Wednesday, March 10, 2010

Ini dia yang ditunggu-tunggu, The Beach Restarurant: FINAL wakakaka

12 comments
Sebenarnya memang belum tamat sih, tapi karena yang terakhir dibikin sampai sini, jadi anggap saja ditamatkan di sini XDDDD padahal belum masuk ke cerita inti, lol. Btw nih potongan-potongan draft dari karakter yang lain. Silahkan ber-wtf.


Arc Tsubame

== Getsuren Tsubame ==

Vampaia da !!! special kind of vampire, Earth’s vampire, known as “True Ancestor”. They have similar functions, to destroy and consume anything that threaten the Earth. The easiest way to do this is to kill the threat, then drink its blood, then consume the remains (uuunnnn.... oishiiii~). But since Getchu is an elegant person, she rather drink the blood of her victim absolutely dry that the remains instantly crumble to dust (mummified).

In Bitch Resto, her mission is to privately and secretly investigate missing students in her school. As competent as she is, she was caught wethanded –literally-- sucking a girl’s blood by breasts, by none else but Keiichi (whose pervertion allow him to sneak into all-girls dorm).

Tsubame rope Keiichi into her own problem. She said that that girl was a vampire, but a different vampire from herself.

Setelah memilih :
Choice 2 : “Suara siapa itu??”
Choice 2 : “..Emangnya kamu siapa?”
Choices 2 : “What the hell are you doing?”
Choices 2 : “Aku harus ke wc sebentar...”
Choice 3 : “Gimana kabarmu, Toshi?”
Choices 1 :“Sudahlah, aku pulang saja..”

Hell. Arcueid style, miss Roa and Nrvnsqr. Just Ciel + Cthulhu!

Dateline 3 – 24 (afternoon 6.00 PM)

Sudahlah, aku pulang saja, tidak mungkin mereka masih ada di restaurant pada jam segini.. seharusnya mereka sudah pulang dan telah mengunci pintu..

Tring!

Eh, sepintas ada cahaya dari.. SMA EKC (Elite Khusus Cewek). Hmm? Ato hanya perasaanku?

Tring! Tring!

Benar2 ada! Apa yang terjadi disana?
Sesaat, kakiku sudah berlari dan membawaku menuju ke depan gerbang SMA EKC.

Tring! Tring!

Asalnya dari sana, ayo kakiku!

Aku mengikuti arah cahaya itu, setelah memanjat gerbang pintu tentunya. Setelah naik sampai lantai 2, kulihat kembali cahaya itu. Datangnya dari kelas!

Kudekati, dan makin terang cahaya yang keluar dari kelas tersebut. Herannya, kenapa tidak ada satu orang pun yang melihat cahaya ini ya? Atau hanya aku yang terlalu iseng?

Kulihat kelas tersebut, dan ternyata, di tengah kelas tersebut terdapat 2 orang, wanita.

Setelah makin jelas kulihat dengan membesarkan bola mataku, ternyata salah satunya sedang... menggiggit? Eh? Ga salah itu? Semakin tidak percaya, aku semakin membesarkan bola mataku, sampai akhirnya copot..

Ga ding, ga ampe copot.. hanya kelilipan sambil reflek mengucapkan “Auw!” dengan suara kencang.

“Auw!”

“!”

Seakan tidak percaya, aku dan wanita itu saling berhadapan. Darah segar mengalir dari mulutnya, dan dari dada wanita yang satu lagi.

“Siapa itu?”

Sialan.. aku melangkah ke tempat yang salah.. Terpaksa, aku harus bersandiwara..

“Miaww?”

“...Oh, hanya kucing...”

“....”

Setelah itu, aku mencoba mundur dari tempatku, dan bergerak keluar dari gedung sekolah itu.

“Ternyata, hanya kucing yang besar..”

Deg!

Sesaat setelah sampai di tangga, kudengar suatu suara yang mengerikan dari arah belakangku. Spontan, aku langsung melihat ke belakang, dan kudapati, seorang gadis sedang berada di belakangku. Dengan darah segar yang masih ada di lapisan bibirnya.. Yang ternyata, adalah gadis yang sama...

“....”

“Siapa kau?”

“! Ah, bukan, sapa2! Aku hanya lewat sa-...”

“Hmm? .....!!!”
“Kau?”

“...Tsubame?”

Ternyata, dia adalah seseorang yang rencananya tadi akan kucari di cafe... eh, tunggu.. lalu, ada apa gerangan dia berada disini? Dan apa yang baru saja terjadi?

*seperti yang anda tebak, penulisnya lagi kecanduan TYPEMOON

-------------------------------------------------------------------

Arc Ayuki

==Kagiko Ayuki’s Arc==

Ayuki is a winged being. Winged being are existences that carry memories of the stars. If stars are gods, then winged being are angels.

Winged being has been around since time unwritten in histories. They impart knowledge of the stars to primitive people, so people can survive, etc. In turn, that knowledge become known as religion. Real soon after, people’s greed get the better of them and thus they start to declare that their own religion is the truth, all other religions have no truth value. This sad state of affair eventually lead to innumerable catastrophic war.

People suffered in the war. Eventually, they curse winged beings. This curse is so strong that it’s enough to kill them, one by one. In the end, winged beings are no more.

War force people to create more weapons to more effectively slay their enemies before their enemies can slay them (buriza-do kyanon, aegis of the immortals, etc). This give rise to science, and religions are abandoned. The demise of winged being thus completed.

World peace is kept at the tip of sword known as balance of nuclear power.

Ayuki ... her existence is solely an anomaly. For what purpose do winged being exist today ? Still, the curse that killed winged being still exist today. It’s slowly killing Ayuki, (misuzu style).

Ayuki wish to return to the stars. But she can’t. The sky is either filled with pollution or raging with storm. Thus Keiichi-kun take her to an abandoned planetarium. There, Ayuki died in peace, her beautiful memories with Keiichi returned to the stars. The planetarium then crumbling, burying Keiichi with Ayuki.

*seperti yang anda tebak, penulisnya sedang keranjingan KEY (Kagiko: sebutan untuk fans KEY)

Iya, yang nulis cerita ini lebih dari seorang. Now, back to BEACH RESTO!!
Apakah anda siap untuk mengakak? awas, jangan mengakak terlalu keras di depan publik atau anda akan dikirim ke Rokkenjijay.

-------------------------------

Dateline 3 – 18

Mimpi.

Aku melihat sebuah mimpi. Aku bermimpi kembali tentang badai itu. Badai yang akan menyerang kota. Badai yang sangat keras dan ganas. Tapi kali ini, aku berada didekat orang tuaku. Melihat mereka tertangkap tornado itu seperti debu diterbangkan angin. Setelah itu, aku bangun dari mimpiku.

Aku muntah setelah bangun.

Sambil terbatuk2, aku menahan sakit diperutku. Rasa sakit yang tak tertahankan. Di tengah rasa sakit itu, aku tak sengaja melihat ke arah onggokan muntahan. Merah ! ternyata aku muntah darah, dan dalam jumlah yang tidak mungkin tak membangkitkan rasa takutku.

“Keiichi-kun !”

Spontan aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Aku tertegun sesaat. Kenapa Vina-chan ada di rumahku .... tapi aku langsung sadar, kemarin dia juga di sini, dan dua hari ini dia sudah memasakkan makanku. Mengingat itu, aku jadi teringat hal lain. Kemarin kedua orangtuaku ... tidak, aku tak ingin mendengar itu, walau dalam pikiranku sendiri sekalipun. Lagipula, ada hal yang lebih gawat. Aku muntah darah. Manusia sehat seharusnya tidak memuntahkan darah ...

“Keiichi-kun, kamu muntah darah ! Apa badanmu sakit ?”

Saking sakitnya, aku tidak bisa menjawab, hanya meringis. Rasa nyeri ini terasa sangat kuat di perut, sampai-sampai seluruh pembuluh darah di tubuhku berdenyut-denyut dan rasanya aku sedikit demam. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha menyusun kata-kata untuk menggambarkan penderitaan yang mendera tubuhku tanpa ampun.

“Jangan khawatir ... nanti aku ke dokter ... jangan kha- wa ...”

Tiba-tiba tubuhku kehilangan keseimbangan, tubuhku terasa berat, dunia berputar, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

......

“Saudara Genma Keiichi.”

Pak dokter di depanku, seorang lelaki tua yang umurnya jelas lebih tua dari bapakku sendiri, menatapku seperti seorang montir bengkel mengamati mesin tua yang bobrok.

“Dari sampel yang kami ambil dari tubuh anda, sepertinya anda bukan tipe orang yang rajin berolahraga.”

Ya, memang benar. Sehari-hari duniaku hanya berputar-putar antara sekolah dan video game. Ini memang masalah generasi muda jaman sekarang, sebagaimana dikeluhkan oleh orang-orang yang sudah berumur. Aku sendiri tidak peduli apa kata-kata orang yang sudah bau tanah, tapi masalahnya jadi lain karena yang mengatakan ini seorang dokter, yang paham betul tubuh manusia.

“i... iya pak.” Semi-otomatis aku menjawab, seperti sedang diinterogasi oleh guru BK.

“Yah. Itu memang harus diubah. Sering-seringlah anda berolahraga, selagi ada waktu. ” kata pak dokter lagi, tanpa mengubah raut wajahnya sedikitpun, sebagaimana lazimnya dokter.

“i... iya pak” lagi-lagi aku menjawab secara otomatis. Aku selalu begini kalau berhadapan dengan seorang pemegang otoritas. Rasanya semua orang juga begitu.

“Saudara Keiichi. Apa anda mengerti hal yang sedang kita bahas ?”

“eh ? maksud bapak ?” aku jadi sedikit grogi karena raut pak dokter sepertinya berubah jadi lebih serius dari sebelumnya, dan nada suaranya menjadi lebih dalam.

“umur anda tidak sampai 2 bulan lagi.”

“hah ... ? eh ... ? yang benar pak.”

“Saudara Keiichi. Saya turut berduka cita atas kematian orangtua saudara. Tapi sebagai dokter, sudah tugas saya menyampaikan segala fakta medis pada pasien saya. Jadi begitulah. Silakan menikmati sisa hidup anda yang tinggal 2 bulan lagi.”

Rasanya dunia ini jadi berputar. Perasaan ini, aku pernah mengalaminya. Oh iya, ketika aku muntah darah, dan harus diperiksakan ke sini. Itu berarti aku akan pingsan. Yaaa ... yang jelas, aku mendadak tak merasakan apapun lagi.


Dateline 3 - 19

Kanker otak. Sejak lama, dalam kepalaku ada sel-sel yang tumbuh tak terkendali. Sel-sel itu membunuh sel-sel lain yang masih waras. Perlahan-lahan, sel itu merusak otakku, yang pada gilirannya menghadirkan El-Maut sendiri ke hadapanku. Demikianlah.

TAMAT

Belum ding.

“Demikianlah”, ya ... tiba-tiba aku merasa betul-betul terejek oleh kata-kataku sendiri yang aku utarakan dalam pikiranku sendiri. Seumur-umur, belum pernah aku merasa setersinggung itu. Apa hidupku hanya akan berakhir seperti ini saja? Seorang Genma Keiichi, orang baik-baik (oke, kadang aku juga agak sedikit “ecchi”), anaknya Pak dan Bu Genma –almarhum- yang rajin ke sekolah meskipun di kelas Cuma tidur melulu, selesai sekolah langsung pulang ke rumah tanpa mampir ke tempat-tempat yang tidak layak – meskipun itu karena ingin segera main game.

Oh iya, game. Pak dokter tidak bilang langsung, tapi itu semua karena aku kebanyakan main game. Pasti. Sejak dulu semua orang bilang kalau game itu tidak baik untuk kesehatan, tapi kenyataannya game tetap saja dibuat. Sama seperti rokok. Sama ... rokok bunuh orang, game juga bunuh orang.

Final Fantasy, Winning Eleven, Smackdown ... hal-hal itu terlintas dalam kepalaku. Kalau dipikir-pikir, sepertinya memang dalam kepalaku hanya ada memori tentang video game saja. Ironis, kalau dipikir-pikir, sel-sel otak yang menyimpan memori tentang game itu juga jadi rusak karena terlalu lama terpapar sinar layar video game.

Aku marah ! ini tidak adil ! Aku akan hancurkan semua video game ! mulai dari konsol PS3 yang belum sempat aku mainkan. Itu konsol aku angkat, mau aku banting ke lantai biar hancur berkeping-keping seperti otakku yang TOTALLY FUCKED UP, lalu..

“Keiichi-kun, sedang apa ?”

Tiba-tiba aku mendengar suara yang semanis madu. Oh, itu Vina-chan. Shimatta, Vina-chan pasti berpikir kalau aku aneh. Angkat konsol PS3 tinggi-tinggi ... padahal konsol untuk dimainkan sepuas-puasnya dan bikin hidup lebih hidup, bukan diangkat seolah-olah dipuja-puja, apalagi bikin hidup jadi mati.

Semarah-marahnya aku, ketika tahu Vina-chan ada di dekatku, aku berusaha menahan diri juga. Lagipula Vina-chan sudah baik hati sekali beberapa hari terakhir ini, mau mengurus aku yang total loser ini, dst, dsb. Rasanya tidak pantas kalau aku menunjukkan sisi diriku yang tidak pantas ditunjukkan.

“ah ... nggak sedang apa-apa kok. Ini PS3 baru, sayang belum sempat aku coba. Tapi buat apa yah ? hahaha .... hahaha ....” aku ketawa sendiri seperti kebanyakan karakter utama yang bodoh dalam sembarang eroge.

“Keiichi-kun, aku turut menyesal atas kenyataan bahwa hidupmu tinggal 2 bulan lagi....” Vina-chan tertunduk ketika mengatakan ini, wajahnya menampakkan kepedulian atas penderitaanku. Tambah manis saja...

“ah ha ha ... sebetulnya aku tidak sesedih itu kok.” Lagi-lagi aku ketawa seperti orang bodoh. Terus terang, mendengar Vina-chan bilang “2 bulan lagi”, aku sama sekali tidak merasa marah. Beda sekali dengan saat pak dokter tua itu yang bilang.

“yah, seperti pak dokter bilang, meskipun ini hal yang menyedihkan, tapi mari kita hidup sehidup-hidupnya.” Wajah Vina-chan berubah menjadi cerah. Kalau dipikir-pikir, sebetulnya kecerahceriaan Vina-chan itu sisi yang paling menarik pada dirinya. Tanpa sadar aku mengiyakan begitu saja seperti lembu dicocok hidungnya ... atau demikianlah kata peribahasa.

“Begini Keiichi-kun, di dekat pantai ada restoran yang namanya ‘Wulakpiko’. Aku bekerja part-time disana, jadi bagaimana kalau kamu melamar ke sana saja ?”

Aku nggak bisa membayangkan jadi waiter. Kalau dari video-video Youtube yang aku download dengan mencuri bandwidth sekolah, sepertinya itu pekerjaan yang keren, penuh dengan maid seperti Maid Cafe. Tapi kalau aku jadi waiter ... rasanya itu dunia yang berbeda lagi.

“OK deh. Tidak ada salahnya mencoba kan ? kalau Vina-chan yang bilang ‘bikin hidup lebih hidup’, rasanya itu hal yang cukup berharga.”

List Imaginary Ending Chapter 1

“Yah, bukan pilihan yang jelek juga sih,” kataku.

Vina-chan menoleh. “Huh?” Sepertinya dia tidak begitu memperhatikan kata-kataku. “Ah, ya tentu saja” lanjutnya cepat, “Selain itu di sana kan karyawannya pakai bikini semua. Kamu seneng sama hal-hal kaya gitu kan?”

“Kaya gitu?” Aku mencoba membela diri dengan cara berpura-pura bodoh.

Vina-chan tersenyum, “Sudahlah. Mendingan kamu minum obat dulu sekarang. Tuh, sudah aku siapkan”
Aku melihat segelas air dan tablet-tablet obat di atas meja dekat tempat tidurku.
“Thank you” kataku dan meneguk segelas air minum itu, lalu menelan butir pil itu bulat-bulat.
Kenapa? Emang pilnya bulat kok.
Eh, tapi..
Kok rasanya sedikit aneh.
Ralat, sangat aneh, malah.
Aku melihat ke obat-obat lain yang berserakan di atas meja.
Tunggu dulu, batinku, sejak kapan obat yang kuminum warnanya seperti ini.
“Vina-chan” kataku “Kamu yakin ini obat punyaku? kamu nggak salah ambil dari lemari obat, kan?”
Vina-chan tersenyum’
Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Vina-chaan” kataku dengan rasa bingung bercampur kesal.
“Sorry sorry.” Katanya seperti sambil menahan tawa.
“Sorry, keiichi-kun. Itu benernya permen yang aku beli kemarin buat ngerjain temen-temenku. Aku gak tahu kalo rasanya ternyata separah itu.” Sekarang dia benar-benar tertawa.
“Ya ampun..” kataku. “Orang sakit jangan dikerjain dong, hampir saja kukira yang aku minum ini racun atau sebangsanya.”
Aku meneguk sekali lagi air minum dalam gelas lalu memandang Vina-chan.
Di luar dugaan, tawanya tiba-tiba berhenti dan wajahnya menjadi serius.
“Itu bener permen kok.. tapi memang beracun sih”
Katanya santai.
“Aku membelinya kemarin dari temanku yang biasa berurusan dengan barang-barang ilegal.”
Tambahnya.
BRRRRFFFTTTT.
Aku tersedak dari minumku.
“APP.. APA?!!!”
Kataku setengah berteriak.
Vina-chan tersenyum.
“A.ha.ha. Keiichi-kun, sorry ya. Benernya aku juga tidak mau membunuhmu, tapi organisasi menganggap posisimu berbahaya jadi harus segera dimusnahkan dari dunia ini.”
Organisasi? batinku. Apa-apan ini semua? Konspirasi? Halo halo, kalo ada yang tahu tolong jelaskan padaku sekarang juga!!
“Apa maksudmu?” tanyaku pada Vina-chan “Organisasi apa? Kenapa ada yang ingin membunuhku?!”
Vina-chan tetap tersenyum, melihatku yang kebingungan seperti seorang manusia pedalaman yang diberi handphone terbaru yang sudah mendukung feature video call dan GPRS.
“Keiichi-kun, identitas sebenarnya dari organisasi yang ingin membunuhmu adalah..” Vina-chan berbicara seraya sengaja memperpanjang ucapannya, membuat rasa penasaranku semakin besar.
“Adalah... organisasi Vina untuk membunuh Keiichi!”
Dia berkata dengan nada seperti seorang MC saat mengumumkan siapa pemenang lomba masak lokal yang disponsori oleh salah satu merek alat elektronik rumah tangga dengan hadiah sebuah kompor gas anti bocor dengan api berwarna biru mud.. tunggu dulu, apa maksud semua ini???
“Dengar ya,” lanjut Vina seperti sudah tahu apa yang aku pikirkan.
“Aku harus membunuhmu, Keiichi-kun, karena kamu punya sesuatu yang aku butuhkan, tapi aku tidak bisa mengambilnya tanpa membuatmu mati terlebih dulu.”
Dia berkata dengan nada datar tanpa ekspresi bersalah sama sekali.
“Waktu kedua orang tua kamu meninggal, mereka mempunyai asuransi dalam jumlah besar, yang rencananya akan digunakan untuk membiayaimu sampai kamu bisa hidup mandiri.”
Apa?
“Tapi... gimana ya, aku sekarang juga lagi butuh uang dalam jumlah yang tidak sedikit, jadi ya ..” Vina-chan menggerakkan kepalanya, seperti mengatakan “mau gimana lagi?”
“Sebentar,” selaku, “Darimana kamu tahu sampai hal-hal kaya gitu?”
“Hm? Keiichi-kun, kamu kira aku ini siapa? Berapa tahun kita hidup bertetangga? Siapa teman bermainmu sejak dari kecil sampai sekarang?”
Vina meneruskan bicaranya, “Bagi kedua orang tuamu, aku ini sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Kamu tidak tahu hal seperti apa saja yang sudah kami bicarakan karena kerjaanmu hanya main game di kamar.”
Begitukah? Batinku.
“Tapi kamu tidak bisa membunuhku seperti ini. Kalau orang lain tahu, pasti mereka akan mencurigaimu pertama kali karena motif uang asuransi.”
“Mungkin”
Kata Vina-chan.
“Tapi bagaimana jika orang berpikir begini, seorang gamer yang tiba-tiba divonis akan mati 2 bulan lagi akhirnya nekat mengakhiri hidupnya dengan meminum racun karena frustasi. Masuk akal, bukan?”
Apaaa? Aku mungkin akan mati dua bulan lagi, tapi itu jelas bukan sekarang.
Saat menyadari ini, tiba-tiba dua bulan terasa seperti waktu yang sangat panjang.
“Berikan penawarnya.”
Kataku pada akhirnya.
“Apa?”
“Penawar racun ini.”
Vina-chan tertawa lagi.
“A.ha.ha. Keiichi-kun, Seorang pencopet tidak akan memikirkan betapa malang nasib korbannya nanti jika ternyata semua uang milik korbannya tinggal uang di dompet itu.”
“Dengan kata lain?”
“Jika aku membeli penawar pada saat aku membeli racun ini, aku pasti tidak akan tega meracunimu sejak dari awal.”
Aku mengumpat perlahan dalam hati.
“Tapi itu bukan berarti kamu tidak bisa membeli penawarnya kan?”
Tanyaku setengah berharap.
“Iya sih, memangnya kenapa?”
Aku menghirup nafas dalam-dalam sebelum berkata lagi,
“Kalau begitu berikan aku penawarnya, jika uang yang kamu inginkan akan aku berikan padamu, sebut saja jumlah yang kamu inginkan. Tapi tolong, berikan aku penawarnya.”
Vina-chan terbengong mendengar ucapanku. Mungkin dia tidak mengira aku bisa bernegoisasi seperti ini. Mungkin dia akan memikirkan ucapanku.
Tapi aku salah, karena beberapa saat kemudian dia tertawa lagi. Lebih keras dari biasanya.
“AHAhAhAhAhAhAhA. Keiichi-kun, kamu belum mengerti juga rupanya. Jika kamu meninggal, maka uang asuransimu juga akan jatuh te tanganku. Lalu saat itu tiba, aku dan Tatsu-nii akan pergi dari sini.”
“Tatsu-nii? Tatsu-nii siapa maksudmu?”
Vina-chan menghela nafas.
“Tatsu-nii adalah pemilik Wulakpiko, restoran yang ada di tepi pantai tempat aku akan melamar untuk menjadi pelayan.” (Wulakpiko = Kopi Luwak, lebih parah dari Quau, muahahahaha)
“Sebenarnya aku sudah kenal lama dengan dia, karena aku adalah pelanggan di sana. Aku sering ke sana kalo pas lagi bete. Orangnya baik banget. Tapi kemarin saat ada badai tornado, restoran dan rumahnya hancur terkena badai dan semua karyawannya meninggal. Tatsu-nii berencana untuk membuka restoran baru dan merekrut karyawan baru, tapi dia sudah tidak mempunyai uang lagi, sampai berencana meminjam uang dari yakuza.”
Vina-chan memandang wajahku yang melongo setelah mendengar ceritanya dengan tatapan “ke mana aja lo selama ini, ha?”
“L-lalu..”
Kataku masih dengan setengah terkejut.
“Bukankah sudah jelas? Saat aku sudah membunuhmu dan mendapat uangnya, aku dan Tatsu-nii akan pergi keluar negeri. Kami akan menikah di sana dan membangun Wulakpiko baru.”
Apa?!
T-tidak mungkin, bagaimana bisa begini?
Kenapa ini semua bisa terjadi?
Eh, tapi tunggu dulu. Sepertinya ada yang aneh.
“Tunggu sebentar” selaku “Setauku pemilik restoran itu sudah tua jadi dia pasti sudah menikah, kan?”
“Benar” jawab Vina-chan singkat.
“Kalau begitu kenapa kamu mau pergi dan menikah bersamanya? Bukankah dia sudah beristri?”
“Fu.fu.fu” Vina-chan tertawa pelan.
“Memang benar Tatsu-nii sudah menikah, meskipun baru satu tahun. Tapi tidak ada yang tahu kalau istrinya ternyata hanya mengincar uang Tatsu-nii saja, malah sering selingkuh dengan karyawan restoran milik Tatsu-nii.”
“Aku yakin jika Keiichi-kun bekerja di sana, pasti cewek tak tahu diri itu juga akan mendekati Keiichi-kun. Tapi jangan kuatir, karena aku dan Tatsu-nii akhirnya sudah membereskan masalah ini.”
Vina-chan tersenyum menyeringai.
Apa? Jangan katakan...
“Fu.fu.fu. Kenapa, Keiichi-kun? Apa kamu merasa kecewa? Jangan khawatir, Tatsu-nii sudah tidak mencintai dia lagi. Jika kamu bertemu dengannya, dan itu tidak akan lama lagi, aku jamin, Tatsu-nii berpesan ambil saja kalau kamu mau. Karena Tatsu-nii sekarang hanya membutuhkan aku seorang. Sampai jumpa, Keiichi-kun, sampaikan saamku untuk Tere-san... di akhirat.”
APAA?!
“Apaaa?!”
Teriakku. Yang pertama tadi adalah teriakanku di dalam hati by the way.
Tidak akan kubiarkan. Tidak bisa diampuni. Vina-chan ku yang manis ini akan pergi dan menikah dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali?
Walaupun aku belum pernah bertemu, tapi dari seleranya dalam memilih nama untuk restorannya, aku jamin si Tatsu ini pasti orang yang sangat ndeso dan tidak punya sense of esthetique.
Emosiku yang meluap-luap membuatku ingin menghancurkan sesuatu.
*DEG*
Eh?
Tiba-tiba keseimbangan badanku terganggu selama beberapa saat.
Lho, Vina-chan, sejak kapan kamu jadi dua?
Sepersekian detik kemudian aku tersadar bahwa pandanganku lah yang terasa berkunang-kunang.
Vina-chan tertawa kecil.
“A.ha.ha, rupanya efek racunnya sudah mulai bekerja ya?”
“Pertama-tama, pandanganmu akan menjadi kabur, 5 menit kemudian satu persatu indera yang kamu miliki tidak bisa bekerja lagi, dimulai dari mata, kemudian telinga lalu pada akhirnya kamu tidak akan bisa bernafas sama sekali. Begitulah cara kerja racun ini. Penemunya memberi nama racun ini ‘cinta tanpa aroma’ ”
Aku hampir muntah mendengar nama racun yang sedang bekerja dalam diriku sekarang. Siapapun penemu racun ini, orangnya pasti lebih norak daripada si Tatsu tadi.
Tapi itu tidak penting, kalau aku tidak bisa memaksa Vina-chan untuk membeli penawar racun ini, nyawaku bisa melayang dalam hitungan kurang dari satu jam.
Apa boleh buat, bisikku dalam hati, kamu duluan yang memulai.
Jadi jangan salahkan aku jika terpaksa harus menggunakan kekerasan.
Mataku menelusuri ruangan, mencari benda yang bisa dijadikan senjata.
Ah, kursi. Tiba-tiba aku teringat salah satu adegan dalam game smack,dong! dan bergegas menghampiri kursi itu dan mengangkatnya.
Hehehe. Sebentar lagi akan terjadi adegan berdarah sekelas higurashi, batinku.
Aku mengangkat kursi itu.
HAP!
Eh?
Sekali lagi.
HAP!
Eh? Sejak kapan sebuah kursi jadi seberat ini?
Ini pasti karena efek dari racun itu, gawat, pasti tubuhku sudah mulai melemah.
“Keiichi-kun” suara Vina-chan membuyarkan lamunanku.
“Kamu lagi ngapain sih?”
Vina-chan memandangku seperti melihat orang yang memakai jas hujan di tengah-tengah kolam renang.
Aku sedang berusaha mengangkat sebuah kursi dengan gaya seperti pro westler, hanya saja kursinya terangkat tidak sampai 10 cm dari permukaan tanah.
“Sial!” kataku dengan gaya sok keren, “Racun ini.. sudah melemahkan tubuhku!”
“Keiichi-kun” kata Vina-chan lagi “Racunnya belum menyerang saraf gerakmu, kamu enggak bisa ngangkat kursi itu emang karena dasarnya kamu gak pernah olahraga.”
Eh? Aku terkejut. Benarkah begitu?
Hm.. kalo dipikir-pikir lagi, kapan ya aku terakhir kali mengangkat barang yang lebih berat daripada controller game?
“Walaupun begitu” kataku lagi, “bukan berarti aku akan menyerah sebelum mendapatkan penawar racunmu” kataku seraya mengambil lampu meja belajarku sebagai senjata.
Memang kecil sih, pikirku. Jangkauannya juga tidak seberapa. Tapi karena ringan aku yakin aku pasti bisa memakainya untuk memukul berulang-ulang dengan cepat.
Lihat, Vina-chan. Aku akan membuat combo lebih dari 10 hits, batinku.
“Heaaaaaa......”
Aku berlari ke arah Vina-chan sambil membawa lampu belajar itu ditanganku.
Vina-chan tertawa menyeringai.
“Bring it on!” desisnya.
Aku mengangkat lampu meja itu tinggi-tinggi.
“RAIDO ZE RAITONIINGGU!!” (ed: Ride The Lightning maksudnya, itu tuh.. jurusnya si Kai Kiske, eh salah, Ky Kiske ding)
Dengan kecepatan maksimal aku mengayunkan lampu belajarku ke kepala Vina-chan.
Eh? Dimana dia?
Rupanya Vina-chan sudah bergeser dengan cepat, lebih cepat dari aku, sehingga dia sudah berada di sampingku dan ayunan lampuku tidak mengenai sasaran.
“Tck,” Vina-chan mendecak, tapi bukan karena kagum pastinya.
Dalam satu kali jejak, Vina-chan membuat tubuhku tersungkur jatuh menghantam bumi.
Untung bukan wajah duluan.
Dengan terhuyung-huyung aku berusaha berdiri.
Pandanganku semakin parah, ditambah sekarang telingaku mulai berdengung.
Aku berlari hendak menyerang Vina-chan lagi, tapi sebuah tendangan telak kembali bersarang.
Sekarang perutku yang menjadi sasaran.
Hueeek..
Darah segar mengalir keluar dari mulutku membasahi lantai yang berkarpet.
Aku menyekanya dengan punggung tangan kananku.
Oh, adegan ini terlihat kereen, batinku. Seperti di anime-anime shounen.
Tapi masih kurang emo,
Jadi aku muntah darah lagi (lho?)
Ketika aku muntah darah untuk yang kelima kalinya Vina-chan berteriak histeris.
“Hentikaaaan.”
“Stoppu stoppu, Keiichi-kun kamu ngapain sih, muntah muntah begitu. Njijiki tau”
O..oke, rupanya adegan ini bagi sebagian orang tidak terlihat keren sama sekali.
Aku berlari lagi dengan sisa-sisa tenagaku yang terakhir menuju ke arah Vina-chan.
Karena aku tahu aku tidak mungkin menang dari jarak dekat, akhirnya aku melemparkan lampu itu ke arah Vina-chan.
*PRANG*
Lampu itu terlempar dan mengenai kepalanya, tapi Vina-chan hanya tergores sedikit.
Kesempatan, batinku.
Saat dia baru tersadar dari benturannya dengan lampu belajarku, aku sudah mengambil gagang sapu dan mengarahkan ke kepalanya.
*BUKK*
Vina-chan menangkis seranganku dengan kedua tangannya.
Darah mengalir dari pelipis kepalanya akibat lemparan lampuku tadi.
“Ke-iichi-kun.. ka-mu seri-us?”
Katanya terbata-bata sambil terus menahan serangan dariku.
“Tentu saja!” teriakku. “Saat ini nyawaku taruhannya. Jika aku tidak cepat-cepat meminum penawar racunmu aku akan mati! Apalagi setelah aku tahu kamu akan pergi dan menikah dengan pria lain, kau pikir aku bisa mati dengan tenang?!”
Kata-kataku meluncur begitu saja.
Di luar dugaan tiba-tiba Vina-chan tersenyum.
“B-begi-tu.. ya? ..syu-kur-lah..”
Nafasnya mulai tersengal-sengal
“T-ter-nya-ta.. Keiichi-kun.. t-ti-dak ma-u.. kehi-la-ngan..ku..he.he..”
*HUK HUK*
Vina-chan terbatuk-batuk dan tiba-tiba saja darah mengalir keluar dari mulutnya.
Apa yang sedang terjadi sebenarnya?!!
“Vina-chan!! Vina-chan!!!”
Teriakku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
Gagang sapu yang kupegang tadi terlepas dari tanganku, menimbulkan bunyi nyaring di tengah-tengah kesunyian.
“Vina-chan, kamu kenapa? Apa yang harus... aduh, bagaimana ini?”
Aku jadi panik sendiri.
“Keii-chi.. kun..”
Akhirnya Vina-chan memanggilku dengan suara yang lemah.
“Keiichi-kun.. kenapa kamu tidak pernah memelukku seerat ini sebelumnya?”
Eh?
“Kenapa kamu tidak pernah marah padaku seperti tadi sebelumnya?”
Vina-chan berkata dengan suara yang nyaris hampir tidak terdengar.
“Vina-chan, jangan ngomong apa-apa dulu, aku akan mengambilkan air minum atau apa, oh iya, aku akan menelepon dokter sekarang juga, eh tapi aku tidak tahu nomernya, biasanya Ibu yang menelepon kalo ada apa-apa, atau nomer darurat ambulance saja, ah iya, aduh.. tapi bahkan nomer ambulance saja aku lupa. Buku telepon.. buku telepon..”
Aku benar-benar panik.
“Kei..ichi-kun..”
Vina-chan tersenyum.
“Keiichi-kun yang seperti ini.. sudah lama sekali.. ya.. tidak kelihatan..”
Katanya masih sambil tersenyum. Manis sekali.
“Vina-chan...”
Panggilku tanpa sadar.
“Sejak Keiichi-kun punya mesin game, Keiichi-kun selalu terlihat seperti orang lain. Setiap hari hanya berada di depan televisi.. tidak pernah ke rumahku lagi.. padahal kita bertetangga.. Bahkan pulang sekolah bersama pun tidak.”
Vina-chan menarik nafas dalam-dalam.
“Saat istirahatpun Keiichi-kun pasti bergabung dengan teman-teman penggemar game yang lain, lagi-lagi ngobrolin soal game. Saat liburanpun, Keiichi-kun malah membeli game banyak-banyak untuk dimainkan..”
Suara Vina-chan semakin melemah.
Benar juga, batinku. Selama ini, aku tidak pernah melakukan hal apapun untuk Vina-chan, padahal kalau dipikir-pikir, dulu kami sering bermain bersama. Mungkin sejak peristiwa itu. Sejak secara tidak sengaja aku mendengar waktu kedua orangtuaku berbincang-bincang dengan orangtua Vina-chan tentang pertunangan kami suatu saat nanti. Sejak saat itu, aku tidak begitu memperhatikan Vina-chan lagi, karena aku tahu suatu saat nanti dia akan menjadi milikku. Yang perlu kulakukan hanya menunggu. Menunggu sambil bermain game. Jika sudah waktunya aku bekerja, aku tinggal meneruskan usaha orangtuaku. Jika sudah waktunya berkeluarga, aku tinggal menikah dengan Vina-chan. Semuanya tampak begitu mudah, sampai aku melupakan bahwa kebahagiaaan yang ada di depan matapun bisa menghilang jika kita tidak bergerak untuk meraihnya.
“Tatsu-san” kataku “Orang seperti apa dia itu”
“E.he..he..” Vina-chan tertawa pelan, “Ka-mu.. ma..sih perca-ya.. sa-ma.. i..tu?”
Eh?
“Keiichi-kun.. no-.. ba-ka..”
“Apa maksudmu?”
“Walaupun Tatsu-nii orangnya baiiik banget, mana mungkin aku merebut suami orang? Keiichi-kun pikir aku orang yang seperti itu?”
“Tidak” jawabku cepat.
Tentu saja tidak. Bodoh sekali aku.
“Keiichi-kun, Tatsu-nii sering bilang kalo aku berusaha, suatu saat Keiichi-kun yang lama pasti akan kembali. Karena itu aku memanggilnya Tatsu-nii, karena bagiku Tatsu-nii seperti kakak yang baik yang selalu memberi semangat jika adiknya sedang bersedih.”
Aku terdiam. Seharusnya itu tugasku, kan. Apa yang aku lakukan selama ini?
“Dan Tere-san” lanjut Vina-chan “Tere-san orangnya baik,kok.. Yang tadi itu..hanya. cerita karanganku saja.. supaya Keiichi-kun ma-rah..”
*UHUK UHUK*
Darah kembali mengalir dari mulut Vina-chan.
Tunggu sebentar.
Jangan-jangan..
“Vina-chan, jangan bilang kalo kamu...”
“E..he..he, kok ba-ru sadar.. se-karang.. baa-kaa..”
“Bodoh!!” Jeritku
“Kenapa kamu berbuat seperti ini?”
Aku menggeledah seluruh pakaiannya. Semoga dia juga berbohong soal penawar racun ini juga.
“Keiichi-ku..n.. a-pa si..h.. peg-ang-pe...gang.. ec-chi..”
“Di mana penawarnya?!!” Kataku dengan suara gemetar.
“Kamu sembunyikan di mana?! Jangan katakan kalau kamu juga ingin...”
“Kei-ichi-ku-n..”
“Satu penawar saja cukup, aku tidak butuh penawar untukku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati. Tidak akan.”
Aku kembali menggeledah pakaiannya. Sial. Sepertinya tidak ada di sini.
“Sudah-lah.. Keiichi-kun.. hentikan.. Racun ini, aku benar-benar tidak punya penawarnya.”
“...”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Bodoooooh!”
Kataku sambil memeluknya erat-erat.
“Kei-ichi-ku..n... sa-kit.. lepasin..”
Tapi aku tidak peduli.
Mataku sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi.
Dengung di telingaku bertambah keras.
“Keichi-kun.. aku bukan cewek kuat yang selalu dikatakan Tatsu-nii.. saat aku tahu Keiichi-kun tidak akan berada di dunia ini beberapa lama lagi, dunia ini rasanya seperti hancur berkeping-keping.”
“Walaupun aku bisa membuat Keiichi-kun yang lama kembali lagi, tapi jika hanya untuk dua bulan, apa yang harus kulakukan saat aku harus kehilangan Keiichi-kun lagi? Untuk selamanya..”
Aku benar-benar sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi.
Tapi aku bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari kedua mata Vina-chan, membasahi pakaianku.
“Vina-chan..”
“Vina-chan, sebelum telingaku tidak lagi bisa mendengar, sebelum suaramu menghilang, aku ingin mendengar sesuatu darimu.”
“Eh?”
Aku menghirup nafas dalam-dalam, merasakan udara yang mengalir ke dalam diriku, udara yang mengabarkan musim panas yang akan tiba sebentar lagi..
“Vina-chan, aku cinta kamu..”
Saat itu mungkin pendengaranku sudah tidak berfungsi lagi.
Atau mungkin Vina-chan sudah tidak dapat berbicara lagi.
Atau mungkin sebaliknya,
Mungkin Vina-chan tidak dapat mendengar kata-kataku,
Mungkin kata-kataku tadi sebenarnya tidak pernah terucap lewat lisanku,
Tapi aku berkata dengan perasaanku yang sebenar-benarnya.
Dan aku dengan jelas bisa mendengarnya berkata padaku

“Aku mencintaimu, Keiichi-kun.”

FIN


Weitttsss.. kok jadi keren gini ya?
Wah tak © duluan deh kalo gitu, mungkin bisa jadi short visual novel kaya SoreMata. Okeeeh, karena aku masih butuh pelampiasan stress, mari kita kacaukan lebih gila lagi. Muahahahahaha


ALTERNATIVE ENDING 1:

“Aku mencintaimu Keiichi-kun...”
Aku merasakan hembusan nafas Vina-chan perlahan-lahan melemah.. lalu berhenti.
Sunyi.
Keheningan yang total mewarnai kamarku.
Perlahan-lahan aku merasakan kegelapan yang semakin mendekat.
Meskipun aku sudah tidak bisa melihat, tapi aku bisa merasakannya.
Kegelapan yang berbeda.
Yang jauh lebih menakutkan daripada kebutaan.
Semakin mendekat dan mendekat.
Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi?
Kenapa semua ini harus berakhir seperti ini?
“TIDAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK....!!!!”
Aku menjerit sekuat-kuatnya.
Seperti bayi yang baru lahir, menjerit dan menangis sekeras yang aku bisa.
Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak.
Dan aku terbangun.

Eh?
Lho? Dimana ini? Apa yang terjadi?
Aku terbangun dari tidurku dan melihat wajah Vina-chan tepat di depanku, memandangku dengan ekspresi penuh kebingungan.
“Keiichi-kun, kamu kenapa e? Dari tadi menjerit tidak tidak tidak, kamu mimpi buruk, ya?”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata seperti orang bodoh.
Mimpi buruk?
Oh, begitu ternyata.. Jadi semuanya itu hanya mimpi?
Aku menghela nafas lega.
Semua persendianku rasanya lemas sekali.
Vina-chan memandangku dengan tersenyum.
Sepertinya dia juga ikut merasa lega.
“Tunggu bentar yah, aku ambilin minum dulu..”
Vina-chan beranjak dari tempat duduknya di samping tempat tidurku.
Saat dia berdiri..
Tiba-tiba aku langsung bangkit dan memeluknya.
“Keiichi-kun?”
Dia terkejut.
“Vina-chan, gomen. Gomen gomen gomen.”
Aku setengah berteriak.
“Aku tidak akan ngegame lagi. Aku tidak akan pernah memegang controller game lagi. Portable console game juga. Bahkan game tetris dan pinball di hpku juga gak akan aku sentuh-sentuh lagi. Aku nggak akan make keyboard komputer kecuali buat ngetik. Kalopun ada RPG bagus keluar aku gak akan beli, bahkan kalo yang bikin square-enix sekalipun. Kalopun Kazuma Kaneko kembali terlibat dalam Persona 4, kalopun NAMCO beneran nerusin Xenosaga mereka lagi, bahkan kalo sampe .hack bener-bener dibikin game dengan virtual reality pun aku gak akan main. Gak akan!!”
“Keiichi-kun.. kamu ngomong apa sih? Aku enggak dong sama sekali..”
Vina-chan berkata dengan nada bingung.
“Vina-chan, mulai sekarang aku akan berada di dekat kamu. Setiap hari kita akan bermain bersama. Sampai kamu bosan, aku akan terus berada di sisimu..”
Vina-chan tersenyum dan menghela nafas,
“Aku tidak akan pernah bosan..”
katanya
“Baka.”

FIN

GOOD ENDING.
AKHIRNYAA.

editor: gila, persona 4? oh, berarti ini jaman-jaman pas P3 masih baru-barunya keluar.


ALTERNATIVE ENDING 2

Vina-chan tersenyum dan menghela nafas,
“Baka.”
Aku ikut tersenyum.
“Iya, aku memang bodoh”
Senyum Vina-chan bertambah lebar.
“Bukan itu maksudku, Keiichi-kun.”
*CLICK*
Dari balik tangannya aku merasakan sesuatu yang keras seperti logam mendesak perutku.
Eh?
“Keiichi-kun, kata orang di dunia ini ada beberapa orang yang punya kekuatan untuk melihat masa depan melalui mimpi. Mungkin Keiichi-kun salah satu diantaranya..”
“Vina-chan, apa maksudmu?”
“Sayang sekali Keiichi-kun, padahal kamu bisa memanfaatkan kekuatanmu untuk menjadi kaya, tapi nasibmu harus berakhir sampai di sini.”
“Vina-chan, jangan bilang kalo..”
“Iya, pistol ini aku beli dari dari temanku yang biasa berurusan dengan barang-barang ilegal. Sayonara, Keiichi-kun.”

OH SHI –

*DOR*

BAD END. LOL


ALTERNATIVE ENDING 4

*DOR*
Aku terhentak kaget.
Selesailah sudah.
Aku pasti mati sekarang, batinku.
Aku memejamkan mata.
Lama. Lama sekali.
Eh? Kok tidak terjadi apa-apa?
Aku membuka mataku.
Tidak ada siapa-siapa.
“Vina-chan?”
Aku mencoba memanggil Vina-chan.
“Vina-chan?”
“Ya?”
Terdengar suara lembut Vina-chan.
Oh, ternyata dia ada di sampingku.
“Kenapa, Keiichi-kun?”
“Eh.. oh, nggak. Enggak ada apa-apa.”
Kataku.
Vina-chan tersenyum, “Sudahlah. Mendingan kamu minum obat dulu sekarang. Tuh, sudah aku siapkan”
Aku melihat segelas air dan tablet-tablet obat di atas meja dekat tempat tidurku.
“Thank you” kataku dan meneguk segelas air minum itu, lalu menelan butir pil itu bulat-bulat.
Kenapa? Emang pilnya bulat kok.

Eh?

LOL. TIME PARADOX

ALTERNATIVE ENDING 3

“Aku mencintaimu Keiichi-kun...”
Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Sinar matahari masuk melewati jendela kamarku dan menyinari kami.
Semua yang ada di kamarku tampak berkilauan.
Semilir angin yang sejuk perlahan berhembus.
Burung-burung berkicau dan beterbangan.
Apa yang terjadi?
Tiba-tiba aku merasakan lukaku satu persatu sembuh.
Efek dari racun itu perlahan-lahan menghilang.
Aku merasa sangat sehat. Aku merasa seperti dilahirkan kembali.
Begitu juga dengan Vina-chan.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Aku mendengar choir para malaikat bergema di telingaku.

Oh, aku tahu.
Ini pasti karena kekuatan cinta.
Cinta bisa membuat semuanya bahagia.
Aku paham sekarang.

Hidup cinta!!
Aku merasa sangat bahagia. Aku melayang. Tidak, aku terbang.
Terbang tinggi di angkasa bersama burung-burung yang berkicau riang.
Burung-burung itu berkicau dengan sangat ramai.
Sinar matahari semakin mendekat.
Semakin terang.
Semakin menyilaukan.

Eh?

Ternyata sinar kuning terang itu bukan sinar matahari.
Itu adalah.. bom nuklir!
Burung-burung berkicau menjerit ketakutan, mereka terbang ke segala arah.
Binatang-binatang berlarian keluar dari hutan, turun gunung.
Orang-orang berteriak ribut dan berebut menyelamatkan diri.
Ternyata tanpa kami sadari, perang sudah dimulai dan saat ini sebuah ledakan nuklir sedang menuju ke arah kota di mana aku berada.
Menghancurkan semua yang dilewatinya.
Tanpa tersisa.

Aku melihat ke arah sinar penghancur yang berjalan semakin dekat.
Semakin dekat.
Dan semakin dekat.

OH SHI –

THE END


ALTERNATIVE ENDING 4

Vina-chan tersenyum dan menghela nafas,
“Baka.”
Lalu tambahnya lagi
“Tapi itu tidak mungkin, Keiichi-kun..”
Aku terkejut,
“Kenapa? Kenapa tidak mungkin?”
“Karena...”
Vina-chan terdiam.
“Karena?”
Tanyaku penasaran.
“Karena.. sebenarnya aku adalah....
Alien yang datang dari luar angkasa.”

Eh?

“Aku sebenarnya adalah mahluk planet fladhfadhf dan namaku sebenarnya adalah qeipfhpqir. Keiichi-kun, sebenarnya aku datang ke bumi ini untuk melaksanakan tugas untuk ujian akhirku. Aku harus membuat seorang total loser kembali ke pada jalan hidupnya dan menjadi manusia yang berguna. Sekarang misi itu sudah terpenuhi. Aku akan kembali ke planetku wutywwrb untuk mengambil gelar sarjana. Selamat tinggal Keiichi-kun..”

Tiba-tiba sebuah UFO raksasa turun dari atas langit.
Vina-chan bersiap-siap untuk pergi.

“Tunggu, Vina-chan!!!”
Seruku.

Vina-chan menoleh.

“Kau bohong!!”

“Huh?”
“Katamu nama planetmu tadi adalah fdafaff kenapa barusan namanya uuentturw?”
Vina-chan menjawab,
“Keiichi-kun, kamu salah. Nama planetku adalah wrohbfvfd dan nama asliku ycbagcgzsw.”
“Tuh kan, kamu bohong lagi. Katamu tadi nama aslimu wgcbfctdovf dan bukan cvfgfg. Mana yang benar? Vfnfhcajdajjd atau iahhvhfnjp?”
Vina-chan menghela nafas panjang.
“Yang manapun terserahlah. Yang penting aku pergi dulu ya, bye bye Keiichi-kun..”
Tubuh Vina-chan berubah menjadi cahaya terang dan terbang menuju ke UFO.
Meninggalkanku sendirian di kamar. Untuk selama-lamanya.

“AAAAAHHHHH.... QEVBGFCVDBPAS’BVRHWDAVFHPTBWVGZD!!!!!”
Teriakku.

THE END

YOU GOT NCANVJFNW ENDING

ALTERNATIVE ENDING 5

Time lapse... [sesaat setelah Keiichi muntah darah dan dibawa ke dokter]

“Saudara Keiichi. Apa anda mengerti hal yang sedang kita bahas ?”

“eh ? maksud bapak ?” aku jadi sedikit grogi karena raut pak dokter sepertinya berubah jadi lebih serius dari sebelumnya, dan nada suaranya menjadi lebih dalam.

“umur anda tidak sampai....... 10 detik lagi.”

“hah ... ? eh ... ? yang benar pak.”

“10”

‘9”

“pak...?”

“8”

“7”

“Serius pak?”

“6”

“5”

“.....”

“4”

“3”

“NNNNOOOOOOOOO!!”

“2”

“1”

“0”

“Argh.....”

‘Terorist Win”

COUNTER STRIKE ENDING


ALTERNATIVE ENDING 6


Vina-chan tersenyum dan menghela nafas,
“Baka.”
Lalu tambahnya lagi
“Tapi itu tidak mungkin, Keiichi-kun..”
Aku terkejut,
“Kenapa? Kenapa tidak mungkin?”
“Karena...”
Vina-chan terdiam.
“Karena?”
Tanyaku penasaran.
“Karena.. sebenarnya aku adalah....”
“Alien?” potongku cepat.
“Bukan,”
Vina-chan menggelengkan kepala.
“Time traveler?”
“Bukaan..”
“Esper?”
“Bukan jugaaa... aduuh, Keiichi-kun, ini..”
“Lalu apa dong, Berserker? Saber? Caster? Lancer? Archer? Avenger? Apa doooong??”
Kataku bingung.
“Salaah, salaaah.”
Vina-chan tertawa.
“Aku ini... sebenarnya.. COWOK!!”

Sambil berkata seperti itu, Vina-chan membuka gaunnya dan langsung melompat memelukku. Ternyata di balik gaun itu dia tidak memakai apa-apa lagi.
Jadi yaa....

“TIDAAAAAAKKKKKKKKK!!”
Jeritku histeris.

Tapi terlambat. Ini lebih mengerikan daripada mimpi buruk manapun.

TAMAT

YOU GOT TRUE (?) ENDING


END OF CHAPTER 1
Pengetahuan Umum

-Suzumiya Island
Nama pulau tempat cerita ini terjadi. Nama itu dari seorang multi-milyuner yang membangun pulau yang semula terbelakang karena tidak pernah diurusi pemerintah pusat di Jarkata (ibukota Negeri Nusa Rupiah). Berkat sentuhan bisnis Suzumiya-sama yang tiada duanya, dengan cepat pulau ini menjadi maju bahkan sudah seperti milik beliau sendiri. Pemerintah pusat diam saja, yang penting duit mengalir terus.
Bagi penduduk setempat Suzumiya sudah seperti kami-sama saja. Sebagian besar bahkan percaya kalau beliau punya anak buah alien, time traveler, slider, dan esper. Di pulau ini ada beberapa kuil yang didirikan untuk memuja beliau sebagai “ikigami” (“living god”)
Ekonomi di tempat ini jauh lebih baik daripada di bagian negeri Nusa Rupiah yang lain. Oleh karena itu, ada banyak orang yang datang untuk bekerja dari berbagai tempat di negara ini, bahkan dari negara lain. Misalnya Vina von Erdlit, bapaknya dari Jerman dan ibunya penduduk asli pulau ini yang keluarganya sejak dulu mengurus kuil.

-Cafe Wulakpiko
Nama cafe ini betul-betul eksotis, dalam bahasa asli pulau ini berarti sejenis minuman yang dibuat dari biji tumbuhan Wulak yang sudah difermentasi. Rasanya sedikit asam dan pahit, umumnya diminum setelah ditambahkan susu, telor, madu, dan jahe.

-SMA R’lyian (khusus putri)
Dibaca “SMA Lilian”. SMA ini didirikan oleh seorang tokoh agama tertentu bernama Elderan R’lyist. Tentang namanya yang aneh itu, itu merupakan bahasa Elder (salah satu mata pelajaran wajib di situ). Salah satu hal yang paling menarik perhatian orang (selain sailor fuku) ialah salamnya, “fthaghn” -- dibaca vitaen, yang artinya “(semoga bintang di langit selalu) mengawasi (langkahmu)”. (NOTE: dari Cthulhu Mythos)

-KKNKBK
Kegiatan Kerja Nyata Kurikulum Berbasis Kompetensi
Alias : seluruh pelajar SMA di pulau ini diwajibkan bekerja di fasilitas wisata yang ditunjuk pemerintah, untuk menggantikan pekerja-pekerja yang sebagian besar MATI SEKETIKA saat Badai Cempedak kemarin. (itu... badai yang MENEWASKAN kedua orangtua Keiichi.). bagi yang nilai kerjanya tertinggi akan diterima masuk Oeniversitas Maha Gadjah. (OMG.. atau orang lebih sering menyebutnya dengan ZOMGWTFROTFL)

-OMG
Oeniversitas Maha Gadjah
Salah satu universitas negeri di pulau ini. Termasuk salah satu yang terbaik di negeri ini. Selain ujian masuknya susah banget sampai-sampai orang nggak segan berbuat curang saat ujian, biaya kuliahnya juga mahal banget sampai-sampai mendapat nama lain : Oeniversitas Mahal Gadjah. Terus mata kuliahnya susaaaah banget, nggak heran orang-orangnya suka hal yang aneh-aneh. (misalnya Higurashi).

12 comments:

Black_Saber said...

ok, pertamax!

beberapa kata bisa kukatakan kepada anda, kai..

fuk u lol XD

tapi berkat itu ceritaku jd makin ancur tidak karuan dan emang niatnya jadi cerita yg sedih, tapi dalamnya ketawa2 ga jelas.. mungkin tidak begitu penting, tapi Counter Strike Ending itu aq yg buat >.>

Neohybrid_kai said...

wkwkwk, tapi sekarang malah pas kan, sama level edannya blog ini

Anonymous said...

Hahaha.

Plottwist bertebaran.

gecd said...

SASUGA DUTA PAKEM 2012!!!
aku ISIN TENAN!!!!!!!!!!!
Ngakak2 neng puskom dipleroki wong!!!!!!!
Okay
ini humor terkoplo yg pernah saya baca
( padahal saya betul2 tersentuh dan menitikkan air mata di tengah2, tapi saat mulai alternative ending, humornya benar2 terakselerasi!! )

Faticant said...

Jancuk, aku nyasar nang OGM LOL

minoru said...

alternative endingnya mantab bro!!!!

EIN(Fallendevil) said...

Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.Konspirasi.

well ending nya ruined up with LOL alternate ending XD

= =b

ok sore ja! back to the future-- i mean business di RL :ngacir:

marisako said...

WUT TEH HEL MAN, kek nya dulu yg ditulis gak seperti ini deh. kaw tambahin sendiri yah kai?!

... it looks gud, btw xD

Neohybrid_kai said...

sepertinya banyak yang suka, lololol. gawat, padahal cuma ini yang paling ngaco, lainnya agak-agak serius aromanya.

@marisako
nggak ada yang ditambahin, mister. itulah hebatnya otak manusia, benda bikinan sendiri kalo lama nggak disentuh jadi terkesan baru, kan? makanya saya bikin blog XD

Black_Saber said...

comment2 yg uda ditunggu2 dan sudah ketebak kayak apa isinya huahahahaha

cacad pool!

@marisako & kai
mari kita lanjutkan lagi? :D

gecd said...

lanjut wae!!!!
terus ditranslate ke inggris
katawa shoujo pasti kalah deh!!!

joseph arctest said...

+1 buat CS ending =))

True Endingnya salah, mendingan "Trap Ending"

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime