Sunday, October 30, 2011

Contoh cerita romantis yang sudah terkontaminasi elemen Umineko (bagian satu)

10 comments
Selamat datang (kembali) di blog dimana kebajikan dan kemeseuman berpadu menjadi satu. Kali ini saya dengan tidak tahu malu akan memposting sebuah cerita yang terinspirasi dari efek drunken with nostalgia yang berlangsung sejak minggu lalu hingga sekarang. Mungkin karena pengaruh beberapa kejadian IRL atau mungkin juga tidak, yang jelas sejak minggu kemarin saya merasa fed up dengan segala complicated/overtroll/lust etc dalam sebuah cerita dan longing for a simplistic vigorous and fresh, youthful melodrama. Sebegitu kuatnya gravitasi tersebut sampai saya give in to desire dan memutuskan main ulang Tokimeki Memorial 2 dan membeli ulang masterpiece yang bisa dibilang memberi banyak influence di awal perjalanan romance saya (ps: jangan tanya di mana koleksi saya yang dahulu, kuro rekishi :v)

Jika anda suka dengan anime/manga/LN influenced story, saya merekomendaikan Witchcraft (along with other titles) karya kouhai saya, Fallen Devil.

Baiklah, tanpa banyak pengantar lagi, selamat menikmati.



Semua nama dan tempat dalam kejadian ini adalah fiksi. Jika ada kesamaan, itu karena penulis sedang males mikir buat nama karakter dan asal comot yang sedang kepikiran.
Untuk efek yang lebih imba, disarankan anda membaca sambil muter BGM gitaran akustik JC. Staff (my favorites are from Kimikiss and AnoHana) atau sayatan biola+dentingan piano Tenmon.

==================================================================

Musim panas '99

"... ya, kan? "

Ha?

"Apanya yang 'ha'?"

Eh?

"Tuh, kan. Selalu saja begitu. Kalau aku lagi ngomongin yang serius-serius kamu pasti nggak denger."

"Eh? masa ..sih?"

"Iya. Tadi aku bilang apa coba?"

"Hm.. ngomong-ngomong cuaca hari ini cerah ya..?"

"ADAAAAWWWWW"

Gadis yang sedang makan siang bersamaku ini namanya Shiho. Dia punya kebiasaan membuat telinga orang hampir putus setiap kali marah. Kalau dipikr-pikir aneh juga kami bisa makan siang berdua seperti ini. Kalau tidak karena kejadian itu...

Nornir (Bagian Awal)
by: Neohybrid_Kai

Kono story wa goran no sponsor no teikyou de okurishimasu



Salad Days

Brand New Standard of Love Stories since 1999

Wedang Jahe Kalengan
Wedang jahe kalengan, menghangatkan badan, hati, dan jiwa yang terluka.



"Jadi akhirnya kau jadi ikut kursus tambahan itu?"

"Mau bagaimana lagi, Izumi. Masih untung ibuku tidak pingsan di tempat waktu mengambil rapot kenaikan kelas. "Anak muda, jika di kelas dua nanti nilaimu masih sama seperti ini, maka sampai lulus nanti kamu tidak boleh menyentuh joystick video game" Begitu katanya."

"BWAHAHAHAHAHAHA"

"Jangan ditertawakan dong. Aku jadi makin menderita nih. Baru awal masuk saja pe er nya sudah menumpuk sebanyak ini, sekarang malah ditambahin les segala"

"Ahahaha, maaf maaf. Tapi kamu jangan suram begitu dong, minimal kamu nggak akan sendirian kok. Yang ikut les itu bukan cuma kamu saja"

"Heh? maksudnya?"

"Aku juga ikut les tambahan di tempat yang sama, Kouta"

"Hee? beneran, Izumi? ..tunggu, jangan bilang.."

"Apa?"

"kalau nilai rapotmu juga sama dengan punyak- "

BUUGHH

"ADAAWW!"

"Enak saja. Aku nggak sebodoh kamu, tahu. Aku ambil les buat persiapan masuk universitas."

"Ooh. Begitu ya. Yaah, apapun itu yang penting berarti aku bisa tidur di tempat les-lesan dan pinjem catatanmu lagi kayak pas kelas satu, kan?"

"...kamu iniiii..."

"Ahahaha, bercanda kok, bercanda.."

"...tapi aku senang..."

Hm? aku tidak mendengar dengan jelas kata-katanya yang barusan karena dia mengucapkannya dengan sangat pelan.

"eh.. nggak. Maksudku, sekarang kan kita beda kelas, jadi jarang ketemu di sekolah."

"Ha? ngomong apa kamu ini. Memangnya ngaruh ya? kita kan bertetangga. Kalau mau ketemu ya tinggal main ke rumah saja. Iya, kan?"

"ahaha.. iya, sih."

****


Tapi ternyata prakteknya tidak semudah yang kukira. Yang namanya les tambahan itu tidak hanya menyita waktu, tapi juga tenaga. Aku sama sekali tidak menyangka bakal jadi secapek ini. Tak ada waktu untuk istirahat. Sepulang sekolah langsung berangkat. Pulang saat jam makan malam. Ditambah Izumi sialan yang minta dibonceng dengan sepedaku saat berangkat les (meskipun pulangnya gantian dia yang membonceng sih) tapi itu semua sudah cukup untuk membuat tulang-tulangku serasa copt dari engselnya setiap pulang dari sekolah tambahan. Akhir mingguku yang kuidam-idamkan untuk pelampiasan main game akhirnya malah terpakai untuk tidur karena kecapekan. Pada akhirnya, bukannya tambah konsentrasi, aku malah muak dengan yang namanya belajar.

Sampai hari itu...

"Izumiiiiiiiiieeeeee"

Teriakku dengan pede dari depan pintu kelasnya. Aku berani begini karena jam pulang sudah berlalu sejak beberapa menit yang lalu. Koridor kelas sudah terlihat lengang. Kelas Izumi berada di sebelah barat kelasku, jadi untuk menuju ke gerbang sekolah ketika pulang, dia pasti melewati kelasku. Namun setelah menunggu-nunggu lama, dia tidak kelihatan juga. Padahal hari ini ada jadwal les. Aku tidak mau disalahkan jika terlambat masuk, jadi aku menyusul ke kelasnya untuk menjemput duluan. Dia pasti masih di kelas dan lupa jika hari ini ada les.

Tebakanku benar. Izumi masih ada di kelas. Namun bukan cuma dia seorang yang masih ada di sana. Izumi sedang berbicara dengan seorang murid lainnya. Tinggal mereka berdua yang ada di kelas itu. Dan sekarang, karena teriakanku tadi mereka berdua menoleh ke arahku secara bersamaan.

!!!

Saat itu aku merasa bumi berhenti berotasi untuk sepersekian detik. Tidak, mungkin bumi masih tetap berotasi tetapi tekanan udara mengalami perubahan sehingga- ah, sudahlah, aku tidak bisa membuat perumpamaan dramatis yang intelektual, aku kan bodoh.

Gadis yang sedang berbicara dengan Izumi itu mengentikan ucapannya, lalu menoleh ke arahku. Secara bersamaan, aku juga mengalihkan pandangan dari Izumi. Kami bertatapan. Rambut panjang itu.. binar mata itu...

"Heh! Bengong aja"

Ternyata tanpa kusadari Izumi sudah berpindah posisi. Tangannya sudah menggaet tanganku, bersiap melakukan pose awalan seret-sampai-tujuan. Tapi aku masih tidak bergeming dari tempatku berdiri.

"Izumi, cewek itu siapa? cantik banget"

"Haaa?" Izumi melongo.

"Kau ini. Memangnya setiap hal yang ada di pikiranmu harus diucapkan dengan volume sekencang itu ya?"

He? Oh. Astaga! Rupanya karena setengah sadar tanpa sengaja aku barusan mengucapkan apa yang aku pikirkan dengan setting volume for-public-audience.

Mungkin karena merasa sudah jadi bagian dari pembicaraan, gadis itu akhirnya melangkah mendekati diriku dan Izumi. Ketika sudah cukup dekat, aku melihat wajahnya memerah menahan malu.

"Maaf, ya" Izumi nyerocos. "Temanku ini memang idiot. Makanya dia harus ikut les tambahan. Kalau tidak IQ nya akan menurun sampai setingkat dengan hamster."

Hamster?

Kalau kondisi pikiranku sedang dalam keadaan normal, aku pasti sudah membalas ejekannya. Tapi saat ini semua bagian otakku sedang terfokus pada saraf motorik yang menggerakkan tangan kananku, dengan sedikit gemetar, ke arah gadis itu.

"Ninomiya Kouta. Kelas 2-4."

Dia menjabat tanganku.

"Shirayuki Shiho. Kelas 2-2." Katanya dengan senyuman yang bisa melelehkan salju abadi di puncak Himalaya.

Suara dan senyuman itulah yang terpatri di ingatanku sampai sekarang, saat Izumi menyeretku keluar ruangan.


****


"Izumiiiiiiiiii"

Izumi menghela nafas panjang. "Ada apa lagi kali ini, tuan Ninomiya?"

"Lihat nih. Kemarin ibuku bikin kue kering. Masih ada sisa jadi kubawa ke sekolah buat bekal. Kalau kamu ma- "

"Memangnya ada ya, orang yang nawarin bekal pakai acara celingak-celinguk seperti ini?"

Eh?

"Sudahlah. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Hampir tiap hari, setiap jam istirahat, kau selalu datang ke kelasku."

Hehehe.

Izumi mengambil kantong berisi kue dari tanganku.

"Kalau kau mencari Shiho, dia sekarang sedang di kantin"

"Kantin?"

"Ya. Dia tidak pernah bawa bekal, jadi selalu makan di kantin"

"Hee.."

"Selain itu.."

"Selain itu?"

Izumi menunjuk ke kantong kue satu lagu yang berada di tanganku.

"Berikan bagianmu juga. Informasi ini sangat mahal harganya."

"Nih." Aku menyodorkan bungkusan kue yang ada di tanganku ke arah Izumi. "Ambil semuanya, informan tamak."

Izumi nyengir lebar lalu mengamankan upeti itu. "Baiklah" katanya, "Untuk bayaran sebesar ini kurasa aku harus memberi informasi yang sebanding. Dengarkan baik-baik."

"Saat ini, ada 4 orang cowok yang sedang mengejar-ngejar Shiho." Dia berhenti sebentar. "Lima. Jika kamu dihitung."

Aku hendak berkomentar tapi dia meneruskan ucapannya. "Dua dari kelas ini, satu dari kelas lain, satu lagi kakak kelas kita."

"Eh? sebanyak itu?"

"Tentu saja. Wajar kan kalau gadis secantik dia banyak yang suka? kau pikir cowok-cowok yang lain itu buta?"

Hmm, benar juga ya. Aku memang bodoh tidak berpikir sejauh itu.

"Diantara keempat cowok tersebut, menurutku yang harus kau waspadai adalah yang kakak angkatan"

"He? memangnya dia kenapa?"

"Kau kenal dengan Shindou Sugata?"

"Tidak. Memangnya siapa dia? tokoh anime ya?"

"Aduuh, kau ini. Benar-benar payah deh. Dia itu atlit baseball andalan sekolah kita. Pemegang ranking nilai tertinggi ketiga satu sekolah. Konon katanya dia juga pintar main musik. Tahun lalu dia dan teman-temannya salah satu pengisi acara band festival budaya. Pokoknya tipe cowok idaman banget deh."

"He? Lalu? apa hubungannya denganku?"

"Ya itu sainganmu, bodoooooohhh"

"HEEEEEEeeeeeeeeeeeee??"

Serentak hampir semua mata di ruangan itu tertuju padaku.

"Jangan teriak-teriak di sini, bodoh. Kau menghancurkan reputasiku, tahu?"

Pfft, reputasi katanya?

"Terus, ngomong-ngomong, Shiho sendiri bagaimana? apa sekarang dia ada cowok yang disukai?"

"Hmm? kalau itu mana aku tahu"

"Apa? tapi tadi katanya kau punya informasi penting?"

"Ya itu tadi informasinya."

"APA?? tapi itu tadi sama sekali tidak membantuku"

"Kenali musuhmu sebelum berperang. Kau pernah dengar pepatah itu?"

"Tidak. Memangnya ada? lalu bagaimana dengan info lainnya? misalnya makanan kesukaan dia apa? hobinya? dia ulang tahun tanggal berapa? alamat rumahnya dimana?"

"Mana aku tahu. Memangnya aku ibunya?"

"IIZUUMIIIiiiiiiiiii..."

Tapi sebelum aku sempat marah-marah lebih jauh, bel tanda istirahat selesai berbunyi. Izumi tertawa seperti orang yang nomer lotrenya baru saja diumumkan sebagai pemenang hadiah utama. Aku mendengus kesal dan berbalik hendak meninggalkan ruangan ketika tiba-tiba dia berbicara lagi.

"Kouta"

"?" Aku menoleh.

"Kalau kau memang serius, coba temui dia di kantin besok saat istirahat" ujarnya.

Aku terdiam sesaat memikirkannya.

"Ok", jawabku singkat, "thanks, Izumi"

Izumi membuka mulutnya hendak ngomong sesuatu, tapi akhirnya mengurungkan niat dan membalas dengan senyuman.


****


"Hai"

"Hai."

Akhirnya aku melakukan saran Izumi.

"Um,..boleh duduk di sini? kursi kosong kan ini, ya?"

Aduh. Kurasa bagian otakku yang mengatur tata bahasa sedang tidak berfungsi.

Shirayuki Shiho menatapku dengan tak berkedip. Dua detik kemudian dia menutup mulutnya menahan tawa.

"Duduk saja"

Aku duduk di kursi kantin yang terasa seperti kursi panas dalam acara quiz Who Wants to be a Millionaire.

"Kamu temannya Izumi yang dulu itu kan ya?"

"I-iya. hahaha. Bukan teman sih tepatnya-"

"Eh? jadi kalian pa-"

"Bukaan. Maksudku kami tetangga sejak kecil."

"Oh. Tapi Izumi itu hebat ya? Dia bisa dengan cepat berteman dengan semua orang di kelas"

"Oh. ahaha. Yah, dia dari dulu memang seperti itu"

"Hee? coba aku kenal dia sejak kelas satu. Pasti rame."

"Oh iya, ngomong-ngomong..."


Sejak saat itu aku tidak pernah membawa bekal lagi. Tentu saja pada awalnya ibuku memprotes. Tapi setelah berdalih bahwa biaya makan siang akan diambil dari uang sakuku sendiri, beliau tidak mempermasalahkannya lagi.

"Ngomong-ngomong, Shirayuki"

"Panggil Shiho saja"

"Oh, ok. Shiho, kamu selalu makan di kantin ya? tidak pernah bawa bekal?"

"Um.. itu.. tapi jangan bilang siapa-siapa ya?"

"He?"

"Janji nggak akan bilang siapa-siapa?"

"Janji."

"Sebenarnya aku.. um, tidak bisa masak."

"Eeeh??"

"Psssttt"

"Maaf maaf. Tapi masa sih seperti itu?"

"Iya. Aku ini paling payah kalau soal masak-memasak.

"Hmm.. tapi bukannya bisa latihan, kan?"

"Hmm. sebenarnya kalau latihan pernah sih, tapi.."

"Tapi?"

"...nggak. Lupakan saja deh."

"...? ok"

"Ah iya, ngomong-ngomong, Kouta sama Izumi masih ikut les tambahan, ya?"

"Iya. Capek setengah mati rasanya."

"Hm.. sebenarnya, aku juga disuruh ibuku buat ikut kursus tambahan"

Aku hampir tersedak minumanku.



****



"Nggak. Pokoknya nggak."

"Izumiiieeeee.."

"Kau mau merengek dengan gaya apapun juga hasilnya akan tetap sama."

Hmph.

"Dengar, Kouta. Kalau Shiho satu les-lesan dengan kita, dia pasti tidak akan bisa konsentrasi karena kamu ganggu. Kamu juga. Tidak, terutama kamu. Kamu pasti tidak akan belajar dengan serius kalau ada Shiho"

"Tapi kan..."

"Tidak ada tapi-tapian untuk yang ini"

"Hmmph. Ya sudah kalau begitu, biar aku sendiri yang membujuk dia"

Izumi mendelik.

"Kau sendiri yang bilang dulu, kalau tidak bisa bertemu di kelas, masih bisa ketemu di tempat kursus. Lagian siapa tahu aku malah jadi lebih bersemangat kalau satu ruangan dengan dia" kataku sambil nyengir lebar.

Muka Izumi memerah.

"YA SUDAH KALAU BEGITU! kau bilang saja sendiri sana! Kouta bodoh! idiot! jelek! menyebalkan!!"

Izumi berlari meninggalkanku sendirian.

Aneh. Memangnya aku salah, ya? kenapa dia marah-marah begitu?




****


"Jadi pertama, semua harus dijadikan ke satuan yang sama dulu, habis itu baru dimasukkan ke dalam rumus yang ini"

"Oohh.."

"Lalu kalau yang ini.."

Aku tidak habis pikir, Shiho yang ternyata sepandai ini kenapa masih harus mengambil kursus tambahan? ..jangan-jangan, dia mencari alasan supaya bisa ketemu denganku? ..ah tidak mungkin tidak mungkin. ...tunggu! jangan-jangan sebenarnya dia memang biasa-biasa saja. ..kalau begitu, berarti aku yang terlalu bodoh?

BUGG!!

Sesuatu mengenai kepalaku.

"Oi, sampai kapan kamu mau di sini, bodoh?"

Izumi berdiri di depan mejaku dengan gulungan buku di tangan. Aku melihat ke sekitar. Sudah hampir dua puluh menit berlalu dari jam kelas selesai. Cuma tinggal beberapa anak yang masih terlihat di ruangan, bersiap-siap untuk pulang.

"Shiho, kau tidak perlu mengajarinya sampai sedetail itu. Nanti justru kamu yang ketularan bodohnya dia."

"Apa maksudnya itu? Justru pukulanmu tadi itu yang bisa membuatku bodoh. Bagaimana kalau otakku cedera?"

"Haaaa?"

Shiho tertawa.

"Ngg.. nggak papa kok. Aku malah bisa mengulang belajar kalau sambil mengajari orang lain."

Izumi menyerah.

"Ya sudah. Tapi aku harus pulang sekarang. Sepedanya kan cuma satu."

Aku mengambil kunci dari dalam saku celana.

"Nih" kataku sambil menyodorkan, "pakai saja sepedanya"

"Ha? terus kamu pulangnya bagaimana?"

"Ya jalan kaki"

"Haaaa? Kau sudah gila ya?"

"Ngg... " suara Shiho memutus pembicaraan kami, "Aku juga bawa sepeda kok. Rumah Kouta dekat dengan rumah Izumi kan? berarti kita masih satu arah. Kalau cuma sampai perempatan bisa bareng"

Izumi mengambil kunci sepeda dari tanganku.

"Kalau begitu aku duluan."

Dia menepuk pundakku.

"Sukses yah.."

Sejak saat itu Izumi tidak pernah berangkat les bersama aku lagi.

-End of part 1

===================================================================

Author's note:

- saya blank pas mau ngasih judul, dan tiba-tiba saja yang lagi ada di pikiran adalah judul lagu itu jadi saya pake :v
- saat menulis ini saya menyadari dua hal, yang pertama koneksi internet sekarang yang membuat wikipe-tan dan google-ojiisan mudah diakses dan eksistensi Galaubook membuat pedekate jaman sekarang tidak bisa sama seperti dulu. Mungkin inilah kenapa Makoto Shinkai selalu membuat kisah-kisahnya dalam setting jaman dulu? karena susah membayangkan bagaimana cara cinta-cintaan anak muda jaman sekarang yang hidup dengan fasilitas dan environment yang sudah berbeda. Hal yang kedua, ternyata saya masih bisa nulis cerita fluffy yang cheesy tanpa mengandung kata-kata PEDANG dan SUSU
- jika anda bertanya-tanya kenapa aromanya sangat weeaboo atau tidak memakai setting lokal saja? jawabannya ada di bagian dua
- jawaban yang sama juga jika anda tidak melihat elemen kegilaan Naku Koro ni series di cerita ini
- saya memakai program Q10 saat menulis cerita ini. Its free and quite recommended jika anda butuh konsentrasi menulis (draftnya tetap dibikin manual di kertas looseleaf sih).
- cerita ini mengandung 2300 kata, 16 halaman. jika chapter duanya sama panjang berarti sebenarnya saya bisa membuat cerita yang memenuhi kriteria untuk diikutsertakan dalam lomba menulis dengan tema  (kurang lebih) "sekolah tidak mengenal akhir" yang total hadiahnya 5 juta :v

Baiklah, sampai jumpa di bagian selanjutnya.

10 comments:

Zetsudou Sougi said...

Maaf saya lupa bagaimana cara mensetting supaya cuma sebagain post saja yang tampir di halaman muka m(_ _)m
=============
pake

Feischmaker said...

should it be Sasaki Shiho instead? LOLOLOL

tercemar Umineko + 5cm :v, carry on~~

Aldy_Reza said...

Ih waw :O
Hmm, berasa main galge *slapped

Anyway nice :3

Neohybrid_kai said...

Gecd: pakai apa? :v
Feischmaker: will do, mungkin akhir minggu ini terusannya
Aldy_reza: thanks bro :3

Zetsudou Sougi said...

asem ga muncul
ntar di fb aja

Fallendevil said...

UghGhgahgsdjhljkasg Manies too fluffy, tambah galau bacanya... orzorzorz

Sebenernya saya bakal mengira ini draft manga shoujo kalau nggak membaca influenced by Naku Koro Ni

no no no my mind going wild :v

am3n said...

males... bacanya.....!! teks mulu
maunya baca manga nya
lebih seru lagi klo ada anime nya
kapan nih rilisnya manga/animenya?
saya pasti beli original nya deh

Zetsudou Sougi said...

@^
not sure if this isnt troll

Murtee said...

.... so fluffy..
beneran ada influance nya umineko?
...
kasian si izumi..

kirayume said...

baru komen sekarang. dibaca lagi kok makin galau ya.

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime