Saturday, October 11, 2008

Apakah malam minggu ini anda bersama dengan seorang robot?

0 comments
this post is written in the mood of deep blue


Diantara deretan OVA dan movie tahun ini yang saya tunggu, salah satu diantaranya yang sudah muncul ke permukaan adalah Eve no Jikan. Dibuat oleh studio yang pernah membuat sebuah OVA yang juga tidak kalah mengagumkannya, Pale Cocoon, pada awalnya saya sempat meragukan tentang content dari anime ini. Bagaimana tidak, anime ini bercerita tentang "jaman dimana robot dan manusia hidup berdampingan", sedangkan cerita yang memakai tema seperti itu sudah tidak terhitung banyaknya. Oh no, tolong jangan sesuatu tentang robot yang mempunyai hati lagi, plis deh, saya sudah eneng dengan yang seperti itu, begitulah kurang lebih gumaman saya waktu melihat trailer Eve no Jikan beberapa bulan yang lalu. Tapi ternyata saya salah, sebagaimana Pale Cocoon, --yang bercerita tentang dunia di mana polusi dan degradasi alam sudah sedemikian parahnya sampai atmosfer bumi tertutup asap hitam dan manusia hanya bisa melihat langit biru dan rerumputan hijau melalui file-file foto dari beberapa decade yang lampau (itupun harus dibrowse dan karena banyak data yang rusak, beberapa harus direcovery terlebih dulu seperti pemulung yang memunguti barang-barang yang masih bisa dipakai dari tumpukan sampah)-- dalam Eve no Jikan, studio Rikka lagi-lagi berhasil menceritakan sebuah konsep yang cukup untuk menggelitik logika (tentu saja jika kalian suka berpikir) dan nurani (tentu saja jika kalian punya hati) kalian sebagai manusia.


Seperti yang sudah ditulis di paragraf sebelumnya, Eve no Jikan memang bercerita tentang robot. Di sebuah jaman di masa yang akan datang, manusia sudah mampu menciptakan robot dengan penampilan fisik yang menyerupai manusia. Robot-robot tersebut dapat diprogram untuk mengerjakan berbagai macam hal (melihat dari banyaknya robot yang ada di anime itu, bisa disimpulkan bahwa kemungkinan besar tidaklah membutuhkan banyak biaya untuk memiliki sebuah robot). Satu-satunya penanda yang membedakan antara robot dengan manusia secara kasat mata adalah lingkaran yang berpendar dengan warna kuning seperti halo di atas kepala mereka. Secara garis besar, bisa dikatakan manusia telah mampu menciptakan tool yang bisa memenuhi kebutuhan fisik mereka secara otomatis. Akan tetapi, mungkin karena desain dan kedekatan antara robot dengan sang pemilik, sebagian orang berusaha memenuhi kebutuhan fisik DAN emosional dari robot yang mereka punya. Bukan hal yang sulit, tampaknya, karena robot-robot di dalam Eve no Jikan mempunyai artificial intelligence yang memungkinkan mereka untuk belajar dan berkembang. Sangat menarik, kalo saya bilang, karena di sini studio Rikka tidak membuat konsep robot sebagai sesuatu yang mempunyai kemungkinan untuk memiliki emosi atau perasaan, namun justru proses bagaimana sebuah robot meng-encode perasaan dan menganalisa behaviour dari pemiliknya lalu mengaplikasikannya menjadi sebuah aktivitas itulah yang menjadikannya sebuah emosi buatan yang mampu menarik dan mengampil empati dari pemiliknya. Fenomena inilah yang di dalam Eve no Jikan disebut dengan dori-kei, yaitu seseorang yang menganggap robot sebagai se"orang" individu, dalam hal ini bisa berarti teman, kekasih, orang tua, atau siapapun. Dan inilah yang membuat saya menyebut anime ini "horror".


Saya tidak akan menulis tentang plot dimana karakter utama dalam cerita ini berusaha mencari eksistensi dirinya, apakah seorang dori-kei atau bukan, atau tentang Eve no Jikan sendiri, yaitu nama sebuah kafe dimana pemilik kafe tersebut membuat peraturan bahwa dalam kafe miliknya batasan antara robot dengan manusia dihilangkan, dimana robot boleh dan harus mematikan halo di kepala mereka, dimana manusia dilarang mengucapkan kata "robot" dan semua yang berhubungan dengan itu. Eve no Jikan, atau diterjemahkan sebagai "the time of eve" adalah sebuah waktu dan tempat dimana tidak ada batasan antara mahluk dengan pencipta, pemilik dengan alat, dan mesin dengan ciptaan Tuhan. Jauh sebelum anime ini dirilis, studio Rikka sebenarnya sempat mengeluarkan anime pendek berjudul "Mizu no Kotoba" atau "Aquatic Language" yang bisa disebut sebagai prototype dari Eve no Jikan. Saat saya pertama kali melihat Mizu no Kotoba, tanpa mengetahui bahwa itu adalah referensi untuk Eve no Jikan (baca: tentang robot), saya menikmati setiap chemistry dan dialog-dialog cerdas yang mengalir dalam setiap adegan. Sebuah percakapan, atau lebih tepatnya obrolan, yang santai namun berbobot, berseberangan namun tidak mendebat, bertukar pikiran tapi tanpa saling mempengaruhi, sesuatu yang juga saya sukai baik di online maupun offline. Jadi bisa dibayangkan betapa shocknya saya saat di akhir cerita, ketika kafe tempat sang tokoh utama dengan pemilik kafe itu bercakap-cakap hendak tutup, diperlihatkan bahwa si cewek pemilik cafe tersebut sebenarnya adalah robot. Oh shi- pikir saya, karena scene tersebut bagi saya terasa bagaikan chatting berjam-jam atau berdikusi di sebuah forum sampai berparagraf-paragraf hanya untuk mengetahui kalo ternyata saya sedang berbicara dengan sebuah bot.


Lupakan bimbingan konseling, night club atau host club nya Ouran High School, bagaimana jika kalian bisa memiliki seorang teman sekaligus kekasih sekaligus pendamping hidup sekaligus partner sekaligus rekan kerja sekaligus asisten sekaligus penasehat sekaligus bodyguard yang handal, hanya saja dia bukan manusia, melainkan sebuah program. Sebuah program yang bisa belajar untuk membuat keputusan independent berdasarkan preferensi kalian. Seperti yang saya tulis sebelumnya, di anime ini diceritakan bahwa robot tidak hanya mengingat, tapi juga menganalisa dan belajar. Jadi gampangnya, seperti dalam salah satu scene, jika kalian suka makanan atau minuman yang manis maka pada saat kalian menyuruh robot kalian membuatkan teh, saat dia tahu tentang hal tadi, dia akan menambahkan gula dalam teh yang dia buat, tanpa diberi input untuk membuat teh yang manis. Atau, jika kalian adalah seorang shopaholic, saat kalian menyuruh robot kalian belanja ke supermarket, dia akan membawa pulang barang belanjaan plus beberapa barang lainnya dan dia akan berkata mumpung lagi ada obral, karena sedang ada discount. Nah, pertanyaannya, lalu berapakah harga sebuah manusia sebagai "seorang manusia"? dalam hal ini sebagai mahluk sosial. Pertanyaan lainnya, apakah kalian menganggap Eve no Jikan sebagai sebuah serial drama? ataukah horror?


Ah, tapi terlepas dari teori filosofi orang mabok di atas, Eve no Jikan adalah sebuah tontonan yang menarik. Sejauh ini, OVA nya baru keluar dua episode dengan jadwal rilis dua bulan per episode (jika benar total anime ini adalah 6 episode maka berarti masih delapan bulan lagi penantian sampai tamat), dan sampai sejauh ini, selain hal-hal yang saya sebutkan di atas, ada beberapa point lain yang menarik untuk disimak.


Yang pertama adalah celah dalam tiga hukum dasar robot. Di dalam anime ini dijelaskan mengenai 3 aturan inti untuk robot yaitu;
1) Robot tidak diperbolehkan menyakiti manusia
2) Robot harus selalu mematuhi perintah manusia, selama tidak bertentangan dengan pasal satu.
3) Saat tidak melakukan tugas, robot harus menjaga dirinya sendiri, selama tidak bertentangan dengan pasal satu dan dua.
Di episode dua, tokoh teman dari karakter utama menunjukkan bahwa aturan tersebut tidak melarang robot untuk berbohong. Aturan tersebut juga tidak melarang robot untuk bersantai seperti manusia (saat sedang tidak bertugas). Tapi saya jadi penasaran, bagaimana jika kita menyuruh sebuah robot untuk bunuh diri? hahaha.


Juga saat ada dialog yang mengatakan bahwa ada yang salah denganmu jika kau berterima kasih pada robot. Jika dipikir-pikir benar juga, apakah saya akan mengatakan "terima kasih" pada kipas angin karena telah membuat saya tidak kepanasan? ataukah saya harus mengucapkan "terima kasih, printer" pada printer saya yang telah mencetakkan template pepakura? pada akhirnya saya sependapat dengan teman saya, F-san, yang mengatakan teorinya bahwa, saat robot mulai di desain dengan detail seperti manusia, di situlah awal dari semua kesalahan. Dan saya juga hendak menambahkan bahwa kalaupun hal itu terjadi, dori-kei tetaplah sebuah fenomena yang lingkupnya hanya sebatas minoritas saja, karena toh jika orang-orang di Akiba akhirnya berhasil menciptakan penistron atau sebangsanya yang bisa membuat kalian berhubungan seks dengan respon yang (cukup) nyata secara online atau lewat eroge, tetap saja tidak sebagian besar orang akan berubah menjadi nijicon, itu pendapat saya loh.

0 comments:

Post a Comment

 
Ikemasen, Ojou-sama! © 2006-2014 DheTemplate.com. Supported by Toko Anime