Thursday, May 13, 2010

Review anime non mainstream Spring 2010 part 01 of 03: Rainbow ~Nisha Rokubou no Shichinin~

19 comments
Sepertinya pollnya bakal berakhir dengan hasil yang mengerikan sekali, ya? sekarang saya mulai paham maksud komentar "anda menggali kuburan sendiri" waktu saya bikin pollnya. Anyway, sekarang yang ada malah mood untuk menulis sesuatu yang lumayan serius (jangan khawatir, saya tetep bakal pegang janji soal poll nya =__=), dan ternyata masih ada juga orang yang menginginkan postingan yang waras, so, here it is.

Selamat datang di segment spesial review anime Ikemasen, Ojou-sama! Mungkin anda tidak tahu jika awalnya saya lebih condong mereview hal-hal yang serius, gelap, dan di luar jalur. Meskipun ada humornya, tapi konsentrasinya tidak sampai mendominasi. Ergo Proxy, Red Garden, Gankutsuoh.. saya menyukai anime karena sifatnya yang mampu menggabungkan berbagai macam elemen, seni visual, musikal, literatur, filosofikal, psikologikal, scientific, semuanya bisa terblending ke dalam sebuah form yang tidak bisa ditiru oleh medium apapun lainnya. Taukah anda jika anda mengatakan hentai adalah seni (ya, meskipun saya harap itu hanya untuk guyonan belaka, karena jika tidak berarti otak anda yang polos sudah diracuni secara tidak sadar oleh konsep yang salah) anda telah membuat penikmat dan apresiator anime seni yang sesunguhnya tersinggung? Sebagai manusia yang diberikan kelebihan akal dan pikiran, tidak sepantasnya jika kita memakainya hanya untuk mengkonsumsi hal-hal yang dangkal. Thought provoking, food for thought, brain exercise, ada banyak istilah yang berkaitan dengan ketertarikan manusia terhadap ilmu pengetahuan. Atau jika saya harus memakai sarkasme ala Kyon, pantaskah jika kita memakai sebuah BLURAY disc hanya untuk memburning data sebuah file txt yang besarnya 100kb?

Nah, kali ini saya akan mereview judul-judul yang tidak berada di luar lintasan mainstream untuk musim ini. Kenapa baru sekarang? well, mereview anime tipe seperti ini tidak mudah, anda perlu waktu untuk memperhatikan apa maunya, dan kemana dia bergerak, dan itu baru bisa diperoleh setelah menonton beberapa episode. Ok, itu setengahnya cuma alesan benernya, setengahnya lagi karena saya belum menemukan timing dan mood yang pas buat nulis. Juga, kemungkinan review judul seperti ini tidak akan muncul berkala setiap minggu, saya sendiri berencana mungkin hanya akan menulis dua post, early impression dan final impression. Saya juga memecah post ini menjadi tiga bagian, berdasarkan judul; Rainbow, Sarai-ya Goyou (House of The Five Leaves) dan Yojou-han Shinwa taikei (The Tatami Galaxy), dengan pertimbangan fokus saya menulis (dan anda membaca) serta komentar yang masuk tidak akan intense jika dalam satu post mengcover lebih dari satu topik.

Baiklah, mari kita menuju ke bagian yang pertama dulu.

Rainbow: Nisha Roku Shichinin

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

*ehem* ok, yang barusan di atas, saya sedang meniru opening song nya, tidak usah diperhatikan.


Anime ini sebenarnya sudah mulai terdengar gaungnya sejak lebih dari satu tahun yang lalu. Saya masih ingat karena waktu gambar anime ini pertama kali muncul di chart anime season baru chartfag, waktu itu saya masih jadi butler di nikkou ramen. Hampir setiap pergantian musim, Rainbow, atau saya lebih senang menyebutnya dengan PELANGI (PErsaudaraan LanANG sejatI) selalu menghiasi chart namun tidak pernah tayang, membuat banyak orang bertanya-tanya, ini apa tho? kapan keluarnya? dsb. Saya sendiri sebenarnya saat melihat gambar previewnya yang super serius dan temanya tentang narapidana, tidak begitu tertarik karena mungkin itu adalah tipe anime serius tapi yang di luar teritori interest saya, seperti Golgo-13 atau Himitsu ~The Revelation~. Dalam dunia peranimean jika hal seperti itu (penundaan yang berkelanjutan) terjadi, hanya ada dua kemungkinan, produksi anime yang bersangkutan akan terus diundur, dan akhirnya entah kapan jadi, misal Evangelion Live Action dan Battle Angel Alita (Gunnm) Live Action, atau anime tersebut mengalami delay demi mengejar kualitas, misalnya.. er, uh? Suzumiya Haruhi? kalo itu troll ding. Yah, untunglah Rainbow termasuk kasus yang terakhir.

Dan untungnya lagi, anime ini dihandle oleh MADHOUSE, studio yang tau bagaimana cara menghandle karakter desain yang cool untuk menarik perhatian publik yang mungkin awalnya tidak begitu berminat dengan serial ini. Mangakanya sendiri berkata jika Rainbow adalah sebuah kisah yang bisa dibilang sepele, karena itu dia lebih suka melihatnya sebagai cerita dengan tokoh-tokoh yang cool di dalamnya. Sedangkan menurut sang sutradara anime, Rainbow adalah sebuah kisah yang sangat original, terutama karena generasi sekarang sama sekali tidak akan bisa membayangkan hal-hal yang dialami oleh para tokoh utamanya. Termasuk saya, yang meskipun menganut lifestyle kaum marginal *nyanyi lagu OP Akagi* tapi saat melihat anime ini, saya belajar banyak hal, terutama bersyukur. Setidaknya kita hidup di jaman yang semakin mudah. Meskipun mungkin setelah menonton degradasi kaum urban dan postmodern di DRRR! atau Arakawa, anda bisa berdalih, jaman dulu dan sekarang lain masalahnya gan, tapi anda seharusnya juga sadar jika saat ini, perisai mental manusia semakin menipis. Entah di bagian mana salahnya, tapi saat ini ketika rasa malu semakin berkurang entah kenapa manusia malah semakin sensitif dan manja. Dikritik sedikit, tidak terima, kalau ada yang tidak sesuai keinginan, emosi. Karena sudah terbiasa hidup dalam era yang aman sejak dilahirkan, pinginnya segala sesuatu lancar, tersuplai, tanpa masalah. Tidak, saya tidak sedang menceramahi siapapun, saya hanya menulis yang ada dalam benak saya selama mengikuti anime ini. Di Rainbow, kekerasan fisik adalah pemandangan harian. Ini paska perang, mister, masih untung masih bisa makan. Di Rainbow, ketika ada keluarga yang cekcok dan berakhir dengan berantakan, si anak merasa tidak diperhatikan, kabur, lalu hidup di jalanan dan survive. Di DRRR!! ketika ada keluarga yang hancur, si anak merasa tidak diperhatikan, kabur, lalu lompat dari atas gedung, (dan survive, tapi itu karena ada Izaya si raja troll). Yah, intinya anda paham kan, yang saya maksudkan?

Sekali lagi, saya memang bukan dari generasi yang diceritakan di anime ini, tapi dari setiap episode yang saya tonton selalu ada pelajaran yang saya dapat. Dalam hal ini, Rainbow mirip anime-anime Ghibli, hanya saja Rainbow mengajari lewat cara yang lebih ekstrim.


Poin kedua, dan ini mungkin hanya bisa dirasakan jika anda laki-laki. Sejak dari awal, Rainbow memang mempunyai atmosfer maskulin yang kuat. Sebegitu kuatnya hingga cowok uke seperti saya saja sampai merasa oh I'm so manly setiap kali terharu menonton anime ini. Ada tiga hal yang menurut saya mendapat fatal hit dari anime ini. Yang pertama adalah solidaritas. Dalam kamus dan thesaurus saya, solidarity means "a union of interest or purpose or symphathies among members of a group". Karena era yang telah semakin terbuka, yoai sekarang bukan sesuatu yang kontroversial, apalagi di kalangan anime fans (btw saya sengaja nulis yoai karena setelah membaca review miracle train di metanorn kata yoai terdengar lebih lucu). Akibatnya disadari atau tidak, kita jadi sedikit paranoid, terutama jika anda jomb.. tidak, karena kita masyarakat modern, mari kita pakai konotasi yang lebih terdengar manis, terutama jika anda adalah lone wolf. Tentu saja saya tidak bilang kalau setiap cowok itu antipati sama yoai, tidak semua cowok menyikapi yoai dengan *tidaak, nanti saya jadi yoai. Eww, terdengar sangat yoai. Apakah saya sudah jadi yoai? coba download doujin dulu.. ohh.. yeahh.. ah, untunglah ternyata saya belum jadi yoai (lho, kok pakai kata belum?)* tapi intinya, a man to man relationship seperti di Rainbow kecil kecil kemungkinannya terjadi di jaman sekarang.

Yang kedua adalah pride atas kemampuan melindungi sebagai cowok. Tidak, tolong jangan sebut itu dengan kesombongan atau ego cowok, saya lebih merelasikannya dengan kodrat. Dari yang saya lihat sampai episode sekarang, setiap karakter utama (yang sudah terbuka masa lalunya) di anime ini mempunyai kisah yang berkaitan dengan "mamorenakatta" sendiri-sendiri. Joe dengan adiknya, Meg (ditambah insert song balada yang diputer saat adegan ini, siapa yang tahan untuk tidak :terharu:?), Baremoto dengan ibunya (dammit, bahkan orang sepervert saya aja refleks menutup filter ecchi dengan sendirinya), dan Aniki!!!! dengan ayahnya.. rasanya bahkan saya tidak sempat menikmati aura moe nona perawat karena tenggelam dalam monolog our big bro ini. Pada dasarnya pride cowok itu tinggi (see, bahkan saya yang uke saja mengakuinya), tapi karena itu cowok lebih sensitif dan paranoid dengan yang namanya failure. Dan salah satu failure yang cukup dianggap signifikan bagi cowok adalah yang berhubungan dengan ketidakmampuannya melindungi orang yang dia cintai/anggap berharga baginya (bweh, saya nulis apa tho ini, LOOOL, yah, tidak apa-apa kan, namanya juga review serius). Oh dan failure dalam konteks ini sifatnya subyektif. Contohnya gini, misalnya ada cowok yang fail dalam satu hal (ahahaha.wav kenapa kalimatnya terdengar lucu ya), selama dia tidak memandang hal itu signifikan, baginya dia tidak fail. Mau orang sekampung atau seforum bilang fail, dia mah lalala~ dan tidak peduli, tidak seperti cewek yang setiap perkataan orang dimasukkan dalam hati. Tapi saat ada satu hal yang dia rasa itu penting atau berarti, dan dia gagal, meskipun bagi orang lain itu tidak penting, bagi dia, he had failed. ..kare ga fail shimatta.. *dibaca dengan gaya mbak narator anime ini* ps: sorry saya nggak tau apa fail dalam bahasa jepangnya, lol.

Yang ketiga, dan ini juga masih berhubungan dengan cowok, tentu saja apalagi kalau bukan meraih mimpi~~. Yep, being a man is about realizing his dream afterall *menghadap matahari terbenam dengan rumput di mulut* LOL I know, saya sudah tidak bisa seratus persen merasakan spirit One Piece atau Bakuman, Pak guru Itoshiki Nozomu juga sudah (terlalu) sering memperlihatkan hal-hal yang sebaiknya anda tidak perlu tahu, tapi bedanya di Rainbow, karena settingnya masa lalu jadi anda yang sudah tidak bisa, ralat, tidak peduli, dengan impian andapun masih bisa menikmatinya sebagai sebuah nostalgia. Secara mayoritas, cowok memang lebih idealis, saya bilang mayoritas lho ini, karena kebanyakan cewek akan memilih untuk ter-grounded dan terde-haruhiized. Ok, mungkin soal cowok cewek ini sudah tidak begitu relevant lagi di jaman ini, tapi power dari atmosfir anime ini begitu kuat sehingga tiap kali anda menontonnya serasa anda berada pada era yang sama.

Gaya narasi anime ini juga salah satu tambahan point tersendiri. Anime ini benar-benar meminimalisir potensi moe sama sekali. Kalaupun ada, misalnya Meg atau nona perawat di eps 4, takarannya sangatlah kecil, dan dengan konsentrasi gar, seriousness dan aura depresif dan optimisme yang silih berganti, tidak ada waktu bagi anda untuk tenggelam dalam pesona moe yang bagaikan ilusi optis. Tokoh villain dalam anime ini juga benar-benar orang-orang yang brengsek dan biadab. Mulai dari si penjaga yang tampangnya mirip M.Bison di street fighter sampai adegan saat si tante-tante memperkosa Joe yang bikin saya hampir muntah, tidak ada bishie yang berhati jahat namun cakep *ah.. ketampananku ini adalah sebuah dosa *cling cling** atau karakter abu-abu yang dia sebenarnya baik, walaupun jahat, atau dia sebenarnya jahat, tapi baik juga sih. Manusia memang tidak ada yang seratus persen jahat, tapi saya melihat peng-absolut antagonis-an di anime ini sebagai garis pembatas salah dan benar, yang akhir-akhir ini mulai kabur di jaman dimana semuanya memakai timbangan hati yang tidak ada standar bakunya (ai ga nakereba mienai, kata umineko, tapi ai nya siapa yang dipakai acuan?).

Well, saya harap paragraf-paragraf di atas cukup mewakili argumen saya sebagai fans Rainbow, though I'm not quite manly at all. Saya sebenarnya lebih cocok dengan image kyogokudo yang setiap hari tenggelam dalam buku, maksud saya, internet dan pikirannya sendiri, lalu kadang ada orang datang untuk meminta pertimbangan atau meminta bantuan memecahkan masalah yang dihadapi, dan Kyougokudo akan berhenti membaca, lalu ngomong panjang lebar dengan bahasanya yang cukup njelimet, tapi tentu saja tidak disertai bau menyan atau sesajen, apalagi sambil nyanyi lagu bay lebay lebay punyanya mbahe.

Buat yang tidak nonton Mouryou no Hako, orang yang sedang baca buku di atas itu yang namanya Kyougokudo, dan meskipun saya bilang kalo saya agak mirip (pada beberapa hal) dengan dia, tapi harap di catat kalo: 1) saya tidak secakep Kyogokudo 2) rambut saya tidak dikucir 3) saya tidak berduaan di kamar dengan cowok bishie berkacamata yang berpose yaranaika sambil tiduran dan 4) karena saya tidak kidal jadi tangan kiri saya yang menopang dagu dan tentu saja tangan kanan saya tidak memegang buku tapi mouse komputer.

Last, mari kita tutup post ini dengan quote yang sudah diedit sedikit dari opening songnya: "if there´s a place outside this wall where hopes and dreams are not yet lost, will you stand and climb against these walls? will you fight this fight forever more?"

19 comments:

kirayume said...

nice review there~

saya yang cewek ini aja terharu juga....tapi ya mungkin belum saatnya untuk menangis sebelum liat beberapa episode lagi. LOL

Anime ini memang bagus tapi sayangnya lebih baik aku streamingan aja. Karena tidak kepingin terlarut dalam kesedihan karena nonton ini.

XDDD~~*maaf kalo komen saya rada lebay gini*

Neohybrid_kai said...

Ahaha, benernya anime ini bukan anime yang sedih, dan tidak dibuat untuk membuat penontonnya menangis saat menonton, beda dengan anime drama, tapi memang kalo nonton entah kenapa jadi ikut :terharu: TT^TT lol

furei kinoko said...

menuju ke lokasi! Tapi, salah seorang otaku bilang 'rainbow adalah anime yang membuat anda depresi selama musim semi' By the way, sebenarnya saya gak suka facebook, tapi saya punya twitter dan ini alamat-nya: twitter.com/kurotsukiberry

Fallendevil said...

that's it bro!! !THE OLD KAI RETURN!!!!!!!!

Neohybrid_kai said...

LOL gantian saya nggak punya twitter

Rainbow memang kadang depresif tapi ada nggaknya juga, seperti yang saya tulis "..aura depresif dan optimisme yang silih berganti," recommended dicoba kok, di cyber12 lowresnya udah sampai eps 05

btw sleman anda di daerah mana?

furei kinoko said...

dari daerah pogung sana. WHY?

zetsudou sougi said...

Meninggalkan kesablengan sejenak dan ngepost serius...well kualitas anda sebagai reviewer terlihat jelas disini
memang sekali lagi amat disayangkan anime sekeren ini cuma sebagian yg mau melihat dan merasakan kualitas sebenarnya.
yah beginilah jalan evolusi otaku.
masih hijau tinggal makan yg disodorin
dah pengalaman mencari dan menemukan tonotnan berkualitas walaupun jarang yg nyentuh

Lightkun said...

nice review!!!
jadi ingat masa2 dulu sekai waktu saya iseng2 baca Tabikarasu...........

furei kinoko said...

KAI-SAMAAAA~ Pinjam gambar-gambar uraboku dooong~ ya? YAAAAAAAAAAAA~?

Neohybrid_kai said...

@zetsudou:
semua itu ada prosesnya, tapi kadang saya iri juga melihat beberapa soul berkualitas yang bisa level up dengan sangat mudah dan cepat sekarang, ahaha

@lightkun:
oh, anda baca tabikarasu juga ternyata

@kinoko:
ya, ambil aja.
>dari daerah pogung sana. WHY?
cuma nanya, berarti dekat, soalnya saya di jl monjali

Anonymous said...

berharap seri ini bisa mengimbangi kualitas Casshern Sins.. yg baru saya tamatkan tadi subuh.

Kencana said...

Wow, kayaknya anime ini menarik. Tapi... banyak adegan sadisnya ya? Kuat nonton gak ya...

Neohybrid_kai said...

Memang level violence di anime ini tinggi banget, malah sudah ada peringatannya di awal tiap episode. Tapi yang tahan sadispun kadang nggak kuat serangan mentalnya.

Shouenga said...

brofist untuk semua yang ngikutin anime ini :terharu:

yuckie shirou said...

kyknya bgus *w*
kadar keseriusan apakah sama dengan mouryou no hako?
ane demen ama anime yg serius kyk mouryou no hako
btw nice review!!!! *w*b

Neohybrid_kai said...

ya, mirip, cuma ini bukan serial misteri tapi perjuangan para cowok sejati, lolol
sankyu

Anonymous said...

pesany membuat saya lebih terbuka pikirannya..

Mide said...

Aku tau blog Anda waktu itu klo gak salah awal 2011 (saya inget saya baca dengan temen pagi2 setelah sleepover dan ketawa sejadi-jadinya baca silauman), berencana baca semua post Anda, tapi kemudian sibuk dengan fandom di livejournal dan lupa sama sekali dengan rencana awal jadi maaf jika kelihatan seperti penguntit gini; komen di post jadul -__-;;

Dan inih! Rainbow yang diterbitin di Indo juga kan. Waktu aku ditawari baca ini sama penjaga rental komik, aku baca sedikit lalu gak tahan karena ya... waktu itu aku masih SMA (atau SMP?) dan pikirannya masih gak sekuat sekarang baca sesuatu yang ada kata pedo2annya, apalagi setelah baca Kite Runners rasanya pingin nyekek semua kid predator. Belum lagi violence-nya, baca sesuatu yg kejem tapi gak ada gambarnya aku sanggup, klo nonton itu yang...*sigh* Aku ini nonton Another aja teriak-teriak ;A;

Ah, anyway, nice review :))

Neohybrid_kai said...

lol, thanks for commenting again
kalau saya malah kebalikannya, dulu hampir semua yang gelap pasti dibaca/tonton, dan level filter saya yang cukup tinggi memungkinkan saya untuk melewati batasan content apapun; gore, mindscrew, violence, depressing stuff, etc, semua bisa kebaca :v (kecuali horror orz saya lemah sama genre itu)

Tapi sekarang kalau mau mengkonsumsi hal semacam itu mikir dulu, apa ada influence positifnya atau tidak? Rainbow biarpun depressing dan penuh content yang mungkin bikin eww, tapi moral dan pesan optimisnya kuat, jadi saya tonton.

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime