Wednesday, June 3, 2009

Sedikit cerita di balik subbing Haruhi

0 comments
Tulisan ini dibuat bukan dengan niat sok, saya ngesub Haruhi murni karena dorongan will Haruhiism, jujur listening Jepang saya masih jauh dari skilful jadi saya lebih banyak mengandalkan translasi dari sub Inggrisnya untuk bagian-bagian yang sukar ditangkap. Anggap saja ini adalah share dari experience saya selama mencoba mentranslasi sejauh ini. Berikut ini adalah beberapa point yang saya pikir cukup penting untuk diperhatikan jika ingin mencoba ngesub anime sendiri.


(1.0) Apapun yang terjadi ingat statement ini: nothing beats the real stuff. Maksudnya yang paling bagus tetap barang aslinya, dengan kata lain raw. Ini basicnya dan ini penting, kenapa? sekilas memang terdengar elitist tapi ini akan sangat membantu saat mengalami dilema dalam proses translasi. Apa sajakah itu? baca saja point-point selanjutnya.

(2.0) Point kedua yang harus kalian pegang adalah readibility dan efektifitas. Ini yang menurut saya dua hal vital dalam ngesub. Nah di sinilah gunanya apa yang di point pertama tadi. Pada dasarnya, pada saat ngesub anime, kalian sudah otomatis kalah satu nilai dari "feel" yang didapat dari menonton raw nya. Kenapa? karena disadari atau tidak nonton fansub sudah meng-occupy satu kerjaan sendiri bagi otak kita, yaitu membaca. Mungkin ada sih yang bisa mendebat, lha kalo nonton raw kan sama aja kupingnya yang kerja. Benar, tapi saat nonton fansub meskipun telinga kita tidak kerja terlalu berat tapi pandangan kita yang terbagi. Antara nonton gambar sama baca tulisan. Belum lagi kalo banyak godaan seperti artwork yang keren, detail yang bagus atau fanservice (BOING!) (BOING!) Ah tapi anime fanservice kan memang gak perlu dibaca teksnya. Yah tapi intinya gitulah, dengan menyadari kalau fansub tidak bakal bisa membawa 100% apa yang ada dalam anime tersebut setidaknya beban self-responsibility kalian akan berkurang. Kembali pada dua hal tadi, kita mulai dari readibility yang lebih gampang di handle.

Kyon. Versi komik Amrik. Saya penasaran bagaimana jadinya kalo Haruhi.
Sayang sampai sekarang mencari masih belum ketemu.


(2.1) Yang paling ngaruh pertama jelas, font. Jangan pakai font yang susah dibaca, ini syarat yang tidak bisa ditawar. Membaca sudah menghabiskan waktu sepersekian detik, mempersulit membaca berarti menambah lagi waktu yang dibutuhkan untuk mencerna isi teks. Jangan menganggap jika font yang dipakai tipe narrow (sempit) maka bisa menaruh kalimat yang lebih panjang. Karena yang berpengaruh adalah kecepatan membaca. Jika memang harus memakai font yang nyeleneh (misalnya ada karakter gothic lolita yang oh so damn hot dan kalo ngomong keluar aura yang keren bgt gt loh dan kita pingin hal itu juga tercermin dalam teksnya dia) usahakan mencari font yang tetep gampang dibaca. Warna juga menentukan. Jangan memakai warna yang terlalu mencolok karena malah akan menarik fokus ke teks daripada animenya.

(2.2) Yang kedua, sebenarnya ini tidak begitu penting tapi saya pikir juga berpengaruh, adalah hindari pemakaian kata-kata yang susah dibaca. Maksudnya bukan susah diucapkan, tapi karena di kata itu mungkin terdapat huruf-huruf yang hampir sama dan letaknya berdekatan. Memang yang seperti ini tidak sering-sering terjadi, dan ini juga tergantung jenis font yang kalian pakai. Jika fontnya cenderung tinggi dan sempit maka huruf yang menjadi masalah adalah i dan l, misalnya pada kata [memiliki] jika kata tersebut ditulis dengan font yang huruf i dan l nya hampir sama maka akan susah saat membacanya. Jika fontnya bulat biasanya a dan o. Kadang ada juga font yang huruf h dan n nya hampir sama. Pencegahan yang paling bagus ya kembali ke point satu tadi, pastikan font yang dipakai tidak banyak masalah. Ditambah lagi bahasa Indonesia punya awalan dan akhiran dsb, yang membuat beberapa kata menjadi terasa panjang untuk satu kata, misalnya [memperjualbelikan] atau [mempertanggungjawabkan] dsb dll. Kata-kata seperti itu meskipun gampang dibaca tapi membutuhkan waktu cukup lama karena huruf-hurufnya banyak dan berdekatan. Jika kalian merasa ada kata yang butuh waktu lama untuk membacanya, usahakan sebisa mungkin jangan dipakai.

Sekarang kita masuk ke bagian translasi. Ini yang berkaitan erat dengan point kedua yaitu efektivitas (sekaligus bagian yang paling mengasikkan kalo buat saya). Ada dua "aliran" besar yang kalian mau tidak mau akan condong ke salah satunya, yaitu "literal" dan "lokal". Mungkin sudah bisa ditebak, literal adalah terjemahan kamus dan lokal adalah terjemahan bebas yang lebih menekankan ke konteks kalimat. Translasi yang bagus adalah translasi yang bisa menggabungkan keduanya dalam takaran yang pas. Berikut beberapa point yang saya pikir cukup menarik untuk diperhatikan.

(2.3) Tentukan konteks atmosfernya
Sebelum mulai mentranslasi, ini menurut saya hal yang penting untuk dilakukan. Tentukan dengan bahasa yang bagaimana satu karakter akan berinteraksi dengan karakter lainnya. Saya, misalnya, memilih untuk tidak memakai kata gue/gw loe/lu untuk kata ganti orang pertama dan kedua. Pertama, karena saya sendiri tidak terbiasa memakainya. Dan kedua, jika lingkungan saya set dengan gaya bicara seperti itu, Haruhi pasti harus memakai gue/lu juga, karena karakternya yang sedikit rascal dan saya simply didn't like that idea. Apakah ada minusnya keputusan saya? of course, karena obrolan Kyon dengan Taniguchi jadi tidak terasa rame. Awalnya saya juga hendak memakai kata [saya] untuk Itsuki, tapi tidak jadi karena justru akan mengurangi efek "kedekatannya" dengan Kyon. Amati baik-baik bagaimana atmosfer dunia dalam cerita itu, jika memang settingnya klasik dan pemakaian kata tuan dan nona lebih masuk, pakailah. Karakter yang intelek cenderung memakai kata-kata pilihan. Cewek ekspresif akan memakai bahasa langsung dari yang dia rasakan tanpa penggunaan ungkapan, dan seterusnya.
Point ini juga termasuk menentukan bagaimana kalian akan menghandle style fansub;
Apakah setiap memecah kalimat panjang digunakan tanda titik tiga [Suzumiya Haruhi tentu saja... ...tidak akan pernah berbuat seperti itu].
Apakah ekspresi ucapan juga ikut masuk dalam typografi [J-j-jangaaan... KELUAAARRRR!! Iya iyaaa, cerewet ah]
Apakah kalian akan memasukkan kata seperti [hmph] atau [hoo...] ke dalam sub.
Termasuk di sini juga cara karakter memanggil karakter lainnya (Kyon di versi saya memanggil Haruhi dengan [kau] memanggil Mikuru dan Nagato dengan [kamu] dan memanggil Koizumi dengan [kamu] atau [kau]tergantung konteks serius atau bercanda, Haruhi normalnya akan memakai gaya bahasa kasual tapi saat tsuntsun saya memakai sedikit style nyebahi sedangkan pas deredere bahasanya menjadi sedikit lebih feminim dan manis :3 see? tsundere is VERY interesting to sub, SRLSY)
Di sini juga kalian harus membuat catatan untuk translasi istilah-istilah yang penting dan sering keluar. Ini yang membuat translasi menjadi seru.
Contoh:
Closed Space (Heisa Kuukan) misalnya, bisa saja diterjemahkan langsung dengan ruang tertutup, tapi dunia Haruhi penuh dengan referensi Religi dan Science, jadi saya mencari sinonim space, yang ternyata ada dan tidak jauh-jauh amat, yaitu spasi. Jadilah spasi tertutup.
Celestials (Shinjin) bisa diartikan dengan manusia surgawi. Tapi akan tidak efektif karena terlalu panjang. Lagipula ada kata yang lebih cocok, yaitu dewa.

Jangan khawatir, anda akan terbiasa mengalami seperti yang tampak
pada gambar di atas saat mencoba mensub anime. Sering terjadi.


(2.4) Flow
Atau aliran. Ini adalah point yang akan paling dibela-belain jika kalian adalah dramatic translator (seperti, uh, saya). Flow paling berpengaruh saat kalian mentranslasi dialog. Translasi yang bagus (dari segi flow) akan membuat dialog terasa hidup. EMOsional. Benar, bisa jadi kalian akan tergoda untuk membengkokkan arti supaya alirannya tetap terasa enak. Don't think, feel. Begitulah konsep dari translasi ini.

contoh:
Saat Kyon selesai membuat gambar di lapangan
Loli Haruhi : "mama ne"
Kyon: "warukatta na"
Jika kalian translator yang baku, maka kalian pasti tahu bahwa [mama] artinya [lumayan] dan itu yang akan kalian tulis. Tapi jika melihat konteksnya, yaitu Kyon yang menjawab dengan [warukatta (sorry)], maka feel yang didapet dari atmosfer conversation adalah:
1) Haruhi tidak begitu puas dengan hasil jadinya
2) Kyon meminta maaf
jika kalian termasuk yang memperhatikan hal di atas maka translasinya akan menjadi:
Loli Haruhi: [nggak begitu bagus] atau [nggak bagus-bagus amat, ah]
Kyon: sori
Menurut saya itu yang paling pas, tapi untuk Haruhi saya kadang merasa jika personality karakter juga ikut berpengaruh dalam ucapannya. Kita tahu Haruhi adalah cewek yang selalu pengen semuanya sesuai standarnya dan ngomong straight to the point sedangkan Kyon adalah master of sinisme, jadi terjemahannya kalau versi saya:
Loli Haruhi: kok jelek?
Kyon: ya maaf.
Beda kan sama terjemahan literalnya? hohoho (tertawa tanpa rasa bersalah), menurut saya sih selama tidak berakibat fatal dan bukan dalam narasi (misalnya adegan yang menceritakan tentang sejarah sesuatu) atau deskripsi (misalnya adegan penjelasan tentang sistematika dan teori blablabla dalam anime-anime seperti s.e Lain) translasi berdasar konteks menurut saya lebih recommended.

(2.5) Sampaikan feel yang dialami oleh penonton raw sebisa mungkin
Ini masih berhubungan dengan konteks, gampangnya begini, jika ada kalimat yang mengandung pun, brainstorminglah sampai menemukan kata terdekat yang bisa mengakibatkan level ketawa yang sama. Demikian juga halnya untuk adegan yang butuh pendekatan linguistik.

contoh:
Saat Kyon hampir dibunuh oleh Asakura
Kyon: why? naze?
Jika kalian menerjemahkan keduanya menjadi [kenapa], atau membuatnya menjadi [kenapa? mengapa?] maka pesannya tidak tersampaikan, karena yang lucu adalah Kyon yang sempat-sempatnya ngomong dual language di saat-saat hampir tewas (sudah taulah, pasti). Jadi terjemahannya kalau versi saya menjadi:
Kyon: why? kenapa?

contoh lagi:
Saat Haruhi menjelaskan tentang moe untuk pertama kalinya kepada Kyon. A.f.k memakai kata turn-on sementara menurut para weeabo, moe tidak ada padanannya dalam bahasa Inggris. Sama halnya juga dengan terjadi di sini. Saya bisa saja mengganti moe dengan daya tarik, atau mungkin pesona (dan bakal diprotes banyak orang) tapi yang terpenting sekali lagi adalah konteksnya, yaitu:
1) Haruhi bicara pada Kyon tentang moe
2) Kyon tidak paham lalu meminta mengulangi lebih jelas
3) Haruhi mengulang dengan penjelasan
Di sini bisa disimpulkan bahwa lebih baik tetap menggunakan kata moe, karena intinya adalah kata itu yang membuat Kyon bingung. Jika memakai istilah yang lebih umum tentu Kyon tidak sampai bingung dengan maksud Haruhi.

(2.6) Diksi
Atau pemilihan kata. Ini salah satu point lagi yang akan menentukan kualitas translasi anda. Dengan asumsi kalian membuat fansub bahasa indo, ini beberapa point yang menurut saya cukup penting:
2.6.1 Jangan meremehkan bahasa Indonesia
Sebelum kalian benar-benar merasa mentok, hindari pemakaian kata serapan sebisa mungkin. Ini sebenarnya suatu tantangan yang mengasikkan menurut saya. Carilah referensi, bacalah thesaurus dan kamus sinonim. Bahasa Indonesia sebenarnya memiliki cakupan kata yang luas yang kadang kita lupa kalau kata itu ada. Misalnya, karena lebih sering memakai kata memprovokasi, sampai lupa jika ada kata menghasut. Temperatur bisa diganti dengan suhu. Batter dengan pemukul. Dan sebagainya.
Jangan lupa bahwa beberapa kata khusus dalam beberapa cabang ilmu pengetahuan sudah mempunyai terjemahan bakunya sendiri. Interface, misalnya, terjemahan bakunya adalah tatap muka dan link adalah pranala. Saya harus bertanya banyak hal pada teman saya yang anak MIPA saat menerjemahkan bahasa Nagato.
But, having said that, sebenarnya bahasa Indonesia juga memiliki kelemahan sendiri jika kita bicara dalam konteks fansub. Bahasa Indonesia cenderung boros dan memiliki banyak suku kata dibanding bahasa Inggris. Itulah kenapa, sama-sama 20 character, misalnya, tapi kalimat dalam bahasa Inggris lebih cepat dibaca daripada bahasa Indonesia.

Contoh:
[I Can't do that] jika diterjemahkan literal bakal jadi panjang, [Aku tidak bisa], jika dilihat dari segi suku kata, itu berarti 4 menjadi 7 dan itu sudah sangat terasa bedanya. Okelah, mungkin terlalu formal jadi kita luweskan sedikit jadi [Aku nggak bisa], tapi inipun hanya sedikit membantu, karena [nggak] juga bisa dibilang terdiri dari dua suku kata. Sementara jika memakai [gak] kalimat akan menjadi awkward (medok tenan logate). Solusinya adalah dengan meng-cut kata [aku] menjadi [nggak bisa], tapi harus dilihat juga apakah masih masuk dengan konteksnya. Jika yang bicara adalah Itsuki jelas tidak begitu masuk. Karena itu ada solusi kedua yaitu
Edit timingnya. Timing tidak selalu harus berkomitmen dengan audio file. Jika karakter berbicara dengan line yang hasilnya panjang saat tertranslasi, tambahlah waktu untuk subtitle tampil sepanjang yang diperlukan. Sedikit bleeding tidak masalah menurut saya, yang penting penonton punya waktu cukup untuk membaca.

Meganeko Haruhi is tooooootally awesome. Sayang impian fans yang ini selamanya
tidak akan pernah terwujud di kanon (original). Kenapa? meskipun Haruhi tahu soal
the power of glasses (refer ke episode di mana Asahina pertama kali memakai baju maid)
tapi anda tentu ingat kata-kata Kyon kepada Nagato
di episode 5, "Tipeku bukan cewek berkacamata" jadi ya...


2.6.2 Synonim is your best weapon
Pikirkan lagi jika kalian merasa sudah mendapat arti kata yang kalian cari. Apakah masuk dengan konteksnya? Apakah ada kata lain yang lebih pas. Ingat soal hipernim dan hiponim. Apakah lebih cocok "melihat" atau "menonton"? Perhatikan karakter yang sedang bicara, apakah dia orang yang cenderung memakai kata "lebat" ataukah "deras" dalam omongannya? "Aneh" ataukah "janggal"? apakah kata tersebut masih sering dipakai oleh anak-anak muda seumuran tokoh dalam anime tersebut saat ini? dan sebagainya.

2.6.3 Gunakan kata secukupnya tapi gampang ditangkap
Seperti yang saya tulis di awal tadi, point lemah fansub adalah tidak seperti membaca novel atau manga, penonton anime dipaksa membaca teks dalam waktu singkat. Karena itu jangan memakai kata yang berlebihan. Hati-hati dalam memakai kata sambung. Biasanya kata-kata seperti [yang] [untuk] [bagi] [oleh] dan sejenisnya bisa dihilangkan tanpa mengubah makna. Jika kalian menemui situasi dimana keadaan tidak fair, maksudnya dialog menyebutkan sesuatu yang susah dijelaskan dengan kata-kata yang singkat, gunakan translator note. Hanya, perlu dicatat, tidak disarankan translator note muncul pada saat yang bersamaan dengan adegan yang bersangkutan. Intinya, kurangi sebanyak mungkin aktivitas pause mempause penonton. Personally saya lebih suka t/l note yang panjang di belakang daripada harus memencet spasi tiap 5 detik sekali.

(2.7) Dialog selalu memakai kalimat langsung
Ini penting untuk diingat saat mentranslate dialog karena kadang kita lupa jika yang sedang ditranslasikan adalah kalimat langsung. Dalam kalimat langsung orang jarang memakai kata-kata yang panjang. Biasanya yang dipakai adalah kata yang ringkas, umum, dan praktis. Kecuali jika karakter itu tidak normal (seperti Nagato misalnya). Kalimat langsung juga sering tidak mengikuti EYD dan menurut saya sah-sah saja jika translasinya juga begitu. [Aku cuma sebentar] bisa di cut menjadi [Aku cuma bentar] dan sebagainya.

(2.8) Swap or change?
Jika pada akhirnya kita memutuskan untuk mengganti sebuah kata, misalnya karena menemukan kata yang lebih cocok atau karena kurang pas dengan konteksnya, ada hal yang harus dipertimbangkan. Apakah hanya cukup dengan mengganti kata itu saja? ataukah penggantian kata tersebut akan mempengaruhi susunan kalimat? Jika iya maka kalimatnya pun harus ikut dirubah.

contoh:
Haruhi mendirikan SOS Brigade di bulan Mei dan sekarang sudah awal Juni.
Jika kalimat di atas masih dirasa terlalu panjang, kata [Haruhi] bisa dihilangkan karena penonton sudah tahu Haruhilah pendiri SOS Brigade. Kata [sudah] juga bisa dihilangkan. Tapi jika [Haruhi] dihilangkan, maka kalimat tidak bisa memakai kalimat aktif, maka translasinya menjadi:
SOS Brigade berdiri bulan Mei dan sekarang sudah awal Juni.
Terkesan terlalu diedit memang, tapi percayalah, lebih enak membaca teks yang sedikit daripada ketinggalan dan harus mendrag playing bar di media player. Sekali lagi, selama tidak mengubah makna keseluruhannya.

contoh lagi:
Pada saat Koizumi dan Kyon di dalam taxi. Anthropic theory atau Ningen genri bisa diterjemahkan langsung menjadi teori antropi, karena memang itulah terjemahan bakunya (setau saya), masalahnya, jika kalian langsung menerjemahkan kata-kata Itsuki versi Inggrisnya, ada kemungkinan translasi kalian akan melenceng dari yang dimaksud karena versi Inggrisnya juga sudah diadaptasi oleh translator yang bersangkutan. Mau pakai jepangnya? silahkan, kalau memang kalian mampu. Alternatifnya, dan ini yang saya pakai, adalah meriset sendiri apa itu teori Antropi, bagaimana hubungannya dengan dunia Haruhi dan yang paling penting, apa inti dari omongan Itsuki sehubungan dengan teori tersebut. Jika hal tersebut sudah dilakukan dan kalian sudah yakin bisa menangkap makna keseluruhannya, maka dalam translasi saya pikir tidak apa-apa jika terjemahannya tidak literal sama sekali (atau bahasa populernya, completely rewritten). Sekali lagi, ini menurut saya.

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime