Sunday, March 14, 2010

Review Tim Burton's Alice oleh seorang Alice fanboy

12 comments
...yang tentu saja sangat subyektif tapi lebih baik anda baca jika ingin tau kenapa anda merasa dikecewakan.

Alrite, sebenarnya saya pengen pake judul "HOREE Alice stays single and why do people think this movie is baaad?" tapi sepertinya bakal mengandung spoiler (ups, terlambat) jadi akhirnya saya pake judul di atas.

Anyway, tentang film ini, pasti sudah banyak yang tahu, dan nonton. Sebagai fans berat Tim Burton, saya punya ekspekstasi besar saat pertama kali mendengar berita tentang ini, dan setelah kemarin menontonnya... well, tentang hal itu akan saya tulis di akhir postingan ini.

Alice. Nama ini di telinga kalangan non-otaku mungkin tidak akan bergaung terlalu keras. Orang mungkin hanya akan mengasosiasikan nama itu sebagai cewek yang tersesat di negeri ajaib (oh no, kenapa jadi terdengar seperti judul-judul serial yang sering diputer di Televisi Penyihir Indonesia? wait, jangan-jangan seperti kasus Suku Biru kemarin, dalam waktu dekat stasiun itu juga akan menayangkan versi lokalnya film ini? tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk). Kembali ke Alice, jika anda memakai "keyword" ini dalam perbincangan dengan otaku, bisa jadi reaksi yang dikeluarkan akan sangat bervariatif, dan yang jelas, lebih powerful daripada sekedar petualangan seorang cewek di negeri ajaib.

Nama Alice dalam dunia otaku, anime, manga dan game sudah menjadi semacam icon yang powerful, image dari seorang karakter cewek yang childish, dreamy, selfish, namun elegant, naif (kalau tidak bisa dibilang innocent), dan ber-will power tinggi. Tentu saja peterpan juga kurang lebih bisa dikategorikan begitu, toh otaku juga 99 persen pada kena peterpan syndrome. Tapi, tentu saja otaku lebih memilih icon seorang cewek daripada cowok, maka jadilah Alice nama yang lebih populer. Mulai dari serial yang cukup membuat otak anda serasa diblender seperti S.E Lain, atau diblender tapi ditambahin sedikit gula seperti Ergo Proxy, sampai yang amat sangat ringan seperti Gakuen Alice, semuanya punya image Alice yang sama. Anda tanya ke blok anak-anak Touhou tentang Alice, mereka akan menjawab dengan Alice! yang pake bando dan bisa ngeluarin boneka segudang. Ganti ke fans Rozen Maiden, mereka akan bilang, ah, Alice, gadis suci tingkatan tertinggi yang hanya bisa dicapai oleh boneka yang memenangkan turnamen dengan membunuh semua saudaranya. Kalau anda tanya ke fans Pandora Hearts (yang cowok, soalnya kalo cewek biasanya mata mereka cuma tertuju ke Gilbert dan pasangan yaoinya entah yang mana), Alichuu! cewek tukang pamer paha yang kalo menghajar monster-monster boneka pake rantai dengan gaya S&M. Nama ALICE sudah sedemikian mengakar di image para otaku untuk sebuah karakter. Tidak percaya? ok, kita buktikan. Misalnya anda melihat character sheet seperti ini untuk sebuah anime atau bishoujo game terbaru yang anda tidak tahu sama sekali sebelumnya.

Salah satu dari karakter di atas ada yang bernama Alice. Dalam waktu kurang dari 3 detik, pasti anda bisa menebak yang mana. Ya, kan?

Jadi, kalau mau analogi yang agak ngaco tapi menurut saya nyambung, nama Alice di telinga otaku akan langsung mentrigger konotasi image dari gothic, tsundere, taikutsu na ojousama (taikutsu: bored), yang kadang (tapi tidak selalu harus) adalah seorang loli. Sama seperti kata air minum kemasan akan mengingatkan anda pada Aqua. Tentu saja ini tidak sepenuhnya salah, karena Alice yang pertama kali populer memang adalah seorang classy tsundere ojousama, meskipun alih-alih gothic, dia hidup di jaman victoria. Alice kadang juga disebut menyimbolkan batas kabur antara antara jun'ai (pure love) dengan lust (oh desireee), sementara bagi sebagian lainnya mungkin lebih melihat Alice sebagai nostalgia akan era-era ketika masih murni dan innocent (wakai wa ii na.. kalo istilah animenya). Sebegitu mengakarnya pengaruh Alice bagi para fansnya, sampai-sampai ada yang ngepost kalo punya anak dikasih nama Elis, biar homofon (sama bunyi beda tulisan) dengan Alice.

Nah sekarang, setelah anda pasti eneg membaca paragraf-paragraf yang nggak jelas tentang Alice di atas, mari kita masuk ke asal mula darimana karakter Alice bisa sangat melegenda. Tentu saja jawabannya sudah jelas, Lewis Caroll lah yang pertama kali mempopulerkan Alice "miliknya" lewat Alice's Adventures in Wonderland. Anda bisa membaca impresi awal saya tentang novel tersebut di sini.

Ok, sekarang kita masuk ke movienya. Banyak yang setelah menonton filmnya merasa eerghh... apa iniee =___=? Ok, actually, saat saya menonton film ini bersama teman-teman yang lain, cuma saya sendiri yang merasa puas dengan movienya. Kenapa? di sini sebenarnya kuncinya. Jika anda mengharapkan dan menonton film ini karena Tim Burton nya, memang anda bakal kecewa karea twist dan weird things extraordinarie yang sudah menjadi kekhas-an beliau hampir tidak ditemukan sama sekali. Tapi jika anda menonton film ini karena ini adalah sequel dari cerita originalnya, maka anda dijamin akan menikmatinya. Saya beruntung karena saya termasuk dua-duanya, jadi ketika film mulai bergerak meninggalkan alasan pertama, saya langsung ganti mode dan menikmati filmnya karena alasan kedua. Benar, dengan kata lain, menonton film ini tanpa pernah membaca bukunya (dan bukan cuma satu, tapi dua, "Alice's Adventure in Wonderland" dan sequelnya, "Through The Looking Glass") sama seperti anda nonton sebuah film Harry Potter tanpa menonton movie sebelumnya, atau kalau otaku, seperti menonton Higurashi Kai tanpa nonton Higurashi. Atau Umineko Chiru tanpa baca/nonton Umineko. Yah, intinya sama seperti melihat sequel tanpa mengikuti serial aslinya.

Di film ini, ada buanyuaakkkk (kalo boleh lebay) sekali trivia, referensi, dan quote bertaburan sepanjang film. Beberapa stay true to the origin alias manut pakeme, dan beberapa lainnya agak ngaco dan menyimpang, tapi tetep saja itu referensi. Anda tetap tidak bisa bilang itu salah kalo anda belum pernah lihat yang benar, kan? Oke, yang mana dulu yang harus diluruskan?

Kenapa Alicenya tidak jadi yandere dengan pisau atau benda-benda tajam lainnya dan swiesh~ crot crot darah-darah bercipratan dimana-mana wonderland jadi oh so emo dan angst ala sweeney todd the demon barber of fleet street?

Well, as awesome as it might sounds, dan saya juga benernya lebih suka, tapi sepertinya kita sudah terlalu banyak menerima image Alice yang gothic dan wonderland yang horror tanpa sadar bahwa di cerita aslinya tidak seserem itu. Wonder dalam wonderland, meminjam kutipan dari skrip aslinya, is making you curiouser and curiouser, NOT scarier apalagi freak out. Keanehan di wonderland lebih didominasi oleh image dan scenery yang ganjil, serta, ini sebenarnya salah satu daya tarik novelnya yang asli, dialog antara para penghuninya yang penuh permainan kata. Benar, karena Alice ditulis oleh seorang pedophile genius lulusan oxford majoring both classic and mathematics, jadi di novel aslinya banyak sekali permainan kata, dialog-dialog nyentrik dan puisi-puisi dengan susunan kata yang tidak biasa. Inilah the wonder of wonderland, penuh dengan orang-orang gila, namun tidak menakutkan.

Mau coba liat puisinya kaya gimana? ini salah satunya;
(kalau tidak salah ingat, ini dibaca white rabbit saat persidangan)

They told me you had been to her,
And mentioned me to him:
She gave me a good character,
But said I could not swim.

He sent them word I had not gone,
(We know it to be true):
If she should push the matter on,
What would become of you?

I gave her one, they gave him two,
You gave us three or more:
They all returned from him to you,
Tough they were mine before.

If I or she should chance to be
Involved in this affair,
He trusts to you to set them free,
Exactly as we were.

My notion was that you had been
(Before she had this fit)
An obstacle that came between
Him, and ourselves, and it.

Don't let him know she liked them best,
For this must ever be
A secret, kept from all the rest,
Between yourself and me.


Nggak nyambung kan? tapi bagus kan? nah, itulah INTI dari WONDERLAND. Jadi untuk Alice yang jadi sinting, bunuh-bunuhan di wonderland, yandere FTW, mending kita tunggu saja versi movie nya Alice punya McGee saja. Malah bagus kan? afterall 2 Alice (adaptation) are better than one.

Alasan di atas juga menjawab tentang kenapa kok Madhatternya nggak MAD? karena, memang begitulah Madhatter yang di aslinya. Jangan bayangkan mad di sini seperti psycho atau bishounen-bishounen angsteh di yaoi manga, madhatter is "mad" karena permainan kata-katanya yang ngalor ngidul gak jelas, tapi menarik untuk dibaca (er.. kok jadi seperti blog saya? wakakakak *pede*), dan mad tea party yang asli juga tidak seekstrem yang anda bayangkan, pesta gila di novelnya hanya berisi teriakan, ketidakteraturan dan barang-barang yang terlempar kesana-kemari. Tidak sehardcore yang kalian duga, mungkin, karena orang mabuk juga bisa bikin pesta kaya gitu. Tapi di masa itu cerita selevel ini sudah sangat kontroversial, sampai sempat dilarang dibaca oleh anak-anak pada awal-awal keluar. Ingat, ini cerita di jaman victoria, dimana cewek tidak pake kaos kaki sama hot tidak sopannya dengan tidak pake celana dalam.

Meskipun, ya, saya juga merasa desainnya Madhatter malah lebih kaya orang-orangan sawah daripada Hatter yang selama ini ada di bayangan saya.

Apa lagi yang mau saya tulis? Ah, jabberwock.

Seperti yang saya bilang, untuk fully experience film ini, anda harus membaca dua buku, Alice's Adventure in Wonderland, dan sequelnya, Through The Looking Glass. Jabberwock adalah creature legendaris yang muncul di cerita kedua Alice. Itupun tidak secara langsung, namun hanya dalam sebuah puisi dan dalam percakapan antar karakter di dalam cerita. Dengan kata lain, melihat "versi" Jabberwock dalam setiap jenis adaptasi Alice merupakan kesenangan tersendiri. Satu hal yang jelas, Jabberwock adalah mahluk terkuat di wonderland dan hanya bisa ditebas dengan vorpal blade. Jadi, tidak mengeherankan kalau Alice bisa memotong Jabberwock dengan sangat mudah, karena itu memang sudah didesain untuk "slayer" nya. Ibaratnya anda memotong kertas dengan gunting dan dengan gergaji. Tentu saja dengan gunting sekali "kres" langsung jadi dua kan? Ini juga menjelaskan kenapa banyak hal-hal di film ini yang jika dilihat oleh penonton yang tidak membaca novelnya terkesan eewww tapi di mata mereka yang membaca novelnya fine-fine saja, atau terlihat keren malah.

Misalnya? ok, contoh lain, ketika Hatter dan Alice hendak maju battle dan Hatter membaca puisi yang kalo mungkin di telinga anda terdengar cheesy. Puisi itu benar-benar ada dan bahkan menjadi legendaris di dalam literatur Inggris karena dari puisi itulah lahir terminologi baru, portmanteu, yang akhirnya menjadi elemen dari bahasa Inggris. Juga saat vorpal blade diperlihatkan. Desainnya mungkin tidak begitu keren. Akibatnya di mata penonton awam, mereka akan berkomentar "ah pedange biasa wae". Sementara pembaca novelnya mungkin akan berkomentar "itu dia! pusaka bersejarahnya wonderland!"

Oh, tapi satu hal, tidak, di novelnya tidak ada dansa aneh yang sempat bikin saya ill feel itu (thanks God nggak nyampe semenit nari-narinya).

Kembali ke soal novelnya, sebenarnya adaptasi kali inipun, sama seperti banyak adaptasi lainnya, dari awal sudah mengidap sindrom yang sama, yaitu menggabungkan dua novel menjadi satu. Meskipun hal ini bisa dimaklumi dan tidak begitu mencolok jika di mata penonton yang tidak membaca novelnya, tapi tetap saja anakronismenya sedikit mengganggu. Dalam Alice's Adventure in Wonderland, The Red Queen adalah Queen Of Hearts. Dengan kata lain, elemen wonderland di buku pertama adalah kartu bridge. Prajurit-prajurit kartu, Jack of Knaves., King of Hearts. Mad Hatter juga muncul di buku ini. Dan di wonderland ini tidak ada White Queen. Yang ada adalah the Duchess, seorang bangsawan wanita yang stratanya berada dibawah Red Queen. The Duechess di buku kesatu ini hanyalah wanita gendut yang dapurnya berantakan dan punya bayi yang ternyata babi (ini bukan plesetan kata btw). Barulah di buku kedua, Alice menginjakkan kaki di another wonderland. Ya, ANOTHER. Karena dia tidak lagi jatuh ke dalam rabit's hole, melainkan masuk menembus cermin. Wonderland dalam Through The Looking Glass serba terbalik kanan dan kirinya, karena itu tentu saja wajar jika Tweedledee dan Tweedledum berasal di dunia ini. Legenda Jabberwock juga disebut-sebut dalam cerita kedua ini. Tema dalam wonderland yang ini adalah catur antara merah melawan putih. Nah, jadi di cerita yang ini konsep red queen vs white queen diangkat.

Jadi dengan kata lain, white queen di movie yang ini adalah penggabungan antara white queen dengan duchess. Tapi, apakah saya keberatan? ooh, tentu tidak. Sama sekali tidak *mengusap iler dengan sapu tangan*

Sumpah pertama kali saya melihat white queennya keluar, saya kira ini live action adaptasi dari salah satu karyanya Keiichi Kunishige. Salah satu ilustrator gothic lolita favorit saya yang sepertinya satu fetish dengan saya soal warna kulit. Anway, daftar tingkatan moe level di film ini kalo versi saya; peringkat 1) White Queen, 2) Alice versi loli, 3) Alice. Wkwk emang penting yah.

Kalau harus nulis apa yang bikin saya kecewa dari adaptasi ini, adalah karena tidak dimunculkannya creature legendaris yang lain, yaitu Humpty Dumpty.

Humpty Dumpty adalah mahluk paling genius di wonderland yang ada di buku dua. Dialah yang membantu Alice menerjemahkan puisi Jabberwock dan sangat pandai memuter-muter kata-kata. Waktu di adegan White Queen bilang pada Alice dia harus minta bantuan seseorang, saya sudah seneng dan menebak-nebak kalo itu Humpty Dumpty ...tapi ternyata si uler perokok itu.

Overall, impresi saya tentang movie ini masih tetep keren banget. Sebagai fans Tim Burton saya tidak bisa berkata kalau film ini bagus, tapi sebagai fans berat Alice in Wonderland (kalau anda ke blog lama saya, anda akan menemukan segudang postingan penuh teriakan fanboy saya tentang alice) saya bilang kalo ini adalah adaptasi yang memuaskan.

Terakhir, ini spesial buat yang udah nyempetin baca postingan ini sampe akhir, akan saya kasih tahu jawaban dari

WHY, is a raven like writing desk?

jawabnya...


adalah...


...


...saya tidak tahu.


Wakakakakak, karena memang itulah jawabannya. Pada saat Lewiss Caroll menulis bagian percakapan Hatter dengan Alice dalam bab Mad Tea Party, beliau sama sekali tidak memikirkan apa jawabannya, karena yang ingin ditunjukkan dari situ adalah situasi dimana Alice melihat dunia wonderland (yang semuanya adalah orang dewasa) penuh dengan hal-hal yang tidak dia mengerti. Mengapa orang-orang dewasa harus berbohong? mengapa orang-orang dewasa memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu dicari jawabannya?

Meskipun demikian, pada akhirnya banyak yang mengirimkan jawaban versi masing-masing. Karena “Poe wrote on both”, salah satunya (Edgar Allan Poe adalah penulis puisi "Raven" yang terkenal), “they both stand on sticks”, “they both come with inky quills”, dan yang paling cerdik adalah “because there is a B in both and an N in neither”, sebuah jawaban yang tidak nyambung karena pertanyaannya memang tidak nyambung. Menanggapi itu semua, pada akhirnya, Lewiss Caroll menulis jawaban seperti ini:

"Enquiries have been so often addressed to me, as to whether any answer to the Hatter's Riddle can be imagined, that I may as well put on record here what seems to me to be a fairly appropriate answer, viz: 'Because it can produce a few notes, though they are very flat; and it is nevar put with the wrong end in front!' This, however, is merely an afterthought; the riddle as originally invented, had no answer at all."

Perhatikan bahwa beliau menulis "nevar" bukan "never" yang merupakan permainan kata dari "raven". Caroll mungkin ingin mensatir filosofi paradoks manusia yang selalu menginginkan jawaban yang pasti, padahal beliau sendiri ahli matematika.

Masih banyak lagi yang bisa ditulis dari Alice, tapi jika saya terusin sepertinya bakal sampai pagi atau mungkin malah sampai malam lagi (lebay). Jika tertarik anda bisa melihat halaman wiki ini yang memuat banyak referensi unik lainnya seputar karya legendaris ini. Dan kalau mata anda mulai pegel memantengi dinding tulisan itu, silahkan segarkan kembali dengan melihat halaman ini dan ini.

12 comments:

kuroiyuki88 said...

Wah saia lom sempat nyelsein baca alice na... maklum sambil bantu2 jaga depot =_=;;

yg gw suka gaya bahasa nya tuh... pun pun nyang bertebaran dimana2 XD~

nontonnya... kapan2 aja deh =_=;;

Neohybrid_kai said...

iya, emang itu novel banyak permainan logika dan absurditas, nggak heran kalo otaku pada suka

gecd said...

postingan yg sangat antusias...
kenapa dulu saya ga bikin yg kaya gini saat pas booming umineko...?
tentang kagagalan anime dalam menceritakan tea party ep 2 yg seharusnya sedih ( malah horror ), battle mahadasyat beato vs virgilia, taktik licik nya rudolf vs belphe, itung2an matematikanya kyrie vs levi, red webnya evatrice, trollface nya gaap, shannon-kannon hacking siesta, krauss vs goat kun, dan LEGENDARY LOSER FLAG!!!!!!!!!!!!111
upps malah ngoceh ga jelas..........

Neohybrid_kai said...

ah I c, jangan khawatir bro masih ada season dua! XDDD

fallendevil said...

jelas dan detil.



@gecd : wkwkwkwk masih belum terlambat

Kencana said...

Makasih atas rekomen situsnya (Keiichi Kunishige) Saya salah satu fans gothic lolita nih.

Neohybrid_kai said...

Ahaha, sama kalau gitu. Selain Keiichi Kunishige yang saya kenal Tsukiji Nao sama Ayami Kojima (ilustratornya Castlevania), kalau Tsukiji Nao lebih ke gothic yang cerah

Kencana said...

Ayami Kojima, ya? saya gambarnya. Cenderung ke arah realistik.

sabbathyamori said...

Waaw~~ Aku penggemar Alice in Wonderland!! (dan segala hal yang berbau fantasi) XD
Aku jadi tau lebih banyak (tentang berbagai icon Alice dan jg ttg Alice in Wonderland sendiri) setelah membaca blog ini - berhubung aku belum membaca kedua novel Alice.

Aku sependapat kalau film ini memuaskan - tipe film yang pengen aku tonton lagi dan lagi XD - walau ada satu kejanggalan dlm hal teknis yang kutemukan (aku lupa istilah perfilmannya apa).
Entah aku yg salah lihat ato gimana, tapi belum sempat kukroscek..
Kalau aku sebutin di sini takutnya salah, jadi mending aku tonton ulang filmnya dulu.. he..

Rrrrandom said...

Wah, penggemar Alice juga. Gw jujur termasuk salah satu yg kecewa sama Alice film ini ' 'a bukan karena White Queen, Jabberknoll ataupun si pedang. Mungkin lebih ke, uhh, endingnya yang too Hollywood-way? Walau emang sih biasanya baik menang lawan jahat, tapi rasanya kejutannya kurang and kurang Alice... .___.

Tapi di sisi itu, semua karakter and key item yg ditampilkan udah TOP banget. Pemerannya juga pada bagus2, and Loves Mad Hatternya. Alice Win! dah pokoke.

Inspiring Bjhe said...

apa-apaan ini ? @.@
Kenapa harus di campur-campur otaku-otaku-an

Dari keseluruhan, gw pikir tulisan ini worth buat sebagai refrensi. ternyata gak juga. Sayang banget kan?!

gw yang juga ampir tiap hari baca cerita alice in wonderland (tapi gak ampe nyari-nyari versi freak lainnya seperti, manga, anime dan tema lain seperti goth atau apalah lainnya). Versi lainnya, cuma buat essence cerita asli lewis carroll MATI.

Overall tim burton was a bad egg! Yang paling penting dari alice in wonderland, yaitu Alice bermimpi! bukan bertualang! Disitu yang menjadikan cerita alice lebih ke arah surealis! Dan lebih beralasan untuk bertemu hal aneh!

gw penggemar alice in wonderland, bukan versi otaku-nya. Hiiii

Neohybrid_kai said...

Well, saya memang penggemar Alice, tapi juga otaku (as you can see from this blog), hence the article. Dan artikel ini memang tidak dibuat untuk referensi Alice pure dari Alice sendiri (meskipun saya sudah menulis point-point dari saya yang berhubungan dengan original worknya), saya hanya mereview filmnya Tim Burton dan mengkomparasikannya dengan yang asli dan adaptasi lain yang ada di otakusphere.

Kalau soal sayang banget atau tidak nya menurut saya itu subyektif. A story can be interpreted in many ways and I appreciate what I think is interesting (for me, yours could be different) :)

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime