat komputer terpasang di atasnya. Dia menghidupkan benda itu lalu mulai mengoperasikannya. "..confidential report.. hmm.. sebentar, aku lupa sandinya..  ..kalau tidak salah.. ah!" Dia melanjutkan membuka dan mengamati file-file yang ada di dalamnya.

"..tidak mungkin.. Sasahara! coba kemari, lihat ini!"

Izumi mengangkat kepalanya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang basah.

Sasahara Izumi berjalan dengan gontai menuju ke meja komputer. Namun saat melihat apa yang ada di layar monitor itu, mukanya berubah menjadi perpaduan antara ekspresi terkejut dan bingung.

"Ninomiya Kouta. Salah satu yang dipilih masuk ke dalam tim manusia pertama percobaan mesin waktu ZERN. Dikirim ke tahun 1999 sebelum terjadi pergantian millennium. Eksperimen gagal. Keberadaan sekarang tidak diketahui. Jasadnya tidak pernah ditemukan. ..Sensei?!"

"Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan. Lagipula mind time travelling, atau yang dikenal dengan time leap, saat ini masih hanya sebatas teori saja.."

Izumi menatap ke arah monitor satu lagi yang berada di seberang. Hampir semua tulisan hijau sudah berubah menjadi warna merah. Tidak ada yang bisa dia lakukan.

"Sensei.. apakah sensei percaya pada keajaiban?"

Wanita berkacamata itu menjauhkan jarinya dari keyboard, lalu memandang ke langit-langit.

"Sebagai ilmuwan, aku hanya percaya pada penjelasan. Di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Tapi itu bukan berarti karena tidak ada penjelasan. Mereka yang tidak bisa menjelaskan tapi tidak bisa mencari penjelasan akan menamakan hal itu dengan 'hukum alam' atau, dalam tingkat tertentu, 'takdir'. Tapi aku tidak demikian. Meskipun sama-sama percaya akan adanya kepastian di balik sebuah hal yang terlihat kebetulan, tapi aku menghendaki pembuktian. Dan itulah yang aku cari sampai sekarang."

"Aku.. mungkin telah berkhayal. Tentang sebuah kebetulan yang nyaris mustahil. Shiho dan Kouta.. jika dua orang ini benar-benar ada di tahun 1999.. dan mesin ini.. karena sebuah kesalahan yang ajaib, telah mengirimkan kesadaran pemakainya melintasi ruang dan waktu.. "

Wanita itu berdiri dari kursinya. Dia memeluk gadis itu erat-erat. Semua tulisan di monitor pemantau sudah berubah menjadi merah, lalu satu persatu berangsur-angsur menghilang, dan akhirnya lampu-lampu pada kapsul itu padam. Dengungan pada mesin itu berhenti.

"Tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengubah pilihan seseorang yang tidak mau berubah. Kita semua berjalan di jalan kita masing-masing. Kadang jalan milik kita bersimpangan dengan orang lain. Lalu terpisah. Beberapa bertemu kembali, tapi sebagian besar tidak. Dan tak ada yang bisa kau lakukan kecuali tetap berjalan. Kau tidak bisa melangkah mundur atau bahkan berbalik. Di depan sana penuh dengan kemungkinan, tapi mereka yang berjalan sambil menatap masa lalu, tidak akan pernah sampai di masa depan"


Nornir. The End.
--------------------------------------------------------------------------------------
Aaand, thats how the story end. How's that~? AHAHA.wav

Kemarin waktu bagian satu diupload, ada beberapa pihak yang mencoba menerka atau mempunyai dugaan tentang bagaimana cerita ini berakhir atau twist seperti apa yang akan terjadi. Jika anda adalah salah satu dari orang yang mencoba hal tersebut, why don't you write it down over there in the comment box? personally saya penasaran dengan tebakan anda.

Mengenai character, sekedar trivia, seperti yang mungkin sudah anda tebak, Shiho diambil dari kisah friendzone legendaris di Salad Days. Sedangkan Shirayuki nya saya ambil dari heroine favorite saya yang saya kejar-kejar dulu waktu main Tokimemo 2. Tokimemo 1 dirilis tahun '94 ('95 untuk PSone), dengan bishoujo kelahiran 79. Tokimemo 2 rilis 4 tahun kemudian, '99, dengan karakter gadis-gadis angkatan kelahiran 84. Kalau bukan 2D mungkin mereka semua sekarang sudah menikah, ya? hahaha *tertawa pahit*

3 comments:

Fallendevil said...

I didn't bring my txt file.

What I Read : Nornir Last Part


What I Expected : Everyone out of nowhere applausing the MC's achievement. Best girl lose. suddenly plot twist, deus ex tragedia came down. Batshit all MC's achievement.

What I got : (continue from What I Expected) TIME TRAVEL, CYBER PUNK FFFFFFFFFFUUUUUUUUUUUUUU

Zetsudou Sougi said...

hmmmm
saya kira hanya sekedar NTR story
tapi ternyata Cyber Punk dan bagian setelah terbangun dari mesin itu klo diterjemahkan ke bahasa umineko jadinya : Kacane Pecah!!!

Very Clever I think
ntah anda sendiri memang sadar atau tidak, tapi 2nd half cerita ini mengandung BAAANYAAAK sekali sindiran ke pihak2 tertentu~
( btw saya juga bikin yg model kaya gini, walau temanya berbeda )

kirayume said...

astaganaga.
atas enak bawah FFUUU...

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime